
" Susah ya ngomong sama orang lemot kayak Lo, nyebelin banget sih. Buruan minumnya, keburu yang lain tambah jauh, ntar kita dimarahin sama gurunya, gue gak mau ya sampai kayak gitu," ujar Radith dengan nada tinggi dan langsung berdiri namun tak meninggalkan Luna. Gadis itu tampak kecewa dan beridi tanpa menghabiskan teh hangat dalam plastik itu.
" Kembung gue dith," ujar Luna yang memelas pada Radith. Lelaki itu menghela napas dan langsung merebut teh yang dipegang oleh Luna. Lelaki itu menghabiskan langsung dari sedotan yang tadi digunakan oleh Luna. Gadis itu langsung melotot karna mereka minum dari sedotan yang sama. Itu artinya mereka bertukar liur secara tak langsung, itu artinya…
" Gak usah mikir yang aneh aneh, di STM biasa kayak gini, kalau Lo gak biasa, Lo bisa pindah sekolah. gak usah kayak anak SD yang kalau minum sedotannya harus dibalik, dasar," ujar Radith yang masih galak dan ketus pada Luna. Lelaki itu sedikit menjauh untuk membuang sampahnya di tempat sampah dan meminta Luna untuk kembali berlari.
Mereka melanjutkan langkah mereka sebelum terlalu jauh dengan mereka yang ada di depan. Memang bukan waktu yang menjadi penilaian, tapi jika mereka terlalu jauh, tentu akan menimbulkan kecurigaan dan berakhir dengan masalah baru bagi mereka. Radith tak mau hal seperti itu terjadi. Sudah cukup dia sering absen dan sering dihukum oleh guru, jika dia membuat maslaah lagi, bisa saja dia dikeluarkan dari sini.
Tanpa disengaja, Luna tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur, tak selesai di situ, kepala Luna tak sengaja terkena batu yang ada di pinggir jalan itu, membuat darah segar mulai keluar dari kepalanya. Radith melotot melihat Luna tersungkur, namun dia menjadi lebih panik saat Luna memegangi kepalanya yang berdarah.
" Kok bisa jatuh sih? Astaga, kepala Lo berdarah. Aduh," ujar Radith yang memegang pundak Luna dan menengok ke kiri kanan untuk mencari mereka yang menjaga Luna dari jauh. Mereka tahu jika Luna tak baik – baik saja, membuat mereka keluar dari persembunyian dan segera menghampiri Luna dan Radith. Mereka segera membawa Luna ke rumah sakit menggunakan sepeda motor karna membutuhkan waktu lebih lama jika mereka mau menunggu moil.
Luna tak mengatakan apapun, gadis itu masih kaget dan tetap memegangi dahinya yang tersu berdarah. Sesering apapun dia terjatuh belakangan ini, ini pertama kalinya dia sampai berdarah – darah, jika Jordan mengetahu hal ini, tentu akan menjadi masalah besar. Namun dia sendiri tak bisa menyembunyikannya dari Jordan.
Mereka sampai di rumah sakit dan Luna langsung berlari ke UGD untuk mendapatkan pertolongan dengan cepat. Radith sendiri menyusul persis di belakang Luna untuk memastikan gadis itu baik – baik saja. Ada rasa bersalah menghantui lelaki itu, kenapa dia memaksa Luna untuk kembali berlari dan membuat gadis itu terjatuh?
Apakah gadis itu sangat kelelahan namun tak enak padanya hingga memaksakan diri untuk berlari? Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa Luna kembali celaka saat bersamanya? Semua pertanyaan itu terniang – niang di telinga Radith seakan ada orang yang sengaja membisikinya perihal ini.
Perlu waktu bermenit – menit untuk dokter mengobati luka Luna. Untung saja tak diperlukan jahitan untuk luka itu dan dipastikan Luna akan segera pulih jika gadis itu tak mengalami cidera lain. Saat mengatakan hal itu dokter tersenyum, namun Radith melihat hal lain dari isi mata dokter itu saat melihat Luna.
" Ayo dith, kita balik ke sekolah, takutnya pada khawatir karna kita kan pergi gak pamit," ujar Luna pada Radith yang masih terdiam di tempatnya.
" Lo duluan, cek dulu di luar udah ada supir belum, gue mau ke kamar mandi dulu, kalau udah datang telpon gue aja," ujar Radith yang diangguki oleh Luna. Gadis itu berjalan perlahan ke arah depan untuk memastikan supir yang akan menjemput mereka sudah datang.
" Dokter, apa yang dokter tahu tentang gadis tadi? Saya tahu ada yang gak beres sama gadis itu, dokter bisa jujur ke saya," ujar Radith yang membuat dokter itu terkaget. Dokter itu tampak ragu untuk memberi tahu Radith, namun karna terus didesak, akhirnya dokter itu menghela napas dan mulai menjelaskan apa yang dia temukan saat tadi merawat Luna.
" Saya tidak begitu yakin. Tapi sepertinya gadis tadi harus memeriksakan diri ke dokter saraf, karna saat tadi saya cek kondisi kakinya, sarafnya sedikit bermasalah dan responnya sedikit melambat. Apakah gadis itu pernah menalami hal sepura sebelumnya?" tanya dokter itu yang membuat Radith berpikir.
