
" Lo tiap hari datang kemari, Lo bener – bener gak ada kerjaan atau gimana?" tanya Radith saat Luna sudah masuk ke dalam kamar Radith dan duduk. Gadis itu bahkan merasa rumah sakit ini adalah rumah keduanya. Bagaimana tidak? Gadis itu membawa serta boneka – bonekanya dan menidurkan boneka itu di sebelah Radith dan di sofa, katanya sih agar Radith memiliki teman saat Luna tak ada.
" Gak usah suka ngehujat orang cantik, nanti Lo kualat," ujar Luna yang meletakkan tas kecil yang dia bawa dan mengecek isi kulkas. Yah, kulkas di kamar ini pun sudah dikuasai oleh Luna, gadis itu benar – benar membuat Radith merasa jengah. Namun lelaki itu juga merasa terhibur dengan tingkah Luna.
" Lo ke sini tapi gak pernah ngapa – ngapain, kenapa sih Lo harus ke sini tiap hari?" tanya Radith dengan sengit, namun Luna tak menanggapinya dengan serius. Gadis itu malah mengambil makanan Radith yang ditaruh di atas nakas. Radith masih bisa melihat wajah Luna meski masih buram, lelaki itu tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi dia tak mau membuat orang lain khawatir.
" Lo udah ngerasa lebih baik Dith? Kalau Lo enggak baik mending periksain ke dokter spesialis saraf. Lo masih ngelihat gue burem?" tanya Luna sambil melihat ke arah lelaki itu. Luna membawa nampan berisi makanan dan duduk di sebelah Radith.
" Gue baik – baik aja, Lo gak usah terlalu khawatir. Gue malah khawatir sama Lo, Lo bakal membuat masalah kalau gak ada gue. Lo kan pembuat masalah," ujar Radith dengan santai, membuat Luna mengerucutkan bibirnya degan kesal. Namun gadis itu tak membantah sama sekali, seakan kondisi Radith yang seperti ini membuat Radith bisa melakukan dan mengatakan apapun yang dia suka.
" Gue gak mau bikin masalah Dith, makanya gue main ke sini, bukan ke tempat lain. Gue kan gak mau bikin masalah yang lebih kompleks lagi, ya gak ? ya gak? Hahaha," ujar Luna yang membuat Radith tertawa singkat. Lelaki itu kembali memejamkan matanya karna dia merasa pusing. Bahkan dia harus merasakan pusing saat membuka matanya terlalu lama, sungguh menyiksa.
" Eh, jangan tidur dulu. Lo makan dulu terus minum obatnya. Biar cepat sembuh oit, biaya rumah sakit mahal kalu ruangnya VVIP," ujar Luna yang membuat Radith kembali membuka matanya. Lelaki itu menatap Luna dengan tajam.
" Bahkan kalau gue setahun tinggal di rumah sakit ini, gue, Lo atau bahkan bokap Lo gak perlu bayar biaya rumah sakitnya. Ini kan rumah sakit keluarga Lo," ujar Radith yang membuat Luna terkekeh. Benar juga, bahkan jika Luna bosan, dia bisa saja tidur di ruang kosong yang ada di rumah sakit ini. Tapi siapa yang suka menginap di rumah sakit? Bau obat ada dimana – mana.
" Ya udah makanya Lo makan dulu, terus minum obatnya. Kan ada paracetamol juga nih di sini, nanti Lo lebih enak tidurnya, lebih nyenyak, yok Radith anak baik, makan ya," ujar Luna yang membuat Radith merasa geli, Luna bisa juga membujuknya seperti ibu yang membujuk anaknya.
" Gue gak mau makan makanan rumah sakit, gak ada rasanya. Mending Lo beliin gue bubur ayam biar gue mau makan? Ya? Gue pingin makan bubur ayam," ujar Radith yang membuat Luna menatap makanan yang ada di nampannya.
