
Mereka langsung membawa Darrel ke ruang UGD untuk menyelamatkan lelaki itu. Satu jam ruang UGD itu tertutup rapat. Membuat mereka yang masih ada di sana mendesah khawatir. Takut kondisi Darrel akan parah dan tak terselamatkan lagi, mereka tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Darrel. Tuan Wilkinson juga langsung mengambil ponselnya.
" Papa lupa menanyakan kabar Luna karna terlalu fokus dengan Darrel. Bagaimana keadaannya? Kalian dimana?" tanya tuan Wilkinson pada ponselnya. Orang yang ada di seberang sana menjawab dan tuan Wilkinson menganggukkan kepalanya lalu menutup panggilan yang dia terima. Radith mengangguk – anggukan kepalanya, salah fokus saat tuan Wilkinson menerima telpon.
" Apa yang kau pikirkan? Kenapa kamu melihat Om seperti itu?" tanya tuan Wilkinson saat Radith memasang wajah berpikir, seolah dia sedang menganalisis sesuatu. Apakah Radith mengetahui suatu hal yang berkaitan dengan tuan Wilkinson? Sepertinya tidak, lelaki itu tidak sering berhubungan langsung dengan beliau.
" Saya jadi tahu kenapa orang – orang tua selalu menutup ponselnya sepihak tannpa salam penutup. Ternyata orang – orang tua menganggukkan kepalanya. Padahal saat kami menelpon, kami tidak bisa melihat orang yang kami ajak bicara," ujar Radith dengan polosnya, membuat tuan Wilkinson tercengang pikiran seperti itu keluar dari mulut Radith.
" Ah, maafkan saya Om, saya tidak bermaksud bercanda, saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan. Maafkan saya," ujar Radith yang tak dijawab oleh tuan Wilkinson, Tuan Wilkinson melihat ke arah lengan Radith yang masih bocor. Kemungkinan besar pendarahan yang dialami lelaki itu belum berhenti. Dia akan kehabisan darah jika terus seperti itu.
" Kau, cepat pergi menemui perawat dan rawat lukamu. Sepertinya kau memerlukan beberapa jahitan. Jangan khawatir, mereka memiliki obat bius, kau tidak akan merasakan sakit saat mereka menjahit kulitmu, kau tak perlu berteriak apalagi menangis," ujar tuan Wilkinson yang sengaja mengejek Radith. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya sesaat, namun akhirnya mengangguk dan meninggalkan tempat itu.
Setelah Radith pergi untuk menemui perawat yang ada di sana. Tuan Wilkinson bisa melihat Jordan sedang berjalan membawa jus dalam botol dan ponsel. Di samping lelaki itu ada seorang anak gadis yang sangat manis, namun wajahnya datar dan tampak kosong. Tuan Wilkinson tahu jika gadis itu masih shock dan belum bisa diajak bicara.
" Luna baik – baik saja. Dia xuma kedinginan dan udah ditanganin sama dokter. Jangan salahkan baju Luna, Jordan belinya kepepet, dapatnya yang seperti itu," ujar Jordan sebelum tuan Wilkinson membuka suara. Mendengar apa yang dikatakan Jordan, tuan Wilkinson langsung menghela napasnya. Dia merasa pusing langsung menyerang kepalanya.
" Bagaimana bisa aku memiliki anak sepertimu? Kau bahkan tidak pernah serius dalam hal apapun. Berapa kali bisnisku nyaris hancur karna kau permainkan?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Jordan mengedikkan bahunya. Lelaki itu duduk di kursi tunggu, padahal tuan Wilkinson sendiri sampai tidak bisa duduk karna gelisahnya. Dia akan merasa bersalah jika sesuatu terjadi pada Darrel.
" Aku hanya sedikit bermain, kau tahu pak Tua, pekerjaan seperti itu membosankan, apalagi kau selalu jadi pemenangnya. Aku hanya ingin membuatnya sedikit menarik," ujar Jordan sambil menyeruput jusnya dengan sedotan yang tertancap di sana. Tuan Wilkinson melihat ke arah Lunetta, namun Luna masih menunduk dan tak melakukan apapun.
