
Terus melangkah tanpa takut patah, karna usaha tak akan mengkhianati hasil. Tlompati rintangan tanpa ragu, maka kau kan temukan jati dirimu.
*
*
*
Darrel bangun pagi sekali dan langsung meninggalkan ponselnya setelah mengabari Luna. Lelaki itu keluar dari kamar untuk memanaskan makanan dan memasak nasi untuk sarapan. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi, namun karna dia sudah biasa bangun pagi hingga dia biasa saja tanpa rasa kantuk menjalankan tugas pertamanya sebagai bapak rumah tangga selama di sini.
" Lo ngapain sih kak? Pagi – pagi kok udah bikin ribut?" tanya Radith yang muncul dari arah belakang Darrel. Hampir saja Darrel memukul Radith dengan serok yang dia bawa. Untung saja lelaki itu melihat Radith dan mengurungkan niatnya untuk memukul lelaki itu.
" Gue gak bikin ribut, ini gue lagi manasin lauk sama masak nasi, Lo yang tinggal makan mending diem aja deh, atau bantuin gitu kek," ujar Darrel yang sibuk membolak balik telur balado yang kemarin mereka beli untuk lauk. Radith dengan tegas menggeleng dan langsung pergi dari sana untuk masuk lagi ke kamarnya.
" Anjir, dasar tidak berguna," ujar Darrel sengaja mengeraskan suaranya agar Radith mendengar, namun nampaknya Radith memilih tak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya, membuat Darrel berdecak kesal dan langsung berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya.
Pak Komang keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Darrel yang memainkan ponselnya di sofa. Pak Komang sempat menilik ke arah meja makan dimana sudah tersedia telur balado dan nasi goreng, ternyata Darrel tak hanya membual namun sungguh bisa mengolah bahan masakan. Pak Komang bahkan sudah mencicip sedikit nasi goreng buatan Darrel yang ternyata sangat lezat.
" Masakan kamu enak sekali, kamu pasti jadi suami idaman tuh di masa depan. Sudah tampan, baik, bertanggung jawab, pintar masak lagi, jadi menantu saya saja mau tidak?" tanya Pak Komang yang membuat Darrel reflek tertawa dan menganggap semua lelucon itu sebagai hiburan di pagi hari.
" Pak Komang ada ada saja, anak pak Komang kan masih kelas dua SD, mana mungkin saya tunggu dia dewasa, keburu tua saya pak, hahhaa," ujar Darrel dengan santai dan kembali memainkan ponselnya. Sebenarnya dia hanya membalas pesan Luna yang masih saja bermimpi buruk dan meminta Darrel untuk berhati – hati serta segera pulang jika urusan di sana sudah berakhir.
" Hahaha, yah seandainya akan saya seusia kamu atau paling tidak sudah SMP, saya akan jodohkan dia sama kamu, memantu idaman, hahaha," ujar Pak Komang sambil tertawa cukup keras dan menyeruput the hangat yang tadi sempat dia seduh.
" Hari ini kita langsung ke tempat pelatihan ya pak? Tapi kan belum fix pak rangkaian kontrol chipnya," ujar Darrel setelah meletakkan ponselnya karna Luna pamit untuk mandi dan bersiap menuju sekolah. Darrel mengambil toples makanan ringan dan mulai memakannya, lelaki itu tak merasa sungkan sedikitpun di depan pak Komang, lahgipula Darrel sudah terbiasa bertatap muka dengan guru itu.
" Iya, nanti kita coba wiring ke panel nya dulu, yah walau pun belum jadi sempurna, tapi kan kita bisa ngerakit disana, mana tahu malah bisa nyelesaiin rangkaiannya disana. Gak usah buru – buru, kan waktu pelatihannya masih dua bulan lagi, ini juga masih hari kedua, santai saja dulu," ujar Pak Komang pada Darrel.