" Ya udah gue beli bubur ayam sekarang," ujar Luna mengalah dan langsung meletakkan nampan yang dia bawa lalu berjalan ke arah pintu kamar yang tertutup. Saat dia hendak membuka pintu, ternyata pintu malah terbuka dari depan, membuat gadis itu tersentak kaget.
" Eh, Hai Karin? Mau jenguk Radith ya?" tanya Luna dengan ramah. Karin tampak terkejut dengan keberadaan Luna, namun dia segera menetralkan ekspresinya dan tersenyum menatap Luna. Gadis itu berjalan masuk ke dalam ruang rumah sakit dan mengangkat apa yang dia bawa. Luna menatap bungkusan itu dengan wajah bingung.
" Aku bawa bubur ayam buat Radith, Aku tahu kalau makanan rumah sakit itu gak ada yang enak, Nih Dith," ujar Karin dengan ramah, Luna langsung saja berbinar dan menatap Radith yang juga menatapnya. Luna senang karna dia tak harus keluar untuk membeli sendiri bubur ayam tersebut.
" Kebetulan sekali, kayaknya kalian memang jodoh deh, pas banget kamu bawa bubur ayam waktu.."
" Makaih karna udah ngerepotin, tapi kata dokter aku gak boleh makan sembarangan. Lun, suapin gue makan dong, gue gak bisa makan sendiri," ujar Radith memotong pembicaraan Luna. Sontak saja Luna merasa bingung dengan tingkah Radith.
" Bukannya tadi Lo bilang kalau.." Luna langsung bisa merasakan Radith berubah. Gadis itu tak melanjutkan kata – katanya dan segera mengambil makanan yang ada di nakas. Lalu duduk di kursi dan mulai menyuapi Radith dengan makanan yang dia bawa. Luna masih bingung dengn sikap Radith, namun dia tak berani membantahnya.
" Memang makanan rumah skait enak ya? Aku tadi pagi -apgi nyari tukang bubur ayam susah banget loh, gak mau cobain?" tanya Karin yang tampak sekali dia sedang kecewa, Luna sendiri sampai kasihan melihat gadis itu. Radith sungguh kejam, lelaki itu mengabaikan orang yang jelas – jelas berbaik hati padanya. Luna tak bisa membiarkan itu.
" Wah, kamu udah repot – repot. Padahal nyari tukang bubur ayam di daerah sini tuh susah loh, kamu pagi – pagi udah ke sini aja. Radith harusnya mau cobain bubur ayamnya walau sedikit. Lo gak kepingin gitu Dith bubur ayam? Dari pada nih bubur rumah sakit gak ada rasanya," ujar Luna yang bahkan memasukkan satu sendok bubur ke dalam mulut, menggunakan sendok yang sama.
" Lo gak tahu apa yang dibilang sama dokter sih, tadi dokter udah bilang gue gak boleh makan sembarangan buat kondisi gue. Mending Lo buruan suapin gue biar gue bisa minum obat," ujar Radith yang membuat Luna menyuapi lagi Radith dengan sendok yang tadi dia gunakan untuk memasukkan makanan ke mulutnya.
" Ka.. kalian makan pakai sendok yang sama ?" tanya Karin yang menyadari tingkah Luna. Luna tampak kaget, lalu menatap Radith yang tetap makan dengan tenang, tak peduli dengan hal seperti itu. Luna akhirnya hanya menyengir dan melanjutkan aktivitasnya.
" Maaf ya Radith jadi kayak kasar gini, emang udah biasa dia mah, kalau pusarnya lagi bolong dia bakal baik, tapi kalau lagi gak bolong kayak orang masuk angin, bawaannya ngegas mulu," ujar Luna yang meminta maklum dari Karin. Gadis itu mengangguk canggung dan duduk di sofa, melihat Luna yang menyuapi Radith dengan sabar.
