Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 84



Segala persiapan sudah dilakukan, yang harus dilakukan Luna hanya menenangkan diri dan berusaha untuk tidur, namun dia tak bisa tidur sama sekali. Gadis itu terus gelisah memikirkan apa yang terjadi padanya besok. Apakah semua akan berjalan lancar? Atau akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan seperti tempo lalu? Luna sangat takut memikirkannya.


" Lunetta! Lunetta! Ada perampok nih! Main yok!" Luna langsung terbangun saat seseorang terus menggedor pintu kamarnya sambil berteriak. Luna langsung melompat dari kasurnya dan membuka pintu itu. Luna tampak terkejut karna ketiga temannya datang sambil membawa bingkisan. Gadis itu tentu senang karna sahabatnya datang dan bisa menenangkan hatinya yang tidak tenang.


" Gue tahu Lo gak akan bisa tidur. Gak usah tidur aja, paling besok Lo pemberkatan sambil merem – merem karna ngantuk," ujar Adel menirukan orang yang sedang mengantuk. Luna terkekeh melihat Adel yang tampak menggodanya namun sebenarnya juga merupakan suatu peringatan untuk Luna agar gadis itu tidak begadang.


" Udah – udah, karna kita tahu Luna gak akan tidur, mending kita gilrs party dulu, kali ini buat melepas lajangnya Luna," ujar Key yang mendoorng Adel, Lucy dan Luna masuk ke dalam kamar gadis itu. Mereka langsung mengganti pakaian mereka dengan piyama dan mereka mulai duduk melingkar dengan Luna yang menyender pada tembok.


Lucy merasa tertanggu dengan boneka yang ada di belakangnya dan menarik tangan boneka itu, tanpa sadar gadis itu memencet tombol yang ada di tangan boneka itu, membuat boneka itu berbunyi dengan lantang. Lucy sendiri sampai terkejut, namun Luna menjelaskan jika itu adalah hadiah Dari Darrel jika mereka harus terpisah setelah ini.


" Gilak, tajir banget ya pacar Lo, dah gitu romantis lagi, ganteng lagi, aduh duh duh, Gue mah mau jadi istri keduanya," ujar Key yang membuat Luna menampol kepala wanita itu dengan bantal yang dibawanya. Key tertawa, wanita itu membalas perlakuan Luna dan akhirnya mereka melakukan perang bantal sampai kelelahan.


Mereka akhirnya merebahkan diri mereka ke kasur dengan posisi berjejer seperti ikan asin yang dijemur. Mereka hening untuk beberapa saat, menyadari waktu sangat cepat berlalu, sekarang dua di antara mereka akan memulai kehidupan yang baru, meski persahabatan mereka akan tetap abadi, rasanya pasti akan berbeda.


" Luna udah mau nikah, Lo sama Lucy kapan Del? Kalian harusnya ngerasain apa enaknya nikah. Enak banget asli, tapi gak bikin ketagihan nikah sih," ujar Key sembarangan, Luna langsung tertarik dan menggulingkan badannya ke arah Key dan memandang wanita yang tampak mengawang menatap langit langit kamar Luna.


" Emang nikah itu enak ya Key? Gue malah takut, gue takut kalau gue gak bisa jadi istri yang baik, Lo juga tahu kan gue gimana," ujar Luna yang menghela napasnya dengan panjang. Key langsung menatap Luna dan menunjukkan pandangan yang aneh pada mereka bertiga. Key menunjukkan jempolnya ke arah Luna, seakan membantu Luna untuk yakin jika pernikahan bukan hal yang harus ditakuti.


" Kalau Lo udah nikah dan nikahnya sama Darrel Atmaja, Lo gak usah takut tentang hal yang begituan Lun. Lo bakal jadi nyonya Atmaja, tugas Lo Cuma napasa aja, sisanya bakal diurus sama asisten – asisten," ujar Key yang disetujui oleh Adel dan Lucy.


