
Luna melangkahkan kakinya dengan riang menuju kelasnya, seharian kemarin dia sudah menangis dan Jordan bahkan ada disisinya sampi dia tidur dan terbangun lagi di pagi hari. Jordan berpesan bahwa ini yang terakhir kalinya, Luna harus bangkit dan memulai hari yang baru, dengan penampilan baru dan semangat yang baru.
Sakit? Tentu, Rasa sakit itu masih nyata bagi Luna, namun gadis itu berusaha tak memikirkannya dan memilih untuk menyibukkan diri untuk menyenangkan hatinya. Seperti saat ini, dia sedang mengunyah marshmellow dan mendengarkan lagu dari headset yang terpasang di kupingnya. Sudah lama sekali rasanya Luna tak menikmati hari seperti ini, setelah beberapa tekanan berturut – turut dalam hidupnya, dia berharap kedepannya hidupnya akan mulus seperti jalur lomba F1.
" Radith, selamat pagi!!" Seru Luna tepat di telinga Radith yang meletakkan kepalanya di meja, lelaki itu terjingkat kaget dan bangun seketika. Wajahnya dipenuhi garis merah pertanda dia memang sedang kelelahan dan tertidur begitu pulas.
" Apa sih gak jelas. Lo siapa?" tanya Radith dengan mata yang belum terbuka sempurna, atau mungkin masih tertutup sempurna? Entahlah, mata Radith kan sipit, sudah terbuka maksimum saja masih berupa satu garis lurus, hahaha.
" Coba tebak gue siapa?" tanya Luna yang malah menggoda Radith dan mendekatkan kepalanya. Radith mengucek matanya dan bangkit berdiri seketika, Luna bahkan sampai memundurkan langkahnya akrna terkejut dengan respon Radith. Luna langsung menegok ke belakang kalau kalau ternyata di belakang Luna ada hantu yang membuat Radith sekaget ini.
" Lo Lunetta?" Tanya Radith memegang lengan Luna dan memutar gadis itu ke kiri dan ke kanan untuk memastikan yang dia lihat sungguh Lunetta Azura yang dia kenal, perlakuan Radith tentu membuat Luna merasa tak nyaman.
" Kenapa sih? Iya gue Lunetta astaga, gak usah diputer puter, pusing bego," ujar Luna mendorong Radith pelan, namun karna mungkin masih lemas lelaki itu langsung terduduk di kursinya.
" Kok jadi cakep banget sih Lo?" tanya Radith melihat rambut Luna yang mungkin sekitar empat jari di bawah telinga, padahal tadinya sebatas punggung, demi apapun Luna terlihat lebih dewasa di mata Radith saat ini, meski yah, penampilan tak bisa mengubah sifat seseorang, namun she's looking Better, really.
" gue dari dulu cakep, Lo nya aja yang gak nyadar," ujar Luna memasang wajah malasnya, dia langsung duduk di depan Radith dan mengganggu lelaki itu, memainkan apapun yang ada di wajah Radith, mulai dari mata, hidung, mulut, kuping bahkan hingga tahi lalat yang ada di bawah kuping lelaki itu.
" Tumben Lo diem aja diginiin," ujar Luna yang heran karna Radith tak terganggu sedikitpun.
" Ya karna gue tahu makin ngeberontak Lo nya makin menjadi – jadi, kalau gue diemin juga bosen sendiri," ujar Radith cuek sambil memainkan ponselnya. Luna tahu Radith akan menerima perlakuan Luna apapun itu, kecuali jika menganggunya bermain Gama, ah, bisa kiamat dunia Luna.
" Game baru ya dith? Ajarin gue dong," ujar Luna mulai merusuh, membuat Radith mengelus dadanya dan mencoba sabar agar tidak membentak Luna, apalagi pikiran lelaki itu sedikit bercabang karna kondisi Blenda yang kemarin sedikit memburuk, meski kini sudah kembali stabil.
" Gak ada, Lo kalau diajarin susah, lemot, udah gitu ngeselin pula, gak ada pokoknya," ujar Radith menggeleng dan menjauhkan kepala Luna dari ponselnya karna kepala gadis itu menghalangi layar.
