
" Lunetta!!"
" Ra.. Radith, Radith, Kok, Kok Lo, Lo di sini?" tanya Luna yang mendongak dan menatap Radith dengan tatapan bingung, bahkan gadis itu masih berusaha biasa saja padahal kondisinya sudah mengenaskan.
" Lo yang ngapain di sini? Kak Darrel mana?" tanya Radith dengan nada keras agar suaranya tak kalah oleh hujan deras dan petir ini. Luna tak menjawab, membuat Radith bisa menyimpulkan sendiri jawabannya.
" Kalau dia gak datang, kenapa Lo masih di sini nungguin dia sih? Dia gak akan datang kalau udah selama ini, udah, kita pulang, Lo ikut sama gue sekarang," ujar Radith yang berusaha mengangkat Luna, namun gadis itu menggeleng dan menolak untuk diangkat oleh Radith.
" Lo masih mau nungguin dia di sini? Gak usah bego! Bucin boleh, tapi otak juga dipakai, dia gak akan datang, Lo mau nunggu dia sampai kapan?" bentak Radith yang tak sabar. Bukan dia berniat kasar, namun dia merasa marah melihat kondisi Luna yang terbilang mengenaskan.
Dress selutut yang sudah kototr karna Lumpur dan hujan, rambut yang sudah basah kuyup, wajah yang memucat bahkan bibir yang membiru. Melihat Luna seperti itu entah mengapa membuat Radith merasa marah, meski lelaki itu sadar hal tersebut bukanlah wewenangnya.
" kalau gue pulang nanti kak Darrel ke sini, kak Darrel bakal kecewa kalau gue ternyata pulang, dia pasti ngira gue gak niat buat kasih kejutan ke dia, gue gak mau dith," ujar Luna yang masih saja mempertahankan opininya yang tak berdasar menurut Radith.
" Kalau ternyata dia gak datang dan Lo harus nunggu dia sampai besok gimana? Ini hujan deras Lun, Lo gak bisa terus terusan di sini, kita pulang, Lo kabarin ke Darrel biar dia temui Lo di rumah, udah, ayo," ujar Radith yanag memaksa Luna untuk berdiri. Gadis itu menurut dan pasrah saja saat Radith menggeretnya untuk berdiri.
" Dith, kak Darrel pasti datang, kak, kak Darrel gak akan bikin gue kayak gini, kak Darrel …"
Radith dengan sigap menangkap tubuh Luna yang terjungkal ke depan. Gadis itu sudah kehilangan kesadarannya, bahkan gadis itu sudah tak memiliki tegana lagi untuk menunggu, mengapa dia masih bersikeras untuk tetap berada di tempat ini? Sungguh Radith tak habis pikir dengan jalan pikiran Luna.
" Lo bahkan jauh lebih ringan dari terakhir kali gue gendong, Lo pasti banyak pikiran kan? Lo tuh nyusahin banget sih, kenapa coba gue yang harus susah – susah kesini dan akhirnya malah ngegendong Lo lagi buat pulang? Kapan sih Lo gak nyusahin gue? Bikin repot aja," ujar Radith saat meletakkan Luna di lengannya dan menggendong gadis itu ala bridal style.
Lelaki itu tersu mengomel, meski begitu, dia tak ingin meninggalkan Luna sendiri di sana, iyalah, dia kan yang tadi sore bersama Luna di tempat ini, dia merasa juga bertangung jawab karna dia tak mencegah Luna untuk melakukan semua ini meski dia tahu apa yang sudah dan akan terjadi. Semua dia pendam dan rahasiakan karna janjinya pada bang Jordan, sebagai lelaki, dia harus menepati janjinya.
Meski sebenarnya dia sempat berpikir bahwa Darrel akan datang mengingat Luna yang notabene tunangannya sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Yah, ternyata hanya pikiran bodoh saja, kini hanya rasa menyesallah yang memenuhi hati Radith karna tak mencegah hal ini terjadi lebih awal. Hal apa itu? Yah, cukup Tuhan, Radith, Jordan dan pasti Darrel sendiri yang tahu.
