Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 77



Darrel masih terdiam, lelaki itu masih shock karna dia selamat dari maut setelah mendengar Luna berteriak memanggil namanya. Secara tidak langsung, Luna yang membuat dia mempertahankan hidupnya. Namun apakah kembali hidup tidak akan membuatnya benar – benar kehilangan dunia ini? Dia menyadari kondisinya yang lemah dan langka sedikit membuatnya pesimis.


" Kak Darrel? Kak Darrel mikirin apa? Kok melamun gitu?" tanya Luna sambil membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Darrel tersenyum tipis melihat Luna yang makin hari makin cantik, hal itu jelas membuat Darrl makin jatuh pada pesona gadis itu. Luna yang tahu Darrel melamun langsung mengusap kepala lelaki itu dengan lembut, membuat lelaki itu menaikkan alisnya dengan bingung.


" Aku senang kamu baik – baik aja. Aku senang kamu selamat. Terima kasih ya, terima kasih udah selamat," ujar Darrel yang membuat Luna menunduk sedih. Hal itu tentu membuat Darrel merasa bersalah, dia takut melukai atau membuat Luna merasa tersinggung. Luna menaikkan kepalanya dan tersenyum tipis.


" Luna bisa selamat dan duduk di sini dengan nyaman, Luna bisa ngomong sekarang karna kak Darrel. Kak Darrel bahkan terluka parah dan harus dioperasi, gimana ceritanya kak Darrel malah tanya kabar Luna dan berterima kasih sama Luna," ujar Luna yang membuat Darrel tersenyum, dia lega Luna baik – baik saja.


" Luna yang harusnya berterima kasih. Luna berterima kasih karna kak Darrel dan Radith, kalian sudah mengorbankan diri kalian buat Luna. Bahkan Luna gak bisa melakukan apapun untuk membalas kalian, Luna berterima kasih sekali," ujar Luna dengan tulus, Darrel hanya mampu mengangguk dan memegang perutnya yang sedikit sakit karna bekas operasinya.


" Kak Darrel belum makan kan? Luna suapin yah. Setelah makan kak Darrel minum obat, terus nanti kita bakal terbang ke Indonesia. Kak Darrel bisa tidur aja nanti biar gak terlalu sakit karna guncangan," ujar Luna yang langsung berdiri menuju meja yang ada di ruangan ini. Luna mengambil nampan berisi makanan dan duduk di sebelah Darrel lagi.


" Kak Darrel bisa duduk sendiri gak? Luna bantu, kalau makan sambil tidur nanti keselek, terus nasinya keluar dari hidung," ujar Luna memperagakan nasi yang keluar dari hidung, Darrel sampai terkekeh, namun hanya pelan karna dia tak mau perutnya makin terasa sakit.


" Kamu kok bisa meragain kayak gitu sih? Emang kamu pernah sampai kayak gitu?" tanya Darrel yang dijawab anggukan mantap dari Luna. Luna pernah mengalami hal itu, bahkan saat itu Luna memakan makanan yang pedas hingga hidungnya langsung terasa panas dan dia tidak memiliki selera makan sampai dua hari kemudian.


" Makanya kalau makan jangan sambil nonton drakor. Pasti kamu makan sambil ngomel tuh," ujar Darrel sambil sedikit mendorong tubuhnya untuk posisi duduk meski dia merasa sedikit nyeri. Lelaki itu melihat porsi makan yang dibawa oleh Luna, porsi makan yang tidak banyak, disesuaikan dengan kondisinya. Luna sendiri menatap nampan tersebut dengan sedih.


" Bagaimana bisa kak Darrel makan dengan porsi yang sangat sedikit ini? Gimana bisa kak Darrel bertahan dan gak pernah ngeluh sama Luna? Kenapa kak Darrel gak bilang sama Luna?" tanya Luna yang tiba – tiba merasa sedih, Darrel yang melihat itu langsung bertindak, tak mau Luna menjadi semakin sedih.


" Hei, kamu gak usah sedih gitu dong. Aku kan makan dikit tapi kenyang, lagian aku gak perlu diet – diet lagi karna aku makannya udah dikit. Aku bahagia kok," ujar Darrel dengan ceria, Luna menatap Darrel dengan sinis dan mulai mengambil makanan yang sedikit itu dengan sendok.


