Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 65



" Lo yakin sama hal ini? Lo yakin mau ikut gue ke sana? Kenapa Lo gak nunggu kabar baik aja dari gue sih?" tanya Radith yang kesal. Darrel baru saja keluar dari rumah sakit, bahkan dia harus menggunakan kursi roda sementara karna kondisinya yang melemah, namun lelaki itu tetap memaksa untuk ikut, entah kenapa dia memiliki perasaan yang tak baik mengenai hal ini.


" Lo tenang aja, gue udah bawa dokter pribadi gue buat ikut ssama kita. Kalau gue ngerasa gak enak, gue gak akan ikut – ikut ke sana. Ini kan karna gue baru selesai cuci darah aja, nanti gue pasti pulih kok," ujar Darrel santai. Mereka memasuki pesawat yang akan membawa mereka menuju negara Afrika.


" Gue gak tahu apa yang bakal terjadi sama gue di sana. Tapi apapun itu, kalau gue nyusahin dan Lo harus di hadapkan pilihan buat nolong gue atau pergi menyelamatkan diri, Lo harus nyelametin diri Lo sendiri dulu," ujar Darrel yang tiba – tiba serius, memebuat Radith langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.


" Lo ngomong apa sih? Gak akan ada yang kayak gitu, entah Lo atau gue, kita gak akan di hadapkan pilihan kayak gitu, apalagi di belakang kita ada bokap Luna, kita pasti aman," ujar Radith dengan tenang, namun Darrel tak percaya akan hal itu. Lelaki itu bahkan tak bisa hanya untuk pura - pura tersenyum.


" Sebenarnya alasan gue ikut itu buat ngelindungin Lo dith, setidaknya kalau gue ada, gue bakal numbalin diri gue dan Lo bisa selamat, Lo lebih berguna buat hidup dibanding gue, dan kalau Lo hidup sementara gue enggak, gue mau Lo jaga Luna, Gue gak peduli Lo iklas atau enggak," ujar Darrel yang membuat Radith terdiam.


" Gue gak suka ada orang yang pesimis sama hidupnya sendiri. Kalau Lo gak yakin bakal pulang dengan selamat, mending Lo gak usah ikut sekalian. Mumpung nih pesawat belum tinggi – tinggi banget, Lo bisa lompat sekarang, sama aja kan akhirnya Lo mati juga?" tanya Radith dengan tajam, Darrel menghela napasnya dan mengangguk.


" Sekarang gue ngerti kenapa Luna benar – benar tergila – gila sama Lo selama ini, padahal mulut Lo kasar, Lo masih kalah ganteng sama gue, Lo masih kalah tajir sama gue, Lo masih kalah tinggi sama gue, Lo masih kalah pinter sama gue, Lo masih.."


" Lo mau memuji atau menghina gue sih?" potong Radith yang membuat Darrel tak jadi mengucapkan kata yang sudah ada di ujung lidahnya, lelaki itu terkekeh dan meenggaruk leher belakangnya, dia ingin memuji Radith, namun malah dia memuji dirinya sendiri.


" Walau Lo punya banyak kekurangan dibanding gue, Lo punya hati yang tulus, Lo peduli sama sekitar Lo dengan cara Lo sendiri," ujar Darrel yang membuat Radith terdiam, lelaki itu tak mau menanggapi perkataan Darrel yang ngelantur, dia lebih baik fokus pada rencana yang sudah disusunnya.


" Tapi Lo tahu gak dith? Gak semua orang bakal ngerti kalau Lo care sama mereka dengan sikap Lo ini. Lo bakal bikin orang salah paham dan malah jadi benci sama Lo, padahal maksud Lo mau lindungin mereka," ujar Darrel yang membuat Radith berhenti sibuk. Lelaki itu mulai mendengarkan apa yang Darrel katakan.


" Luna sering Loh selama gue ada di luar negeri, dia selalu ngeluh banyak hal, dan sering dia ngeluh tentang Lo yang ngeselin dan dingin, padahal dia ke rumah Lo buat cari teman, Gue yakin, ceritanya gak kayak gitu kan?" tanya Darrel dengan santai.


" Terus gue harus gimana? Gue harus bersikap manis di depan Luna? Gue harus iya – iya dan lembut ke dia? Lo mau dia salah paham lagi? Lo mau dia jadi suka sama Gue dan minta putus dari Lo?" tanya Radith dengan tajam, namun Darrel malah tertawa ringan mendengar hal itu.


" Kalau dengan hal itu Luna jadi bahagia, ya gue bakal lakuin hal itu. Gue gak terlalu terobsesi buat milikin dia, Gue lebih ingin lihat dia bahagia, alasan gue gak begitu suka lihat dia sama Lo, bukan karna gue cemburu. Yah, gue cemburu, tapi bukan karna hal itu," ujar Darrel ambigu, Radith kembali menjadi pendengar untuk hal ini.


" Karna gue belum lihat Lo bisa bahagiain dia, gue gak mau Luna terluka sama sikap Lo yang kasar, gue gak mau dia salah paham dan anggap Lo jahat, pada akhirnya dia bakal jatuh lagi dan lagi. Lo tahu kan? Luna selalu menilai orang ya dari sikap yang orang itu tunjukan," ujar Darrel yang masih dengan pembawaan tenang, hal itu justru membuat Radith gelisah.