" Lo tuh gimana sih nyuapinnya malah belepotan gini,"' protes Radith saat Luna tak menyuapi mulutnya, malah menyuapi hidungnya. Luna yang diprotes pun hanya berdecak dan mengambil tissue lalu mengelap bubur yang mengenai hidung Radith.
" Eh, Rin, kamu udah makan?" tanya Radith tiba – tiba. Karin tampak kaget karna Radith menanyainya, dia sendiri hanya melihat Luna dan Radith yang sangat dekat bahkan dia merasa kalau dirinya diabaikan oleh kedua orang ini, ternyata Radith masih mengingat kalau ada orang lain di ruangan ini.
" Belum, tadi pagi aku langsung ke sini. Habis ini juga langsung ke kantor kok. Aku kira kamu gak doyan makanan rumah sakit, tapi kayaknya makanan di sini enak enak," ujar Karin dengan nada tak enak. Gadis itu merasa ada di situasi yang sangat canggung, seperti dia sedang menganggu kemesraan dua orang yang sedang dimabuk cinta.
" Kalau kamu belum makan, mending kamu makan aja bubur yang kamu bawa, dari pada gak ada yang makan. Luna juga pasti udah makan sebelum ke sini. Daripada kamu harus beli sarapan lagi kan? Dimakan aja gak papa," ujar Radith yang membuat Karin terkejut. Dia kira Radith akan berbaik hati dan mencicip makanan yang dia bawa.
" Kan ini aku bawa buat kamu, masak aku makan sendiri? Gak papa aku makan di luar aja," ujar Karin dengan senyum yang dia paksakan. Luna tampak melotot pada Radith yang sangat kasar dengan nada yang halus. Bukan begitu cara menyambut tamu yang menjenguk kita saat sakit, Radith sangat tidak sopan.
" Sebenarnya aku belum makan sih, tadi langsung ke sini. Kalau aku makan aja boleh gak? Dari pada kebuang juga, tapi kalau kamu mau makan ya kamu makan aja," ujar Luna yang membuat Karin menggeleng lalu memberikan bubur itu pada Luna. Luna mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
" ambilin obat di dalam laci Lun, sekalian sama minumnya tuh di nakas," ujar Radith yang membuat Luna melirik lelaki itu dengan tajam, memang Luna ini pembantu atau apa? Seenaknya saja Luna disuruh ini dan itu, bahkan Radith tak mengucapkan kata tolong. Jika saja lelaki itu sehat, Luna pasti sudah mengeplak kepalanya.
" Nih minum, buruan Lo tidur, gak usah ngerepotin orang mulu," ujar Luna dengan galak. Radith melirik Luna dan meminum obatnya lalu memposisikan dirinya untuk istirahat. Namun dalam hatinya merasa tak enak juga pada Karin yang sudah menyempatkan datang. Sepertinya dia sudah kelewatan, tak seharusnya dia begitu pada perempuan.
" Rin, gimana perkembangan kantor cabangnya? Gak ada masalah kan? Ada kesulitan gak?" tanya Radith membuka pembicaraan. Luna langsung diam dan tak menyahut, membiarkan kedua orang ini bicra. Gadis itu malah memberesi sisa makanan Radith dan membawnaya keluar kamar. Memberi ruang pada dua orang ini untuk bicara.
" Udah tambah paham sih, memang lebih banyak yang harus diurus dan butuh waktu lama, tapi aku yakin aja lama – lama juga terbiasa. Segini aja udah capek banget, apalagi kamu ya Dith, salut aku sama kamu, bikin kagum," ujar Karin dengan jujur, membuat Radith tertawa canggung menanggapinya.
" Makasih ya udah nyempatin waktu jenguk aku, walau sebenernya gak perlu sih, aku juga gak kenapa – napa kok," ujar Radith terkekeh. Karin tertawa dan mendekat, mengambil duduk di posisi Luna tadi dan mulai membicarakan banyak hal dengan Radith. Luna sendiri sadar diri dan tak masuk ke dalam kamar agar tak menganggu mereka.
