
"Ha-harus malam ini juga ya, Kang?" tanya Nezia, ragu.
Faris tidak membalas pertanyaan Nezia, pemuda berwajah manis itu langsung berlalu menuju kamar mandi dan hanya memberikan isyarat dengan kedipan mata.
Tak berapa lama, Faris pun keluar dari kamar mandi. Dia langsung mengenakan baju koko dan sarung yang telah disiapkan oleh sang istri.
Nezia yang telah mengenakan mukena, juga sudah menyiapkan dua sajadah untuk mereka sholat isya' berjama'ah.
Faris kemudian memimpin sholat isya' dengan khusyu' dan setelah mengucap salam, serta membaca wirid pendek, dilanjutkan dengan sholat sunnah dua raka'at.
"Kita do'a sama-sama ya, Neng," ucap Faris seraya menoleh sekilas ke belakang.
Usai menjalankan sholat sunnah, pemuda yang kini telah menyandang predikat sebagai seorang suami itu kemudian, memimpin do'a.
Faris memohon kepada Sang Pencipta, agar dia bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kecilnya dan rumah tangga yang mereka bina, diberikan kemudahan, keberkahan dan kebahagiaan selamanya.
Pemuda itu juga berdo'a, agar mereka berdua bisa menjadi orang tua yang bijak untuk anak-anaknya kelak.
Sementara Nezia mengaminkan do'a sang suami.
Faris kemudian menoleh ke belakang, menyambut uluran tangan sang istri yang hendak menyalaminya.
Setelah Nezia mencium punggung tangan Faris, pemuda ganteng itu kemudian mencium ubun-ubun sang istri seraya membaca do'a, memohon keberkahan atas istrinya.
"Boleh cium yang lain?" ijin Faris seraya menatap manik hitam sang istri, dengan tatapan penuh damba.
Mendapatkan tatapan seperti itu dari laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya, dada Nezia berdebar. Sedetik kemudian, wanita cantik itu mengangguk.
Dengan lembut, Faris mencium kening istrinya. Mencium kedua mata Nezia, kanan dan kiri bergantian. Kemudian mencium kedua pipi sang istri, hidung dan sejenak menjauhkan wajah.
Faris meraba bibir tipis sang istri dengan ibu jarinya, membuat debaran di dada Nezia semakin berdetak lebih cepat.
Suami Nezia itu menelan saliva, dia kemudian mulai mendekatkan wajahnya kembali. Faris mulai menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Keduanya sama-sama memejamkan mata, menikmati indahnya momen tersebut.
Untuk beberapa saat, kedua bibir itu hanya menempel. Tak ada yang memulai untuk melakukan lebih, termasuk Faris yang saat ini juga tengah berdebar-debar.
Tiba-tiba terdengar suara yang membuat keduanya sama-sama menjauhkan wajah dan saling tersenyum lebar.
"Neng ...."
"Kang ...."
Tawa keduanya pun kemudian pecah, bersamaan.
"Lapar ya, Neng?" tanya Faris di sela tawanya.
"Iya, Kang. Tadi 'kan, kita belum makan malam," balas Nezia, masih dengan tawanya.
Ya, suara aneh itu adalah suara yang keluar dari perut keduanya yang kelaparan karena tadi belum sempat makan malam.
"Cari makan, yuk!" ajak Faris kemudian yang langsung beranjak. Pemuda itu kemudian membantu istrinya untuk berdiri.
"Mau delivery, Kang?" tanya Nezia.
"Kita keluar aja ya, Neng. Sekalian, kita pacaran," ucap Faris.
Nezia tersenyum bahagia, seraya menganggukkan kepala.
"Sini, biar aku yang beresin. Neng Ganis ganti baju dulu, sana." Faris segera mengambil mukena dari tangan sang istri dan melipatnya dengan rapi.
Nezia kemudian segera berganti pakaian dan mengenakan hijab. Dia poles bibirnya sedikit dengan pemerah bibir, agar tidak terlihat pucat.
"Udah siap, Neng?" tanya Faris ketika melihat sang istri sudah mencangklong tas kecil untuk menyimpan ponsel dan dompet.