" Kalau urusan manja dan sebagainya sih, Lo sendiri yang bisa atasin Lun, tapi gue yakin kalau Lo udah nikah, sifat itu akan hilang dengan sendirinya, itu kayak naluri perempuan gitu Lun," ujar Adel menimpali, mereka berusaha membuat Luna tidak takut membayangkan apa yang harus dia lakukan setelah menikah.


" Tapi Lun, sebagai sahabat yang baik, kalau Lo masih ragu dan gak mau nikah, gue siap buat gantiin posisi Lo besok, gue iklas deh demi persahabatan kita," celetuk Lucy yang membuat mereka bersorak dan memukuli Lucy dengan gemasnya. Mereka kembali tertawa – tawa sampai akhirnya mereka sendiri yang kelelahan.


" Ah, Kita ada hadiah buat Lo. Hadiah ini bakal berguna banget buat malam setelah kalian sah. Nih hadiahnya, gue sendiri yang pilih nih," ujar Key dengan bangga menyodorkan bingkisan yang mereka siapkan. Dengan excited Luna mengambil bingkisan itu dan membukanya, namun ekspresinya berubah saat melihat isi dari bingsikan itu, Luna bahkan membuangnya seketika.


" Lo kasih gue apaan itu ****? Gilak itu menyeramkan banget. Iih, gue geli banget," ujar Luna yang bergidik. Key berdecak dan langsung mengambil kembali apa yang Luna buang. Wanita itu mengambilnya dan langsung membukanya serta mengangkat benda itu tinggi – tinggi agar mereka bisa melihat.


" Ini tuh model terbaru yang paling seksi tahu gak sih Lun. Ini mahal banget dan pasti Darrel suka banget lihat Lo pakai ini. tuh lihat tuh," ujar Key yang mendekatkan benda itu ke Luna. Luna kembali berdecak dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Luna merasa malu dan tak siap dengan benda – benda seperti itu.


" Heh, Lo tuh harus tahu nikmatnya malam setelah Sah. Lo pasti bakal ketagihan. Yah, walau gue udah nyolong start sih, tapi tetap beda rasanya kalau udah sama suami sendiri. Nah kalau suami gue, dia suka banget gue pakai ini, Darrel cowok normal kan? Dia pasti suka lihat Lo pakai ini," ujar Key yang memaksa Luna untuk mengambil hadiah itu.


" Lo serius kak Darrel bakal suka? Ini menjijikan banget Loh Key demi apa," ujar Luna yang masih enggan untuk memegang benda itu. Key menganggukan kepalanya mantap, dia sangat yakin Darrel akan menyukai Luna yang memakai pakaian seperti itu.


" Gue tahu kalau Key ini sesat. Tapi gue juga gak bisa bantah karna gue gak punya suami, sebagai sahabat yang baik, gue saranin Lo hati – hati, yang ada Darrel malah geli sama Lo dan kabur dari rumah, kan gak Lucu," ujar Adel yang juga tak nyaman melihat benda yang dipilih Key.


" Del, yang udah nikah tuh gue, gue yang lebih tahu apa yang disuka sama cowok – cowok, kalau Lo gak percaya, Lo pakai aja ini terus pergi ke club, pasti cowok – cowok pada suka dan datang ke Lo," ujar Key dengan bangganya. Mereka memilih mengabaikan Key dan Luna mengambil benda itu lalu menyimpannya.


" Lo mau gue kasih tips buat pemula gak? Biar sama – sama enak gitu," ujar Key yang membuat Luna menutup telinganya dan menggelengkan kepalanya. Dia tak siap untuk hal – hal seperti itu, bahkan dia tak pernah membayangkan akan melakukan hal 'itu' dengan Darrel.