" Hehehe, Pak Komang kan tahu bagaimana saya, saya gak suka menunda pekerjaan dan gak akan tenang kalau tugas itu belum selesai dikerjakan, apalagi jika tugas itu membawa nama baik sekolah," ujar Darrel dengan kekehan karna merasa dirinya berlebihan, namun memang itu yang dia rasakan.
" Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu lalu bersiap ke tempat pelatihan. Kamu panggil Radith sana, gak tahu apa yang dia lakukan, kok jam segini belum keluar dari kamar," ujar Pak Komang yang memerintah Darrel dengan dagunya. Lelaki itu mengangguk dan langsung bangkit berdiri menuju kamar Radith yang berada di sebelah kamarnya.
" Radith, Radith, main yok. Eh maksud Gue, makan Yok. Woy Dith, bangun Dith, ayo makan dulu, Radith, Radith." Darrel terus menggedor pintu kamar Radith agar lelaki itu segera keluar, namun tak ada tanda- tanda Radith akan kelaur dari kamar itu, sehingga Darrel kembali mengetuk pintu kamar Radith berkali – kali.
" BERISIK!" Seru Radith dari dalam kamar dengan cukup keras, membuat Darrel malah terkekeh geli dan dengan iseng meneruskan ketukan pintu itu, bahkan membuat irama dari ketukan pintu itu. Sebentar lagi Radith pasti keluar dari kamarnya dan langsung sewot kepadanya.
Benar saja, Darrel langsung keluar dari kamarnya, memandang Darrel sinis dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mengambil napas panjang, dan Darrel yakin Radith akan mengomel sebentar lagi. Namun nyatanya lelaki itu hanya menghelakan napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya setelah sedikit mendorong Darrel agar menjauh. Darrel yang melihat itu tentu saja bingung, namun lelaki itu langsung mengedikkan bahunya dan menyusul Radith ke meja makan.
Radith langsung makan tanpa menunggu Darrel, bahkan tak mengucapkan terimakasih atau sekadar memuji masakan Darrel. Melihat itu tentu Darrel semakin bingung, apakah Mood Radith memang sedang memburuk? Ah, lelaki itu bisa PMS seperti wanita juga ternyata.
" Kalian segera selesaikan makan kalian dan bersiap, hari ini kita akan mensurvei tempat lomba dan mulai latihan untuk merakit panel. Durasi menyusun panel sampai merakit robot saat Lomba Cuma dua puluh empat jam, jadi kita memerlukan strategi buat memasang semua itu tepat waktu," ujar pak Komang sambil memasukkan sesuap lagi nasi goreng ke dalam mulutnya.
" Oke siap pak, nanti tinggal ajari Radith rangkaian dan gimana masang biar cepat jadi," ujar Darrel dengan sopan dan tak berbicara lagi karna fokus pada makanannya, dia tak ingin tersedak dan akhirnya berakhir naas di tempat ini. Dia tidak mau masuk berita acara dengan judul " Ketua OSIS tampan tewas karna tersedak telur balado'
Perlu waktu satu jam sebelum akhirnya mereka benar – benar pergi dari penginapan itu menuju tempat Lomba untuk melihat dan mengukur besar wilayah yang akan menjadi tempat mereka menyusun panel dan merakit robot. Mereka melihat banyak orang yang sudah ada disana untuk melakukan hal yang sama. Pak Komang tampak bercakap dengan beberapa orang sementara Darrel dan Radith berunding mengenai teknik merakit di tempat itu.
" Oke, sekarang kita langsung ke tempat pelatihan aja, di sana banyak anak yang ikut Lomba ini dari bidang lain, sekalian bisa belajar lombanya jurusan lain," ujar Pak Komang yang diangguki Radith dan Darrel. Mereka menuju tempat pelatihan dan bertemu dengan peserta lomba lain.
