Hopeless

Hopeless
Chapter 163



" Bang, Darrel gak bisa tinggal diam lagi, Darrel udah putusin Darrel gak akan berangkat ke Jepang, abang tahu persis alasannya," ujar Darrel dengan tegas dan geram, setelah melihat apa yang terjadi di atas panggung, lelaki itu tak bisa tinggal diam melepaskan Luna tanpa pengawasan. Entah apa lagi yang akan terjadi pada gadis itu selanjutnya.


" Lo yakin Lo bakal lepasin Jepang buat Luna? Sekali Lo mundur, Lo gak bakal bisa nyesal lagi, Lo bakal kelihangan kesempatan itu," ujar Jordan ingin mencari keyakinan Darrel. Jordan tahu ini adalah keinginan dan impian Darrel selama bersekolah di STM Taruna. Bukan dia tak mampu pergi ke Negeri Sakura itu sendiri, namun pasti rasanya beda jika mendapatkan semua hal itu dengan jalur prestasi dan beasiswa.


" Gak ada yang lebih penting dari Luna bang, walau sebenernya dua duanya berharga, tapi kalau dengan Darrel pergi ke Jepang tapi malah Luna kayak tadi lagi, mending enggak deh bang," ujar Darrel dengan pasrah dan tenanag. Jordan menghela napas dan menyetujui keputusan Darrel.


" Emang tadi adek ue kenapa deh? Kok sampe Lo marah kayak gini sih? Sama Radith lagi?" tanya Jordan yang baru sadar nada bicara Darrel terdengar emosi, meski sudah ditahan, Jordan masih tahu jika lelaki itu masih dalam mode panas.


" Luna tadi kan nyanyi duet sama Radith bang, terus.."


" Lo cemburu?" tebak Jordan yang memotong pembicaraan Darrel, membuat Darrel memutar bola matanya dengan malas, meski Jordan tidak dapat melihatnya.


" Gak gitu bang, tapi Luna tiba – tiba kayak kejungkal gitu, abang tahu pasti kan kenapa Luna bisa kejungkal gitu? Untungnya ada Radith yang nahan dia, kalau ya pasti udah kelar tuh Luna," ujar Darrel tanpa sadar.


" Kelar, kelar, mulut Lo gue bikin melar," ujar Jordan yang membuat Darrel terkekeh, dia sendiri tak sadar sudah mengatakan hal itu pada kekasihnya sendiri. Lelaki itu mengatakannya secara spontan.


" Ya udah bang kalau gitu, Darrel mau ke kelas Luna dulu, mau ngapel, emang abang aja yang bisa ngajak pacar ke luar negeri terus apel tiap pagi, Darrel juga bisa," ujar lelaki itu yang membuat Jordan hanya mengatakan ' bodo amat' dan mematikan sambungan telpon sepihak.


Darrel langsung mengecek sisa pulsa yang dimilikinya. Lelaki itu menggeleng karna harus mengisi pulsanya dengan saldo yang cukup banyak untuk menelpon Jordan. Seandainya lelaki itu mau untuk bernegosiasi dan melakukan panggilan dengan internet, tentu Darrel tak harus serepot ini.


" Yah, resiko deh pacaran sama orang spesial, budgetnya juga spesial," ujar Darrel memasukkan ponselnya dan berjalan ke kelas Luna, ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu sekaligus ingin memuji penampilan gadis itu.


Ah tidak, Darrel bukan orang jahat ataupun pecemburu buta yang akan langsung marah saat melihat Luna berduet mesra dengan Radith. Justru lelaki itu bangga karna Luna bisa memiliki emosi yang membuat penonton ikut merasakan bahwa mereka saling mencintai. Tunggu..


Entahlah, Darrel tak ingin membicarakan hal itu. Lelaki itu hanya mau bertemu dengan gadisnya dan bermesraan, sekaligus memberikan berita jika dia tak jadi berangkat ke Jepang. Meski dia belum menyiapkan alasan yang sesuai untuk batalnya keberangkatan, dia yakin Luna akan banyak bertanya untuk hal itu.


