
Luna menghela napas melihat satu koper kecil yang hanya berisi barang – barang pentingnya. Gadis itu seakan enggan meninggalkan Indonesia, namun dia juga tak bisa tetap berada di negara ini jika seperti ini kondisinya. Bahkan gadis itu tak memberi tahu teman – temannya karna dia yakin akan membuat mereka kepikiran tentang kondisi keluarganya.
Gadis itu menatap ruang kamarnya, karna jika sudah pergi dari rumah ini, kecil kemungkinan dia bisa kembali lagi ke rumahnya ini. Bagaimana dia bisa mengucapkan perpisahan pada setiap benda yang selalu menemani malamnya? Setiap benda penuh kenangan yang menjadi saksi bisu setiap kegiatan dan setiap rasa kesepian yang dia alami.
" Kata siapa jadi anak orang kaya enak? Kata siapa jadi anak CEO yang terkenal sukses itu enak? Kenapa gue gak bisa ngerasain itu saat ini? Kenapa?" tanya Luna pada figura foto dirinya dan Darrel yang dia pajang di samping tempat tidurnya. Gadis itu membawa foto itu dan keluar dari dalam kamarnya.
Hal lain yang membuat Luna merasa sedih, bahkan dia tak bisa bertemu dan mengucapkan perpisahan sementara dengan lelaki itu, apalagi kondisi Darrel saat ini membuat Luna sangat khawatir. Apakah Luna harus mendatangi rumah lelaki itu? Tapi bagaimana jika Darrel malah marah karna kehadirannya? Luna tak mau membuat kondisi lelaki itu tambah memburuk.
" Terima kasih kalian sudah mau jadi pelayan yang baik walau kalian sering makan gaji buta, saya gak salahin kalian kok, emang Daddy aja yang suka bagi – bagi uang dan nyewa banyak pelayan padahal rumah ini gak ada orang. Apapun itu, terima kasih ya, semoga kalian tetap rajin walau gak ada saya di rumah ini," ujar Luna sambil tersenyum kecil.
" Ah iya, kalau kalian punya anak kecil atau keluarga, kalian bisa ajak tinggal di sini juga gak papa, asal gak bikin rumah ini berantakan kalau saya pulang nanti. Kalian bagi aja kamarnya, kamar yang ada di ruangan saya juga boleh, asal jangan ke kamar saya sama ke ruang kaca ya," ujar Luna yang diangguki oleh mereka dengan sopan, toh mereka tak mungkin mengajak keluarga mereka ke rumah ini.
Bicara soal rumah kaca. Luna tak pernah mengubah desain ruang itu, ingat saat Darrel memberinya kejutan dengan menata ruang itu dengan snagat indah dan romantis? Luna sangat bahagia dengan hal itu, dia bahkan masih sering masuk ke sana saat merindukan lelakinya, meski semua bunga yang dulu segar kini sudah mati, Luna tak pernah mau melepas apapun yang ada di sana.
" Kak Darrel, Luna berangkat. Luna udah turutin apa yang diingkan sama kak Darrel, Luna hahrap kak Darrel bisa bahagia setelah ini. Luna masih pacar kak Darrel kan kak? Luna gak mau berpisah sama kak Darrel, Luna terlanjur menaruh hati dan hidup Luna ke kak Darrel," ujar Luna sambil menunduk sedih, gadis itu baru menaydari perasaannya di saat seperti ini.
Luna selalu ragu tentang siapa yang dia sukai, Radith atau Darrel, dia selalu tak yakin tentang hal itu. Namun entah mengapa saat ini dia merasa dia sangat sedih dan merasa kehilangan karna harus meninggalkan Darrel dengan cara seperti ini, Luna bahkan masih tak mengerti kenapa Darrel melakukan ini.