Luna menurut dan menjauh seketika, namun ternyata malah membuat Radith tak nyaman. Radith tak terbiasa melihat Luna yang tenang dan Radith terbiasa diganggu oleh gadis itu. Biasanya Luna tidak menurut apa yang dikatakannya, mengapa kini Luna mndadak jadi penurut?
" Lo kok berubah sih? Jadi gadis manis gitu, penurut banget. Kok gue jadi curiga sama Lo sih Lun? Lo gak lagi ngerencanain sesuatu kan?" tanya Radith memicingkan mata dan menatap Luna curiga.
" Astaga, Lo gak boleh berprasangka buruk, nanti Lo jadi monyet Loh, itu kan jatuhnya fitnah,"' ujar Luna menggeleng – gelengkan kepalanya dan mengelus dadanya dengan wajah yang dramatis. Radith yang gemas langsung meraup wajah Luna dan tak membiarkan gadis itu menatap ke arahnya.
" hahahah, udah ih lepasin, gue gak nyaman diginiin, nanati gue gak nyaman sama Lo." Ujar Luna gemas sambil berusaha menyingkirkan tangan Radith, namun lelaki itu tetap teguh tak ingin menyingkirkan tangannya dari wajah Luna. Luna diam dan memikirkan cara agar tangan besar ini menghilang dari wajahnya.
" Anjir!!! Bangke Lo! Kenapa Lo jilat tangan gue? Jijik banget sih Lo, ih, jorok," ujar Radith langsung melepaskan tangannya dari wajah Luna dan tampak mengibas – ibaskan tangan itu agar liur Luna yang menempel pada tangannya segera hempas.
" Lo sendiri yang nakal sama gue, padahal kan gue gak ngapa ngapain, orang gue udah imut manis begini, masih aja Lo nakal sama gue," ujar Luna sambil tertawa sampai terpingkal – pingkal, melihat itu Radith bukan senang, namun lelaki itu malah curiga.
Kalian tahu kan istilah seorang yang tertawa lepas sebenarnya menyimpan luka yang mendalam? Radith merasa Luna dengan mengalami hal itu, tapi apa? Apa ada hubungannya dengan Luna yang tiba tiba saja memotong pendek rambutnya?
" Lo free gak sore nanti?" tanya Radith tanpa menunggu Luna selesai tertawa, gadis itu diam da tampak berpikir, lalu mengangguk dan membenarkan bahwa dia sedang free untuk saat ini.
" Temenin gue sepedaan yuk? Pulangnya gue traktir gula kapas deh," ujar Radith yang mengajak Luna, tanpa berpikir panjang Luna langsung mengangguk begitu saja, mendengar kata gula kapas sudah membuat Luna berani mengambil keputusan bulat.
" deal gula kapas empat bungkus gak pakai penawaran lagi," ujar Luna riang dan langsung pergi dari tempatnya, Radith hendak membua mulut, namun ia mengurungkan niatnya, biarlah Luna meminta apapun sesuka hatinya, setidaknya Radith akan tahu alasan Luna sampai seperti ini.
" Gak keropos tuh gigi makan gula kapas segitu banyak? Gue bayangin aja udah ngilu," ujar Radith pelan dan kembali menatap ponselnya, melanjutkan permainan yang tadi sempat terhenti.
" LOH LUNA? LO POTONG RAMBUT?!" Seruan itu membuat Luna menutup telinganya dan memejamkan mata. Ghea tak pernah tak heboh menghadapi suatu masalah, dia selalu mengutarakannya dengan semangat penuh.
" Gak usah teriak teriak Ghea, gue gak mau jadi tuli astaga. Lagian potong rambut aja heboh bener," ujar Luna menggaruk lehernya karna dia merasa Ghea sungguh berlebihan, dia sampai bingung sendiri harus merespon Ghea sampai model yang bagaimana.
" Lo kenapa tiba – tiba motong rambut begini? Lo lagi depresi? Atau Lo lagi patah hati? Oh oh atau Lo beneran putus sama kak Darrel karna kak Angga ya?" tanya Ghea sampai mendorong – dorong pundak Luna. Gadis itu tentu menjadi bingung.
" Karna kak Angga? Memang gue sama kak Angga ngapain? Ada gosip baru kah?" tanya Luna yang bingung akrna dia tak pernah mengikuti gosip, tentu Ghea dan Resya berbeda, mereka sangat up to date mengenai gosip yang beredar di STM Taruna, khususnya jika itu menyangkut Darrel.
