Hopeless

Hopeless
Chapt 115



Darrel berjalan dengan geram ke sebuah ruangan di sebuah ruangan yang ada di lantai teratas gedung itu, wajahnya memerah dan tangannya mengepal memegang ponsel yang masih menampakkan pesan yang tadi pria tua itu kirim.


" Maksud papa apa? Darrel gak mau tunangan sama dia buru – buru gini pa, papa tahu Darrel baru putus sama Lunetta, kenapa papa memutuskan sepihak gini sih?" tanya Darrel kesal dan melempar ponselnya ke atas meja saat dia sudah sampai di hadapan bos besar pemilik Atmaja's corp. Pria itu itu memandang Darrel dengan santai karna sudah biasa mendapat perlakuan kasar dari anaknya sendiri.


" Kamu kenapa gak bilang alau dulu pernah pacaran sama anaknya Haryo? Kalau kamu bilang kan papa akan siapkan tanggal perbikahan kalian segera setelah kamu lulus Sekolah, Papa dan Haryo sudah bersahabat sejak lama, dan itu merupakan keuntungan besar pula bagi kita kalau bisa bersekutu dengan Haryo.," ujar tuan Atmaja merapatkan kedua tangannya, dia sudah memikirkan hal ini matang – matang dan menghitung keuntungan mereka jika sungguh menjadi besan dengan Haryo's corp.


" Perasaan Darrel gak jauh lebih penting dari perusahaan papa kah? Papa tega begitu kah jual Darrel demi keberlangsungan perusahaan?" Tanya Darrel menggelengkan kepalanya, tak menyangka semua hanyalah bagian dari rencana mengembangkan bisnis pria tua itu.


" Itu adalah takdir mu sebagai pewaris utama Atmaja's corp, kau harus berjuang untuk membuat perusahaan ini berkembang lebih pesat. Papa mengharap hal besar pada hubunganmu dengan putri Wilkinson, tapi ternyata kau sia sia kan kesempatan itu, tapi tak apa, Haryo memiliki kedudukan yang stabil dan saling mengejar dengan perusahaan super power itu."


Darrel masih diam, dia kehabisan kata kata tak menyangka ayah kandungnya sendiri memperlakukan dia seperti ini, apalagi selama ini Darrel diperlakukan layaknya anak tunggal karna Dara tinggal bersama pamannya, namun ternyata hal itu tak mempengaruhi keputusan tuan Atmaja, dia tetap saja memikirkan keuntungan, keuntungan dan keuntungan entah bagaimanapun caranya.


" Lagipula apa sulitnya untukmu? Kau juga mencintainya, menikahlah selayaknya kalian memang ingin menikah, dan papa dapatkan keuntungan sesuai apa yang papa inginkan, dan kita semua bahagia dengan jalan yang berbeda, bukankah itu ide yang bagus?" tanya tuan Atmaja dengan senyum lebarnya dan mendekatkan wajahnya pada Darrel dengan mata yang berbinar.


" Bagus? Bagus untuk Darrel atau untuk papa? " Tanya Darrel dengan sengit, lelaki itu tak akan pernah terima jika urusan masa depannya menjadi kacau karna ketamakan ayah kandungnya sendiri, bagaimanapun Darrel yang akan menjalani semua, bukan ayahnya.


" Darrel akan menikah di saat Darrel ingin menikah, dan Darrel akan menikah dengan orang pilihan Darrel, bukan pilihan papa," ujar Darrel teguh dengan keinginannya, namun perkataannya sama sekali dan digubris oleh lelaki tua di depannya, lelaki itu itu malah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Pertunanganmu dengan putrinya Haryo akan diadakan buland epan dan pernikahan kalian akan dilakukan segera setelah kamu lulus sekolah dan kamu akan papa beri perusahaan pusat di Indonesia untuk kamu urus, kamu tidak dalam posisi bisa menolak, kamu hanya perlu menjalaninya."


" bangsat." Desis Darrel sangat sangat pelan, dia masih tahu diri untuk tidak durhaka pada orang tuanya, namun dia tetap tidak terima dengan perjodohan ini, meski jika hatinya nanti memilih Fera, Darrel ingin semua berjalan dengan semestinya tanpa ada paksaan dari pihak manapun.


Lelaki itu mengambil ponselnya dan berjalan keluar dari tempat itu. Di lemparnya ponsel milihnya ke tembok sampai remuk, menandakan betapa remuk hati dan harga dirinya di dpean papanya sendiri, papanya yang merenggut itu semua dengan memaksa Darrel melakukan apa yang beliau kehendaki.