" Gue ngerasa ada yang janggal, tapi gue masih ngerasa kak Darrel ngerasa tertekan kalau ada di sebelah gue. Apa gue terlalu bikin dia minder? Kalau ya, berarti memang gue harus pergi dulu. Kak Darrel, lekas pulih, Luna bahkan gak ada rencana sedikitpun buat ninggalin kak Darrel setelah kecelakaan ini, kak Darrel semangat!" ujar Luna menatap ke arah langit, dia berharap energi positifnya sampai ke lelaki itu.
" Selamat tinggal rumahku, sampai ketemu lagi. Selamat tinggal Indonesia, semoga setelah kehilangan anak cantik ini, Kau tetap bertahan dan menjadi negeri yang gemilang," ujar Luna yang langsung masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu langsung berjalan menuju bandara dimana Luna akan ikut penerbangan pribadi menuju rumah papanya.
Luna teringat sesuatu, dia langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor abangnya. Bagaimana dia bisa melupakan Kak Keysha yang tinggal di rumahnya? Wanita itu terakhir kali masih berada di rumah Ibunya, bagaimana Luna bisa meninggalkan Ibu hamil itu sendirian di negara ini?
" Kamu ada di mana? Kamu belum take off juga? Kamu kenapa telpon Abang? Tumben banget?" tanya Jordan dengan napas terengah, sepertinya lelaki itu sedang berjalan cepat, atau mungkin sedang berlari? Luna menahan pertanyaan itu karna dia memiliki pertanyaan yang lebih penting untuk saat ini.
" Kak Keyha gimana kalau Luna pergi? Kak Keysha gak diajak sekalian?" tanya Luna yang dijawab kekehan dari Jordan, memang ada yang lucu? Itu lah yang ada di pikiran Luna, gadis itu bahkan tidak sedang bercanda atau mengatakan sesuatu yang lucu. Jordan tak menjawab, lelaki itu tampak mengatur napasnya sebentar.
" Keysha udah ada di Inggris kalik Lun, dia udah sama Danesya, ada Roy jyga bahkan. Makanya kamu buruan ke sini, eh ini Abang mau ada urusan, Abang matiin dulu, I Love you, eh tapi lebih Love ke Keysha, Bye," ujar Jordan yang langsung menutup panggilan secara sepihak.
" Jadi mereka semua udah ada di Inggris? Makanya gue diminta pergi ke sana? Giliran dulu aja gue gak boleh ke sana, sekarang udah nyaman malah gue dipaksa pergi ke sana. Kapan sih kalian semua gak otoriter kayak gini? Menyebalkan sekali," ujar Luna yang menatap lagi ke jalanan karna dia sudah memasuki area bandara.
Luna berjalan masuk ke bandara itu, namun dia langsung berbelok ke jalur khusus karna dia memakai pesawat pribadi untuk take off, Luna juga heran bagaimana papanya bisa mendapat ijin seperti itu? Mungkin papanya terlalu kaya dan bisa meminjam landasan serta menumpang parkir pesawatnya di bandara ini. Bagaimana reaksi orang – orang jika melihat hal ini?
Ponsel Luna ebrbunyi, membuat gadis itu terkaget dan langsung mengambil ponselnya lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya, dia melihat nama Radith tertera di ponsel itu sebelum mengangkatnya. Meski pengawal meminta Luna untuk berjalan, Luna mengangkat tangannya dan meminta mereka diam sementara dia menunggu Radith berbicara.
" Lo dimana? Lo udah take off? Buruan jawab," ujar Radith yang tampak terburu – buru, Luna tentu langsung menjauhkan ponselnya dan menatap kontak Radith yang ada di ponselnya. Kenapa lelaki itu tampak panik sekali? Memang apa yang sudah terjadi? Bahkan Radith tak sepanik ini setelah sadar dari kematian.
