Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 85



Mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat resepsi. Luna terus menggandeng tangan Darrel meski dia masih merasakan malu dan tak menyangka lelaki yang menjadi kekasihnya lebih dari enam tahun ini akhirnya menikah dengannya. Luna masih merasa canggung dengan status yang baru ini. Namun Darrel tak membahasnya sama sekali, sepertinya lelaki itu tahu Luna tak akan nyaman jika membahasnya.


" Kak Darrel gak mau bilang apa – apa? Kita ini kayak lagi musuhan loh kak," ujar Luna yang tak tahan karna Darrel malah menjadi diam dan tak mengatakan apapun, suasana menjadi semakin canggung. Darrel menengok dan menatap ke arah Luna, lalu mengusap kepala wanitanya dengan gemas, namun masih tak mengatakan apapun.


Mereka masuk ke dalam gedung dan seseorang langsung menyambut Luna dan mengajak gadis itu untuk pergi ke ruang ganti. Luna memang kesulitan untuk melangkah karna gaun super panjang dan besar ini. Darrel melepas tautan tangan mereka dan Luna segera dibawa untuk berganti baju sementara Darrel langsung duduk ke kursi yang disediakan.


" Lo gak ngerasa gerah gak ganti jas dari tadi? Gue aja gerah lihat Lo," ujar Jordan yang sudah melepas jasnya dan menyampirkan jas itu di pundaknya. Darrel menggelengkan kepalanya dan malah merapikan jas itu dengan gaya, membuat Jordan tertawa karna lelaki itu memang keren, namun sangat tengil.


" Lo harusnya tuh baik – baikin gue, gue udah jadi kakak ipar Lo, jadi hidup mati Lo ada di tangan gue, ambilin gue minum atau gimana kek," ujar Jordan yang membuat Darrel memutar bola matanya dengan malas, dia tak beranjak dari tempat duduknya sama sekali.


" Gue tuh dari tadi masih deg – deg an bang demi apa. Gue gak nyangka akhirnya gue nikah sama Luna, gue gak nyangka setelah semua yang terjadi, akhirnya gue yang nikah sama Luna," ujar Darrel yang akhirnya mengeluarkan suaranya. Jordan tertawa melihat Darrel, namun lelaki itu bisa memakluminya.


" Ini tuh baru awal. Lo kan udah nikah dan Lo cowok nih, nah Adek gue kan cewek, jadi harusnya Lo yang mimpin. Apalagi Luna polos gak ngerti apa – apa, Lo gak bolh sakitin dia," ujar Jordan yang membuat Darrel mengangguk mantab. Jika hal itu dia sudah yakin dia akan melakukannya dengan baik.


" Gue mah bakal lakuin itu, gue bakal jaga dia dan gak akan pernah biarin dia disakitin sama orang lain lagi, udah wajib mah hukumnya," ujar Darrel dengan wajah ceria, namun Jordan malah memasang wajah masam, lelaki itu ingin mengumpati Darrel saat tahu apa yang dikatakan lelaki itu.


" Bukan itu gembel, maksud Gue tuh yang nanti malem. Masak Lo gak mau ambil malam yang manis? Gak mungkin juga kan? Nah nanti malam itu, Lo yang lembut sama dia, baik – baik sama dia, dia gak pengalaman soalya," ujar Jordan yang membuat Darrel menjadi kikuk. Jordan yang melihat itu langsung menghela napasnya.


" Gue tahu Lo juga gak pengalaman, Lo juga gak pernah lakuin sama siapapun. Tapi masak Lo gak pernah nonton dari video gitu? Kayaknya sih Lo gak sepolos itu, Lo coba ingat – ingat aja yang Lo tonton, dan Lo ikutin naluri Lo," ujar Jordan yang makin membuat Darrel teriam.


" Kalian lagi ngobrol apa?" tanya Luna yang tiba – tiba datag di hadapan mereka. Darrel langsung berdiri dan menggenggam kembali tangan Luna dan segera pergi dari hadapan Jordan tanpa mengatakan apapun. Jordan hendak berteriak, namun dia mengurungkan niatnya melihat banyak orang di antara mereka, lelaki itu tak mau membuat Darrel malu.