" Pembohong, gimana bisa kenyang? Ini tiga sampai empat kali suap juga udah habis. Bagaimana bisa kak Darrel kenyang sama makanan yang kayak nasi kucing gini?" tanya Luna yang membuat Darrel menaikkan alisnya. Darimana Luna tahu istilah nasi kucing? Nasi berukuran kecil yang diibaratkan untuk makan kucing. Sering ditemukan saat malam hari.


" awalnya emamng gak cukup, rasanya kayak lapar banget, apalagi aku makan karna untuk syarat minum obat aja. Tapi lama – lama perut aku yang menyesuaikan, perut aku mau diajak kerja sama dan akhirnya perut aku nurut deh, makan segitu jadi kenyang," ujar Darrel yang membuka mulutnya dan membiarkan Luna memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya.


Darrel makan dengan tenang sampai tiga suap, Luna mengambilkan air putih untuk Darrel dan membantu lelaki itu untuk minum. Luna langsung membereskan sisa makanan itu dan meletakkan kembali ke meja sambil membawa obat yang harus diminum untuk Darrel. Dengan sbaar Luna 'melayani' Darrel sampai lelaki itu kembali pada posisi tidurnya.


" Aku boleh mint atolong gak? Tolong panggilin dokternya dong, aku mau tanya sama dia," pinta Darrel yang langsung dituruti oleh Luna. Gadis itu langsung keluar dari ruangan dan tak lama kemudian masuk ke dalam kamar Darrel dengan seorang dokter. Darrel tersenyum sopan untuk menyapa dokter itu.


" Dokter, saya inging menanyakan sesuatu. Apa kondisi saya memungkinkan saya untuk naik pesawat? Atau saya harus melakukan cuci darah laagi sebelum pergi?" tanya Darrel yang membuat dokter itu mengeluarkan senter dan stetoskopnya. Dokter itu mulai mengecek kondisi Darrel dan mengangguk – anggukan kepalanya.


" Apa kau merasa pusing atau mual? Atau kau merasakan nyeri di perut bagian kiri? Kalau tidak, kita tidak harus melakukan cuci darah. Itu juga keputusan kamu, kalau kamu mau cuci darah, kami bisa menyiapkannya segera. Semua tergantung pada apa yang kamu rasakan, kamu kuat atau tidak," ujar dokter itu yang membuat Darrel terdiam.


" saya tidak merasakan gejala yang aneh dok, berarti saya tiak harus melakukan cuci darah sekarang kan? Karna saya baru cuci darah, belum ada satu minggu," ujar Darrel yang membuat Dokter menyarankan Darrel untuk tidak melakukan cuci darah terlalu sering karna hal itu justru menyalahi prosedur dan membuat kondisinya memburuk. Dokter langsung pamit setelah menyelesaikan tugasnya.


" cuci darah? Luna pernah baca cerita tentang cuci darah. Itu pasti sakit kan kak? Kak Darrel harus melakukan cuci darah selama itu? Selama lebih dari satu tahun kak?" tanya Luna yang membuat Darrel terkekeh, dia tak mau membuat Luna khawatir dan menganggap cuci darah adalah hal yang gawat dan menyeramkan.


" Kalau kamu penasaran, kamu bisa ikut waktu jadwal aku cuci darah. Kamu bawa sabun pencuci sama sikatnya biar darah aku bersih," ujar Darrel yang membuat Luna berdecih.lelaki itu masih sempat bercanda dalam kondisi yang seperti ini. Bahkan Luna sangat takut saat ini, mengapa Darrel bisa begitu santai?


" Kamu buruan siap – siap gih, kan kita bakal pulang. Nah satu minggu lagi kamu ikut aku cuci darah, biar kamu lihat sendiri. Gak menyakitkan kok, biasa aja, gak seseram yang kamu bayangkan," ujar Darrel yang membuat Luna merasa ngeri, namun gadis itu juga menganggukan kepalanya.


Luna menghubungi salah satu orangnya dan meminta orang itu untuk membereskan barang – barangnya. Dia tak membawa banyak barang karna di sini mereka dalam kondisi mendadak dan bukan disengaja. Luna memilih untuk menemani Darrel agar lelaki itu tidak merasa kesepian. Mereka mengobrol banyak hal untuk membunuh waktu, sampai akhirnya orang – orang datang untuk menjemput mereka.