" Gue lagi di bandara, ini gue mau take off kalau Lo gak telpon. Kenapa sih? Lo mau cegah gue pergi ke luar negeri kayak di film – film romantis gitu?" tanya Luna dengan nada bercanda. Gadis itu kembali berjalan dengan foto Darrel yang masih senantiasa dia pegang. Luna berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh pengawalnya.
" Iya! Lo jangan take off sekaranhg. Lo coba cek ke rumah Darrel, gue gak lagi di Indonesia dan kemarin dia telpon gue kayak depresi gitu, dan bahkan hari ini dia gak bisa dihubungin. Gue khawatir banget kalau dia ngelakuin hal neat," ujar Radith yang membuat Luna terdiam seketika. Tangannya mendadak jadi lemas dan seluruh tubuhnya terasa dingin.
" Ma.. maksud Lo apa? Lo bercanda kan? Kenapa Lo gak bilang sama Gue dari kemarin? Kenapa Lo baru bilang sekarang?" tanya Luna dengan marah. Gadis itu langsung berbalik, namun ditahan oleh pengawalnya. Membuat Luna makin marah dan mencak – mencak sendiri.
Persetan dengan mereka yang menatap Luna dengan aneh, mungkin mereka menganggap Luna emngalami gangguan kejiwaan. Gadis itu tak bisa menerima jika sesuatu yang buruk terjadi pada Darrel. Cukuplah lelaki itu mengalami kecelakaan yang membuat hari – harinya menajdi berat, Luna tak mau hal yang lebih buruk terjadi.
" Gue kira dia juga bercanda Lun. Makanya gue gak kabarin Lo, apalagi Lo harus pergi ke luar negeri. Tapi dari tadi pagi gue gak bisa kabarin dia. Ponsel dia bener – bener mati dan gak bisa dilacak keberadaannya. Lo harus cek ke rumahnya. Gue, gue takut dia, dia ngelakuin hal yang dia bilang ke gue kemarin," ujar Radith terbata.
" Kak Darrel bilang apa ke Lo? Dia ngomong apa ke Lo? Radith! Jangan diem aja. Dia mau ngelakuin apa?" tanya Luna saat Radith di seberang sana hanya terdiam dan mendesah berkali – kali. Luna langsung mematikan ponselnya dan berusaha pergi dari kurungan pengawal – pengawalnya.
Luna mengambil serpihan kaca itu dan menempelkan kaca itu ke tangan kirinya. Gadis itu memasang wajah ganas dan frustasi, meski dia hanya berakting, dia harap mereka mau percaya dengan aktingnya ini. Namun mereka tak bergemin sedikitpun, membuat Luna sedikit kebingungan tentunya.
" Kalian semua minggir atau saya bakal potong tangan saya sendiri dan kalian semua harus menjalani sisa hidup kalian dalam siksaan keluarga Wilkinson. Minggir!" ujar Luna yang kini mmbuat mereka saling pandang, namun mereka masih tak mau menyingkir, membuat Luna akhirnya menatap tangannya sendiri dan mengangguk.
" Oke, kalian mungkin gak sayang sama hidup kalian dan hidup keluarga kalian. Oke gak papa," ujar Luna yang langsung menggoreskan kaca tersebut ke lengannya, mmbuat lengan itu langsung mengeluarkan darah karna lecet. Pengawal tentu takut dengan apa yang Luna lakukan. Mereka langsung menyingkir dari hadapan Luna dan memberi gadis itu jalan.
" Gitu kek Dari tadi," ujar Luna yang mengambil figura tanpa kaca itu dan langsung berlari ke taksi – taksi bandara yang terparkir rapi. Gadis itu langsung masuk ke dalam taksi itu dan pergi dari bandara, membuat para pengawal kelimpungan dan segera menyusul Luna.
" Nyusahin aja sih, perih banget kan nih tangan gue," ujar Luna yang langsung meminta tissue kepada supir taksi dan menutup lecet di tangannya dengan tissue itu. Luna sengaja tak membuat lukanya terlalu dalam, begini saja sudah membuatnya kesakitan, apalagi jika dia benar- benar memotong nadinya? Untung saja mereka ketakutan sendiri karna tingkahnya.
