Hopeless

Hopeless
Chapter 145



Sudah lima puluh menit berlalu, namun belum ada tanda tanda orang suruhan Luna kembali membawa pesanan mereka. Hal itu membuat Radith yang sudah kelaparan menjadi gelisah, sementara Luna yang tidak peka hanya santai saja tanpa dosa dan tak sadar dengan keadaan Radith.


" Lun, ini satenya masih lama gak sih? perut gue udah perih nih," ujar Radith yang akhirnya membuang semua rasa gengsi dan langsung mengutarakan perasaannya karna melihat Luna yang tak menyadari kondisinya yang mengenaskan karna lapar.


" Iya juga ya, kok lama ya? Apa mungkin orangnya udah di bawah tapi gue gak tahu? Soalnya gue gak buka chat daritadi,' ujar Luna yang membuat Radith meelongo, lelaki itu bersedekap dan menatap ke arah lain, membuat Luna mengernyitkan dahinya karna melihat Radith yang baperan.


" Nah kan bener dith, mereka udah dibawah daritadi, untung Lo ingetin gue, bentar deh gue suruh naik aja, males turun gue," ujar Luna dengan santai dan tanpa dosanya. Radith mencoba sabar karna dia tahu, Luna bukan sengaja melakukan itu, memang dasar otak cerdas Luna yang berkarat saja, membuat gadis itu terkesan sedikit lemot.


Tak lama berselang, ada dua orang masuk ke dalam kamar Radith, yang satu membawakan makanan dan minuman yang Luna pesan, yang satu lagi membawakan piring dan gelas yang akan mereka gunakan untuk alas makan. Luna menata piring dan gelas lalu membuka tiga porsi sate yang dia pesan, sengaja memesan tiga untuk dua orang agar puas dan kenyang.


" Loh pak, gak bawa pisau? Terus ini kenapa Lontongnya gak dipotong – potong dari sana aja?" tanya Luna saat melihat dua lonjor longtong yang masih utuh.


" Oh iya nona, kami gak kepikiran nona, apakah nona mau kami kembali dan memotong lontong tersebut agar menjadi ukuran kecil? Kami akan ke kantin rumah sakit agar tidak memakan waktu lama," ujar salah seorang yang ada di sana.


" gimana dith? Mau nunggu lagi? Atau udah puas makan itu aja?" tanya Luna pada Radith yang membuat lelaki itu menatap Luna dengan malas. Dia sudah menunggu hampir satu jam, dan dia harus menunggu lagi? Malas sekali.


" gak usah deh, udah makannya digigit aja dari sini, kelamaan kalau nunggu dipotong lagi, keburu laper gue," ujar Radith yang sudah memakan satu tusuk sate dengan nikmat. Harus diakui rasa sate ini sangat nikmat dan menggugah selera, apalagi tadi Radith tadi hanya memakan makanan hambar dari rumah sakit.


" eh tapi memang gak papa ya dith Lo makan beginian? Kan rumah sakit lebih tahu yang Lo butuhin ketimbang yang Lo mau," ujar Luna yang membuat Radith menatapnya dengan tatapan heran.


" Lun, gue tahu kalau Lo itu lemot dan gak gampang konek, tapi harusnya Lo sadar dong kalau yang sakit itu kaki gue, bukan perut atau pencernaan gue, harusnya oke oke aja lag gue makan apapun," ujar Radith yang membuat Luna kembali bimbang, hendak mengutarakan sesuatu tapi takut membuat Radith makin kesal padanya.


" Kalau ada yang mau Lo omongin tuh omongin aja, gue bisa lihat dari wajah Lo, kayak nahan berak lima tahun tahu gak," ujar Radith yang membuat Luna terkejut dan mngubah air mukanya lagi agar menjadi biasa saja. Luna lupa jika percuma saja menyembunyikan sesuatu dari Radith, lelaki itu akan menebaknya dengan mudah.


