
Luna menatap kalung liontin pemberian Darrel, gadis itu tak henti tersenyum karena perlakuan lelaki itu malam tadi.
Dilepasnya kalung itu dan cincin yang ada di jarinya, Luna memasukkan cincin itu sebagai gantungan tambahan, Luna tak ingin gossip menyebar dan menimbulkan berita tidak enak.
Gadis itu kembali memakai kalung itu dan menatap wajahnya di kaca. Meneliti bagian wajahnya yang sekiranya menjadi pusat perhatian Darrel.
Namun Luna tidak melihat sesuatu yang berbeda, Luna hanya melihat dua mata, dua telinga, satu hidung dan satu mulut. Lantas apa yang membuat Darrel begitu menyukainya?
" Nona, tuan Muda Darrel sudah menunggu di depan, " ujar seseorang dari balik pintu kamar Luna.
" Oke, sebentar lagi," ujar Luna sambil mengambil pelembab dan bedak bayinya, Luna melihat sekumpulan Liptin yang berjejer rapi dengan berbagai warna.
" Sekali kali pakai gakpapa kalik ya?" tanya Luna pada bayangannya di kaca, gadis itu mencoba menjadi lebih cantik agar Darrel semakin menyukainya dan tidak malu bila harus berjalan bersamanya.
Luna mulai mengoleskan liptin berwarna softpink yang nyaris sama dengan warna bibirnya, setidaknya warna bibir Luna terlihat lebih hidup dari biasanya.
Saat dirasa siap, gadis itu segera keluar dari kamarnya setelah mengambil tas yang tergeletak di meja.
Luna berjalan menghampiri Darrel yang duduk di sofa, pria itu tampak sibuk memainkan bunga yang ada di vas.
" kok lama banget?" tanya Darrel heran sambil meneliti Luna dari atas sampai bawah.
" Ck, jadi gak pingin sekolah kan gue," ujar Darrel pelan sambil membuang mukanya.
" Luna dengar loh kak, hahaha," ujar Luna sambil tertawa geli melihat ekspresi Darrel.
" Udah makan?" tanya Darrel mengalihkan pembicaraan. Luna sendiri hanya menggeleng sebagai jawaban.
" makan di luar aja yuk, aku pingin bubur ayam," ajak Darrel setelah melihat jam di tangannya.
Luna mengangguk dan berjalan menuju pintu keluar untuk memakai sepatu, sementara Darrel mengikutinya dari belakang sambil mengamati gadis itu, seperti ada yang aneh, entah apa.
" cincin kamu mana?" tanya Darrel saat menemukan sesuatu yang dia rasa janggal.
" Nih disini," Ujar Luna yang mengeluarkan kalungnya dan menunjukkan ke Darrel. Darrel mengangguk sambil tersenyum dan menunggu Luna selesai memakai kaos kaki dan sepatunya.
" Yuk kak," ujar Luna yang berdiri tegak saat sudah menyelesaikan urusan sepatu. Darrel memicing dan mengamati wajah Luna.
" Kamu pakai lipstick ya?" tanya Darrel dengan curiga. Luna menggeleng polos sebagai jawaban, Luna kan tidak memakai lipstick.
" Bohong, itu warna bibir kamu beda," ujar Darrel menunjuk bibir Luna, membuat gadis itu paham dan membentuk mulutnya seperti huruf O
" Luna gak pakai lipstick, ini liptin kak," ujar Luna sambil menyentuh bibirnya.
" Jangan pakai kayak gitu ah," ujar Darrel yang tampak enggan.
" Memang kenapa?" tanya Luna dengan bingung, padahal warnanya nyaris sama dengan warna bibirnya
" Ada dua alasan, yang pertama, aku gak suka kamu jadi pusat perhatian cowok lain, dan yang kedua..."
Darrel mendekat pada Luna dan membisiki sesuatu, membuat Luna memandang Darrel aneh dan segera menjauh dari lelaki itu, dan menutup mulutnya lalu menggeleng kuat.
Menurut kalian, apa yang dibisikkan oleh Darrel?
Luna langsung mengambil tissue basah dan menghapus liptint di mulutnya, membuat Darrel menahan tawa karena respon Luna yang menurutnya berlebihan.
" Yuk berangkat, keburu buburnya dimakan ayam," ujar Darrel yang merangkul Luna dan memegang pundak gadis itu lalu mendorong gadis itu agar berjalan menuju mobilnya.