" Kalian tadi ngomongin apa sih? Wajah kak Darrel merah banget loh, tegang pula," ujar Luna yang memegang pipi Darrel dengan telunjuknya. Darrel langsung mengambil tangan Luna dan memasukkan tangan itu ke kantong jasnya, Luna hendak menarik tangannya, namun Darrel menahan tangan itu agar tetap berada di sana.


" Lepasin ih, malu dilihat orang loh. Bentar lagi tamunya juga dateng," ujar Luna yang membuat Darrel terkekeh. Lelaki itu akhirnya mengeluarkan tangan Luna dan memainkan tangan itu. Luna yang melihat sikap aneh Darrel tentu merasa heran, Darrel tak pernah sediam ini saat bersamanya, tentu saja Luna merasa aneh.


" Jangan tanya apa – apa, aku makin grogi kalau kamu ngajak aku ngomong. Aku masih gak nyangka akhirnya aku jadi suami kamu, demi apa," ujar Daarrel yang membuat Luna terkejut, namun gadis itu langsung terkekeh dan malah semakin menggoda Darrel, membuat lelaki itu sedikit kesal namun juga tertawa karna tingkah Luna.


" Eh, udah jam satu, bentar lagi tamunya datang, Luna cantik gak? Ada yang kurang gak dari Luna?" tanya Luna sambil merapikan rambutnya, gadis itu tak membawa kaca hingga dia tak tahu bagaimana penampilannya. Darrel mendekat ke arah Luna dan melebarkan matanya. Membuat Luna menjadi bingung dan memundurkan kepalanya.


" Kan kamu gak bawa kaca, gak bawa ponsel juga kan? Nih, mata aku kan jernih, kamu ngaca aja pakai mata aku," ujar Darrel dengan wajah yang tak main – main, Luna sendiri menganggap hal itu adalah ide yang bagus, dia mendekatkan wajahnya ke arah mata Darrel dan mulai berkaca. Hal itu membuat Darrel meneguk salivanya kanr Luna terlihat sangat mempesona saat ini.


Luna menyelesaikan kegiatannya dan hendak memundurkan kepalanya, namun Darrel menahan leher belakang gadis itu hingga gadis itu tak bisa bergerak. Luna langsung menatap Darrel dengan bingung, namun Darrel tak bereaksi apapun. Darrel melihat ke arah bibir Luna, gadis itu tahu apa yang dipikirkan oleh Darrel dan langsung menutup mulut Darrel dengan tangannya.


" Luna pakai lipstick merah yang tebel, Kak Darrel mau nanti jadi belepotan? Demi apa baru sekali langsung begitu," omel Luna yang membuat Darrel tersenyum geli, lelaki itu mendekat ke arah telinga Luna, dan mulai membisiki gadis itu.


" Aku udah bilang kan tadi, aku udah tahan tahan dari lama. Aku mah normal, aku juga bisa tertarik sama yang bening kayak kamu gini. Sekarang kan udah sah, aku bisa sepuasnya cium kamu kalau aku lagi pingin," ujar Darrel yang membuat Luna langsung memundurkan kepalanya dengan paksa.


Gadis itu menjauh dari Darrel dengan takut, dia memundurkan duduknya sampai Darrel menariknya agar tidak jatuh. Darrel terkekeh melihat hal itu, dia langsung yakin jika hari – hari yang menyenangkan akan datang dalam hidupnya, karna hari berikutnya, dia akan selalu bersama gadis yang dia cintai, yang akan menjadi satu – satunya wanita dalam hidupnya.


Satu persatu tamu mulai datang dan mengucapkan selamat pada Luna. Gadis itu sampai harus merasa pegal karna harus berdiri dengan sepatu hak dan harus selalu tersenyum. Bahkan gadis itu belum minum sedikitpun. Darrel yang tahu hal itu hanya memberikan semangat dengan gestur tubuhnya. Membuat Luna makin kesal, merasa lelaki itu mengejeknya.


" Oh, Radith? Lo ke sini bareng sama Lira? Kalian benar – benar Official?" tanya Luna saat Radith datang dan melakukan tos dengan Darrel, sementara Lira ada di belakang lelaki itu. Radith langsung menggelengkan kepalanya saat Luna melihat ke arah Lira, melihat respon Radith, Lira tentu langsung menunjukkan wajah yang tidak senang.