" Lo bisa jujur ke gue, kalau Lo masih suka sama Luna, Lo bisa kasih tahu gue, gue bakal lepas dia pelan – pelan, gue masih ada keyakinan kalau dia itu masih ada rasa sama Lo," ujar Darrel yang tak dijawab oleh Radith, suasana meendadak hening untuk beberapa saat sampai akhirnya Radith membuka suara.


" Apa gunanya kalau sekarang gue suka sama dia? Dia udah bahagia sama Lo dan bahkan kalian akan menikah, terus Lo berharap gue bakal tetap nunggu dia? Jadi bayangan Lo buat lindungin dia? Lo pernah bayangin jadi gue saat seperti itu?" tanya Radith yang kini membuat Darrel terdiam.


" Gue jagain Luna, ya, gue pingin jagain Luna karna gue tahu seberapa bahaya hidup gadis itu, tapi gue benar – benar mau lepas semua setelah maslaah ini selesai. Gue gak mau jadi bayangan Lo dan gue bakal pergi dari hidup kalian, benar – benar pergi, ketemu sama cinta gue sendiri, hidup bahagia," ujar Radith yang membuat Darrel tersenyum tipis.


" Apa selama ini Lo gak bahagia? Lo terpaksa buat jagain Luna? Lo punya hutang budi gitu? Atau gimana? Atau memang sejak awal Lo suka sama dia, sampai sekarang Lo suka sama dia makanya Lo khawatir sama dia, Lo gak percaya gue bisa jagain dia?" tanya Darrel bertubi, Radith yang merasa diserang ingin membalas, namun dia tak mungkin melakukannya untuk saat ini.


" Lantas gue harus apa lagi? Ya, gue ngerasa hutang budi sama keluarga Wilkinson makanya gue memutuskan buat jaga Luna semampu gue selama Lo sibuk, gue gak cari pacar apalagi istri karna gue gak mau hubungan gue berantakan selama ada Luna. Makanya setelah ini Lo jaga Luna yang benar biar gak bikin repot gue lagi," ujar Radith yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya.


" Pasti susah kan bilang hal yang kayak gitu Dith? Pasti susah kan mengungkapkan hal yang gak sesuai sama isi hati Lo? Kenapa Lo harus ngerasa hutang budi? Kenapa Lo harus terpaksa jagain Luna? Kenapa Lo harus bohongin perasaan Lo sendiri?" tanya Darrel yang membuat Radith merasa jengah.


" Terus kalau benar apa yang Lo bilang, gue suka sam aLuna sampai sekarang, apa gunanya? Luna juga udah suka sama Lo," ujar Radith yang membuat Darrel terdiam. Namun lelaki itu menggeleng pelan, membuat Radith makin gemas dengan lelaki itu.


" Gue bahkan gak yakin kalau sekarang Luna udah benar – benar suka sama gue, entah kenapa gue masih ada feeling kalau dia itu masih suka sama Lo, dia bingung siapa yang dia suka," ujar Darrel yang membuat Radith kesal dan menempelkan telapak tangannya ke kepala Darrel.


" Lo gak demam, Lo gak lagi sakit. Tapi kenapa otak Lo gk berfungsi dengan baik? Kalau Luna masih bingung, kalau Luna masih ragu, kenapa dia harus terima dan mau waktu Lo ajakin nikah? Kenapa dia harus trauma waktu Lo milih buat batalin pernikahan kalian? Kenapa Luna harus pergi ke Korea buat nenangin diri? Lo gila?" tanya Radith yang sudah hilang sabar.


" Dia sampai trauma, dia gak percaya sama siapapun, dan Lo bahkan gak tahu gimana dia hancur waktu gue temin dia, dia udah sayang banget sama Lo, tapi Lo malah bertindak sebagai bang*at yang gak bertanggung jawab," ujar Radith yang tak bisa lagi berkata dengan halus.


" Gue di sini Cuma menjalankan kewajiban gue sebagai orangnya Tuan Wilkinson, gue gak ada niat apalagi kesempatan buat jadi bagian dari keluarga ini. Suka sama Luna? Iya, sejak awal gue suka sama dia dan gue sakitin dia sampai ke dasar karna kewajiban gue ke Blenda," ujar Radith yang sudah mulai melirih.


" Saat gue sadar kalau gue suka sama dia, udah ada Lo yang selalu bikin dia bahagia, sementara gue Cuma jadi malaikat pelindungnya, tapi tetap aja, sejak awal Lo yang memang ditakdirkan buat jadi pasangan dia," ujar Radith yang membuat Darrel kalah telak, lelaki itu tak bisa meyakinkan Radith lagi.


" Setiap Luna terluka, gue hadir sebagai penyembuh lukanya, tapi setelah dia pulih dan bisa senyum, peran gue hilang gitu aja, gue Cuma ada di saat dia jatuh, dan Lo selalu ada di saat dia bahagia. Apa Lo mau di sisa hidup Luna, dia Cuma bisa kesakitan dan jatuh berkali – kali?" tanya Radith pelan namun penuh penekanan.


