
NOTE : Authornya minta Maaf karna Part sebelumnya bikin nangis dan Authornya lupa kalau ini masih Puasa:') harap membaca ini setelah buka ya buat yang masih puasa.π
Have Fun!
*
*
*
Saat Luna masih berusaha menerima kenyataan. Pintu kamar gadis itu diketuk dengan kuat, membuat gadis itu mendongak, namun dia tak berani membukap intu itu, bagaimana jika orang yang mengetuk pintu adalah papanya? Luna tak sanggup mendengar berita setelah melihat video ini. Luna memilih untuk menulikan telinganya dan menutup telinganya dengan bantal.
Tak lama berselang, telpon yang ada di kamar Luna berbunyi. Gadis itu sudah terbiasa mengangkat langsung panggilan yang masuk ke telpon ini, kebiasaan itu membuat Luna reflek mengangkatnya dan menyesali perbuatannya sesaat kemudian. Luna menepuk jidatnya dan masih terisak, menunggu si penelpon menyampaikan maksud dan tujuan.
" Ini abang, kamu buka pintunya sekarang, abang harus masuk," ujar Jordan yang langsung menutup panggilan itu. Luna masih tak mau membuka pintu kamarnya. Gadis itu merasa takut bertemu dengan siapapun untuk saat ini. dia kembali memandang video yang sudah selesai itu, hanya tampak wajah Darrel dengan lambang untuk putar kembali video yang sudah Luna tonton.
Sampai akhirnya Jordan tak sabar dan langsung mendobrak pintu kamar Luna. Lelaki itu masuk dengan tergesa dan mendapati Luna yang sudah menangis deras. Jordan sampai terkaget beberapa saat melihat Luna sangat berantakan. Bahkan gafis itu tak mengelap ingusnya sama sekali, sungguh menjijikan dan berlainan dengan sifat Luna selama ini.
Pandangan mata Jordan juga langsung menatap ke arah televisi yang dilihat oleh Luna. Jordan langsung memundurkan langkahnya sekali saking terkejutnya. Lelaki itu sudah terlambat dan Luna sudah menonton video itu. Jordan langsung berjalan cepat ke arah Luna dan memeluk gadis itu dengan erat. Luna masih berusaha untuk menahan tangisnya meski pelukan Jordan benar β benar hangat.
" Maaf, Maafin abang ya," ujar Jordan pelan yang semakin mengeratkan pelukannya. Luna akhirnya tumbang dan kembali terisak di dada bidang milih Jordan. Lelaki itu makin memeluk Luna dengan erat, lelaki itu menarik dan menghembuskan napasnya dengan berat melihat kondisi Luna yang seperti ini.
" Harusnya abang tadi gak ke kantor dan tinggalin kamu sendiri kayak gini. Maaf, kalau urusannya bukan urusan yang mendesak, abang bakal suruh orang dan gak akan pergi sendiri. Maafin abang ya, maaf juga karna.. karna.." Jordan tak sanggup melanjutkan kata β katanya, lelaki itu hanya terdiam dan membiarkan Luna sampai puas menangis.
" Kita harus ke rumah sakit sekarang. Kamu mau ganti baju dulu atau kita langsung berangkat sekarang?" tanya Jordan setelah Luna meredakan tangisnya. Gadis itu mengelap ingus dan air matanya menggunakan baju Jordan. Lelaki itu sebenarnya merasa jijik karna Luna sengaja melakukannya, namun dia tak bisa marah pada gadis itu untuk saat ini.
" Luna mau ganti baju dulu sebentar, abang juga ganti baju sih, masak mau ke rumah sakit pakai baju yang ada ingusnya gitu?" tanya Luna yang membuat Jordan melihat kaosnya dan mengangguk setuju. Lelaki itu mengecup kepala Luna singkat dan bergegas keluar dari kamar itu. Luna sendiri hendak melepas kaosnya, namun Jordan membuka pintu kamar Luna yang sudah jebol itu.
" LUNA BARU AJA MAU LEPAS BAJU! Kenapa sih?" teriak Luna yang terburu β buru menurunkan kaos yang sudah dia angkat. Jordan terkekeh melihat Luna yang malu karna tingkahnya. Dia juga tidak berminat untuk mengintip adiknya sendiri.