" Wah, alatnya disini jauh lebih canggih ya pak, keren banget banyak robot – robotnya gini," Ujar Radith saat pertama kali mereka sampai di tempat itu. Darrel sampai terkekeh karna melihat sikap Radith yang bisa dibilang norak, namun Darrel tak mengomentari apapun dan melanjutkan pekerjaannya sebagai tutor.
*
*
*
" Lo kenapa sih Lun? Kok dari tadi diem aja?" tanya Key yang tak nyaman dengn sikap Luna yang mendadak begitu tenang dan diam. Saat ini Key, Adel ditambah satu teman baru Luna bernama Tata sedang berkumpul di kamar Luna untuk menemani gadis itu.
" Gue bener – bener khawatir sama kak Darrel, sebenernya sama Radithnya sih, tapi gue gak berani bilang itu ke kak Darrel. Kan gak masuk akal kalau gue bilang ke tunangan gue kalau gue khawatir sama Radith, durhaka banget gue," ujar Luna dengan tampang murungnya. Tentu Adel yang mendengar itu menjadi bingung.
" Kenapa Lo khawatir sama Radith? Lo dapat penerawangan? Atau Lo diteror sama orang lain lagi?" tanya Adel dengan tatapan bertanya, sementara Key langsung melebarkan matanya dan menatap Luna dengan cukup heboh. Bukan pertama kalinya Luna diteror, dan entah sampai berapa panjang lagi novel ini jika Luna terus diteror oleh orang lain.
" Wah, seram juga ya mimpi Lo, tapi bisa aja itu darah hewan atau mereka lagi main cat air gitu?" ujar Key yang malah menanggapi mimpi Luna dengan gurauan. Adel langsung menatap Key dengan tatapan kejam, membuat gadis itu langsung memanyunkan mulutnya dan menunduk seketika.
" Gue kan Cuma ngehibur Lunetta, siapa tahu yang dia mimpiin itu semua gak nyata, dia terlalu khawatir sama kak Darrel sama Radith juga sampai kebawa mimpi kayak gitu, kan bisa aja," ujar Key menjelaskan maksud dan tujuannya.
" Key bener Lun, walau gue gak suka dia malah jadi suka bercanda atau tambah lemot kayak Lucy, tapi maksud dia bener, Lo gak usah terlalu pikirin mereka, toh mereka memang bakal baik – baik aja, kan disana mereka ramai – ramai," ujar Adel yang langsung mendekat ke arah Luna dan memeluk gadis itu untuk memberi ketenangan.
Melihat hal itu tentu Key menjadi terkejut. Tak biasanya Adel mau melakukan hal itu, bahkan saat dirinya menangis kencang. Namun melihat hal itu tentu membuat Key menjadi terharu dan memilih untuk bergabung dan memberi kehangatan pada Luna. Tak lupa gadis itu melihat ke arah Agatha yang tersenyum tipis melihat mereka.
" Sini, Sini, Lo juga kita peluk. Lo kan sekarang udah jadi teman kita, jadi wajar kalau Lo ikut kita berpelukan. Gak usah Nolak, gue gak suka ditolak, tanya aja Adel kalau gak percaya," ujar Key tanpa jeda dan langsung menarik Agatha untuk memeluk mereka. Luna sampai menangis karna dipeluk seperti ini.
" Kalian selalu ada buat gue, makasih ya, gue gak tahu lagi apa jadinya hidup gue tanpa kalian. Walau rasanya gak lengkap tanpa Lucy, gue tetap bersyukur Tuhan kasih gantinya, makasih ya Ta udah mau gabung sama kita yang absurd ini," ujar Luna setelah melepaskan pelukan mereka dan mengusap sisa air mata di pipinya.
" Aku yang makasih karna kalian mau berteman sama aku. jujur aja, kalian itu teman pertama aku, kalau bukan karna Adel, mungkin aku gak akan pernah punya teman sama sekali, terima kasih yaa," ujar Tata sambil tersenyum lebar untuk pertama kalinya. Bahkan Adel sampai terkejut melihat sennyum itu, namun dia bersyukur akhirnya semua membaik dengan sendirinya.