Darrel harus memakai kursi roda untuk membantunya dan langsung masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka semua ke dalam pesawat. Tuan Wilkinson bahkan membooking semua tiket pesawat untuk keluarga Wilkinson dan orang – orangnya agar tidak tertinggal di negara ini. Mereka memakai pesawat umum karna membutuhkan banyak ruang untuk menampung mereka semua.


Baik Darrel maupun Luna dan yang lain, mereka memilih untuk tidur, mengembalikan semua energi yang terbuang selama berada di negara ini. Mereka memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke Indonesia dengan selamat. Luna yang pertama bangun dan membangunkan yang lain saat pesawat yang mereka tumpangi hendak landing.


Gadis itu turun dari pesawat dan langsung disambut oleh temannya selama di Korea. Ternyata temannya itu sudah sampai di Indonesia. Atau mungkin dia langsung pulang ke Indonesia saat tahu Luna sudah tak ada di negeri ginseng itu. Luna langsungmemeluk Lira yang melebarkan tangannya, entah mengapa dia sangat merindukan gadis itu.


" Gue senang Lo baik – baik aja, Gue senang masih bisa lihat Lo sekarang," ujar Lira dengan tulus dan sedikit terharu, hal itu membuat Luna jadi terharu sampai tak kuasa untuk menahan air matanya. Mereka berpelukan cukup lama sampai akhirnya melepaskan pelukan itu bersama.


" Makanya kalau diminta buat jagain tuh ya jagain yang benar. Untung aja nih Luna gak kenapa – napa," ujar Radith dengan galak pada gadis itu. membuat gadis itu menunduk sedih, Luna yang melihat Radith begitu galak pada Lira pun menjadi curiga. Luna langsung menatap Radith dengan tatapan yang menyelidik.


" Lira itu pacar Radith, Lira yang kasih tahu kalau kamu diculik waktu pesta Halloween, Radith sengaja minta bantuan Lira buat jagain kamu karna dia juga jago bela diri. Kejam banget sih Radith ngirim pacar sendiri buat jagain orang lain," ujar Darrel yang membuat Radith mengepalkan tangannya.


" Kalau Lo masih dalam posisi sehat, gue bakal rontokin tuh gigi sampai Lo gak bisa ngomong yng macam – macam lagi kak, bikin kesal aja sih Lo," ujar Radith yang membuat Darrel mengangkat kedua tangannya dan mencari pengampunan Karna Radith tak tampak sedang bercanda.


Mereka kembali ke rumah masing – masing sementara Darrel tinggal di rumah Luna untuk sementara waktu. Itu pun karna keluarga Darrel tidak tinggal di Indonesia, jadi tidak ada yang bisa membantunya. Sedangkan Luna yang selalu menganggur memiliki banyak waktu untuk membantu lelaki itu. Luna menjaga Darrel dengan baik dan sabar, Darrel juga berusaha untuk tidak terlalu menyusahkan Luna.


Satu minggu berlalu. Wajah Darrel mulai pucat dan lebam di tangannya makin nampak. Hal itu disadari oleh Luna, gadis itu langsung mengingat jika Darrel harus melakukan cuci darah, akhirnya Luna membawa Darrel ke rumah sakit untuk melakukan 'kewajiban'nya. Dokter menyambut mereka dan menyiapkan ruangan VVIP untuk Darrel.


Dokter mulai memasang selang di tangan Darrel dan menyalakan mesin dialisis. Persis saat mesin itu menyala, Luna langsung membuka mulutnya dan menggelengkan kepalanya. Dia tak tahan melihat hal itu, dia tahu jika mesin itu menyakiti Darrel, Luna menganggap alat itu sangat menyeramkan, namun Darrel menggenggam tangan Luna untuk menenangkan gadis itu.


" Hei, kamu percaya sama aku gak? Kalau aku bilang ini gak sakit kamu bakal percaya gak? Ini gak sakit kok Lun, memang kelihatannya seram, tapi ini sama sekali gak sakit," ujar Darrel sambil tersenyum manis, Luna menggelengkan kepalanya, Luna tahu pasti sakit, namun Darrel tak merasakannya karna sudah terbiasa dengan alat itu.