" Ini bukan pertama kalinya dia jatuh karna tersandung kakinya sendiri dok, tapi ini yang paling parah sampai kepalaya kepentok batu gitu. Apa kondisinya memang serius dok?" tanya Radith dengan wajah yang khawatir. Dokter itu menghela napasnya. Dia hanya dokter umum biasa, jika mau tahu kondisi Luna, ada baiknya mereka memeriksakannya ke ahlinya.
" Saya tidak berani menjamin, tapi memang ada baiknya diperiksakan ke dokter saraf, karna saya bukan spesalis, saya takut pengamatan saya salah. Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya periksa," ujar dokter itu yang langsung dipersilakan oleh Radith, lelaki itu memandang dokter yang sudah pergi dari sana.
Radith segera menyusul Luna yanag sedari tadi sudah menelponnya, namun dia abaikan karna pembicaraan dengan dokter memang lebih penting. Lelaki itu berlari dan berjalan santai saat sudah dekat, Luna menanyainya banyak hal, namun dia hanya menjawab sekenanya, entah apa yang ada dipikiran gadis itu tentangnya, dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia dengan dari dokter.
" Lun, Lo bawa vitamin yang biasa Lo minum gak? Kalau boleh gue mau minta semua satu – satu, kayaknya gue mulai gak fit, jadi gue juga harus minum itu, kalau gue dapat sample kan ke dokternya lebih gampang, tinggal kasih contoh vitaminnya aja," ujar Radith tiba – tiba saat mereka sudah ada di dalam mobil. Meski bingung, Luna tetap menuruti apa yang dikatakan Radith.
" Boleh aja, tapi obatnya di kelas, nanti deh kalau udah sampai sekolah gue kasih gratis buat Lo, asal Lo mau contekin gue waktu praktek minggu depan," ujar Luna yang mulai melakukan negosiasi. Radith menatap Luna dengan malas, gadis itu sepertinya sudah kehilangan otak saat terjatuh tadi.
" Kita kan satu kelompok Lun, tanpa Lo minta juga pasti gue contekin buat Lo lah. Walau sebenernya Lo tuh harus bisa sendiri, kalau besok gue berangkat buat LKS Lo mau gimana? Lo juga harus bisa praktek sendiri tanpa ada gue," ujar Radith yang mulai mengomeli Luna.
Gadis itu memajukan bibirnya dan menatap Radith melalui lirikannya. Dia kan hanya meminta bantuan Radith, mengapa lelaki itu malah mengomelinya seperti ini? Apakah lelaki itu memiliki bakat menjadi ibu – ibu cerewet? Kenapa Radith yang dingin? Meski Radith yang hangat jauh membuatnya nyaman, namun Radith yang dinginlah yang membuatnya jatuh cinta.
" Gak usah mikir hal aneh – aneh tentang gue, gue bisa aja balik lagi jadi dingin dan gak peduli sama Lo, kalau emang itu yang Lo mau," ujar Radith yang lagi – lagi bisa membaca pikiran Luna. Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali – kali sebagai jawaban.
Namun rasanya terlambat, Radith sudah memalingkan wajahnya dan menatap jalanan lewat jendela. Lelaki itu tak mungkin memainkan ponselnya di dalam mobil, hal itu bisa membuatnya pusing dan berakhir dengan mual. Tentu sangat memalukan jika dia sampai mabuk perjalanan dan muntah di tempat ini. Radith tak mau hal itu terjadi.
Jika pasangan lain, pihak lelaki yang akan memohon jika perempuannya marah atau kesal, lelakinya akan membujuk agar gadis itu tak marah lagi. Namun Radith berbeda, jika Luna atau gadis yang ada di sekitarnya marah, lelaki itu akan mendiamkannya sampai gadis itu baik sendiri. Dia tidak akan membiarkan gadis itu menjadi manja dan terbiasa merengek padanya.
Memang perlakuan yang diberikan Radith berbeda, hanya rasa sayang lelaki itu sangat besar, dia hanya tak bisa mengatakan jika dia menyayangi orang itu, namun dia langsung menunjukkannya lewat perlakuannya yang sering di salah artikan menjadi sesuatu yang negatif oleh orang itu. Tak semua orang bisa memahami Radith selayaknya Radith memahami semua orang di sekitarnya.
" Lo mau bilang gimana sama gurunya? Gue yakin kita udah ditungguin dari tadi," ujar Radith memecah keheningan. Benar kan kata Luna, lelaki itu hanya butuh waktu untuk tak diganggu agar moodnya membaik, semakin berusaha menenangkan Radith, semakin lelaki itu akan merajuk dan marah.
" Ya bilang aja yang sebenarnya, kalau bohong mah nanti dosa," ujar Luna dengan cuek sambil memasang headset yang dia simpan di mobil ini, mengambil salah satu ponselnya dan mulai mendengarkan lagu kesukaannya. Radith tak heran melihat hal itu, Luna kan memiliki banyak ponsel.