" Banyak konspirasi njir, ada yang bilang Lo selingkuh sama Angga, ada yang bilang Lo dicampakkin sama Darrel, ada yang bilang lagi Lo Cuma numpang Famous sama Darrel. Dan ada yang paling parah Lun," ujar Ghea menggantungkan kata – katanya.
" apaan yang parah?" tanya Luna karna semua yang disebutkan Ghea sudah sesuai dugaannya sehingga dia tidak terkejut sama sekali.
" Kak Darrel sama Kak Angga sebenernya homoan, dan Lo itu Cuma dijadiin kedok mereka berdua biar gak ketahuan. Setelah muncul isu itu, gak tahu darimana ada yang ngirim foto kak Angga sama kak Darrel yang kayak lagi mesra – mesraan gitu, anjir lah gue aja eneg lihatnya," ujar Ghea bergidik jijik.
Luna bahkan sampai membuka mulutnya lebar karna gosip sekasar itu bahkan juga ada, bagaimana bisa mereka menuduh seseorang seperti itu? Namun foto? Mengapa sampai ada foto keduanya tampak bermesraan? Atau jangan jangan memang benar?
Luna memukul mukul kepalanya agar pikiran buruk itu segera hilang dari pandangannya, gadis itu tak mau memikirkan hal yang macam- macam untuk saat ini, lebih baik dia menenangkan diri dan hanyut dalam dunianya sendiri.
Yah, itu lebih baik dibanding harus memikirkan Darrel setiap saat, Luna sudah bertekad tidak menangisi lelaki itu lagi, meski pertunangan merka serta keputusan hati Darrel belum pasti, namun Luna tak bisa berharap lebih. Siapa yang bisa menandingi cinta pertama? Apalagi cinta pertama itu juga mencintainya.
" Gak tahu lah gue, gak begitu urusan juga, namanya juga gosip, biarin aja sih," ujar Luna mengangkat bahu acuh tak acuh, Ghea mengangguk dan membahas hal lain dengan Luna, melupakan topik Darrel yang memang selalu hangat diperbincangkan.
*
*
*
Radith menetapi perkataannya dan datang ke rumah Luna menaiki sepeda. Sepeda bung! Entah kaki lelaki itu akan sebesar apa setelah ini, sebegitu niatnya Radith, padahal biasanya lelaki itu memilih untuk rebahan dan memainkan selusin game berbeda yang ada di ponselnya.
" Ck, gue gak semanja itu kalik Dith, kalau cuma sepeda mah gue bisa," ujar Luna mengibaskan rambutnya sebentar lalu kembali memegang stang sepeda tersebut.
" Bagus dong, berarti bisa balap sama gue," ujar Radith tiba - tiba dan melajukan sepedanya secepat kilat. Luna yang melihat itu perlu waktu beberapa saat untuk memproses semua dalam otaknya, lalu mengegas sepeda itu untuk menyusul Radith.
Radith tampak melambat seakan menunggu Luna agar dapat menyusulnya, lelaki itu segera menambah kecepatan saat Luna sudah ada di sebelahnya.
Mereka tertawa bersama sama dan saling balap, meski sebenarnya Radith sengaja melambatkan sepedanya agar Luna semangat karna berhasil membalapnya. Luna yang sudah berada di depan tampak semakin melajukan sepedanya.
Sebenarnya Luna juga tidak tahu harus sejauh apa balapan ini, kan tidak ada aturan khusus, tadi Radith langsung saja melaju tanpa memberitahu rules nya. Luna yang merasa ditipu lantas tidak terlalu memaksakan diri agar tidak merasa lelah.
Gadis itu melihat ke arah kiri dan terkejut seketika, dia reflek menarik rem dan sepeda berhenti seketika sampai membuat dia terjungkal. Radith tentu terkejut dan menyundul Luna karna dia persis berada di belakang gadis itu.
" Aiisshh, Sakit," ujar Luna memegang kakinya yang tertimpa Sepeda. Radith segera bangkit dan mengangkat sepeda yang menimpa kaki Luna, Radith berjongkok dan mengamati kaki jenjang Luna.