Luna masuk ke dalam mobil dan melihat kaca, liptint di mulutnya sudah hilang sempurna, Luna melega dan memasukkan kaca ke dalam tasnya lagi.
" Kak, udah hilang. Mulut Luna gak akan di serbu semut sama kecoa kan?" tanya Luna dengan wajah cemas.
" Enggak, semutnya gak suka kalau gak ada liptintnya," jawab Darrel dengan asal namun cukup membuat Luna mengelus dadanya dan melega seketika.
" huhh, untung aja Luna hilangkan sebelum semutnya dateng," ujar Luna dengan serius membuat Darrel mengacak rambutnya gemas.
Darrel menyetir dengan fokus, tangan kirinya memegang perseneling dan tangan kanannya memegang stir. Luna mengamati jari manis Darrel yang berhiaskan cincin sederhana namun sangat indah dan cocok dipakai olehnya.
" Kak Darrel, apa gak mengundang perhatian kalau pakai cincin gitu?" tanya Luna pada lelaki itu.
" Menurut kamu gimana?" tanya Darrel sambil menatap jalanan yang ramai.
" Menurut Luna sih pasti jadi pusat perhatian, kak Darrel kak ngapa ngapain aja udah jadi perhatian banyak orang, " ujar Luna dengan wajah cemberutnya.
" Dih, cemberut gitu, bagus kah mereka tau aku udah ada yang punya, lagia mereka kan gak tahu mempelai wanitanya," ujar Darrel sambil mengedipi Luna dengan genit.
" Mempelai? Dih, kak Darrel punya apa kok ngaku ngaku mempelai pria gitu?" tanya Luna absurd sambil menegegakkan dagunya, seakan menantang Darrel.
" Aku punya apapun yang kamu mau dan kamu butuh, aku kan kaya," Jawab Darrel dengan tengil dan pongah.
" Sombong! Semua harta di dunia ini tuh titipan, kak Darrel gak boleh sombong!" protes Luna sambil memukul ringan lengan kiri Darrel, membuat lelaki itu terkekeh karena Luna.
" Hahhaha, kan fakta. Balas cewek angkuh pakai kesombongan baru bisa menang," ujar Darrel tanpa takut.
Luna tidak menjawab, gadis itu memilih diam dan menghadap keluar jendela, membiarkan Darrel berkonsentrasi dengan mobil yang dia kendarai.
Tak lama Darrel meminggirkan mobilnya dan turun dari mobil, diikuti Luna yang langsung membuka pintu.
" Bang, pesan buryam dua, yang satu gak pakai kacang," ujar Darrel sambil duduk di salah satu kursi bakso yang ada disana.
" Kakak sering makan disini?" tanya Luna yang ikut duduk dan memandangi sekitar.
" Yaps, enak kok, kamu pasti ketagihan makan disini, babangnya juga udah hafal sama aku," ujar Jordan sambil memainkan meja di depannya, mendadak jadi pemain drum profesional.
" Tumben den ceweknya beda sama yang biasanya," ujar abang tukang bubur yang membuat Darrel dihadiahi tatapan membunuh oleh Lunetta.
" Itu sepupu saya bang, kalau ini tunangan saya, sengaja dibawa kesini biar kenalan sama abang, jadi kalau makan disini krupuknya dibanyakin," ujar Darrel dengan nada bercanda.
" Ah aden, disini juga krupuknya kan gratis, bisa ambil sepuasnya, " ujar tukang bubur itu sambil terkekeh dam menyajikan dua mangkok bubur ayam yang penuh.
Bubur dengan kuah coklat yang tampak nikmat, dengan suiran ayam dan potongan cakwe yang cukup banyak, taburan kacang sebagai tambahan tak lupa krupuk yang menggunung dan memenuhi sisa tempat kosong dalam mangkok itu.
Luna mengambil sendok dan mengelapnya dengan tissue, lalu mulai memakan bubur itu dari tepi. Wajahya tampak berpikir dan menimang rasa yang ad dalam mulutnya.
" Enak?" tanya Darrel sambil memakan kerupuk yang sudah dia isi dengan bubur, ayam, dan cakwe. ( Jika kalian pernah melakukan ini, saat makan, silakan absen di kolom komentar)
" Rencananya aku mau join bisnis sama dia, aku kasih dia ruko dengan biaya kredit murah, tempat strategis. Aku sih niatnya bantu dia aja, menurut kamu gimana?" tanya Darrel dengan antusias namun bernada pelan agar tukang bubur itu tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka.