" kan apa yang Lo makan bakal berpengaruh juga ke luka Lo, biasanya tuh ada beberapa pantangan gitu kalau habis kecelakaan atau luka parah, kalau misal ternyata yang Lo makan malah memperburuk keadaan Lo gimana?" tanya Luna dengan nada khawatir.


" Contohnya apa tuh yang kayak gitu?" tanya Radith dengan alis yang terangkat sebelah.


" contohnya kalau ada orang yang punya tekanan darah rendah atau hipotensi, dia tuh gak boeh makan semangka atau timun karna mereka bikin tekanan Darah makin rendah, semacam itu lah pokoknya," ujar Luna yang membuat Radith mengangguk paham, namun lelaki itu tak begitu menanggapinya dengan baik.


" Ya udah kalau jadinya lebih buruk tinggal besok gak usah makan ini lagi, udah laper banget gue, salah rumah sakitnya ngasih makan kok gak enak," ujar Radith yang membuat Luna pasrah tanpa bisa membantah apapun lagi.


Mereka akhirnya diam dan memilih untuk menyantap makanan masing – masing, meski Luna sangat kesusahan karna harus menggigit lontong yang besar itu dengan mulutnya yang kecil, gadis itu makan pelan – pelan agar tidak tersedak ataupun belepotan. Radith tahu akan kesusahan Luna, namun dia tak berniat untuk membantu Luna, yah, biar gadis itu berusaha mengatasi kesusahannya sendiri.


Saat memakan sate yang entah ke berapa, Radith melihat sesuatu dengan cepat melewati tembok dan hilang ke tembok di seberangnya. Radith cukup penasaran apa itu, namun dia akhirnya menyimpulkan bahwa dia hanya berhalusinasi, tak ingin memikirkan hal itu lagi. Radith kembali memakan dengan nikmat sate yang dia pegang sampai akhirnya bayangan itu kembali dan menatap Radith.


" Njir, gue bisa lihat mereka juga sekarang? Tahu gitu gak gue ambil tuh bantuan obat dari cewek setan waktu itu, masak gue harus lihat begituan di sisa hidup gue? Duh," ujar Radith sangat pelan dan memandang ke arah lain, nsmun tsmpsknys bayangan itu taahu jika Radith bisa melihatnya.


" Lo bisa lihat gue ya?" tanya bayangan itu pada Radith yang tak menyahut, seakan Radith tak melihat ataupun mendengar suara bayangan itu. Radith melihat ke arah Luna yang ada di belakang bayangan itu. Ya, bayangan itu hanya sekadar bayangan tipis yang tak bisa menutupi Luna meski Luna ada di belakangnya.


" Lun, Lo mau gak beliin gue buah anggur? Tapi Lo aja yang beli, jangan pengawal Lo, gue lagi pengen dilayani sama Lo nih, ya Lun, mau ya Lun?" tanya Radith pada Luna yang memebuat Luna menatap Radith dengan terkejut.


" Lah dith, gue kan lagi makan, Gue panggil…"


" ya udah iya, gue beli dulu, tapi agak lam loh ya, gak usah ngeluh kelamaan, gue juga gak tahu beli dimana," ujar Luna karna melihat wajah memelas Radith, lelaki itu mengangguk dengan lucu yang membuat Luna gemas dan mendekat ke arah Radith untuk menjambak rambut lelaki itu.


Tanpa Luna tahu dia menembus tubuh bayangan itu saat menjambak Radith. Radith tahu hal itu namun dia memilih untuk diam dan pura – pura tak tahu agar baayangan itu segera pergi dari hadapannya. Dia sudah kapok dan tak mau lagi berhadapan dengan segala macam arwah di dunia ini.


" Gue tahu Lo bisa lihat gue, gue mau minta tolong ke Lo," ujar bayangan itu yang membuat Radith akhirnya menengok karna merasa kasihan pada arwah cantik itu. Radith merasa heran karna setiap arwah yang dia lihat selalu ada dalam wujud cantiknya. Apakah mereka berusaha memikat Radith?