" Kau lihat? Hasil dari bermain – mainmu, adikmu sendiri sampai mengalami trauma yang begitu, apa kau tidak merasa bersalah sama sekali?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Jordan langsung berdiri tegak dengan wajah yang tidak terima. Dia berjalan menuju tempat sampah dan membuang wadah jus yang kosong dan kembali berdiri di hadapan papanya.
" Papa bahkan tidak tahu jika pak Indra adalah pengkhianat yang kita cari. Bagaimana bisa Jordan tahu? Berhenti menyalahkan orang lain untuk ketidak mampuan papa. Jordan tidak akan diam," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson terdiam. Mungkin hanya Jordan yang berani mengatakan hal seperti itu. hal yang menikam, namun sesuai kenyataan.
" Kau benar, papa yang bersalah untuk semua hal yang sudah terjadi ini. Papa terlalu percaya sama pak Indra dan papa jadi terlena, ternyata dia sangat berbahaya dan nyaris mengambil semua yang kita miliki, termasuk anak papa," ujar tuan Wilkinson yang mendekat ke arah Luna. Jordan tak menjawab.
Bagi orang seperti Jordan, dia hanya perlu orang seperti papanya mengakui kesalahan yang dibuat dan senantiasa bertanggung jawab. Selama ini papanya selalu menyalahkan bawahannya, dia tak pernah menyalahkan Jordan jika masih ada orang lain untuk disalahkan. Maka dari itu Jordan tak pernah menunjukkan protesnya.
" Lunetta, daddy minta maaf. Daddy sudah membuat kamu jadi seperti ini. Daddy pikir orang – orang yang daddy kirim ke Korea mampu untuk menjaga kamu, daddy gak nyangka mengirim kamu ke tempat itu justru awal dari semua malapetaka ini terjadi," ujar tuan Wilkinson yang berubah menjadi lembut. Beliau memegang pundak Lunetta dan mengelus pundaknya pelan.
" Bagaimana bisa Papa begitu kasar pada Jordan dan langsung berubah lembut saat bersama Lunetta? Tidakkan kau merasa itu tak adil pak Tua? Aku bahkan anak pertama yang sangat kau banggakan pada masanya," ujar Jordan yang tak terima dengan perlakuan tak adil itu. tuan Wilkinson langsung melirik tajam Jordan.
" Kau pernah berjaya pada masanya. Sekarang giliran Papa memanjakan adik – adikmu. Satu lagi anak musa, berhenti memanggilku 'Pak Tua' atau aku akan membuatmu merasakan jadi anak durhaka. Papa akan menggantungmu dengan kepala di bawah seperti jambu mete," ujar tuan Wilkinson yang tampak serius dengan perkataannya.
" Terus saja mengacam Jordan. Memang apa yang papa miliki selain harta dan kekuatan seperti itu? Jordan pergi," ujar Jordan dengan wajah gusarnya. Tuan Wilkinson menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya Jordan sedang tidak dalam suasana hati yang bagus, dia terlihat sangat terluka dengan apa yang dilakukan oleh tuan Wilkinson.
" Kenapa kau tampak seperti banyak masalah? Mau kemana kau? Bahkan Luneetta, Darrel dan Radith sedang dalam masalah. Kenapa kau tega meninggalkan pak Tua ini sendirian? Apa kau tahu? Pak Tua ini sudah tak sanggup jika harus mengurus tiga bayi besar ini sendirian," ujar tuan Wilkinson yang kini membuat Jordan menaikkan sebelah alisnya.
" Papa sedang membicarakan apa? Jordan mau ke kamar mandi, setelah itu Jordan kembali ke sini," ujar Jordan yang membuat tuan Wilkinson merasa malu karna sudah bersikap imut di depan Jordan. Selama ini dia selalu menunjukkan sisi tegas untuk menempa mental Jordan menjadi mental baja yang tak mudah merengek.
" Lunetta? Apa kau baik – baik saja sekarang? Kau mau memaafkan Daddy kan? Daddy memang bukan ayah yang baik, Daddy selalu brpikir bisa menjadi ayah dan ibu yang baik untuk kalian, tapi yang daddy lakukan hanya mengumpulkan uang agar kalian tidak kekurangan. Daddy lupa kalian juga butuh kehadiran daddy sebagai keluarga," ujar tuan Wilkinson yang membuat Luna mendongak.