" Setuju kak, pasti laris asal harganya masih dibawah standart," ujar Luna menyampaikan pendapatnya.
Darrel mengangguk puas dan memantapkan niatnya setelah mendengar pendapat Lunetta, dia bisa merih keuntungan kecil dan membantu abang ini mengembangkan bisnisnya.
" burun dihabisin, kita bisa telat," ujar Darrel menambah laju makannya agar lebih cepat habis, begitupun dengan Luna.
Darrel langsung masuk ke dalam mobil setelah membayar lebih dan melesat menuju sekolah mereka karena jam pembelajaran di mulai 10 menit lagi.
Mau tidak mau Darrel mengebut untuk sampi tepat waktu dan akhirnya membuat Luna menjadi mual dan nyaris muntah di dalam mobil.
Mereka sampai tepat waktu dan segera berlari dari parkiran mobil menuju lapangan utama untuk mengikuti apel pagi, bahkan mereka meninggalkan tas mereka di dalam mobil.
Luna berdiri di barisan paling belakang dan mengenakan topi OSIS nya, napas gadis itu tersenggal - senggal karena harus berlari. Semua itu karna pak Yasno yang meneriaki mereka dan menyuruh mereka segera berlari.
" Lo dari mana aja?" tanya Resya yang sudah berdiri sedirian karena yang lain berpasangan
" Dari rumah," jawab Luna singkat sambil mengelap peluh yang ada di keningnya.
Resya memilih tidak menanyai Luna lebih lanjut dibanding nantinya dia yang akan diseret oleh satgas ketertiban.
" Baiklah, untuk apel pagi ini, ada pengumuman penting. Untuk siswa kelas X setelah ini langsung menuju aula untuk mengikuti pengaraha UAS, untuk kelas XI silakan menuju aula pukul 10 nanti dan kelas XII silakan menuju aula bawah untuk mengikuti pengarahan magang dan persiapan ujian."
Tidak bisakah mereka menumumkannya melalui speaker sekolah? Sungguh buag buang waktu dan tenaga.
Seluruh siswa dibubarkan dan segera menuju tempat yang sudah di Instruksikan. Luna berjalan malas menuju aula, rasanya bubur yag harusnya menjadi tenaga terbakar terlalu cepat dalam tubuhnya. Perutnya bahkan sudah merasa lapar lagi.
" Baiklah hari ini akan kami Instruksikan mengenai tata pelaksanaan Ujian Akhir Semester gasal yang akan dilaksanakan senin depan," ujar pak Sabar selaku pembicara.
Para siswa memandang kecewa satu sama lain, tidak terasa hari hari jamkos mereka akan diujikan sebentar lagi, seperti apa soal yang akan keluar?
Apakah ' Siapakah nama anak guru PPkn yang menjadi pengusaha?' atau apakah ' Tanggal berapa anak guru KWU dilantik sebagai polisi?' karna seperti itulah yang mereka dapatkan selama satu semester ini.
" Untuk kartu tes akan bagikan jumat depan agar tidak hilang, tata tertib akan dibacakan saat pengawas memasuki ruang Tes, harap seluruh siswa membawa laptop karena STM Taruna sudah melaksanakan ujian berbasis komputer."
Ujian berbasis komputer? Tapi sekolah tidak siap dengan fasilitas dan malah menyuruh siswa membaw sendiri? Apakah mereka bercanda?
" Jadwal tes tertera pada kartu tes yang akan dibagikan, saya harap seluruh siswa dapat mengerjaka soal tes dengan baik dan jujur, selamat belajar dan selamat berjuang," ujar guru itu mengakhiri pengumuman darinya.
Pembicara berganti menjadi pak Yasno yang membahas perihal SPP dan uang gedung serta pembahasan mengenai administrasi lainnya, apakah beliau merangkap menjadi TU? Entahlah.
Pak Yasno membutuhkan waktu setengah jam sebelum akhirnya menutup pembicaraan dan membuat para siswa melakukan oeregangan ringan karena pegal.
Mereka mengira Pak Yasno adalah orang terakhir yang memberikan pengumuman, namun nyatanya mereka salah. Ada pak Puji yang memberikan pengumuman terakhir.
" Saya akan memberikan pengumuman perihal kegiatan rutin STM Taruna yaitu ketahanan sekolah atau biasa disebut Hansek," ujar Pak Puji yang membuat siswa siswi menjadi hening.