Oh ayolah, ini adalah kisah Novel cinta segi rumit antara Radith, Luna dan orang sekitar mereka, namun mengapa ada gadis cantik dari dunia lain juga? Bisa – bisa novel ini akan berganti judul menjadi ' cinta dua dunia.' Hmmm, mungkin author harus mencoba membuat judul dan cerita seperti itu, benar kan?


" maaf, gue gak bisa bantu apapun, jadi tolong Lo jauh jauh dari gue ya, gue gak mau berurusan sama segala macam bentuk arwah yang ada di dunia ini, bikin eneg sekaligus parno tahu gak sih, udah ya, Lo mending pulang ke dunia Lo ya," ujar Radith dengan nada memelas, bayangan di depannya menatap Radith dengan bingung.


" Lo masih hidup? Tapi kok Lo bisa berkeliaran di sini segala jadi arwah sih? Kenapa gak kemari sama badan Lo? " tanya Radith yang membuat arwah itu menunduk lesu dansedih. Arwah itu seakan memiliki beban yang dia tanggung sendiri.


" Harusnya gue tuh udah meninggal. Tubuh gue mengidap leukimia stadium akhir yang membuat gue udah koma lebih dari satu tahun, harusnya gue udah meninggal dari dulu, tapi keluarga gue ngotot buat pertahanin gue dengan segala pengobatan yang bikin tubuh gue kesakitan lebih lagi, tapi gue gak bisa apa apa," ujar arwah itu yang membuat Radith menjadi iba.


" Jadi Lo itu belum mati, Cuma koma? Dan tanpa bantuan alat Lo harusnya udah mati? Kenapa Lo malah mau mati dibanding hidup? Kan orang tua Lo pingin Lo hidup, harusnya Lo berusaha buat kembali ke tubuh Lo dan jadi sehat," ujar Radith menasehati arwah itu, arwah itu menggeleng lemah sebagai jawaban.


" Setiap kali kemo terapi atau radiasi, gue ngerasain sakit yang luar biasa, rasanya panas, bahkan kepala gue sampai botak karna Rambut gue udah rontok semua. Waktu gue keluar dari badan gue, gue ngerasain rasa lega ayang luar biasa. Rambut gue balik lagi, dan kulit gue gak melepuh atau bengkak kayak sebelumnya. Gue tahu harsunya gue berusaha untuk sembuh, tapi mau gimana lagi, lebih enak kayak gini," ujar arwah itu mengedikkan bahunya.


" Gue gak puas sama jawaban Lo, Lo tahu kan berapa biaya yang dikeluarin sama ortu Lo buat pengobatan Lo? Dan Lo dengan santainya bilang Lo udah nyerah dan lebih nyaman hidup sebagai arwah kayak gini? Lo bercanda kan?" tanya Radith dengan wajah tak percayanya.


" Gue udah berjuang lebih dari empat tahun, dari leukimia ini stadium dua sampai ke stadium empat akhir, semua rasa perih juga udah gue tahan walau aslinya gue capek, gue kesakitan banget, tapi gue gak mau keluarga gue jadi sedih, makanya gue masang wajah kuat di depan mereka, tapi ternyata hal itu yang membuat mereka berjuang lebih keras buat sembuhin gue."


" awalnya gue mau berusaha balik ke tubuh gue, tapi beberapa hari lalu gue tiba – tiba ada di sebuah taman yang cantik banget, dan ada orang yang bilang ke gue kalau gue bisa aja tinggal di tempat itu selamanya, tanpa rasa sakit sedikitpun, dan gue setuju, tapi ternyata keluarga gue gak mau lepasin gue, jadilah gue terjebak di antara dua dunia ini."


