
" Bunda kalau gitu Luna pamit dulu ya. Luna bakal sering main ke sini, Bunda jaga kesehatan ya, selalu bahagia," ujar Luna sambil menyalami Bund asebelum akhirnya masuk ke dalam mobil karna dia sudah merasa lemas dan pusing. Darrel melakukan hal yang sama sebelum akhirnya mobilnya melaju dari tempat itu memecah heningnya jalan yang sepi karna panti asuhan itu terletak cukup jauh dari jalan raya.
" Kamu besok lagi kalau udah ngerasa pusing tuh bilang, kamu sampai pucet kayak gitu. Kamu belum makan kan? Belum minum obat juga kan? Kamu bawa obatnya gak? Kita mampir makan." Luna hanya diam dan mengangguk, entah mengapa dia terasa lemas dan dia segera pamit setelah Darrel menyadari Luna mulai melemah dan hanya duduk.
" Kak Darrel, kapan – kapan kalau diajak ke sana lagi mau kan? Luna pingin main sama mereka lagi, apalagi sama yang namanya Karelina itu, Luna penasaran sama mereka," ujar Luna yang tak menghiraukan omelan Darrel.
" Boleh aja, tapi aku gak mau kalau kamu sampai kayak gini lagi, kesehatan kamu yang paling penting. Eh tapi kamu gak boleh terlalu kepo sama tuh anak loh, apalagi sampai bahas masa lalu dia. Kasihan, dia pasti masih ada luka," ujar Darrel memberi wejangan yang disetujui oleh Luna. Menyiram cuka di atas luka seseorang bukanlah tipe Lunetta.
Gadis itu lebih menyukai mengembalikan mood buruk seseorang ke arah yang lebih baik. Meski dia tak bisa mengubah masa lalu, dia lebih menyukai untuk menciptakan masa depan yang bahagia. Hal itu membuat aura kebahagiaan selalu terpancar di wajahnya, dan aura itu menular ke orang di sekitarnya.
" Mau makan dimana?" tanya Darrel sambil menengok – nengok jalanan, mana tahu dia melihat resrotan baru yang ramai atau menggugah seleranya. Luna langsung mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai mencari restoran rekomendasi yang ada di dekatnya. Darrel melihat ke jalanan dan ke arah Luna bergantian, menunggu Luna memutuskan.
" Dari sini belok kanan, nanti ada resto keluarga terkenal, murah juga katanya, ke situ aja kak," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel. Lelaki itu mengikuti petunjuk Luna dan mereka berhenti di sebuah restoran yang sebenarnya tak begitu mewah dan besar, namun tempatnya bersih dan nyaman, membuat Darrel turun dari mobilnya tanpa ragu.
Lelaki itu mengerutkan keningnya saat Luna tak mengikutinya turun dari mobil, apakah gadis itu menunggunya membukakan pintu ala – ala pacar yang ada di drama korea atau film romantis? Memikirkannya saja membuat Darrel menjadi geli, namun lelaki itu tetap berjalan ke arah pintu Luna dan membukakannya untuk gadis itu.
Hal yang dilihatnya membuatnya reflek berjongkok dan melihat ke arah gadisnya yang berkeringan dan tangan yang meremas celananya sendiri. Darrel tahu apa yang terjadi, memang ternyata gadis itu tak boleh terlambat meminum obat atau melakukan terapi jika tak mau hal seperti ini terjadi. Lelaki itu langsung menggeser kaki Luna dan berjongkok membelakangi Luna.
" Yok aku gendong dulu," ujar lelaki itu yang membuat tangan Luna meraih leher lelaki itu dan Darrel pun berdiri lalu membenarkan posisi Luna dan memasuki restoran itu diiringi tatapan aneh dari pengunjung di sana. Hal itu tentu membuat Luna malu meski Darrel stay cool dengan Luna yang ada di gendongannya.