Darrel merasa aneh karna banyak mata yang menatapnya dengan berbagai tatapan. Ada yang marah, ada yang kasihan, bahkan ada yang memicingkan matanya saat menatap lelaki itu, seakan dia telah menghamili anak orang dan tak mau bertanggung jawab. Ya tolong, Darrel mana berani melakukan hal seperti itu? Meski secara ekonomi dia sudah mampu, namun secara mental dia belum berani melakukan hal seperti itu.


" Kenapa orang – orang ngelihatin gue aneh sih?" tanya Darrel pada salah satu siswa yang juga pengurus OSIS. Orang itu tampak diam dan ragu, namun kemudian mengambil napas dan menghembuskannya. Entah apa yang terjadi hingga orang itu takut menyampaikan sesuatu pada Darrel, membuat lelaki itu makin yakin ada sesuatu yang tidak beres.


" Lo masak gak lihat tadi Luna tampil duet sama teman kelasnya? Itu jadi gosip heboh Rel, ada yang bilang Luna selingkuh, ada yang bilang Luna punya dua pacar, ada yang bilang kalian udah putus, bahkan ada yang bilang Lo tuh kejam sama dia sampai dia selingkuh gitu. Mereka lihat Lo narik Luna kasar waktu MOS."


Darrel langsung membuka mulutnya lebar karna takjub berita yang tak benar ini langsung menyebar begitu saja memenuhi telinga satu sekolah. Lelaki itu hanya memikirkan dirinya biasa saja dan baik baik saja dengan duetnya mereka. Namun dia melupakan mulut tajam penggemarnya dan penggemar Luna yang kadang kelewat batas.


" Makasih Infonya," ujar Darrel yang langsung berlari dari sana menuju kelas Luna, berharap gadis itu akan baik baik saja dan tak mencakar siapapun. Lelaki itu sudah mendengar kabar Luna yang sensi dari pelayan yang dibentak Luna pagi ini. Itu berarti tak menutup kemungkinan Luna akan melakukannya pada orang lain lagi.


Darrel masuk ke kelas Luna diiringi tatapan memuja dari siswa siswi yang ada di sana. Namun mereka segera sadar tak akan mungkin untuk menikung, kelas Luna jauh lebih tinggi dari kelas mereka, dan mereka menyadari itu, apalagi hubungan mereka yang sudah cukup lama.


" Luna nya di kelas gak?" tanya Darrel dengan sopan pada Ghea yang merupakan penggemar beratnya. Bukannya menjawab, gadis itu malah memandang Darrel dalam diam dan mulut yang menganga, mungkin gadis itu tak menyangka Darrel mengajaknya bicara dan menatapnya sedekat ini.


" Halo? Ada orang di sana?" tanya Darrel sambil melambaikan tanggannya di depan wajah Ghea, namun tak berpengaruh apapun pada gadis itu, sampai akhirnya lelaki itu menjentikkan jarinya di depan wajah Ghea, barulah gadis itu tersadar dan menggaruk lehernya.


" T.. tadi nanya apa kak? Maaf aku ngelamun tadi," ujar Ghea dengan tergagap. Darrel terkekeh dan menggelengkan kepalanya, teman Luna yang satu ini imut juga, namun jika dia mengatakan hal ini secara terus terang, pasti gosip akan berkembang semakin liar dan dia akan bertambah pusing dengan keadaan ini.


" Luna di kelas gak? Aku lagi cari in Luna, " ujar Darrel mengulangi pertanyaannya. Ghea membulatkan mulutnya dan mengecek ke arah bangku Luna, dan mengode pada Darrel bahwa Luna ada di tempat ini dan Radith ada di meja. Keduanya tertidur dengan pulas dalam posisi masing – masing yang nyaman.


Ghea hendak membangunkan Luna untuk mengatakan Darrel ada di sini, namun Darrel mengode dari jauh untuk tidak melakukan hal itu, dia ingin membangunkan Luna sendiri. Ghea mengangguk paham dan membiarkan Darrel masuk ke kelas itu. Ah, kelas sedang sepi. Penghuni kelas mendadak menyukai pensi sejak kehadiran Sheila on Seven, meski hanya menyanyikan beberapa Lagu dalam waktu yang relatif singkat, itu sudah cukup untuk membangun mood mereka.