Come on, Darrel juga manusia namun papanya memperlakukannya seperti boneka dimana dia harus mengikuti apapun yang diinginkan oleh papanya. Gila bila orang berkata itu wajah, sungguh. Dari Darrel kecil dia selalu mengikuti apa yang diinginkan papanya, namun keputusannya untuk memberontak akhirnya terjadi, dimulai dengan dia yang memutuskan untuk masuk STM Taruna dibanding masuk kelas bisnis.


Kala itu bahkan papanya sudah mendaftarkannya di sekolah bisnis international, namun Darrel merasa itu bukan bidangnya, dia lebih suka hidup bebas dan menjalaninya sesuai keadaan. Sementara dengan berbisnis, dia harus memplaning semua matang – matang agar keberlangsungan usaha berhasil. Darrel mendapat amukan keras dari papanya atas keputusannya.


Tuan Atmaja sangat murka karna tak sedikit uang yang beliau keluarkan untuk Darrel bisa masuk ke sekolah itu, namun jawaban Darrel sangat simple, dia mengatakan jika itu bukan urusannya akrna papanya sendiri yang mendaftarkan dirinya tanpa mengkonfirmasi apakah Darrel bersedia. Jawaban itu sontak membuat tuan Atmaja mengibarkan bendera perang pada Darrel, putra kandungnya sendiri.


Tuan Atmaja menyita semua kartu yang pernah dia berikan dan membiarkan Darrel hidup di panti asuhan meski hanya beberapa bulan, kecerdikan Darrel dan talentanya dalam memasak membuatnya dengan mudah membangun bisnis kuliner kecil – kecilan. Akhirnya tuan Atmaja melunak dan meminta Darrel kembali ke rumah serta memberikan modal yang besar untuk Darrel dengan syarat lelaki itu bisa menjadi sukses atau menyerah dengan pilihannya.


Darrel menerima syarat itu dan akhirnya membuktikan kemampuannya dalam berbisnis, namun bisnis yang sesuai dengan minatnya, sesuai dengan apa yang ingin dia lakukan selama ini.


Darrel menaiki mobil sport nya dan melajukan mobil itu secepat mungkin menuju rumahnya, lelaki itu melihat Fera yang duduk di pelataran rumahnya dan menunggu kehadirannya. Darrel menghela napas dan segera turun dari mobilnya, menghampiri gadis yang kini tersenyum lebar melihat kepulangannya.


" Darrel, akhirnya kamu pulang, aku bawain brownies bikinan aku sendiri nih," ujar gadis itu riang sambil menyodorkan brownies yang dia pegang ke Darrel, lelaki itu menerima brownies yang diberikan oleh Fera dan tersenyum tipis, moodnya sedang hancur hari ini, tak ingin ada yang mengusiknya.


" Kamu kenapa? Unmood kah?" tanya Fera memegang pipi Darrel dan mengusapnya, namun Darrel tampak tak nyaman dan melepaskan tangan itu dari pipinya. Fera tetu terkejut dengan perlakuan Darrel, kemarin lelaki itu masih baik – baik saja, namun mengapa hari ini dia sudah berubah lagi?


" Aku capek banget hari ini, kamu pulang ya, aku mau tidur," ujar Darrel yang langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan dari Fera. Gadis itu tampak kecewa sampai berkaca – kaca, sepertinya hati Darrel mulai berubah, tak lagi untuknya yang bahkan berstatus cinta pertama. Menyedihkan sekali.


" Aku mau ajak kamu ke panti asuhan yang dulu kita sering kesana rel, tapi kamu masih gak mood banget ya? Yaudah aku pulang dulu ya," ujar Fera pelan seakan Darrel masih ada disini untuk mendengarkannya. Fera berjalan pelan menuju mobilnya, satu jam lebih dia menunggu Darrel untuk datang, namun lelaki itu malah mengabaikannya.


*


*


*


Luna mngaduk gelasnya pelan agar es krim yang ada diatas gelasnya tidak tercampur dengan air susu yang ada di dalam gelas.


" Kenapa diaduk sih Lun? Kan itu udah milkshake, tinggal minum," ujar Angga yang jengah karna Luna tampak konsentrasi sekali mengaduk minuman itu.


" Hhehhe, Luna yang lagi kurng kerjaan kak, habisnya kak Angga ajak Luna kesini tanpa tujuan yang jelas, masak Cuma mau minum milkshake gini? Jangan jangan kak Angga suka ya sama Luna makanya modus gitu?"