" Kamu duduk dulu, pilih menu, aku mau ambil obat kamu dulu." Itulah yang dikatakan Darrel setelah menurunkan Luna. Lelaki itu langsung berjalan tenang ke mobilnya dan membuka dashboard dimana Luna menyimpan obatnya. Lelaki itu mengambil semua obat Luna dan masuk lagi ke dalam restoran.
" Maaf ya kak udah buat kak Darrel malu punya pacar yang nyaris cacat kayak gini, kalau cowok lain mah pasati malu kak," ujar Luna yang membuat Darrel terkekeh dan mengusap kepala Luna dengan gemas lalu duduk lagi di kursinya sambil memilih menu.
" Makanya kamu bersyukur punya pacar aku, aku udah baik banget sama kamu, aku sayang banget sama kamu tanpa alasan. Jadi aku bakal tetap sayang sama kamu bagaimana pun keadaannya, mana ada acowok kayak aku di dunia ini? Langka nih, makanya disayang juga akunya," ujar lelaki itu yang membuat Luna berdecak.
Belakangan hari ini memang Darrel suka sekali membanggakan dirinya sendiri, membuat Luna kesal karna kenarsisan lelaki itu yang meningkat dalam waktu singkat. Meski begitu, Luna bahagia karna Darrel tak ikut menjatuhkan Luna dan malah membuatnya tertawa. Mungkin memang itu cara yang dipilih oleh Darrel, ketimbang Luna sedih memikirkan keadaannya, Darrel lebih suka Luna kesal karna tingkahnya.
" Obat kamu kok jadi banyak gini? Terakhir kan Cuma nambah satu, ini aku gak salah ambil kan?" tanya Darrel setelah menghitung bungkusan obat yang tadi dia ambil. Luna menggeleng dan membenarkan bahwa semua obat itu memang obat yang harus dia minum agar tidak mudah kambuh.
" belakangan Luna lebih sering kambuh, jadwal terapi aja yang tadinya kalau kambuh, udah jadi satu bulan sekali, eh beberapa hari kemarin malah Luna ditelpon kalau jadwal terapinya jadi satu bulan dua kali. Mungkin memang Luna tambah parah sih kak, gak tahu juga lah, yang penting Luna minum obat, ikut terapi, hasilnya ya nurut aja sama Tuhan," ujar Luna dengan tenang.
Darrel salut dengan Luna yang bisa menyikapi hal ini dengan dewasa. Rasanya gadis itu memang sudah bertumbuh menjadi gadis kuat dan pengertian. Siapa yang tidak senang dengan perubahan itu? Awalnya Darrel merasa kasihan pada Luna yang dipaksa bersekolah di skeolah yang bukan impiannya, namun kini Darrel berterima kasih pada Mr. Wilkinson yang memaksa gadis itu.
Mereka makan dengan tenang dan Luna langsung meminum obatnya sesaat setelah makan. Mereka amenunggu sampai kaki Luna bisa digerakkan lagi, barulah Darrel berjalan ke arah kasir dan membayar semua makanan mereka lalu mereka kembali ke mobil untuk pulang ke rumah Luna.
" Permintaan ketiga kamu apa?" tanya Darrel untuk memecah keheningan di dalam mobil. Luna tampak bingung memilih, dia tak mau Darrel atau orang disekitarnya menghabiskan banyak uang lagi, mengingat permintaan pertamanya yang mengeluarkan banyak biaya. Tapi apa yang Luna inginkan? Kapal pesiar? Pulau Pribadi? Tidak mungkin kan Luna meminta itu?
" Ah, Luna tahu. Bentar lagi kan ulang tahun Luna ke tujuh belas kak, Luna mau adain makan malam aja sama papa, Danesya, Bang Jordan, kak Darrel, Radith dan pasangan mereka," ujar Luna setelah terdiam cukup lama. Darrel menganggukkan kepalanya, setuju saja dengan apa yang Luna minta, apalagi permintaan itu sangat masuk akal dan sangat mudah dilakukan.
" Luna gak mau yang mewah, Luna gak mau yang terlalu buang – buang uang, makan malam keluarga biasa aja. Luna mau berterima kasih sama kalian semua yang udah ada di hidup Luna, terima kasih udah mengiring tujuh belas tahun Luna dengan penuh kebahagiaan."