Darrel berjongkok dan melihat tubuh Luna yang separuhnya sudah dibungkus oleh kajet Radith, Luna pernah bilang bahwa bau parfume jaket Radith memang enak dan menyegarkan, namun lelaki itu melarang Darrel mengganti parfumenya dengan alasan Luna sudah nyaman dengan bau Darrel yang sekarang.


" Luna, Luna," ujar Darrel pelan tepat di telinga Luna sambil mengelus dahi gadis itu. Gadis itu tampak tak nyaman, namun tak ingin membuka mataya sedikit saja, gadis itu hanya menggeliat dan menepis tangan Darrel pelan, lalu melanjutkan tidurnya. Darrel cukup terhibur melihat hal itu, namun dia tak ingin menyerah sampai Luna bangun dan melihatnya.


" Luun," ujar Darrel sambil sedikit menggoyangkan kepala Luna, gadis itu mengerang dan menggeliat lagi, menggelengkan kepalanya tak nyaman karna perbuatan Darrel. Seakan tak memiliki rasa putus asa, lelaki itu kembali mengganggu Luna yang sedang meraih mimpinya.


Darrel menengok ke arah atas dan melihat ke arah Radith yang tadi dipanggil. Ternyata terpasang headset yang membuat lelaki itu tak mendengar apapun yang Luna katakan. Darrel cukup melega dan kembali mengelus kepala Luna dengan penuh kasih, beruntung sekali Darrel memiliki gadis seperti Luna. Cantik dan menawan, tipe yang sempurna baginya.


" Radith ih!" ujar Luna tiba – tiba sambil bangun dan mengarahkan tangannya untuk memukul Darrel yang dia kira dalah Radith, untung saja Darrel bisa menahan tangannya hingga tangan cantik itu tak menabok wajah tampannya. Luna yang salah orang tentu terkejut dengan kehadiran Darrel, sejak kapan lelaki itu ada di sini? Dan pertanyaan yang lebih penting, untuk apa lelaki itu datang kemari?


" Kak Darrel? Aku kira Radith, kak Darrel kenapa ke sini sendiri? Biasnaya telpon terus ngajak ketemu, hampir aja loh Luna pukul, ganggu orang tidur kok gak ngomong apa apa," ujar Luna yang malah mengomeli Darrel, lelaki itu menatap Luna dengan geli sambil menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya gadis itu sebentar lagi memasuki tanggal merah hingga betah mengomel seperti ini.


" Didatengin pacar bukannya seneng malah diomelin, ya udah aku balik lagi aja ke kelas," ujar Darrel yang berpura – pura merajuk sambil berdiri, saat hendak melangkah, tangan Luna menahan tangannya dan menarik tangan itu kuat sampai Darrel terjatuh dan terduduk di lantai karna posisi Luna yang rendah ( gadis itu kembali tiduran di kursi saat tahu Darrel yang menggodanya)


" Siksa abang neng, siksa abang, asal kamu bahagia juga abang rela atuh neng," ujar Darrel mendramatisir keadaan, namun malah membuat Luna terkekeh geli karna ekspresi Darrel yang menunjukkan dia sangat tersiksa.


" Kak Darrel gak sibuk lagi kah? Kok bisa ngehampirin Luna di sini? Biasanya juga telpon dulu," ulang Luna karna pertanyaannya belum dijawab. Darrel menggaruk pelipisnya dan menatap Luna dengan ragu, hal itu cukup membuat Luna merasa curiga dan merasa sesuatu yang tak beres sudah terjadi.


" Ya udah ayok mau ngomong dimana kalau bukan di sini? Kantin? Kebetulan Lunalaper, kebetulan udah lama gak ditraktir sama kak Darrel, yok kita ke kantin sekarang," ujar Luna yang langsung bengkit dari tidurnya dan menggeret Darrel seperti seorang ibu yang menggeret anaknya keluar dari taman bermain karna nakal.


Darrel menurut saja ditarik oleh gadis itu, bahkan ketika tatapan tak enak kembali menyerang mereka. Untuk mengatasi hal itu, Darrel sengaja mengalungkan tangannya di pundak Luna, menegaskan pada mereka semua bahwa Darrel dan Luna baik – baik saja. Sekaligus mematahkan gosip tak sedap yang menerpa mereka.


