Hopeless

Hopeless
Chapter 161



" Guys, kita disuruh buat nampilin satu penampilan guys, kita mau nampilin apa nih?" tanya ketua kelas yang membuat beberapa siswa berdecak dan bersorak malas. Hal ini karna masalah untuk gues star memang sengaja dirahasiakan untuk kejutan, maka dari itu mereka mengira acaranya akan sama seperti tahun – tahun sebelumnya.


" Siapa sih yang ngusulin ada pensi per kelas? Asli deh bikin riwuh aja, udah mending Cuma lomba – lomba aja gitu loh, daripada pensi pensi an segala," ujar salah satu dari mereka dengan sedikit kesal. Luna menunduk dan tak menanggapi mereka, bukan karna malas, dia merasa tak enak karna membuat teman – temannya tak berkenan, sedangkan dia tak bisa membocorkan masalah guess star tersebut.


" Tuh, ketua panitianya lagi nunduk," ujar ketua kelas degan blak – blakkan membuat mereka semua menengok ke arah Luna dan menatap Luna dengan kesal. Mereka hendak menyalahkan Luna untuk hal ini, mereka sungguh malas menyaksikan penampilan yang itu – itu saja, apalagi jika mereka diminta untuk terlibat.


" Hei, jangan salahin Lunetta dong, dia kan juga Cuma jalanin tugasnya. Ini tuh program sekolah, kalian mending salahi kepala sekolah deh dibanding Cuma nyalahin Luna," ujar Radith yang langsung menengahi sebelum mereka menyerbu Luna dengan segala uneg – uneg dan rasa keberatan yang mengisi pikiran mereka.


" nah bagus, berarti yang ngisi acara Lunetta aja, Lo kan pinter nyanyi tuh, suara Lo bagus, mending Lo nyanyi buat ngisi pensi, sekalian bentuk tanggung jawab Lo karna bikin proker kayak gini. Yang setuju sama gue angkat tangan." Mendengar instruksi itu Luna langsung mendongak dan menatap tangan temannyaa yang terangkat sempurna, hanya Radith yang tak mengangkat tangannya.


" Nah karna Radith belain Luna, terus ini Cuma Radith yang gak setuju, mending Luna duet sama Radith, akustikan gitu kek, nanti Radith yang gitar, nanti Luna yang nyanyi, cakep gak tuh?" tubuh Luna langsung menegak kaget, namun karna respon positif yang dia dapat, akhirnya dia harus menyetujui suara terbanyak, lagipula bukan suatu yang sulit untuk mengisi acara itu.


Setidaknya Luna tak membuat teman – temannya bertambah kesal, dan mereka kan berterima kasih padanya karna dia sudah memanggil guess star yang cukup terkenal untuk saat ini, mereka akan bersorak takjub jika melihat siapa yang menjadi pengisi acara. Untuk saat ini biarlah Luna diam saja dan menerima perlakuan mereka.


Luna harus berterima kasih pada Darrel yang langsung mencarikan kontak guess star tersebut, bahkan kurang dari dua puluh empat jam. Entah channel mana yang Darrel hubungi, lelaki itu tak mau memberitahukannya pada Luna, lagipula Luna tak merasa perlu tahu tentang hal itu, yang pentin urusannya sudah seratus persen beres.


" Lo kok setuju – setuju aja sih? Lo pengen banget gitu nyanyi bareng gue?" tanya Radith dengan nada kesalnya. Luna bisa saja menolak, namun gadis itu malah diam dan menyetujuinya. Apa ini dijadikan Luna kesempatan untuk bisa berduet dengannya? Radith harus merasa senang atau sedih?


" Lo gak mau duet sama gue? Kalau gak mau gak papa sih, gue nyanyi sendiri juga gak papa, gue Cuma ngerasa gak enak kalau respon anak – anak kayak gini, lagi pula gue juga seneng bisa nyanyi lagi di depan panggung, kan udah lumayan lama gue gak gitu," ujar Luna dengan energi positif yang menyala – nyala.


Radith yang tadinya merasa gusar langsung melunak karna respon Luna. Lelaki itu diam untuk menimang haruskah dia membantu Luna? Atau lebih baik dia tak ikut campur? Bagaimana jika nanti ada konflik baru muncul jika dia berduet dengan Luna?