" ya kamu bilangnya besok kalau pas acara dong, masak kamu bilang sama aku aja? Gak kerasa dong feelnya. Kamu tenang aja, aku bakal siapin makan malam keluarga yang gak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu, sederhana dan hangat kan yang penting?" tanya Darrel memastikan. Luna mengangguk dan kembali sibuk dengan jalanan yang mulai menarik perhatiannya.
Untuk memecah keheningan, Darrel menyalakan musik yang ada di mobilnya dan menyambungkannya dengan ponselnya lalu memberikan ponsel itu pada Luna agar Luna yang memilih lagunya. Langsung saja Luna membuka aplikasi penampil video dan menuliskan keyword 'exo mix mv' membuat Mobil menjadi ramai karna Luna mengeraskan volume dan mengikuti lagu dengan lirik yang dia nyanyikan asal.
Darrel sedikit menyesal membiarkan Luna memilih lagu karna mendadak mobilnya menjadi tempat konser. Bahkan Luna mengepalkan tangannya seperti dia memegang light stick dan melakukan 'fans chat' seakan dia berada di tempat konser yang nyata. Padahal dia hanya menonton MV dari grub itu.
Mereka memasuki gerbang rumah Luna dengan musik yang masih menyala keras. Darrel melega karna Luna sangat bersemangat saat melihat suami – suaminya yang bernyanyi di video itu, apa Darrel harus mengundang mereka khusus untuk Luna gaar gadis itu makin semangat untuk menjalani hidupnya dan bersemangat untuk sembuh?
" kalau gitu Luna masuk dulu ya kak. Kak Darrel gak usah main, kak Darrel langsung pulang langsung istirahat, kalau mau ke kantor besok aja jangan hari ini," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel, dia memang tak berencana untuk berangkat ke kantor hari ini, dia ingin memanjakan dirinya barang sehari saja.
Darrel langsung pamit dari rumah Luna untuk pulang ke rumahnya sekaligus menyiapkan keinginan ketiga Luna. Lelaki itu akan menyiapkan yang terbaik untuk gadisnya, apapun itu.
*
*
*
Semua orang terdekat Luna berkumpul di sebuah meja panjang yang Darrel siapkan di rooftop rumah Luna. Ada Keyla, Lucy, Adel, Agatha selaku sahabat Luna, ada pula Danesya yang mengajak Roy, Jordan yang mengajak Keysha, ada Mr. Wilkinson dan Radith yang Jomblo serta Darrel selaku pembuat acara untuk ulang tahun Luna ini.
Gadis itu keluar dari kamarnya memakai dress santai selutut disambut oleh Darrel yang memakai kemeja hitam dengan sepatu fantofel mengkilat. Luna tersenyum mengakui ketampanan Darrel yang berlipat – lipat ketika lelaki itu sedang serius dan tersenyum hangat.
" Kita ke rooftop sekarang," ajak Darrel mengulurkan tangannya dan menggandeng tangan Luna menuju tangga yanag akan membawa mereka ke rooftop. Darrel membuka pintu rooftop dan Luna langsung tersenyum manis melihat papanya membawa roti ulang tahun dengan lilin berangka '17' yang menyala.
" Selamat ulang tahun My Soulsister," bisik Darrel tepat di telinga Luna. Luna mencubit pelan lengan Darrel karna perkataan Drarel tentu membuatnya salah tingkah dan semakin tersenyum dengan pipi yang memerah.
" Ternyata kalian mirip banget ya, maaf karna gue salah ngenalin Lo, gue kira Lo dia waktu itu," ujar Roy pelan pada Danesya yang ada di sebelahnya.
" Bagus Lo ngira gue itu dia dan Lo ketemu sama gue, kalau Lo ketemu sama dia jalan ceritanya gak mungkin kayak gini kan?" tanya Danesya dengan senyum manisnya. Roy mengangguk setuju dan terkekeh. Mereka kembali fokus pada Luna yang masih berjalan mendekat ke arah mereka.