~ ctaakk


" Kalau ngomong yang bener, gue udah bilang gue anggap Lo sebagai adek, gak lebih kurang dikit bolehlah. Jadi, lo gak usah mikir yang aneh – aneh, kalau masalah kemarin di UKS, gue sengaja buat manas – manasin Darrel aja, hahaha," ujar Angga yang tertawa puas saat membayangkan wajah kesal Darrel karna dia tampak dekat dengan Luna.


" Manas – manasin kak Darrel? Jadi kemarin kak Darrel panas? Kak Darrel masih sayang sama Luna dong ya?" Angga langsung menghentikan tawanya dan menatap Luna dengan serius, hampir saja Angga lupa tujuannya membawa Luna kemari. Lelaki itu memandang Luna iba dan menggenggam tangan Luna.


" Janji Lo bakal baik – baik aja apapun yang gue lakuin ke Lo?" tanya Darrel yang membuat Luna was – was, entah mengapa perasaannya jadi tak enak karna Angga menatapnya serius namun terpancar kilatan luka dalam matanya.


" Darrel sama Fera bakal tunangan Lun, gue baru aja dikabarin sama dia," ujar Angga pelan menyodorkan ponselnya dimana di dala ponsel itu berisi pesan diamam Darrel memang mengatakn pada Angga tentang hal ini.


" Jadi kak Darrel memang suka sama Fera? Gak ada rasa lagi sama Luna? " tanya Luna menunjuk dirinya sendiri. Rasanya semua tiba – tiba, tiba – tiba saja Fera muncul, dekat dengan Darrel, fakta bahwa Darrel juga menyukai Fera, hubungan Luna yang kandas bahkan berita pertunangan ini, semua terasa tiba – tiba.


" Mereka bakal tunangan minggu depan Lun, gue gak bisa bilang yang baik – baik Cuma buat ngehibur Lo doang, gue Cuma pingin Lo hidup bahagia dan siap, gue juga gak mau Lo dengar dari orang lain."


" Kak, Kita pulang yuk, tiba – tiba Luna ngerasa pusing banget kak," ujar Luna memegang kepalanya membuat Angga menghela napas namun juga mengikuti apa yang menjadi keinginan Luna. Mereka pergi menginggalkan café dengan motor kesayangan Angga.


Luna terasa memeluk Angga dari belakang, menyenderkan kepalanya yang memakai helm dan terdiam sampai mereka ada di rumah Luna. Entah mengapa Angga merasa bersalah memberitahukan hal ini pada Luna namun lebih baik gadis itu mengetahuinya dari awal dari pada dia terus berharap hingga dia jauh lebih terluka.


" Makasih ya kak, makasih juga udah ditraktir. Luna masuk dulu," ujar Luna mengulurkan helmnya tanpa menatap ke arah Angga. Angga menerima helm itu dengan perasaan yang campur aduk, Luna tampak tak bertenaga dan melangkah ling – lung ke dalam rumahnya.


" Lun, Lo boleh nangis dan sedih ahri ini, tapi Lo harus janji seteah ini Lo gak akan pernah nangis lagi karna Darrel," ujar Angga pelan sebelum memutar motornya dan pergi dari rumah Luna.


Luna seakan kehilangan minat hidup, dia berjalan menuju lift dan langsung pergi ke lantai empat, entah apa yang dia pikirkan, padahal kamarnya ada di lantai tiga. Luna bahkan mengabaikan setiap pelayan yang lewat dan memandangnya dengan binung, namun mereka masih memilih untuk mengabaikan Luna dibanding terkena masalah, yaps, mereka tak mau terlibat.


Luna masuk ke sebuah taman dimana taman itu disulap oleh Darrel menjadi tempat makan yang sangat indah, bahkan dekorasinya tak berubah sedikitpun. Pelayan hanya masuk dan membersihkan tempat ini, namun tidak untuk memindah atau mengganti dekorasi yang ada disana.


Tak terasa air mata Luna meleleh, memegang daun palsu yang menjadi hiasan pintu ruang itu. Luna merasa semua baru saja kemarin, namun hari ini situasinya sudah berbeda lagi. Apakah ini yang disebut bumi selalu berputar? Namun kenapa perputaran itu membawa luka bagi Luna? Sudah habiskah waktu bahagia baginya?


Gadis itu berjalan berkeliling dan mulai merasakan emosi dalam hatinya yang meledak – ledak, dai mulai berteriak dan memegang telinganya, lalu merusak semua dekorasi yang ada disana.


~ pyaar pyaar pyaaarr


Luna membanting semua meja, nas bunga bahkan vigura yang berisi foto dirinya dan Darrel. Semua sudah berakhir, untuk apa Luna mempertahankan benda – benda ini? Sama seperti hidup Luna, benda – benda ini sudah tidak ada artinya lagi.