Mereka mengobrol banyak hal sampai akhirnya mereka mulai mengantuk dan tidur berpelukan, entah kapan mereka bisa berkumpul seperti ini lagi di masa depan. Mereka ingin menghabiskan banyak waktu bersama untuk saat ini. Mereka bermai – ramai memeluk Luna yang malam ini menjadi ratunya, menghangatkan gadis itu dan membuat gadis itu tidur nyenyak agar besok pagi dia sudah siap.


*


*


*


Luna melihat lagi pantulan wajahnya di sebuah cermin besar yang ada di hadapannya. Gadiss itu tak menyangka dia bisa secantik ini, Luna yang berbaut gaun putih dan riasan yang tak berlebihan membuat wajahnya tampak bercahaya dan elegan. Luna sangat suka m\=penampilannya saat ini.


" Wah, Daddy gak menyangka Daddy sudah tua. Sebentar lagi anak Daddy yang paling manja akan menikah dengan orang lain, Daddy ikut bahagia melihat anak Daddy," ujar tuan Wilkinson yang masuk ke ruang make up. Luna menengok dan langsung berdiri, gadis itu memeluk daddynya dengan erat.


" Luna tetap putri kecil Daddy, selamanya Luna akan jadi putri kecil Daddy. Terima kasih sudah mmebuat Luna hadir di dunia ini terima kasih sudah merawat Luna dan bahkan menemani Luna untuk sampai ke tahap ini. Luna yakin Mama juga bangga lihat Luna sekarang. Luna gak kalah cantik sama mama kan Dad?" tanya Luna dengan mata yang berkaca – kaca.


" Danesya datang kan Dad hari ini? Danesya sama Roy gak? Kalau iya, Luna mau ajak Danesya nikah sekalian, biar tanggal pernikahannya sama, waktu Luna udah ajak tapi Danes gak mau," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson mencubit hidung anak gadisnya dengan gemas, bagaimana bisa anaknya mendapat ide gila seperti itu?


" Masih ada waktu sepuluh menit, kamu mau gak kalau dansa sama daddy sebentar? Daddy rasanya masih gak rela melepas anak gadis Daddy, tapi biar kali ini Daddy dansa sama kamu dan melepas kamu buat dimiliki pria lain," ujar tuan Wilkinson yang diangguki oleh Luna. Mereka memposisikan diri setelah Luna menyetel lagu dansa yang romantis.


Tuan Wilkinson mengulurkan tangannya dan Luna menrima uluran tangan itu, mereka mulai berdansa pelan dengan indah, sampai Luna menempelkan kepalanya ke dada tuan Wilkinson sambil tetap menggerakkan kakinya. Dalam diam, mereka berdua sama – sama menangis, mereka bahkan tak pernah melakukan hal seperti ini seumur hidup mereka.


" Eh, anak Daddy, hari bahagia begini kenapa nangis?" tanya tuan Wilkinson yang langsungmengelap pipi Luna. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, Luna memandang papanya yang juga menangis, Luna pun melakukan hal yang sama kali ini. mereka terdiam cukup lama untuk mengatur emosi masing – masing.


" Daddy, terima kasih, terima kasih dan doain Luna biar bisa jadi istri yang baik walau Luna belum bisa jadi anak yang baik buat Daddy," ujar Luna yang membuat tuan Wilkinson menggelengkan kepalanya. Tuan Wilkinson langsung tersenyum dan menarik napasnya agar suaranya tidak bergetar. Tuan Wilkinson menautkan tangan mereka dan mengajak Luna keluar dari ruangan itu.


" Kamu anak Daddy yang baik. Semua anak Daddy baik, kalau gak baik, udah dari dulu Daddy kasih makaan ke kucing biar gak ngerepotin. Tapi menjadi istri berbeda dengan menjadi anak. Luna akan banyak belajar dan banyak mengalami kesulitan setelah ini, Luna harus siap buat hal itu ya?" tanya tuan Wilkison yang diangguki oleh Luna.


*


*


Tamat..


.


.


.