*
*
*
" Lun, udah dong, masak Lo mau melamun gitu terus sih? Ini jamkos loh, ke kantin kek, order makanan kek, party party kek, bukannya malah galau kayak gini."
Sedari tadi sejak dia menjemput Luna, lelaki itu terus berusaha mengajak Luna bicara, namun respon Luna masih sama, gadis itu tak menengok apalagi menjawab, dia hanya diam dengan pandangan mata yang kosong, memaksa untuk tetap sekolah meski tubuhnya terasa hangat.
" Lun, Lun, Weekend main sama gue yuk, kita ke taman bermain yang wahana air itu, kata temen gue di sana enak, mau kan Lo?" tanya Radith yang membuat Luna tertarik, gadis itu menatap Radith dengan wajah yang persis seperti mayat hidup, gadis itu mengangguk setuju dan kembali pada pikirannya sendiri.
" Oke sip, kita Pergi ke sana besok sabtu, gue gak mau lihat Lo kayak mayat hidup gini, Lo harus cantik karna gue gak mau jalan sama Lo yang kayak gini, disangka gue apa – apa in Lo lagi," ujar Radith dyang membuat Luna meliriknya sekilas dan langsung melengos lagi tanpa menjawab.
" Lagipula, laki – laki kayak dia kok dipertahanin sih? Tiba – tiba ninggalin gitu aja, mending buang ke laut kalik Lun," ujar Radith dengan penuh kesewotan. Luna langsung menengok dan mentatap Radith dengan tatapan tak terima.
" Lo juga pernah kayak gitu kalau Lo lupa ya, Lo pernah ngehempasa gue gitu aja disaat gue bener bener jatuh cinta sama Lo, mungkin emang nasib gue aja yang harus kayak gini," ujar Luna dengan tenang dan lancar, seakan hal itu bukanlah suatu yang menyedihkan ataupun menyakitkan baginya.
" Tapi gue gak pernah ngulangin kesalahan yang sama dua kali, gue gak banyak janji, tapi gue langsung buktiin ke Lo kalau gue gak ngelakuin kayak gitu lagi," ujar Radith dengan bangganya, membuat Luna terdiam karna menyadari apa yang Radith katakan. Jika dipikir, benar juga, lelaki itu tak pernah melakukan hal yang sama seperti saat itu.
*
*
*
Radith menepati janjinya dan mengajak Luna untuk bermain ke wahana baru dimana terdapat banyak permainan disana. Mereka langsung menuju ke tempat ATV dan menyewa dua motor ATV yang ada di sana.
" Dith, gue gak pernah bisa naik begini an, kalau nanti jadinya jatuh gimana?" tanya Luna dengan wajah yang pasi.
" Udah, santai aja, gue ada di belakang Lo, kalau Lo jatuh ya tinggal gue lindes," ujar Radith sambil memakai helm dan pelindung siku. Luna melakukan hal yang sama dan mulai naik ke atas ATV itu.
" Lo tinggal gas sama rem aja, itu rodanya ada tiga, Lo gak mungkin jatuh, naik ini tuh lebih gampang dari naik Sepeda," ujar Radith meyakinkan Luna. Gadis itu percaya pada Radith dan naik ke atas ATV itu. Petugas menyalakan mesinnya dan Luna mulai mengegas dengan pelan, sementara Radith tetap ada di belakang gadis itu untuk menjaganya.
Tampak seklai Luna bahagia dan menikmati pengalaman barunya untuk naik kendaraan bermesin seperti ini, gadis itu mulai menambah kecepatan membuat lumpur yang ada disana langsung menyiprat ke sana kemari, Luna bersorak bahagia seakan hari ini adalah hari yang terbaik dalam hidupnya, Radith yang melihat Luna bisa kembali tersenyum tentu juga ikut merasakan kebahagiaan.
" Dith! Seru banget, gue bakal minta Daddy beli ATV, Sekalian bikin arena nya di rumah, gilak, seru banget!" pekik Luna dengan spontan yang membuat penjaga ATV itu menatap mereka berdua dengan bingung. Jelas saja bingung, Luna mengatakan ingin membeli ATV seakan dia mau mmebeli sebuah mainan, dikira harganya murah mungkin.