Faris terpesona melihat penampilan sang istri yang mengenakan kaos panjang santai dan dipadukan dengan kulot polos serta pasmina dengan warna senada, membuat istrinya itu seperti anak kuliahan yang baru saja masuk bangku Perguruan Tinggi.
"Neng, kamu kayak abege. Cantik," puji Faris seraya mencium pipi Nezia.
Wanita cantik itu bergetar, mendapatkan pujian dan ciuman dari sang suami.
"Akang juga ganteng banget, keliatan lebih segar dan lebih muda," puji Nezia, jujur.
Ya, karena biasanya, istri Faris tersebut selalu melihat penampilan sang suami selalu formal dan rapi. Layaknya eksekutif muda yang bekerja di kantoran.
Setelah saling memuji, Faris kemudian menuntun istrinya keluar dari kamar pengantin mereka berdua.
Mereka terus melangkah, menyusuri koridor hotel, menaiki lift untuk turun ke lantai dasar dan kemudian menuju parkiran khusu tamu hotel.
Faris kemudian membukakan pintu untuk belahan jiwanya tersebut. "Silahkan, istriku sayang," ucap Faris, membuat pipi Nezia, merona.
Pemuda itu bergegas menuju pintu samping kanan dan segera masuk ke dalam mobil. Faris kemudian duduk di bangku pengemudi.
"Mau makan apa, Neng?" tanya Faris setelah menghidupkan mesin mobilnya.
"Apa saja deh, Kang. Inez ngikut Akang aja," balas Nezia.
"Oke, tapi nanti jangan protes, ya." Faris menatap sang istri, memastikan.
"Iya. Inez enggak akan protes," balas Nezia, tersenyum.
Faris kemudian segera melajukan mobilnya keluar dari area parkir dan menyusuri jalan raya ibukota yang tak pernah sepi, meski malam telah semakin larut.
"Kita mau kemana memangnya, Kang?" tanya Nezia, ketika wanita cantik itu melihat beberapa restoran yang masih buka, tetapi dilewati begitu saja oleh Faris.
"Kita cari makanan sejuta umat, Neng," balas Faris seraya tersenyum.
Ya, pemuda tersebut membawa mobilnya menjauh dari pusat kota, untuk mencari makanan kesukaannya semasa kuliah dulu. Makanan yang ramah di kantong mahasiswa dan rasanya nikmat, menggugah selera.
Setelah cukup jauh melaju, Faris kemudian menepikan mobilnya di sebuah warung tenda di pinggir jalan.
"Ayo, turun! Kita sudah sampai," ucap Faris seraya membuka seat belt-nya. Pemuda itu kemudian juga membukakan sabuk pengaman sang istri.
"Kang, serius kita mau makan di sini?" tanya Nezia dengan dahu berkerut dalam. Melihat ke arah luar, tepatnya ke warung tenda yang ada di pinggir jalan raya tersebut.
"Iya, Neng, kenapa? Kamu enggak suka? Jijik sama tempatnya?" tanya Faris, khawatir sang istri tidak menyukai idenya yang membawa Nezia ke tempat seperti ini.
"Bu-bukan begitu, Kang. Inez makan apa aja, doyan kok. Hanya saja, ini untuk yang pertama kalinya buat Inez." Nezia menatap sang suami yang urung membuka pintu di sisi kanan Faris
"Makanya Inez tanya sama Akang, yakin mau makan di sini? Yakin, makanannya enak?"
Faris yang memang sudah terbiasa makan di warung tenda tersebut, mengangguk pasti. "Coba dulu, yuk! Di sini, sambal pecel lelenya mantap," balas Faris yang kemudian segera turun.
"Neng Ganis bisa mencoba makan pecel lele di sini dan nanti setelah sampai di kamar, baru nyobain lele yang lain," lanjut Faris ketika membantu istrinya turun dari mobil, membuat dahi Nezia berkerut dalam.
"Lele yang lain?" tanyanya polos.
"Iya, Nez. Lele dumbo punya Kang Faris." Terdengar sahutan dari arah belakang mereka berdua.
Faris dan Nezia langsung menoleh ke arah sumber suara.
☕☕☕☕☕ bersambung ...