" Bagaimana bisa sampai kayak gini Dith? Perasaan terakhir ketemu juga gak kenapa – napa loh, kenapa sekarang sampai separah ini?" tanya Karin yang merasa miris melihaat kondisi Radith. Lelaki itu tersenyum seolah mengatakan smeua baik – baik saja dan dia tak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.
" Namanya juga musibah, gak ada yang tahu. Yang penting sekarang semua udah baik – baik aja dan aku bentar lagi pulih, walau yang aku pikirin gimana nyelesaiin kerjaan yang numpuk, hahaha," ujar Radith yang sudah mulai bisa mencairkan suasana. Karin sendiri tertawa menanggapi Radith, namun kekhawatiran yang ada di wajahnya tak berubah.
" Tapi kan kalau kamu ditabrak lari gitu berarti bukan musibah, ada yang sengaja. Kenapa gak lapor polisi dan ngelaporin itu pelaku biar dia tanggung jawab?" tanya Karin dengan reflek. Radith langsung mengerutkan dahinya dan menatap Karin yang tak mengubah ekspresi wajahnya, berarti gadis itu tak sadar.
" Dari mana kamu tahu aku kecelakaan tabrak lari? Aku gak pernah cerita ke kamu kan?" tanya Radith yang membuat Karin tersentak. Gadis itu menghindari kontak mata dari Radith dan menatap ke arah kanan dan kiri untuk sesaat.
" Aku tahu dari sekretaris kamu, kemarin kan aku datang ke kantor kamu terus dia bilang kamu kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, dia bilang kamu korban tabrak lari, makanya aku khawatir dan datang ke sini," jawab gadis itu dengan senyum yang dipaksakan. Radith menganggukkan kepalanya dan membulatkan mulutnya. Lelaki itu tanpa sengaja menguap, sepertinya efek obat mulai bekerja pada tubuhnya.
" Kamu udah ngantuk ya? Kalau gitu kamu istirahat aja, aku juga mau ke kantor. Get well soon ya Dith," ujar Karin yang berdiri dari duduknya dan bersalaman dengan Radith lalu keluar rdari dalam kamar inap tanpa menunggu Luna. Radith sendiri tak menghilangkan pandangannya sampai gadis itu keluar dari dalam kamarnya dan pintu tertutup.
Radith mengambil ponselnya dan langsung mengetikkan sesuatu dan mengirimnya pada seseorang. Lelaki itu kembali menyembunyikan ponselnya saat pintu kamarnya terbuka. Lunetta sudah masuk ke dalam kamarnya dengan permen lolipop yang ada di mulutnya. Gadis itu tampak bahagia sambil menjilati lolipop itu.
" Lo dapat begituan dari mana? Lo kan Cuma ngembaliin nampan?" tanya Radith yang dijawab Luna dengan anggukan kepala. Luna menjelaskan kalau dia bertemu dengan seorang dokter muda dan dokter itu memberinya lolipop sebagai tanda perkenalan mereka. Tentu saja Luna tak bisa menolak karna kolipop salah satu makanan favoritnya setelah gula kapas.
" Lo tuh kok suka banget sih terima barang gitu? Lo kan gak kenal sama dokternya, kalau tenryata tuh lolipop diguna - guna dan Lo nanti jadi suka sama dia gimana dong? Ternyata Lo kena pelet, ih ngeri," ujar Radith yang berpura – pura mengelus lengan bagian atasnya.
Luna menatap lolipop yang cukup besar itu, memaandang Radith yang juga memandangnya. Gadis itu mengedikkan bahunya dan kembali memasukkan lolipop itu ke dalam mulutnya.
" Pelet pelet dah, yang penting lolipopnya enak," ujar Luna dengan santai dan tampak bahagia sekali dengan rasa lolipop di mulutnya. Sementara Radith yang melihatnya hanya menepuk wajahnya, tak menyangka dengan respon Luna.