Ayolah, mereka bukanlah selebriti yang patut digosipkan seperti itu. Apa urusannya kehidupan pribadi Darrel dan Luna dengan kehidupan pribadi mereka? Meski merasa amuak, Darrel harus menahan semua itu, selain statusnya yang ketua OSIS, lelaki itu masih memiliki akal untuk sadar mereka memiliki hak untuk melakukan apapun dalam kehidupan mereka.


Luna mendudukkan Darrel di kursi. Lelaki itu seperti boneka ken yang hanya menurut dan tak bergerak sedikitpun dari posisinya yang diatur oleh Luna, sementara Luna hanya mengangguk puas dan pergi meninggalkan Darrel untuk memesankan makanan untuk mereka. Darrel senang saja atas apa yang dilakukan Luna, sepertinya gadis itu mencoba untuk menjadi istri yang baik dengan melayani suaminya. Hahaha.


Gadis itu kembali dengan membawa nampan berisi soto dua porsi dan es teh dua porsi untuk mereka. Luna memberikan satu mangkok dan satu gelas es teh untuk Darrel. Lalu menyediakan untuk dirinya sendiri dan meletakkan nampan di pinggir meja.


" Jadi, kenapa kak Darrel ada waktu? Ada masalah sama Jepang? Atau emang dikasih waktu libur buat istirahat?" tanya Luna bertubi yang membuat Darrel mengaduk makannya dengan takut, bukan takut dengan mangkok soto itu, Darrel takut menghadapi respon Luna.


" Emmm, sebenernya aku mengundurkan diri dari beasiswa itu Lun, habis ini atau besok aku mau bilang ke kepala sekolah buat masalah ini," ujar Darrel tanpa memandang ke arah Luna. Gadis itu diam dan memandang Darrel dengan tatapan bertanya.


" Kenapa mengundurkan diri?" tanya Luna dengan tenang yang membuat Darrel terkejut dan menatap Luna dengan tatapan kagum. Respon gadis itu sangat tenang, seperti gadis itu sudah mengetahui semua, namun hal itu malah membuat Darrel makin gelisah, apakah Luna tahu tentang hal yang dia sembunyikan?


" Kenapa diam? Kenapa kak Darrel mundur? Kak Darrel gak sanggup? Atau kak Darrel ngerasa kurang sehat makanya mundur?" tebak Luna yang membuat Darrel kembali terkejut. Niatnya untuk memberitahu Luna hilang seketika karna gadis itu memandang Darrel dengan tatapan intimidasi meski pembawaannya tenang.


" Aku…"


~ byuurrr


" Ah panas."


" Ups Sorry."


Darrel reflek bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna. Dalam sekejap rok yang dipakai Luna basah dengan kuah bakso yang panas. Bahkan rok itu tampak mengeluarkan asap menandakan kuah yang tak main – main panasnya.


" Maksud Lo apa ngelakuin itu?! Kalau Lo mau cari masalah, Lo mau celakain orang, Lo celakain gue, jangan tunangan gue! Jangan mentang – mentang Lo cewek terus Lo bisa ngelakuin hal sesuka Lo, gue gak akan main – main kalau urusannya sama Luna!" bentak Darrel melupakan semua wibawanya sebagai ketua OSIS.


" Gue.. Gue gak sengaja, kaki gue kesandung tadi," ujar orang itu membela dirinya sendiri. Darrel menggebrak meja dengan keras, bahkan kuah soto yang ada di mangkok sampai tumpah. Dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian di kantin tersebut. Ketua OSIS mengamuk karna kekasihnya dicelakai oleh siswa lain.


" Kaak, panas," lirih Luna yang mematung di tempatnya, keringat yang muncul di dahi gadis itu menandakan gadis itu menahan sakit yang luar biasa.


Darrel langsung menghampiri Luna dan berjongkok untuk meniupi paha gadis itu.


" Lo, jangan harap Lo bisa lari dari ini," ancam lelaki itu kepada gadis yang mencelakai gadisnya.