" Kalau udah langsung turun, abang tunggu di bawah aja. Kamar kamu susah banget dijangkaunya," ujar Jordan yang kembali menutup pintu kamar Luna. Kali Ini Luna berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi karna pintu kamarnya sudah tidak bisa dikunci, dia takut seseorang tiba β tiba masuk lagi ke dalam kamarnya.
Jordan memang tidak begitu suka dengan letak kamar utama milik Luna. Kamar gadis itu terletak di lantai tiga dan bisa dibilang paling ujung, membuat Jordan malas berjalan ke arah kamar gadis itu. Jika bukan karna hal yang mendesak, Jordan lebih suka menelpon Luna dan meminta gadis itu untuk datang ke kamarnya.
Luna sudah selesai memakai bajunya dan langsung turun menggunakan lift ke lantai bawah. Di sana dia melihat Jordan yang sudah siap dengan kaos hitam, jeans hitam dan sepat putih yang tampak kontras dengan pakaian lelaki itu. Luna sendiri memakai kemeja hitam, jeans hitam dan sepatu merah gelap, menyuarakan perasaannya yang gelap.
Jordan langsung menarik tangan Luna dan mereka bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Luna sempat ragu untuk pergi, dan bahkan dia menolak untuk masuk ke dalam mobil, namun Jordan berhasil membujuknya, lelaki itu mengatakan Luna akan menyesal jika tidak ikut untuk melihat Darrel. Gadis itu menyetujui apa yang Jordan bilang.
" Bang, kalau Luna di sana nangis, abang langsung cubir Luna dan geret Luna ya bang. Karna kak Darrel udah bilang sama Luna kalau kak Darrel gak mau Luna sedih, kak Darrel gak suka lihat Luna nangis, Luna gak mau buat kak Darrel kecewa," ujar Luna yang tak ditanggapi oleh Jordan. Lelaki itu masih fokus menyetir agar tidak terjadi kecelakaan.
Di perjalanan, Luna melihat mobil ambulance melintas cepat bersama iring β iringan yang menyalakan lampu hazard. Jordan meminggirkan mobilnya ke arah kiri agar iring β iringan itu bisa melintas dengan cepat. Jordan langsung melihat Luna yang juga menatap ambulance itu dengan pandangan kosong.
" Lunetta," panggil Jordan yang membuat Luna menengok. Mata gadis itu membengkak dan bahkan gadis itu tampak sangat lelah. hari sudah petang, sebentar lagi malam, Luna sudah membayangkan besok mobil yang akan dia tumpangi akan masuk dalam iring β iringan seperti itu. namun Luna masih mencoba untuk tersenyum di depan Jordan.
" Luna gak papa kok Bang," ujar Luna dengan suara yang serak. Jordan menganggukan kepalanya dan langsung bergegas menuju rumah sakit karna papanya sudah menunggu. Dia akan mendapat masalah jika tak segera daang ke tempat itu. mungkin saja Luna tak bisa bertemu dengan Darrel lagi.
Mereka sampai di rumah sakit dan Jordan sengaja menurunkan Luna di lobby sementara lelaki itu memarkirkan mobilnya. Luna menunggu Jordan datang dan menggandeng tangan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah sakit. Bahkan Luna hampir saja menangis meski baru masuk ke rumah sakit ini, Jordan mengeratkan tautan tangan mereka untuk menguatkan Luna.
Jordan membawa Luna ke lantai tiga rumah sakit itu. tangan Luna makin bergetar saat pintu lift terbuka. Gadis itu tak mau melangkahkan kakinya lagi, namun Jordan sedikit menariknya hingga langkahnya sedikit terseret dan dia bisa keluar dari lift itu. Luna tak mau menaikkan kepalanya dan hanya emantap lantai sejauh mereka berjalan.
" Lunetta," panggil seseorang yang Luna yakin itu adalah Daddynya. Daddy Luna memanggil gadis itu dan menatap gadis itu dengan dalam lalu mmeeluknya. Luna langsung meloloskan air mata yang sudah dia tahan saat papanya memeluknya. Dia sudah tak ada harapab lagi, harapan bahwa semua yang dialaminya hanya mimpi, kini gadis itu harus percaya.