" Maaf mas, teman saya memang suka bercanda, hehehe," ujar Radith yang membuat penjaga itu mengangguk paham dan membereskan barang – barang yang tadi dipakai oleh Radith dan Luna. Radith memberi kode pada Luna untuk diam saat Luna hendak membuka suara untuk memprotes lelaki itu. Radith langsung menggeret Luna dari sana untuk mencoba wahana lain.
" Dith, mau itu," ujar Luna yang melihat gula kapas. Radith langsung mengangguk dan menggandeng tangan Luna untuk mengantre dan membeli tiga gula kapas. Setengah untuk Radith, dua setengah untuk Luna, begitulah Instruksi yang diberikan oleh Luna. Sekali lagi, Radith mengiyakan apapun yang Luna katakan untuk hari ini.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju danau di mana terdapat penyewaan bebek genjot. Malas sekali Radith untuk menaiki wahana yang membuat orang menjadi mengantuk seperti ini, namaun karna Luna yang meminta, Radith terpaksa mengikutinya. Mereka duduk di sebuah bebek berwarna pink, Ya, pink. Luna merengek memilih warna pink untuk mereka naiki.
" Lo yang kayuh ya dith, gue mau makan gula kapas biar gue tambah manis," ujar Luna membuka bungkusan gula kapas. Radith diam saja dan mulai mengayuh bebek itu untuk berjalan ke tengah. Luna merasa senang dan mengarahkan Radith untuk mengayuh ke tempat yang ingin dia lihat.
" Dith! Ke sana, pemandangannya bagus, gue mau foto foto disana, ayo dong cepat, Lo kan cowok, masak gitu aja gak kuat sih? Lemah sih Lo?" Ujar Luna yang membuat Radith sangat gemas dan menjitak kepala Luna dengan penuh niat.
" Gak tahu diri," ujar Radith dengan santainya. Luna langsung merengut kesal karna Radith menjitaknya tanpa memberi aba – aba, Luna kan jadi kaget. Meski sempat merasa sebal, Luna kembali tersenyum dan menghirup napas dalam karna suasana yang menyegarkan.
" Dith, ayo kita foto bareng, gue udah lama banget gak selfie selfie sama Lo, ayo, harus mau," ujar Luna menarik Radith untuk mendekat, lelaki itu kaget dan sedikit tersentak karna di tarik, di tatapnya wajah Luna yang menatap kamera.
" Lihat ke kamera lah, ngapain Lo lihatin gue kayak gitu? Mau jilatin gue Lo?" tanya Luna tak tahu aturan, membuat Radith langsung melengos dan kemudian menatap ke arah kamera. Luna memencet tombol ambil gambar dan melihat hasilnya. Luna berdecak melihat hasil foto yang jauh dari kata bagus.
" Senyum kek dith, kayak terpaksa banget Lo foto sama gue," ujar Luna dengaan kesal.
" Ya memang gue terpaksa, gimana sih Lo," ujar Radith tanpa dosa yang membuat Luna menampol pipinya pelan. Gadis itu kembali mengarahkan kamera pada mereka berdua dan tersenyum.
" Kalau Lo gak senyum, gue ceburin dari bebek ini," ujar Luna dengan nada ancaman yang Lucu, Radith menghela napas dan mendekat, bukan takut akan ancaman Luna, namun dia ingat pada janji yang dia buat untuk dirinya sendiri. Lelaki itu tersenyum lebar membuat Luna terperangah karena ketampanannya bertambah puluhan kali lipat.
" Lo kalau senyum ganteng dith, gak usah senyum lagi, gue deg deg an," ujar Luna sambil melihat ke arah Radith, membuat Radith tersenyum tanpa Luna ketahui, bahkan Luna tak tahu jika saat ini pun Radith merasa debaran itu lebih kuat dan cepat dari biasanya.
" Dith, Dith, ini air apa?" tanya Luna saat melihat air ada di dalam perahu bebek itu. Radith melihat ke bawah dan terkejut, entah sejak kapan ternyata air ke dalam perahu ini, sepertinya perahu ini bocor, tetapi kenapa mereka baru menyadarinya sekarang?