Luna sampai ke rumah Darrel yang sepi. Gerbang depan rumah lelaki itu terkunci, namun tidak digembok, membuat Luna bersusah payah membuka kuncinya dan membuka gerbang itu dengan tenaga yang dia miliki. Gadis itu langsung berlari ke pintu utama dan membukanya tanpa permisi, dia kan sudah sangat biasa datang ke rumah ini, jadi tidak masalah.
" Kak Darrel dimana kak? Semoga kak Darrel ada di kamar dan gak kenapa – napa," ujar Luna yang sedikti ling lung dan tiba – tiba lupa dimana kamar Darrel, gadis itu langsung berlari ke sebuah kamar, saat hendak membukanya, pembantu yang ada di rumah ini terkejut dengan kehadiran Luna.
" Bibi, Darrel ada di kamarnya? Atau ada di mana?" tanya Luna dengan panik, membuat pembantu itu menjadi bingung karna Luna terlihat sangat ketakutan.
" Maaf Non, tapi bibi gak tahu tuan muda dimana. Bibi hanya memasak dan membersihkan rumah, memang Bibi jarang bertemu dengan tuan muda," ujar pembantu itu yang membuat Luna mengangguk.
" Ya udah bi, bibi lanjut kerja aja. Makasih ya Bi," ujar Luna yang diangguki oleh pembantu itu dan langsung pergi dari sana. Entah mengapa Luna merasa takut untuk membuka pintu yang ada di hadapannya. Gadis itu meletakkan jempolnya ke sebuah alat di samping pintu dan mengubah warna lampu di pintu itu dari merah ke hijau.
Luna memegang gagang pintu dan membukanya perlahan, gadis itu langsung mematung saat pintu sudah terbuka sempurna. Luna langsung berlari ke dalam kamar saat dia tersadar. Gadis itu tampak bingung, cemas dan sangat merasa takut saat melihat kondisi kamar Darrel.
Pintu Almari yang terbuka dengan semua pakaian sudah berserakan, gelas dan piring yang terbanting di lantai. Sofa yang sudah sobek di sana sini dengan pisau yang menancap di salah satu ujungnya. Kasur yang spreinya sudah jatuh ke lantai, bahkan banyak pecahan kaca dan figura berserakan.
Luna menatap ke arah temtok, ada bekas jus di tembok itu, sepertinya seseorang sengaja melempar jus ke tembok dan menumpahkan isinya. Luna juga melihat figura besar di tembok yang berisi lukisan Darrel berdiri tegak dengan wajah yang mempesona dan berwibawa, namun kini figura itu sudah retak dengan beberapa bagian kaca sudah terjatuh.
" Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kamar Kak Darrel semengerikan ini? Kak Darrel kenapa? Kak Darrel dimana kan? Apa ada orang yang culik kak Darrel dan ngebuat kamarnya sampai kayak gini?" tanya Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu hendak melangkah keluar, namun matanya fokus pada kertas yang ada di atas sofa.
Luna mengambil kertas yang dilipat itu dan mulai membacanya. Luna membacanya pelan dan berusaha menelaah apa yang dituliskan di dalam sana. Luna yakin ini adalah tulisan tangan kak Darrel meski sangat berantakan dan terkesan di tulis asal. Kaki Luna langsung melemas saat dia membaca kalimat terakhir yang ada di kertas itu.
" Kak Darrel!!!" teriak Luna sambil menangis sejadi – jadinya. Gadis itu memeluk surat yang dia baca dan membungkukkan badannya sampai menyentuh lantai sambil terisak hebat.
" Gak mungkin! Gak mungkin! Kak Darrel gak mungkin! Kak Darrel."
*
*
*
note Author :
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Maaf, Maaf, Maaf Banget