" Operasi Darrel berjalan lancar. Dia selamat!" ujar tuan Wilkinson dengan lugas dan semangat. Kaki Luna langsunglemas dan gadis itu langsung terduduk di lantai. Dia tidak bisa mencerna kata β kata yang diucapkan oleh tuan Wilkinson. Pikirannya terasa buntu da tak bisa mengolah kalimat itu dengan baik.
" Luna. Darrel selamat, harusnya kamu bahagia dan kamu jingkrak β jingkrak atau bahkan peluk semua orang yang ada di tempat ini, kenapa kamu malah lemas gitu?" tanya Lira yang tanpa sadar menggunakan aku β kamu pada Luna untuk saat ini. setelah Lira mengatakan hal itu, barulah otak Luna menangkap dan gadis itu mendongak.
" Kak Darrel? Dia, dia masih hidup? Operasinya? Berhasil? Kak Darrel masih hidup?" tanya Luna dengan ling lung namun juga sangat bahagia. Lira menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar. Dia tak menyangka keajaiban benar β benar sedang berpihak pada Darrel. Lelaki itu terus saja selamat dari maut yang menghantuinya.
" Darrel masih hidup, sekarang dia ada di ruang ICU untuk pemulihan, kalau kondisinya udah stabil, dia akan dipindahkan ke ruang biasa. Tapi kita gak boleh terlalu bahagia karna kita harus tahu tubuh Darrel menolak ginjal itu atau tidak, kita akan tahu dalam satu minggu ini," ujar Tuan Wilkinson yang diangguki oleh Luna.
" Setidaknya untuk saat ini nyawa kak Darrel selamat. Luna, Luna bahagia, Luna," ujar Luna yang tak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Dia sangat lega karna Darrel bisa melewati saat ini dnegan baik. Lelaki itu masih mengingat janjinya bahkan saat kesadarannya menurun. Luna sangat bahagia mengetahui Darrel bertahan sampai di titik ini.
" Luna mau ketemu sama kak Darrel. Luna mau masuk. Kak Darrel di ICU kan? Luna mau lihat kak Darrel," ujaar Luna dengan buru β buru, namun tuan Wilkinson menarik tangan Luna agar gadis tiu tak melanjutkan lngkahnya. Gadis itu memandang papanya dengan bingung.
" Kamu gak boleh ketemu dia dulu. Daddy minta abang kamu buat cepat jemput kamu karna perjananan Darrel dari ruang operasi ke ruang ICU itu satu β satunya kesempatan kamu buat ketemu Darrel untuk beberapa hari ini. tapi ternyata abang kamu malah telat bawa kamu," ujar Tuan Wilkinson melirik Jordan.
" Jordan udah jemput Luna cepat, tapi dia gak mau buka pintu. Dia juga lama banget ganti bajunya, bukan salah Jordan dong," ujar lelaki itu membela diri, namun tuan Wilkinson masih tak mau menerima alasan lelaki itu, beliau tetap menganggap Jordan bersalah untuk kali ini. Luna sendiri langsung mengerti dan tak memaksa lagi.
" Yang penting Luna udah tahu, Luna udah lega sekarang," ujar Luna yang tak henti tersenyum an bersyukur. Kini mereka bisa tersenyum lega. Beban yang ada di pundak mereka seolah sedikit terangkat dengan berhasilnya operasi ini, meski mereka juga harus memikirkan alternatif jika tubuh Darrel menolak ginjal itu.
Pandangan mereka teralihkan saat dua orang berjalan ke arah mereka. Salah satu dari mereka merupakan pria dewasa yang mungkin seusia tuan Wilkinson, namun wajahnya tampak tua, meski begitu wibawanya masih sangat terpancar. Sementara yang satu lagi merupakan ibu β ibu yang tampak muda, namun tangannya sudah cukup berkerut, sepertinya ibu itu sering melakukan perawatan.
" Smith Wilkinson, lama tidak bertemu denganmu. Aku tidak menyangka harus berteu denganmu di tempat ini dan dalam posisi seperti iin," sapa orang itu yang membuat Luna terkejut. Baru kali ini dia melihat orang berani memanggil daddynya hanya dengan nama. Namun anehnya, papanya malah tersenyum dan mengangguk sopan.