" Gue datang sendiri, gue gak tahu kenapa dia ada di belakang gue, nempel muu kayak kuntilanak," ujar Radith yang membuat Lira membuka mulutnya. Gadis itu menarik rambut Radith cukup keras, membuat lelaki itu terjingkat, Luna sendiri sampai syok dengan apa yang dilakukan Lira.


" Enak aja bilang gue yang nempel mulu kayak kuntilanak, Lo sendiri yang tadi tiba – tiba ada di depan rumah gue pas gue mau berangkat. Dasar, suka banget nyalahin orang," ujar Lira yang langsung merajuk dan menyalami Darrel, namun gadis itu berubah manis saat menyalami Luna, dia mendoakan banyak hal yang baik untuk gadis itu.


" Menurut kak Darrel, mereka Official gak?" tanya Luna saat melihat Radith dan Lira masih bertengkar meski mereka sudah berjalan ke arah meja yang berisi berbagai macam makanan yang ada di sana. Darrel menyenggol tangan Luna dan meminta gadis itu menyalami tamu lain yang sudah memanjang. Luna langsung melakukan apa yang Darrel minta


*


*


*


" Aku buat spagetti nih, kamu makan dulu, kamu gak makan dari pagi loh," ujar Darrel yang membawa dua piring spagetti dan meletakkan di depan Luna. Luna membuka matanya dan mencium aroma yang sangat enak. Gadis itu langsung membuka sumpit dan mulai memasukkan Spagetti itu ke dalam mulutnya.


" Gimana bisa Tuhan menciptakan kak Darrel tanpa cela gini sih? Udah ganteng, baik hati, pinter bisnis, masih pinter masak juga, apalah Luna yang gak bisa apa – apa," ujar Luna yang membuat Darrel terkekeh.


" Kata orang, Tuhan itu menciptakan jodoh yang bertolak belakang biar saling melengkapi. Mungkin kita salah satu yang seperti itu," ujar Darrel yang membuat Luna membuka mulutnya. Gadis itu memukul Darrel dengan keras untuk pernyataan jujur lelaki itu.


Luna terus memukul Darrel dengan keras sambil mengomel sementara Darrel terus tertawa sambil melindungi tubuhnya yang akan menjadi sasaran tinju Luna. Luna keehilangan keseimbangan di tengah – tengah perkelahian itu dan tubuh Luna langsung menimpa tubuh Darrel dengan kepala mereka yang berbenturan.


Rambut Luna menutupi kedua wajah mereka, bahkan Darrel harus merapatkan mata dan mulutnya agar rambut indah itu tak menjadi makan malamnya. Namun setelah bebeapa saat, Darrel akhirnya membuka matanya dan melihat wajah Luna yang sangat dekat dengannya. Luna juga terkejut dengan posisi mereka dan mencoba untuk bangun, namun Darrel menahan tubuhnya dalam posisi itu.


" Aku sayang sama kamu," ujar Darrel yang langsung menarik kepala Luna sampai kedua bibir mereka menempel. Darrel memejamkan matanya dan menikmati apa yang mereka lakukan. Luna sendiri langsung terbuai dan ikut memejamkan matanya. Gadis itu memiringkan kepalanya secara naluri dan membuka mulutnya agar lidah Darrel bisa menjelajahi rongga mulutnya.


Lama kelamaan, mereka makin hilang kendali, baik Luna maupun Darrel, keduanya tak ada yang mau mengakhiri ini, lidah yang saling melilit dan bahkan terkadang Luna juga menggigit bibir lelaki itu. mereka sama – sama terbuai oleh apa yang mereka lakukan. Darrel yang leebih dulu menyelesaikan kegiatan ini dan menatap Luna dengan napas yang terengah.


Darrel segera membalik keadaan dan membuat Luna berada di bawahnya. Lelaki itu tiba – tiba bangun dan menggendong Luna, Luna yang terkejut langsung mengalungkan tangannya ke leher Darrel. Lelaki itu tersenyum dan kembali mencium bibir Luna singkat dan membawa gadis itu untuk pergi dari sana. Meninggalkan dua piring spagetti yang mulai dingin.