" Guys, sebenernya gue mau minta ke Daddy buat lepasin dan maafin Lucy, karna disini pun Lucy kan gak salah, dia juga djebak sama Om nya, gue gak tega kalau Lucy harus ngejalanin sisa hidupnya di antah berantah itu," ujar Luna setelah suasana hening beberapa saat.
" Gak, gue gak setuju, itu sama aja Lo mau bunuh diri Lun. Lo harus ingat apa yang udah dia perbuat buat ngelauin semua tujuannya. Lo nyaris mati di tangan dia, dan Lo bisa maafin dia gitu aja? Lo gila?" tanya Key dengan hebohnya. Meski Key sangat dekat dengan Lucy saat gadis itu merasa kesal dengan Adel, namun gadis itu tetap tak sejutu jika orang jahat semudah itu diampuni.
" Lo pikir lagi deh Key. Lucy teman kita, dan gue sendiri ngerasa kita juga bertanggung jawab buat sikapnya. Kita terllau gak peduli sama dia dan masa lalunya, gue pribadi ngerasa egois banget sama dia, lagpula dia ngelakuin itu semua bukan sengaja," ujar Luna yang tetap teguh dengan pendiriannya. Namun Key tetap menolak dan Adel hanya menjadi penyimak saja.
" Lo setuju sama gue kan Del? Lucy bahkan juga nyaris bunuh Lo dan buat Luna nuduh Lo waktu itu, apa Lo yakin Lo bsa maafin dia gitu aja? Gue sih gak yakin Lo bisa Del, dan gue mohon Lo gak bisa, orang kaayk gitu kalau sekalinya dibaikin pasti ngelunjak dan jadi tambah jahat, gue gak mau ketenangan kita terus terusik," ujar Key yang teguh pada pendiriannya.
" Tapi kali ini gue setuju sama Luna Key, kalau lihat dari alasannya, memang sebenrnya Lucy juga korban, walau masih untung karna dia gak langsung dibuat mati sama bang Jordan dan Cuma dihukum kaya gitu sama bokapnya Luna," ujar Adel yang tentu membuat Key terkejut. Key sangka Adel akan membelanya di depan Luna
" Lo gak ada dendam sama sekali sama dia? Gilak kalian berdua. Gue yang Cuma dnegar cerita aja ngerasa benci bantet sama cewek munafik kayak dia, kenapa kalian yang ngalamin malah biasa aja sih? Gak masuk akal tahu gak sih kaalian berdua," ujar Key meninggikan nada bicaranya, membuat Luna dan Adel menghela napasnya.
" Justru itu kita yang ngalaim aja bisa maafin, kenapa Lo gak bisa? Coba Lo ingat lagi moment indah kita semua, semua gak lengkap karna setiap kita kumpul pasti ada rasa sepi dan gak enak karna gak ada Lucy, diakui atau engga, gue ngerasanya gitu Key," ujar Adel lagi.
" Yaudah terserah Lo semua aja, tapi kalau sampai Lucy ternyata masih dan bahkan tambah jahat, gue sendiri yang bakal hukum dia pakai tangan gue," ujar Key mengepalkan tangannya dan menepukkannya ke tangan sebelah seperti seorang yang siap memukul lawannya.
" Oke siap, ini baru yang namanya sahabat, makasih ya Key," ujar Luna yang sekali lagi memeluk Key, membuat Key yang tadi berwajah kesal menjadi tersenyum dan membalas pelukan Luna
*
*
*
#SalamAuthor
Ada yang bisa menebak kenapa Luna mimpi kayak gitu? Seram juga mainannya darah:(
Jangan Lupa mampir ke lapak author yang lain yaaa, masih Jomplang yang suka, jadi Author gak ada motivasi buat lanjut nulis:(
Adella
T(w)o Heart
Miss galak, Iove you
Ex lover
Soulmate
Thank you....
Love,
Eliz