" Selamat ulang Tahun kesayangan Daddy, terima kasih untuk kalian sudah hadir dan mengisi hati Daddy sampai penuh, terima kasih," ujar Daddy yang mengode Jordan untuk mengajak Danesya mendkeat ke arah Luna. Jordan mengikuti kode dari papanya dan mengajak Danesya untuk berdiri di sebelah Luna yang sudah mendekat ke arah mereka sementara Darrel berjalan sendiri ke arah meja tamu.
Jika Luna bersebelahan dengan Danesya, ada perbedaan yang bisa mereka lihat. Perbedaan yang tak nampak jika mereka sedang terpisah, yaitu bentuk rahang Danesya sedikit lebih tirus dari Lunetta, meski tak begitu terlihat, mereka masih bisa membedakan keduanya jika sedang bersebelahan.
Mereka melakukan prosesi perayaan ulang tahun pada umumnya dan memeotong kue serta membagikan kue – kue tersebut ke hadirin yang ada di tempat itu. Jordan menelpon seseorang dan menyala lah kembang api yang snagat banyak dan sangat indah, sekaligus sangat berisik. Kembang api itu terus menyala sampai sepuluh menit, bersautan tanpa henti, ikut memeriahkan ulang tahun Danesya dan Lunetta.
" Terima kasih kalian semua udah hadir ke sini dan ngerayain ulang tahun kami, Luna sangat bersyukur untuk hal itu. Terima kasaih sudah terus ada dalam setiap perjalanan hidup Luna. Selalu menjadi teman Luna di saat Luna di atas maupun di bawah. Luna sangat bersyukur memiliki kalian dihidup Luna."
" Meski Luna gak tahu sampai berapa lama Luna ebrtahan di dunia ini, Luna harap setiap langkah Luna akan dipenuhi dnegan kebahagiaan dan kalian ada dalam setiap bagian dari kebahagiaan itu. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, rejeki yang melimpah dan ketenangan dalam hidup. Sekali lagi, terima kasih."
Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan mendengar sambutan Luna yang tampak serius dan dewasa. Mereka tak pernah menyangka Luna harus menjalani hidupnya dengan penyakit yang tak mungkin bisa disembuhkan. Kini mereka hanay berdoa penyakit itu akan kalah oleh energi positif Luna dan tak pernah kambuh di kemudian hari.
" Ah iya, kalian semua sudah tahu kan Luna bangun rumah sakit khusus untuk kanker? Kalau kalian bertemu dengan orang yang membutuhkan bantuan kalian bisa ajak ke rumah sakit itu. Terus juga kalau papa – papa kalian mau menyumbangkan saham buat rumah skait itu juga boleh."
" Sayang, sekarang ini ulang tahunmu dan Nesya, rasanya kita harus membicarakan masalah rumah sakit di lain waktu. Saat ini waktunya kita semua berbahagia dan bersenang – senang, mari kita mulai makan saja," ujar Mr. Wilkinson yang membuat mereka semua tertawa.
" Rasanya Luna harus mengambil mata kuliah jurusan Bisnis om, bahkan di hari ulang tahunnya dia bisa mempromosikan rumah sakit yang dia bangun. Pasti dia bisa berhasil di dunia bisnis," celetuk Adel yang disetujui oleh semua orang yang ada di sana.
" Karna Luna anak Om, pasti dia memiliki gen sebagai pebisnis hebat, kamu bisa melihat sendiri kan seberapa hebat saya jika sudah mengatakan soal bisnis?" sombong Mr. Wilkinson yang dibenarkan oleh Adel, namun tidak bagi Jordan yang langsung menyahut dengan tak enak, membuat suasana makin cair dengan berdebatnya bapak dan anak tersebut.
Namun dari sekian banyak ornag yang tertawa, ada satu anak yang merenungkan apa yang Adel katakan. Orang itu tersenyum dan menatap Adel dengan senyum hangatnya.
" Yah, Lo doain aja semoga gue bisa merasakan bangku kuliah," ujar gadis itu dengan pelan.