" Ya udah gue bantuin Lo deh, kasihan juga kalau Lo harus atasin semua sendirian, lagian gue Cuma main gitar buat ngiringin Lo nyanyi," ujar Radith yang membuat Luna mengangguk senang karna lelaki itu akhirnya memutuskan untuk membantunya. Luna mulai mencari lagu yang pas untuk dia nyanyikan.


" Dith, lagu ini bagus deh kayaknya," ujar Luna menunjukkan sebeuah judul kepada Radith, lelaki itu tampak tak setuju dengan lagu yang dipilih Luna. Lelaki itu akhirnya juga mencarikan lagu yang sesuai, yang jelas bukan lagu mellow yang membuat orang akan menangis terharu, Radith tak suka itu.


" Ini aja nih bagus, lagi tren juga nih lagu," ujar Radith menunjukkan ponselnya kepada Luna. Luna mematung melihat lagu yang dipilih oleh Radith, apakah lelaki itu serius memilih lagu itu untuk dinyanyikannya? Tapi lagu yang dipilih oleh Radith adalah lagu yang harus dinyanyikan berdua, apakah lelaki itu serius memilih lagu untuk mereka nyanyikan berdua.


" Lo serius Dith? Ini kan lagu duet? Lo emang mau nyanyi berdua sama gue? Gue gak bisa lah kalau nyanyiin lagu ini berdua?" tanya Luna dengan wajah ynag bingung dan cengo. Radith tak menjawab, lelaki itu hanya berdiri dan pergi dari Luna, membuat gadis itu menatap kepergian Radith dengan penuh tanya.


Ke esokan harinya. Radith masuk ke dalam kelas setelah Luna. Ada hal baru yang membuat Luna tertarik, lelaki itu membawa gitar yang dimasukkan ke dalam tasnya dan dia sampirkan di punggungnya. Luna langsung tertarik dan otomatis menghampiri Radith yang duduk di kursi paling belakang. Lelaki itu tampak menyetel gitar yang dia pegang, entah apa itu karna Luna tak mengerti.


" Lo udah hafalin lagunya?" Tanya Radith saat Luna hanya memandangnya tanpa melakukan apapun. Luna menggeleng pasrah karna kemarin dia menganggap Radith hanya bercanda atau mengerjainya, ternyata lelaki itu bersungguh – sungguh dengan niatnya memakai lagu itu untuk duit mereka.


" Lo tuh emang gak bisa diandelin yah. Yaudah, baca teks nya dulu aja, masih ada waktu tiga hari juga buat Lo ngapalin semua," ujar Radith yang diangguki oleh Luna. Gadis itu membuka ponsel dan mulai mencari lirik yang akan dia nyanyikan bersama Radith. Lelaki itu mulai mencari nada yang pas dengan nada Luna agar enak didengar.


Mereka mulai menyanyi bait demia bait, membagi part serta membagi suara satu dan dua untuk variasi. Luna langsung terkagum dengan suara Radith yang ternyata bagus juga, lelaki itu hanya tak pernah menunjukkannya pada orang lain. Apalagi jari – jarinya saat memetik senar gitar, membuat siapapun pasti meleleh, tak terkecuali Luna.


*


*


*


Dua hari berlalu dengan cepat. Luna sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan dan mengkoordinasi acara agar berjalan dengan baik, apalagi ada tamu penting untuk acara kali ini. Dia harus memastikan konsumsi, sound system, kursi dan sebagainya itu harus berjalan dengan baik dan lancar. Bahkan saat semua sudah bisa dikoordinasi dengan baik, dia masih harus mengontrol jalannya pensi yang selayaknya orang Indonesia, semua jam karet.


Penampilan demi penampilan mulai dipertontonkan kepada hadirin, Luna menikmati setiap penampilan itu, bahkan ada beberapa kelas yang membacakan puisi bersambung yang membuat puisi itu menjadi lucu. Cukuplah untuk menghibur dan menaikkan mood nya yang sedikit hilang karna lelah.


" Lun, ke kelas bentar dong, Lo ganti kostum dulu," ujar salah seorang teman kelas Luna yang langsung di iyakan oleh gadis itu dan langsung beranjak dari sana. Luna juga heran, mereka tak menyiapkan kostum apapun, mengapa tiba – tiba ada kostum?