" Luna bakal cari donor yang pas buat kak Darrel, Luna bakal berusaha temuin itu, bahkan kalau Luna harus donorin ginjal Luna, Luna bakal lakukan. Mari kita hidup bersama dan saling menjaga dengn satu ginjal ini kak," ujar Luna yang membuat Darrel meggeleng pelan.


" Kamu mau bantu aku nyari donor, aku setuju. Tapi kalau kamu yang donorin ginjal buat aku, aku bakal menolak. Aku lebih baik mati kehilangan nyawaku daripada aku menempatkan kamu di posisi sulit seumur hidup kamu, aku gak mau," ujar Darrel dengan lembut, Luna tak kuasa untuk tak menangis mendengar hal itu.


" Kalau sekarang saat terakhir aku bareng sama kamu, kamu bakal lakuin apa buat aku Lun?" tanya Darrel secara tiba – tiba, hal itu tentu memebuat Luna menjadi kaget dan tidak terima.


" Luna gak mau, Luna gak mau bayanginnya karna Luna gak mau saat ini jadi moment terakahir Luna sama kak Darrel, Luna gak bisa," ujar Luna yang membuat Darrel memejamkan matanya. Lelaki itu menarik dan membuang napasnya pelan dan teratur. Hal itu tentu membuat Luna jadi panik dan khawatir.


" Kak Darrel kenapa? Kak Darrel sakit? Mana yang sakit? Luna panggil dokter ya," ujar Luna yang langsung berdiri, namun Darrel menarik tangan Luna dan meminta gadis itu untuk duduk kembali.


" Aku gak papa, rasanya ngantuk, mau mau tunggu aku sampai selesai? Atau kamu mau pulang aja? Aku telpon supir biar ke sini," ujar Darrel memberi penawaran, Luna langsung mendudukan diri dan menggenggam tangan Darrel dengan kuat.


" Luna mau di sini. Luna juga mau ngerasain apa yang Luna rasain. Walau Luna gak tahu rasa aslinya gimana, Luna udah bisa bayangin hanya dengan melihat. Mulai hari ini, Luna bakal temenin kak Darrel biar kak Darrel gak merasa sendirian," ujar Luna yang membuat Darrel tersenyum.


" Makasih ya, makasih kamu udah mau ada di sini buat aku. makasih kamu udah mau jadi yang terbaik buat aku. walau sekarang kita Cuma sahabatan, aku mau kita baik – baik aja di kemudian hari," ujar Darrel yang membuat Luna terdiam.


" Boleh gak kalau Luna sama kak Darrel gak Cuma sahabatan?" tanya Luna dengan ambigu, membuat Darrel mengernyitkan kepalanya dengan bingung.


" Maksud kamu apa?" tanya lelaki itu memastikan maksud dari perkataan Luna. Luna tampak gelisah, gadis itu memainkan ujung bajunya dan menimang apakah keputusan yang diambilnya menjadi keputusan yang baik. Dia juga tak pernah melakukan hal ini sebelumnya karna dia tak pernah dekat dengan lelaki sampai seperti ini.


" Luna mau jadi tunangan kak Darrel lagi. Bolehkah?"


*


*


*


*


Note : Boleh gak nih gaes? Boleh gak gaes?


Ah iya Author tidak membalas komentar kalian bukan berarti author gak baca. Author baca semua, untuk kalian yang selalu support apapun alur cerita ini, Author mau mengucapkan banyak terima kasih. Untuk kalian yang kecewa dan memilih untuk berhenti membaca cerita ini, Author mengucapkan mohon maaaf yang sebesar – besarnya. Maaf karna keterbatasan saya sebagai penulis membuat pembaca sekalian kecewa dan saya menyadari hal seperti ini pasti terjadi jika saya memilih alur yang sekarang saya tulis.


Maksud saya meneruskan cerita ini karna saya ingin memberikan banyak cinta pada pembaca melalui tulisan ini, memberikan pelajaran hidup dan menempatkan sedikit realita dunia yang tidak adil.


Untuk kalian yang tulus mencintai novel ini, terima kasih banyak.


Sarangahaeyo Yeorobun <3 I Love You All <3 Saya cinta kalian semua <3