" Luna gak marah, Luna mengerti, Luna yang salah selalu merengek meminta sesuatu pada Daddy padahal Luna juga sudah besar. Luna jadi belajar banyak hal dari kejadian ini, Luna bakal pakai kejadian kali ini untuk bekal Luna suatu harri," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson takjub.
" Jika daddy gak masukin Luna ke sekolah itu, Luna gak akan kenal sama kak Darrel, Luna gak akan kenal sama Radith dan Luna gak akan tumbuh jadi anak yang apa – apa diturutin sama mereka. Kalau dipikir – pikir, memang semua salah daddy sih," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson terbahak. Dia lega Luna baik – baik saja, baik secara fisik maupun psikis.
" Daddy, Kak Darrel bagaimana? Kak Darrel parah ya? Luna gak tahu apa – apa setelah keluar dari rumah itu. Luna ngerasa pusing dan langsung pingsan karna ada banyak mayat dan darah.apa Kak Darrel kondisinya parah Dad?" tanya Luna setelah mereka terdiam beberapa saat.
" heeuuhh, Daddy juga tak tahu bagaimana keadaan lelaki itu, mari kita sama – sama berharap Darrel baik – baik saja dan bisa diselamatkan, karna Daddy sendirri juga tidak yakin dengan kondisinya," ujar tuan Wilkinson yang membuat Luna terdiam, bahkan papanya sampai mengatakan hal seperti itu.
" Berarti kondisinya kak Darrel parah banget ya Dad? Biasanya kalau parah aja, Daddy bakal bilang semua bakal baik – baik aja, kalau Daddy gak yakin, berarti kondisinya sangat parah. Luna benar kan Dad?" tanya Luna dengan pelan. Tuan Wilkinson tak berani menajwab beliau hanya mampu menunduk dan kembali menghela napasnya.
" Kita berdoa saja. Karna Daddy gak tahu peluru apa yang dipakai oleh pak Indra karna Darrel langsung terkapar dan bahkan sempat epilepsi. Bahkan di helicopter, Daddy sanagat khawatir dengan kondisi Darrel, namun daddy gak mau Radith menjadi khawatir, makanya Daddy tidak menunjukkan hal itu pada Radith," ujar Tuan Wilkinson yang membuat Luna kembali berkaca – kaca.
" Pe.. peluru? Kak Darrel tertembak? Apa kak Darrel tertembak banyak? Daddy harus selamatkan kak Darrel, Luna gak mau tahu. Luna harus jadi anak manja yang banyak minta untuk saat ini. Luna mohon kabulkan permintaan Luna dad, selamatkan kak Darrel, Luna kohon," ujar Luna dengan suara yang sudah bergetar.
" Bahkan jika Luna gak minta hal itu pada Daddy, Daddy tetap melakukannya. Daddy sangat bangga karna Darrel berusaha melindungi Radith dan kamu. Dia bisa saja memanggil bantuan dengan cincin yang dipakainya, namun jika dia melakukan itu sebelum daddy datang, dia tidak bisa menjamin keselamatan kalian, terutama kamu," ujar tuan Wilkinson pelan.
Luna tidak menyangka Darrel sampai seperti itu padahal mereka sudah tidak memiliki hubungan yang spesial, meski tak dapat berbohog, Luna seringkali merindukan smeua moment singkat namun berharga saat dia bersama Darrel. Namun dia terlalu merasa sakit untuk kembali, dia terlalu keras kepala dan ingin hidup tanpa mereka semua.
" Luna lihat kak Darrel minum obat setelah makan. Itu obat apa Dad? Kak Darrel sakit?" tanya Luna setelah mengingat apa yang mereka alami kemarin, tuan Wilkinson menatap Luna dengan kaget, namun beliau tak mengatakan apapun. Akhirnya beliau mengelus kepala Luna pelan.