" Nih, kita udah pijemin kostum buat kalian berdua, kan kalian udah mau berkorban buat pensi, walau kita paksa sih. Sebagai gantinya kita bantu cari kostum tanpa kalian tahu, kayaknya cocok deh kalau buat duet, kalian pakai ya, betewe ini gak bisa nolak, soalnya udah susah pinjemnya."


Luna melihat kostum yang sangat epic baginya. Meski hanya rok kotak – kotak dengan kemeja putih untuknya. Dan celana hitam, hem putih dan rompi kotak senada untuk Radith. Namun entah mengapa Luna merasa ini adalah kostum yang cocok, santai, tidak neko – neko, namun tetap terlihat serasi. Cantik sekali.


" Makasih guys, kalian tuh baik banget, makasih udah mau repot nyiapin ini semua buat hari ini, gilak, gue aja gak kepikiran buat nyiapin kostum, kalian tuh emang best of the best, makasih banget."


" Jangan makasih – makasih aja, Lo harus epic tampilnya biar kita kita gak rugi tenaga buat nyariin ini. Gak mau tahu pokoknya mah," ujar ketua kelas mewakili suara mereka. Luna mengangguk yakin dan menatap Radith dengan riang, bahkan lelaki itu sampai geli sendiri melihat tingkahnya.


" Lo udah siap kan dith menghibur semua, gue udah seneng banget, ayo latihan sekali lagi," ujar Luna yang membuat Radith menatapnya dengan tatapan geli namun sungguh dia sedang mager.


" Bilang aja Lo mager sih dith," sahut Luna cepat sambil memicingkan matanya.


" Cakeep," jawab Radith cepat sambil tertawa ringan. Lelaki itu menyatukan kedua kursi yang ada di dekatnya lalu menidurkan dirinya di sana dengan tas yang menjadi bantal.


" gilak nih anak, bentar lagi kita tampil malah tidur di sini. Ganti baju woy, nanti kalau mendadak Lo lari – lari, keringetan, gak kece lagi," ujar Luna dengan heboh sambil mengguncangkan tubuh Radith.


" Berarti gue kece dong ya Lun? Wih, akhirnya Lo mengakui kalau gue Kece," ujar Radith dengan wajah tengilnya. Luna yang sebal pun langsung pergi dari sana sambil membawa paper bag yang menjadi wadah baju itu. Dia harus stay selama acara, dia akan membawa baju itu dan akan berganti saat sudah gilirannya untuk tampil.


" Gue mau ke lapangan, kalau mau tampil gue kabarin, Ponsel Lo jangan di silent, biar denger kalau gue telpon," ujar Luna yang hanya dijawab deheman oleh Radith. Gadis itu mengangguk dan kembali ke panggung untuk mengawasi acara.


Setelah Luna pergi dari sana, Radith langsung bangkit dari duduknya dan melihat baju yang sudah disiapkan oleh teman – temannya. Dia mengangguk puas, meski sederhana, setidaknya teman kelasnya masih mau peduli dengan lancarnya penampilan mereka. Lelaki itu mendudukkan diri dan meraih gitarnya, memastikan suaranya enak di dengar dan mencoba untuk melatih dirinya sekali lagi.


Lelaki itu hanya tak ingin tampil mengecewakan, apalagi Luna sudah berharap dengan penampilan mereka. Radith tak mau mengecewakan teman kelasnya untuk hal ini, lelaki itu akan menampilkan yang terbaik, meski begitu, dia tetap ingin bersikap bodo amat di depan Luna agar gadis itu tak besar kepala.


Radith mencoba untuk melih menghafal lirik dan kunci yang digunakan untuk duit mereka, sekaligus mengetes suaranya yang beberapa part mendapat suara dua yang tentu lebih sulit dari suara satu. Lelaki itu tampak serius dengan gitar dan suaranya, tanpa sadar ada yang diam – diam merekam apa yang dilakukan oleh lelaki itu.


*


*


" Kak, Guess Starnya udah datang, mau digimanain?" tanya seseorang dengan panik, membuat Luna yang sedikit lagi mendudukkan dirinya langsung mengurungkan niatnya dan pergi ke tempat guess star itu berada.