" Lo tuh gimana sih, kok bisa bisanya ngerem mendadak? Ngelihat Kucing kawin Lo? Sampai luka kayak gini, ngerepotin aja sih Lo," ujar Radith kesal karna kaki Luna sampai berdarah. Luna hanya diam dan menunduk, dia menunjuk ke arah yang membuat konsentrasinya buyar.
" Gak sekadar kucing kawin dith, kalau ini mah Kucing Garong sama calon tunangannya," ujar Luna pelan dan kesal, dia kembali mengamati kakinya yang tampak mengucur lebih deras.
Radith melihat arah yang ditunjuk Luna dan tentu dia terkejut, jadi ini alasan Luna memotong rambut? Apakah hubungan Luna dan Darrel kandas? Bolehkah Radith tertawa? Hubungan yang sudah sedekat itu, bahkan sampai menyandang status tunangan, akhirnya kandas di tengah jalan. Hebatnya, Darrel langsung memiliki gadis lain, astaga.
" Lo gak usah mikir yang aneh – aneh, Lo gak usah mikir yang bikin gue bete," ujar Luna menunjuk dan mengancam Radith, lelaki itu tampak mengangkat tanganya ke atas dan menyerah, dia tak akan memikirkan hal semacam itu lagi.
" Lo bisa jalan gak ?" tanya Radith yang masih berdiri, entah mengapa Radith tak ingin berjongkok, mungkin memandang Luna nelangsa seperti ini membuat lelaki itu bahagia, makanya dia enggan berjongkok dan menolong Luna.
" Gak bisa jalan, gak bisa berdiri, tolongin kek," ujar Luna memelas dan memasang Puppy eyes andalannya, gadis itu memegang kakinya dan membuat mulutnya seimut mungkin, akhirnya Radith pun menyerah dan berjongkok lalu memberikan punggungnya untuk dinaiki Luna.
Luna terkeekeh dan langsung naik ke punggung Radith, membiarkan lelaki itu mengambil ancang – ancang sebelum mengangkatnya dan berjalan bersama. Maksudnya Radith berjalan dan Luna bersamanya, di punggungnya, hehehe.
" Sepedanya gimana dith?" tanya Luna menengok ke belakang dan mengamati sepeda mereka yang ditinggal begitu saja.
" Gak usah nengok nengok, ini jadinya berat banget njir," ujar Radith membenarkan posisi Luna pada punggungnya. Luna memakai tank top lengan buntung dan celana pendeknya. Radith bahkan bisa merasakan benda kenyal itu di punggungnya. Apalagi setiap Luna bergerak karna berusaha melihat kebelakang, benda itu menggesek gesek punggung Radith seakan menggodanya.
" Anjir, fokus bego, fokus," ujar Radith pelan sambil menggelengkan kepalanya.
" Nanti juga ada yang ambil tuh sepeda, udah Lo tenang aja, jadi beli gula kapas gak? Dekat sini ada yang jual, tapi gak segede yang ada di pasar malem taman kota," ujar Radith menawarkan janjinya. Siapa tahu Luna berubah pikiran.
" Jadi dong! Hayuk buruan, kita pergi ke gula kapas, berarti lebih banyak ya dith? Kan lebih kecil, ya kan ya kan? Gue gak bawa dompet sama sekali Loh dith," ujar Luna menengok ke arah Radith dan memandang pipi lelaki itu.
" Ya udah sebahagia Lo aja lah gimana, udah diem, anteng, berat bego," ujar Radith yang kembali membenarkan posisi Luna. Gadis itu melonjak lonjak di gendongan Radith, seakan sengaja membuat lelaki itu kesusahan.
" Heh Bego!! Gue lempar Lo ke selokan! Diem gak?!" Ancam Radith yang membuat Luna diam seketika, namun tawanya tetap saja pecah karna berhasil mengerjai Radtih dan lelaki itu tak bisa membalasnya.
*
✌
*
Mampir ke novel ku yang lain yuk gaes.
Adella ( kisahnya Adel - Sahabat Luna)
Ex Lover ( New Arrival nih)
Miss galak, I Love you ( Kisahnya babang Jordn, whehhe)
T(w)o : Heart ( ini masih stuck, tapi mampir gakpapa)
mohon supportnya untuk novelku yang laiinn
love,
Eliz