" Kamu pasti Lunetta ya?" spaa Wanita cantik itu yang membuat Luna tersenyum dan mengangguk sopan meski Luna masih tidak tahu siapa dua orang di hadapannya ini. Wanita cantik itu langsung memeluk Luna, membuat Luna jadi terkejut dan tak tahu harur melakukaan apa. Wanita itu hanya memeluknya sebentar dan langsung melepaskannya.
" Kamu pasti bingung ya sekarang? Ah, tante harus hukum Darrel karna sudah berbohong pada kami. Ternyata Lunetta jauh lebih cantik dari yang ada di foto dan yang diceritakan oleh Darrel," ujar wanita itu yang makin membuat Luna bingung. Pria yang ada di samping wanita itu terkekeh melihat Luna yang kebingungan.
" Ini kali pertama kita bertemu, tapi kami malah membuat kamu bingung. Ah, aku merasa jadi mertua yang jahat karna tidak pernah bertemu menantuku bertahun β tahun. Aku hanya bisa bertemu dengan ayahmu. Maaf karna aku bahkan tak bisa hadir di acara pertunangan kalian kala itu karna penyakitku dan isitriku ini harus merawatku dengan baik."
" Darrel sudah melewati banyak masa sulit bahkan saat lelaki itu masih sekolah. Aku berterima kasih pada papamu karna sudah membantu Darrel dan perusahaanku hingga bisa berdiri sampai saat ini. aku senang semua sudah berakhir sekarang," ujar orang itu yang masih tak dijawab oleh Luna. Wanita cantik yang ada di sebelah Luna langsung merangkulnya.
" Perkenalkan, tante adalah Nyonya besar Atmaja, dan suami tante ini tuan besar Atmaja. Tante merasa bersalah karna baru bisa menemui kamu sekarang. Jika tahu secantik ini, tante akan menemui kamu sejak lama, tante akan ajak kamu pergi keliling dunia untuk mencoba perawatan tubuh terbaik."
" Berhenti membicarakan hal yang tidak perlu. Bukan waktunya membicarakan hal itu, toh setelah ini kau bisa lakukan itu sesukamu karna Lunetta akan menjadi Nyonya muda Atmaja," ujar Pria yang memotong pembicaraan Wnita cantik itu. wanita cantik yang tadinya sumringah langsung mengerucutkan bibirnya.
" Ja.. jadi, Om dan tante?" tanya Luna yang tak bisa melanjutkan pertanyaannya dengan lengkap.
" Ya, kami adalah orang tua Darrel Atmaja. Mungkin kalau kamu melihat sekilas, Suamiku ini seperti ayahku. Tapi sebenarnya jarak umur kami hanya dua tahun, aku terlihat jauh lebih muda karna sering melakukan perawatan terbaik, aku akan menunjukkannya padamu lain waktu."
" Jika jantungku tak bermasalah dan aku harus meminum banyak obat, wajahku tak akan setua ini. berhenti membual jika kau masih mau uang bulanan tetap mengalir di rekeningmu," ujar pria itu dengan tegas. Tuan Wilkinson tertawa mendengar pertengkaran kecil itu.
" Kalian tidak pernah berubah. Bagaimana aku bisa mempercayakan anakku pada mertua seperti kalian?" tanya tuan Wilkinson yang membuat Tuan Atmaja tertawa lepas.
" Sudah, sudah. Di sini tante mau mengucapkan banyak terima kasih sama kalian semua, terutama kamu Lunetta. Kamu yang jadi motivasi Darrel tetap hidup meski memiliki kelainan ginjal yang menyulitkan hidupnya. Terima kasih ya sudah menjaga anak tante selama ini," ujar Nyonya Atmaja dengan senyum yang manis, bahkan sampai menampakkan lesung pipitnya.
" Kondisi Darrel memang saat ini belum stabil. Tapi Om yakin dia akan bertahan karna dia tahu kamu menunggunya untuk sadar. Om merasa bersalah karna Om tidak bisa membantu banyak, malah papamu ini yang mengurus Darrel selama sakit."
" Yah, aku tak mau membuatmu kehilangan detak jantung berharga itu jika terlalu banyak memikirkan masalaah seperti ini. toh pada akhirnya Darrel akan menjadi anakku juga."
Mereka kembali tertawa dan membicarakan banyak hal dengan penuh kebahagiaan seolah kejadian menyedihkan tak pernah terjadi sebelum ini.