Belum, mereka sampai di sebuah bangunan dan pintu terbuka lebar dimana sebuah altar pernikahan sudah ditata dengan rapi. Orang – orang yang ada di sana berdiri dan memandang ke arah Luna yang menggandeng tangan papanya. Di tengah Altar, Luna bisa melihat seorang pastor, dua orang misdinar dan juga Darrel yang sangat tampan.


Luna berjalan pelan dan semakin mendekat ke arah Darrel diiringi musik yang membuat suasana makin sakral. Tangan gadis itu mulai bergetar, namun papanya beruasaha memberi dukungan lewat sentuhan halus. Papanya mengantar Luna sampai ke depan altar dan di sana Darrel menyambut tangan Luna dengan hangat.


Prosesi dilakukan dengan banyak doa dan bacaan yang akan menguatkan pasangan (calon) suami – istri ini. mereka mulai masuk ke acara Inti dimana Luna dan Darrel berhadpaan, saling berpegangan tangan dan mengucapkan janji suci satu sama lain. Tangan Luna makin gemetar, namun tangan Darrel yang hangat sangat menenangkan gadis itu.


" Lunetta Azura Wilkinson, Saya, Giovan Darrel Atmaja memilih engkau menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup Saya."


Luna yang melihat sorot mata Darrel yang tulus langsung meneteskan air mata. Kini giliran gadis itu yang mengucapkan janji pernikahan mereka. Luna sudah menghafalkan apa yang harus dia ucapkan meski di sana masih terdapat contekan teks, namun Luna ingin kesan yang sakral dan tak ingin melihat contekan itu, Luna ingin janji yang dia ucapkan berasal dari hatinya.


" Giovan Darrel Atmaja, Saya, Lunetta Azura Wilkinson memilih engkau menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, diwaktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup."


" Marilah kita berdoa bagi kedua mempelai ini yang sudah menikah di hadapan altar. Semoga mereka seumur hidup bersatu dalam cinta kasih. Semoga kalian bisa saling mencintai seumur hidup kalian."


" Kini kalian sudah resmi menjadi pasangan suami dan Istri. Tuhan akan melindungi bahtera pernikahan ini dengan penuh cinta kasih. Semoga rahmat Tuhan selalu beserta kita. Kalian pasangan suami – istri, silakan kalian mencium pasangan kalian."


Mendengar hal itu, pipi Luna langsung memanas, dia melihat ke arah Darrel yang tersenyum ke arahnya. Lelaki itu tak tampak kikuk sama sekali, dia mendekat ke arah Luna dan memegang dagunya. Luna menatap ke arah Darrel dengan tatapan memelas, namun Darrel memisikkan sesuatu ke telinga Luna dengan pelan, sangat pelan.


" Take it easy, aku lega bisa lakuin hal yang dari dulu aku tahan," ujar Darrel yang langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Luna. Luna yang terkejut dengan serangan yang tiba – tiba itu sontak terdiam, namun melihat Darrel yang sudah memejamkan matanya, gadis itu ikut memejamkan matanya. Bersamaan dengan matanya yang terpejam, gadis itu tahu satu butir air mata lolos dari matanya.


Hadirin yang ada di tempat itu langsung bertepuk tangan, sebagian besar juga menangis karna terharu, terutama Jordan dan Tuan Wilkinson, serta sabahat – sahabat Luna yang tak menyangka Luna akan menikah di usia yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.


Kini, Luna sudah menjadi bagian dari hidup Darrel. Meski gadis itu khawatir tentang apa yang akan mereka hadapi di kemudan hari, Luna yakin, Darrel tak akan pernah meninggalkannya dan membiarkannya menghadapi masalah itu sendiri.


Jiwa yang saling terikat, tangan yang saling menggenggam dan langkah yang saling beriring akan menguatkan mereka satu sama lain.


" I Will Always Love You Nyonya Muda Atmaja." Lirih Darrel sambil memegang bibir merah Luna setelah mereka mengakhiri 'kegiatan' mereka dengan napas yang terengah.