" Kegiatan ketahanan sekolah dilaksanakan untuk mendidik karakter siswa agar siap untuk mempertahankan STM Taruna dalam keadaan apapun."
Memang sekolah ini mau di bom atau di demo orang lain? Jika kegiatannnya untuk mendidik karkter,cukup katakanlah pendidikan karakter.
" Waktu pelaksanaannya setelah Ujian Akhir semester selesai, kalian akan dibentuk beberapa kloter dan berangkat sesuai kloter menuju rindam yang ada di Magelang, Jawa Tengah," ujar guru itu yang membuat Luna takjub
Magelang? Jauh sekali, pasti akan menyenangkan. Apalagi Luna tidak jadi jalan jalan dengan temannya ke candi candi yang ada disana.
" Untuk biaya dan waktu pelaksanaan, akan di sebarkan melalui wali kelas masing masing, setelah UAS kalian akan dikumpulkan lagi untuk pembahasan teknis dan perkap, sekarang kalian boleh meninggalkan tempat ini."
" DUDUK SIAP GRAK!! POSISI BERDIRI!!" Seru Pak Puji yang membuat siswa menegakkan punggung mereka.
" SIAP!" Jawab seluruh siswa dengan serentak.
" LAKSANAKAN!"
" TARUNA, JAYA!" Seru seluruh siswa sambil berdiri tegak, mereka sudah diajari sikap ini saat pertama masuk ke sekolah ini, sudah menjadi semacam tradisi.
Lebih dari lima ratus siswa dalam ruangan itu meninggalkan tempat itu dengan rapi dan urut, meski mulut mereka tak tahan untuk mengoceh sehingga suasana menjadi ramai dan riuh
" Kantin dulu yok guys," ujar Farisa kepada teman temannya.
" Lah kalu nanti ada guru gimana? " Tanya Ghea sedikit panik karena tidak pernah membolos kelas sebelumnya.
" Santai aja kalik, habis ini pelajaran Bu Yani, orangnya santai. Lagian gue sih yakin dia gak akan masuk," ujar Farisa dengan santai.
Mereka mengangguk dan menyetujui ide Farisa yang menggiurkan dan tentu mengenakkan bagi mereka. Ke enam anak itu berjalan menuju kantin dengan riang, saling bersenda gurau satu sama lain.
Mereka sampai di kantin dan langsung memesan minuman dan makanan kesukaan mereka, sembari menunggu merekapun melanjutkan obrolan mereka yang seru.
" Eh guys! Lagi ramai di grub ghibah Darrel!" seru Resya tiba tiba setelah melihat ke ponselnya. Para penggemar Darrel sering mengubah Nama grub sesuka hati hingga akhirnya diganti dengan nama tersebut
" Apaan?" tanya Ghea dengan antusias, jika sudah membahas Darrel, pastilah akan ramai.
" Dia keciduk pakai cincin si jari manis tangan kiri!" seru Resya dengan heboh.
" Hah? Dia udah nikah?" tanya Ghea dengan kaget.
" Bukan, bego! dia tunangan!" seru Resya lagi, sesaat kemudian gadis itu tampak lesu, mereka serempak melihat ke arah Luna, mereka saling pandang dan mengangguk lalu dengan sigap mengambil kedua tangan Luna dan memeriksanya.
" Kok gak ada?!" tanya Ghea dengan sebal, padahal mereka mengira Luna yang memakai pasangan cincin itu.
" Lah? Apa hubungannya sama gue? " tanya Luna dengan heran, meski dia tahu yang mereka maksud.
" Ya kan Lo yang deket sam dia, siapa tahu Lo yang jadi tunanganya," ujar Resya menjelaskan maksud perlakuan mereka.
" Kan gue pernah bilang, Kak Darrel itu sahabatnya abang gue, " ujar Luna dengan wajah malasnya, membuat Resya dan Ghea memanggut manggutkan kepalanya.
" kalau gue tahu ceweknya, pasti gue pites tuh cewek dan rebut tuh cincin biar gue jadi tunanganya," ujar Resya dengan gemas
" Boleh lah Lo jadi tunangan, tapi gue jadi istrinya, hahahha," ujar Ghea dengan senang.
Luna hanya melihat keduanya dengan heran, nasib baik mereka tidk tahu kekasih Darrel ada disini, kalau tidak, habislah Luna.