" Kalau Darrel belum bilang apapun sama kamu, berarti dia tahu kalau itu yang terbaik buat kamu. Daddy gak ada wewenang buat bilang semua hal ini, biar Darrel sendiri yang bilang ke kamu. Sekaligus menjawab kenapa Darrel sering menghilang selama setahun saat kalian masih tunangan," ujar tuan Wilkinson yang membuat Luna membeku.
Mereka kembali duduk dan menunggu dokter mengeluarkan peluru yan gada di perut Darrel, entah apa yang mereka lakukan sampai memakan waktu yang lebih lama. Mereka tak kunjung keluar, bahkan sampai Radith sudah selesai dan sudah kembali duduk bersama mereka. Luna melihat pundak Radith yang terbalut kassa, gadis itu langsung meringis, seolah bisa merasakan sakit yang dirasakan lelaki itu.
Akhirnya salah seorang perawat tersebut keluar dari dalam ruang UDG, namun dengan wajah yang tak bersemangat, bahkan tak mengucapkan apapun kepada tuan Wilkinson. Dokter itu menutup pintu dan berlari, membuat Luna yang sudah berdiri tak bisa duduk lagi saking gelisahnya. Apakah Darrel segawat itu?
Perawat itu kembali masuk ke dalam ruang UGD, masih dengan berlari. Tak lama kemudian, rombongan dokter dan perawat mendorong brankar berisi Darrel dengan salah satu suster terus memompa sebuah alat oksigen dadurat untuk lelaki itu. melihat Darrel dibawa, tuan Wilkinson tak sabar dan menarik salah satu suster yang tampak tak begitu sibuk.
Darrel tampak mengenaskan bahkan kepalanya tampak berketingat dan tubuhnya sedikit bergetar. Mungkin lelaki itu mengalami tremor. Tapi apa yang menyebabkan kondisi Darrel sampai seperti itu?
" Ada apa dengan pasien? Kenapa wajah dokter dan perawat tegang? Apa sesuatu yang buruk terjadi pada pasien?" tanya tuan Wilkinson yang membuat perawat tersebut menengok ke arah Darrel dengan khawatir, lalu kembali menatap tuan Wilkinson yang juga menatapnya.
" Maaf, kondisi pasien sangat kritis. Kami harus melakukan operasi darurat, itulah sebabnya pasien akan dibawa ke ruang operasi. Kami tidak bisa menunggu lebih laama atau nyawa pasien tidak dapat diselamatkan lagi. Anda pihak keluarganya? Jika iya, anda bisa segera ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran sekaligus surat persetujuan untuk melakukan operasi," ujar suster itu dengan bahasa Inggris yang lancar.
" Apa kau bilang? Kondisinya kritis? Operasi? Apa yang harus dioperasi? Bagaimana bisa kondisinya menjadi kritis?" tanya Tuan Wilkinson dengan panik, perawat itu meminta tuan Wilkinson untuk tetap tenang dan menjelaskan secata besar apa yang dialami oleh Darrel, mendengar itu Luna langsung lemas sampai terduduk di lantai.
Tuan Wilkinson mengangguk paham dan langsung berjalan cepat menuju administrasi, sementara Radith memegang pundak Luna dan membantu gadis itu berdiri, padahal dia sendiri menahan sakit untuk membantu Luna. Luna duduk di kursi dan menggelengkan kepalanya sambil menangis. Dia memegang kepalanya dan mencoba membuat semua in ihanya mimpi.
" Bagaimana bisa? Bagaimana bisa peluru itu menghancurkan bagian hati? Bagaimana bisa pelurunya dioles racun sampai kayak gitu? Gimana? Kenapa? Kenapa kak Darrel? Kenapa dia yang harus menderita sampai kayak gini?" tanya Luna sambil menatap Radith dengan mata yang berkaca - kaca.
" Gue yakin kak Darrel pasti selamat, dia punya tanggung jawab dan dia udah janji sama gue sesama pria. Dia gak bakal tinggalin Lo dengan cara yang pengecut kayak gini. Lo percaya sama gue, dia bakal selamat," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk. Padahal tak satupun dari mereka yakin pada hal itu.
" Semoga Dith, semoga yang Lo bilang itu benar," ujar Luna dengan lirihnya.