" Gue bukan badut atau robot penghibur, gue juga berhak buat kehidupan gue sendiri. Gue sadar Luna memang bukan buat gue, sejak awal dia gak pernah ditakdirkan buat gue. Jadi setelah masalah ini selesai, gue bakal nikah sama dia yang udah jadi pilihan gue," ujar Radith yang membuat Darrel yang sedari tadi menunduk lngsusng mengangkat kepalanya.


" Maksud Lo? Lo udah ada orang yang Lo suka? Siapa? Siapa?" tanya Darrel dengan penasaran. Radith sampai harus memutar bola matanya, Darrel memiliki sikap yang mirip dengan Luna, mungkin inilah yang disebut jodohmu cerminan dirimu.


" Gue gak yakin, tapi emang gue udah dekat sama dia cukup lama tanpa kalian semua tahu. Gue gak bisa bilang gue suka sama dia, tapi kalau memang gue akhirnya suka sama dia, gue bakal langsung nikahin dia, capek gue sama drama hidup gue yang gak berakhir," ujar Radith dengan tenang.


Darrel hendak menjawab, namun lelaki itu merasakan sakit pada perut sebelah kirinya. Radith segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Darrel. Untung saja mereka tidak jadi naik pesawat umum, jika tidak pasti Darrel sudah menjadi pusat perhatian saat ini. Dokter memeriksa kondisi Darrel dengan khawatir dan memberikan suntikan ke lelaki itu.


" Gara – gara Lo ngomogn gak jelas, gue sampai lupa minta orang buat bikin tempat persembunyian buat kita. Lo sih ngomognin hal yang gak perlu," omel Radith yang hendak mengeluarkan ponselnya, namun dia ingat mereka masih ada di pesawat dan mereka tak boleh menggunakan gadget saat di pesawat.


" Dah lah, semua bisa diurus pas kita sampai di sana. Lo tenang aja, lagian gue udah bilang sama Om Wilkinson tentang rencana ini, dia udah siapin keamanannya," ujar Darrel yang membuat Radith mengangguk, Radith meneghela napas dan memikirkan sesuatu, membuat Darrel menatap lelak iitu dengan heran.


" Kenapa lagi Lo? Kan gue udah bilang gak usah khawatir."


" Bukan gitu, kadang gue tuh iri sama Lo. Lo lahir udah kaya, Lo udah jadi pengusaha waktu Lo masih seusia SMA, dan bahkan orang yang ada di belakang Lo sekarang itu tuan Wilkinson, orang dengan kekuasaan yang gak main – main, kapan gue bisa kayak gitu ya?" tanya Radith asal.


" Lo ngelindur? Lo kan sama kayak gue, Lo bahkan difasilitasi banyak hal langsung loh, gue harus berjuang dari nol buat dapat kepercayaan itu," ujar Darrel dengan wajah serius dan mengangkat alisnya.


" Tapi Lo dapat kepercayaan penuh dari dia, bahkan dia gak mikir kesalahan yang Lo buat. Harusnya Lo bersyukur banget sih," ujar Radith yang disetujui oleh Darrel.


" Tapi Lo gak tahu kan beban yang ada di kepala gue untuk hal itu? Bahkan gue nyaris gila dan kena perangkap bodoh Karel, apa yang harus disyukuri dari itu?" tanya Darrel yang disetujui oleh Radith. Kepercayaan yang besar menghasilkan tanggung jaawab yang besar pula.


" Yah, setidaknya Lo disayang sama dia dan udah jadi calon mantu dia yang sah sekaligus bagi saham yang besar karna Lo bakal nikah sama Luna," ujar Radith sambil memejamkan matanya. Tujuan mereka masih lama sampai, dia bisa menyiapkan energi dulu sebelum sampai.


" Ngomong soal Luna, geu jadi benar – benar khawatir sama dia, mungkin habis masalah ini selesai, gue bakal ke Korea buat jemput dia. Atau Lo mau gantiin gue buat jemput dia? Lo tahu kan kondisi gue lemah gini? Gue takut gak sanggup jemput dia," ujar Darrel dengan mata yang dia kedip – kedipkan dengan lucu.


" Lo mau gue lempar dari dalam sini? " tanya Radith dengan jengkel. Lelaki itu langsung memasang earphone dan memejamkan matanya, mengakhiri obrolan panjang dengan Darrel. Namun tidak dengan Darrel, mendengar nama Luna, dia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.


" haih, Lo terlalu banyak berpikir. Luna apsti baik – baik aja di sana. Tahan sebentar lagi dan Lo bisa jemput dia tanpa masalah. Apa gue terlalu kangen sama dia sampai khawatir gini?" tanya Darrel pada dirinya sendiri.


Lelaki itu mencari posisi nyaman dalam duduknya dan segera menyusul Radith ke alam mimpi. Berharap bertemu pandang dengan mantan kekasihnya di sana.


*


*


*


Note : Tertebak banget ya nanti ending sama siapa. Gak papa deh:( Authornya Bingung mau mengendingkan cerita ini kayak gimana:(