Luna panik dan bergerak tak nyaman, gadis itu bergerak ke sana kemari yang membuat Radith juga ikut panik melihat Luna.
" Lo jangan banyak gerak, nanti kita malah kecebur," seru Radith sambil menjaga keseimbangan bebek ini agar tidak terlalu bergoyang. Sepertinya apa yang diucapkan Radith tak didengar baik oleh Luna, gadis itu kembali bergoyang kesana kemari dan mengangkat kakinya karna takut terkena air.
~Byuuurrr
Benar saja, Luna tercebur karna perahu oleng ke arahnya dan gadis itu tak berpegangan apapun, gadis itu terkejut dan menggerakkan kakinya agar bisa mengambang di permukaan.
" Radith, astaga Radith, kaki, kaki gue kram, Dith, kaki gue, aaarrrhhhggg," ujar Luna dengan panik dan membuat Radith semakin bingung.
" Gue, gue kan gak bisa renang," ujar Radith tak kalah paniknya. Luna masuk ke dalam air, lalu kembali lagi ke permukaan, sepertinya gadis itu mencoba untuk mengurut kakinya, namun karna air danau yang menghijau, gadis itu tak bisa membuka matanya di dalam air.
" Ra.. Radith, sakit banget," ujar Luna yang mulai melemas dan mengandalkan tangannya untuk mengambang. Radith tak pikir panjang lagi, lelaki itu langsung menceburkan dirinya ke dalam air, dan mengikuti instingnya untuk menggerakkan kaki dan tangannya menuju ke arah Luna, mengangkat gadis itu dan segera menaikkan gadis itu ke atas perahu lagi.
Radith ikut naik ke atas perahu dengan tubuh yang bergetar karna takut dan tak percaya atas apa yang dilakukannya, namun hal itu tak berlangsung lama karna Radith harus segera kembali ke tepian sebelum mereka tenggelam.
" Pak, gimana sih? Kok perahunya bocor? Kalau saya tenggelam gimana? Kok gak ada safety nya sih?" taanya Radith dengan sewot saat mereka sudah berhasil sampai di tepian, pemilik perahu itu langsung meminta maaf dan mereka tak perlu membayar sebagai kompensasi.
" Dith, dingin" ujar Luna sambil menggosok lengannya dengan tangan yang menyilang, gadis itu tampak menggigil, membuat Radith tak tega dan langsung menarik Luna dari sana, Radith menggandeng Luna untuk pergi dari sana menuju tempat oleh – oleh.
Radith membeli sepasang kaos murah yang memang terpaksa dia beli, iyalah, dia orang sini, namun membeli baju " I Love " Hmmm, untuk apa?
" Nih, Lo ganti baju di sana dulu, kalau celana gak usah ya, nanti juga kering," ujar Radith memberikan salah satu baju untuk Luna dan menunjuk kamar mandi. Luna menurut dan langsung mengganti pakaian yang ternyata merupakan baju yang sepasang dengan baju Radith.
" Gak usah Ge er, gue beli itu karna kalau beli yang couple harganya lebih murah, paling juga habis ini gak akan di pakai lagi bajunya," ujar Radith saat mengerti arah pikiran Luna.
" Kalau gue sih bakal gue simpen sebagai kenang – kenangan, kapan lagi coba Lo bela – belain nyemplung ke danau yang gak tahu dasarnya dimana, di saat Lo tahu Lo gak bisa renang, tapi Lo nekat buat nolongin gue, makasih ya dith, gue senang banget hari ini, gue gak akan lupain pengalaman ini, beneran deh," ujar Luna dengan senyum yang merekah.
" Iya, sama – sama, setelah ini, Lo gak boleh sedih lagi, gue gak mau repot, oke?" ujar Radith yang membuat Luna merengut sesaat, namun gadis itu kembali tersenyum dan mengangguk.
Setidaknya untuk sejenak Luna bisa terhibur dan melupakan masalahnya, meski dia merindukan banyak hal saat ini, Radith mampu mengalihkan pikirannya dan membuatnya melupakan semua hal itu.