" Kenapa kak Darrel hadir dan perbaiki semua kalau akhirnya buat Luna jauh lebih hancur? Kenapa semua laki – laki selalu brengsek kayak gini? Kenapa?" Tanya Luna kasar sambil menginjak ' awajah Darrel' yang tergeletak di lantai.


Gadis itu keluar dari ruang itu menuju ruang yang ada di sebelahnya, ruang yang Darrel siapkan saat ulang tahun Luna dimana mereka berdansa dan Luna menerima kalung dari Darrel, kalung yang entah saat ini ada dimana, mungkin sudah ada di tangan yang tepat.


Dia berjalan terburu buru dan melepas semua polaroid yang ada di dinding, menyobeknya menajdi potongan kecil dan membuangnya begitu saja ke lantai, dia bahkan mengambil jarum yang selalu dia simpan di sela untuk memasukkan sabuk.


Luna memandang balon warna warni cantik yang kini tampak mengempes karna tidak pernah disini atau dilepas, hanya dibiarkan begitu saja. Luna mendekat dan mulai menikam balon baon tak berdosa itu, seakan sakit dalam hatinya mereda bersama dengan balon yang pecah itu.


Bisingnya suara tak membuat Luna jera, satu persatu balon yang ada disana mulai pecah tak bersisa, ruang yang tadinya tapak indah kini terlihat kacau dan menyeramkan. Tak puas sampai disitu, Luna bahkan melepas sambungan lampu tumbrl dan mulai memotong motong lampu itu dengan gunting yang tersedia disana.


Luna tak ingat mengapa dia menyimpan gunting, namun dia bersyukur karna dia bisa menuntaskan semua kenangan menyebalkan ini, dia tak ingin benda – benda ini ada di rumahnya. Luna harus menghancurkan semua sampai tak bersisa.


Gadis itu keluar dari ruangan dan berjalan menuruni tangga menuju kamarnya. Dibantingnya pintu kamar itu kuat kuat dan dia duduk di meja rias miliknya. Digenggamnya gunting yang tadi dia gunakan untuk memtong rambut panjang lurus indah miliknya.


Rambut panjang Luna mulai gugur satu persatu, Luna memotongnya asal sampai sebatas bahu, ada pula yang diatas bahu, entahlah, Luna hany menci melihat rambut panjangnya yang sering diusap oleh Darrel. Dia ingin menyingkirkan rambut itu.


Pintu kamar terbuka tiba –tiba saat Luna tengah memotong rambutnya, gadis itu tak menoleh, dia tetap sibuk memotong helaian yang berdosa itu.


" KAMU NGAPAIN?!!!" Teriak orang itu berlari menghampiri Luna dan menjauhkan gunting yang dipegang gadis itu, menahan Luna untuk ' menyiksa' rambut indahnya. Orang itu merebut paksa gunting tersebut dan membawa Luna ke dalam pelukannya.


" aaahkk ahhkk ahhkkk." Luna mulai menangis kencang dipelukan orang itu, sementara yang memeluk tak menannyakan papaun, dia hanya memeluk gadis kecilnya yang tampak hancur.


" ssttt, ada abang di sini, stttt Abang gak akan biarin Luna sakit lagi, sstttt."


" Luna mau potong rambut Luna, Luna benci rambut Luna, Luna mau potong rambut Luna!" bentak Luna dalam pelukan kakaknya, namun dia tak berusaha merebut gunting itu, dia hanay memukul mukul dada Jordan dengan lemah.


" Abang potongin ya, biar rapi, biar adik abang makin cantik jadinya," ujar Jordan pelan di telinga Luna dan mendorong gadis itu peland ari pelukannya. Luna mengangguk dan duduk tegak menatap kaca di meja rias ementara Jordan langsung memotong tiap helai rambut berantakan Luna agar terlihat lebih rapi.


Luna menangis detiap rambut itu jatuh dari kepalanya, Luna menatap Jordan yang juga menangis namun tetap memotong rambutnya. Lelaki itu juga merasakan apa yang Luna rasakan, mungkin memang lelaki yang tak pernah menyakitinya adalah bang Jordan, ya, hanya bang Jordan.


" Udah selesai, adek abang memang cantik walau rambutnya pendek atau panjang," ujar Jordan meletakkan gunting di meja dan memeluk leher Luna dari belakang. Di kecupnya puncak kepala Luna dengan satu tetes air mata yang kembali jatuh dari matanya.


" Abang akan selalu ada di sisi Luna, sebahagia atau sehancur apapun kondisi Luna, abang ada disini buat Luna."