Mereka masuk ke dalam kamar yang penuh dnegan aroma terapi, aroma itu membuat Darrel makin tenang, namun secara bersamaan, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat dia tahan lagi. Dia juga tidak tahu mengapa dia sulit menahannya padahal dia sudah bisa menahannya selama bertahun – tahun.


Darrel meletakkan tubuh Luna dengan hati – hati ke atas kasur dan mengambil remote untuk mengunci pintu. Luna tampak takut bahkan tangannya tampak bergetar, namun dia tahu dia harus melewati tahap ini pada akhirnya. Luna tak ingin membuat Darrel kecewa jika dia menolak.


" Luna, sebenernya Luna takut. Luna gak pernah ngebayangin yang kayak gini sebelumnya. Luna gak siap kak," ujar Luna dengan terbata – bata, namun Darrel tersenyum dan menyampirkan rambut Luna ke belakang telinga. Lelaki itu memposisikan diri ke atas tubuh Luna untuk menikmati ukiran wajah yang sempurna baginya.


" Aku tahu kamu takut, ini juga yang pertama buat aku. Kamu gak perlu lakuin apapun, kalau kamu takut, kamu Cuma perlu tutup mata kamu dan biarin aku yang kerja di sini," ujar Darrel pelan dengan suara yang sudah serak. Luna mengangguk dan memejamkan matanya, dia percaya Darrel tak akan menyakiti dirinya.


Sementara memejamkan mata, dia merasakan benda yang basah menyentuh telinganya, membuat tubuh Luna seakan dialiri listrik yang menggelikan. Benda basah itu menyusuri pipinya dan berakhir di bibirnya, secara naluri, Luna langsung membuka bibirnya dan Darrel mulai menciumnya dnegan sangat lembut dan membuatnya terbuai.


Lelaki itu menyusuri leher Luna dan tanpa Luna sadari, kancing piyama yang sudah membungkus tubuhnya sudah terbuka seluruhnya. Gadis itu masih tak berani membuka mata dan hanya merasakan geli luar biasa saat Darrel mempermainkan tubuhnya. Sampai akhirnya tangan lelaki itu menyentuh 'benda terlarang' membuat Luna melenguh dan menekuk tubuhnya karna geli.


" Kaaakkk," ujar Luna yang merasa tak tahan dengan geli yang dia rasakan. Darrel tak menjawab, Luna bisa merasakan hawa dingin menusuk kulitnya, menandakan tak ada sesuatu yang menutupi tubuhnya untuk saat ini. Luna ingin menangis karna takut, namun dia juga tak bisa meminta Darrel menghentikannya karna dia juga menikmatinya.


" SAKIIITTT!!!" Air mata Luna sontak mengalir saat merasakan perih dan ngilu yang luar biasa. Padahal dia sedang memikirkan hal yang lain dan tak sadar apa yang Darrel lakukan.


Luna berteriak kencang dan meronta saat sesuatu yang tumpul dan keras memaksa masuk ke salah satu lubang di tubuhnya, namun Darrel menahannya dan ******* bibirnya agar dia tidak berteriak. Darrel kembali memainkan tubuh Luna untuk mengalihkan rasa sakit itu.


Setelah Darrel melihat Luna sudah tenang, lelaki itu mengecup singkat dahi Luna dan membisikkan sesuatu ke telinga Luna yang membuat gadis itu tersenyum meski air matanya masih mengalir dengan cukup keras.


" Terima kasih, terima kasih sudah menjadi wanita yang seutuhnya buat aku. I Love You."


Setelah mengatakan hal itu, Darrel kembali melanjutkan aktivitasnya dan membuat kamar itu dipenuhi dengan suara yang indah. Apalagi saat Luna mulai bisa menikmati apa yang Darrel lakukan. Gadis itu mulai merespon dengan reflek dan membuat permainan mereka makin panas.


(Yah, kalian pasti tahu apa yang mereka lakukan. Author tidak akan memberitahu apa yang mereka lakukan selanjutnya dan silakan kalian berimajinasi sendiri untuk hal itu.)


Salam,


Author terimut di lapak ini <3