" Maksud Lo bilang kalau Lo males lari, terus kita istirahat dulu, beli teh anget dulu, kayak gitu maksud Lo?" tanya Radith sambil menaikkan alisnya. Luna memutar bola matanya dengan malas, lalu mengambil sebelah headset di kupingnya dan memasangkan headset itu ke telinga Radith.
Radith pikir lagu romantislah yang diputar oleh Luna, ternyata gadis itu hanya mau memamerkan MV terbaru boyband negeri ginseng yang sedang hangat diperbincangkan. Luna tampak antusias mengikuti alunan yang ditunjukkan oleh orang – orang itu. Radith bukan haters, namun lelaki itu juga tak menyukai mereka. Hanya saja melihat Luna tersenyum lebar, membuat Radith penasaran akan apa yang di lihat Luna.
Radith tak mengerti apa yang diucapkan oleh orang – orang dalam video itu, jujur saja, Radith hanya dapat menangkap kata – kata ' I Don't think so.' Dan ' shut up and go away.'. apakah Luna ingin dirinya diam dan pergi? Atau Luna hanya tertarik dengn MV yang panas itu?
" Lo nonton emang ngerti mereka ngomong apa?" tanya Radith dengan wajah bingungnya. Hebatnya, Luna santai saja menggelengkan kepalanya dan kemudian kembali mengangguk – angguk mengikuti alunan beat yang ada di lagu itu.
" Apa sih lagunya? Mereka kayak terobsesi terhadap suatu hal gitu? Kok gue gak paham? Ada yang versi inggris atau indonesia nya gak?" tanya Radith dengan tak mengerti, lelaki itu hanya melihat judul ' obsession', yang membuatnya menebak itulah yang diceritakan di lagu ini. Luna menggeleng lagi sebagai jawaban, membuat Radith menyerah dan mengikuti alunan lagu yang ada di sana, sampai tanpa sadar Radith ikut berkata ' Idon't think so' sesekali.
" Gilak dith, abs nya Jongin, bikin meleleh banget. Gue pikir mereka udah cukup hot gitu, ternyata kloningan mereka lebih hot, astaga, meleh gue lihat Junmyeon, meleleh gue lihat Jongin, meleleh gue lihat Jong dae. Astaga, mereka tuh bikin dunia gue berwarna banget," ujar Luna sampai berteriak histeris karna orang – orang itu menunjukkan pose yang ' menggemaskan' di video itu.
" Lo harus lihat yang ini dith," ujar Luna yang mengetikkan kata kunci ' love shot' di aplikasi itu, dan muncullah video klip lain dengan grub yang sama. Luna mulai heboh sampai menepuk – nepuk pundak Radith, lelaki itu sampai kesakitan karna Luna menepuknya terlalu keras. Di Video itu tampak beberapa pria tadi menunjukkan pose yang memamerkan keseksian mereka. Oh ayolah, apa Luna pikir Radith tertarik?
" Gue lebih tertarik buat lihat Lo, dari pada ngelihatin mereka. Setidaknya jati diri gue sebagai lelaki gak dilecehkan kayak gini, " ujar Radith pelan sambil melihat ke arah luar jendela. Lelaki itu yakin Luna tak bisa mendengarnya karna fokus Luna yang berlebihan pada video klip itu.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sekolah, benar saja, semua siswa mengkhawatirkan hilangnya mereka, membuat Mereka perlahan menjelaskan apa yang terjadi sekaligus meminta maaf sudah membuat mereka semua khawatir. Guru itu akhirnya memaklumi mereka berdua dan meminta mereka semua untuk membubarkan diri ke kelas masing – masing.
" Eh," ujar Luna dengan kaget saat dia kembali tersandung, namun kali ini dia tak jatuh apalagi tersungkur, karna Radith ada di belakangnya dan menjaganya sedemikan mungkin. Luna tersenyum dan menyeringai manis saat Radith hanya menatapnya dengan wajah datar meski tangan lelaki itu mencengkram lengannya erat, seakan memastikan Luna tak akan jatuh lagi untuk saat ini.
" Setidaknya gue bisa jadi kaki dan tangan Lo di saat kayak gini, Lo harus ingat itu, Lo gak akan pernah jatuh sendirian apalagi sampai terluka, gak akan pernah lagi," ujar Radith dengan dalam dan nada bicara yang rendah.
*
*
*
Halooo, maaf untuk keterlambatannya. Beberapa hari kemarin author memang kurang sehat dan Cuma memperhatikan statistik kenaikan pembaca. Author baru ngebut nulis dari tadi pagi dan mentok di sini, besok bakal Up lagi ( doakan hehehehe)
Terimakasih untuk 20k pembaca dalam seharinya. Dari yang pembaca Cuma 400 sehari, sekarang udah naik jadi 20k sehari ( padahal gak up) gimana gak bahagia coba wkwkwkkwk.
Terimakasih untuk dukungan dan like nya, buat yang belum like, part 1 udah 200 like loh, malah bawahnya engga whehehehe, bisa dong nunggu up di like dulu wkwkwk #Maksa
Ditunggu up selanjutnyaaaa, Love Love