" Selamat pagi, terima kasih untuk waktunya sudah berkenan hadir di acara yang sederhana ini. Mari ikut saya untuk ke ruang ganti," ujar Luna yang yang disambut ramah oleh orang itu. Mereka berjalan beriringan melewati lorong yang sepi agar tak menimbulkan kehebohan bagi siswa – siswi yang ada di sana.


Luna membawa orang itu ke ruangan pribadi dengan satu AC yang sudah dinyalakan sedari tadi agar saat orang ini hadir suasana disana sudah dingin. Luna memberikan satu botol normal air mineral dan kotak snack, Luna lalu sedikit mengobrol dengan orang itu, meminta untuk foto bersama lalu ijin dari sana untuk kembali mengawasi acara.


Untung saja wakil kepala sekolah mau meminjamkan ruangannya untuk orang ini hingga mereka tak perlu repot mencarikan ruangan yang sesuai. Lagipula memng sulit untuk waka menolak hal ini karna acara pensi ini juga merupakan program sekolah. tak mungkin dia menolak dan mempersulit siswanya sendiri, apalagi setelah Luna berkata bahwa guess star mereka bukan kaleng – kaleng.


Saat Luna kembali, rupanya sudah dekat dengan waktunya untuk tampil. Gadis itu segera menelpon Radith untuk bersiap, dia sendiri juga langsung pergi ke kamar mandi untuk bersiap. Gadis itu memakai kemeja putih itu lalu memakai rok kotak – kotak yang ternyata model monyet. ( entahlah, Luna tahu nya celana monyet, tapi ini versi rok nya)


Gadis itu memasukkan kemejanya ke dalam rok dan merapikan sedikit rambutnya. Mengelap keringat yang membasahi wajahnya karna berlarian kesana kemari, memakai liptint transparant agar terlihat segar dan keluar dari dalam kamar mandi.


Luna kembali ke tepi panggung dan melihat Radith sudah duduk di kursi penonton dengan tenang. Luna langsung melongo menatap Radith yang tampak kece. Rompi yang dipakainya, rambut yang mulai panjang dia rapikan agar tak terlihat oleh kesiswaan, serta sepatu yang entah sejak kapan sudah mengkilap.


" Gue harus akui dith, Lo kece banget dith, asli," ujar Luna yang duduk di sebelah Radith. Lelaki itu tak menjawab, bahkan menengok pun tidak, lelaki itu hanya fokus pada ponselnya dengan wajah datar yang luar biasa.


Tiba saatnya Luna dan Radith untuk tampil. Dua orang itu naik ke atas panggung dan Luna langsung mengambil microphone, mengambil alih keadaan dan mengulur waktu sementara Radith menyiapkan Gitarnya. Luna sedikit grogi, meski dia bisa menutupi hal itu dengan senyum cantiknya.


Luna takut dia tak bisa mendpatkan feel dengan Radith, karna selama latihanpun Radith hanya memarahinya, memintanya menyanyi dan dia menayanyi dengan wajah datar meski suaranya emas. Luna takut hal itu lah yang menjadi kritikan untuknya. Dia ingin tampil bagus dan tanpa cacat untuk membuat bangga nama kelasnya juga.


Radith mengangguk ke arah Luna sebagai tanda, gadis itu menerima sinyal dari Radith dan menghela napasnya.


" Lagu ini mengisahkan tentang mereka yang saling menaruh hati, namun tak dapat saling memiliki. Semoga suara kami dapat menghibur hadirin, untuk yang bisa lagunya bisa nyanyi bareng ya."


Luna berjalan mundur dan duduk di kursi sebelah Radith. Lelaki itu mulai memetik gitarnya. Satu hal yang membuat Luna terpana dan sempat terkaget saat petikan gitar yang pertama.


Pandangan Radith yang sangat dalam ke arah Luna, dengan senyum tipis dan tangan yang memetik gitar dengan penuh perasaan. Tanpa sadar gadis itu ikut terhanyut dalam melodi yang dibawakan oleh Radith.


*


*


*


Eaaaaa nungguin duetnya, hahahha. Nyanyinya di Next Part yaaa, On Process :*