Radith terdiam seketika. Sesakit itu kah seseorang melawan kanker? Jika seperti itu, apakah Blenda juga mengalami hal yang serupa? Apakah Blenda merasa sakit yang luar biasa setiap kali gadis itu menjalani kemoterapi atau radiasi untuk mengobati kankernya? Namun apakah Radith harus melepaskan gadis itu pada akhirnya? Tidak, Radith tak siap, untuk kali ini biarlah Radith egois dan meminta Blenda untuk bertahan.


" Terus Lo mau apa dari gue? Kalau gue bisa bantu pasti gue bantu, tapi gue gak bisa jamin kalau gue bisa turutin semua itu," ujar Radith akhirnya. Lelaki itu tak tega membiarkan arwah ini menjadi penasaran dan tidak mendapat kebahagian pada akhirnya.


" Gue mau minta tolong Lo utuk bujukin keluarga gue biar lepasin gue, gue udah gak berharap atau bahkan bisa di bilang gak mau berjuang lagi untuk hidup, gue ngerasa enak banget di taman itu, gue mau kesana dan tinggal disana lagi, dan untuk hal itu, gue harus bisa bikin keluarga gue iklasin gue," ujar arwah itu yang diangguki oleh Radith.


" Gue bakal tolongin Lo, tapi gue gak bisa janji mereka bakal dengar gue, nama Lo siapa? Terus Lo dirawat dimana?" tanya Radith dengan nada lembutnya, arwah itu menatap Radith dengan tatapan tak percaya karna kelembutan Radith yang tiba – tiba itu.


" Kok Lo jadi lembut gitu sih? Kalau gue baper gimana? Masak nanti akhirnya gue suka sama manusia, kalau gue manusia mah gak masalah," ujar arwah itu yang membuat Radith memandangnya aneh, namun lelaki itu segera mengubah air mukanya.


" kalau Lo mau suka sama gue dengan sah dan gak melanggar hukum alam, Lo berusaha deh balik ke badan Lo, terus Lo sembuh, baru Lo bisa suka sama gue dengan baik dan benar," ujar Radith sambil memainkan alisnya.


" Dasar ganjen, udah punya pacar juga, mana tadi cewek Lo cantik banget pula, harusnya Lo tuh bersyukur bisa jadi pacar dia," ujar arwah itu yang malah Lupa dengan tujuannya menghampiri Radith.


" Dia bukan pacar gue, dia Cuma teman kelas gue," jawab Radith yang entah mengapa mau saja menjelaskan hal yang tak penting itu pada gadis di depannya, padahal biasanya lelaki itu enggan menjawab hal yang tak penting seperti ini.


" Oh ya? Tapi yang gue lihat Lo itu sayanag sam adia, bahkan waktu dia jambak Lo, kelihatan loh kalau Lo saynag sama dia, kenapa gak jadian aja? Keburu dia diambil orang lain loh," ujar arwah itu yang membuat Radith terdiam.


" Lo jadi minta bantuan gak sih? Kok malah jadi gak penting gini?" tanya Radith yang tak mau membahas Luna lebih lanjut.


" Eh iya, mau mau, baperan amat sih, nama gue Elena, gue dirawat di rumah sakit ini, di kamar mawar nomor dua puluh tiga, ruangan khusus buat pengidap kanker, mohon bantuannya ya," ujar arwah itu yang diangguki oleh Radith.


" Radith, nih anggurnya, gue beli sekilo nih dith, Lo harus habisin smeua loh ya, gue udah muter – muter buat cari buah ini," ujar Luna yang tiba – tiba masuk ke dalam kamar inap Radith sambil membawa kresek berisi buah anggur.


" Gilak! Banyak banget, Lo mau jual lagi tuh anggur?" tanya Radith dengan kaget, sementara arwah itu melihat Luna dan Radith secara bergantian lalu menatap Radith dengan senyum nakalnya.


" Lo pergi sekarang atau gue gak mau tolongin Lo," ujar Radith pelan yang membuat arwah itu cekikikan.


" Iya – iya, gue pergi dulu, kalian jangan berbuat yang tak baik ya disini, pepet terus, tembak sekalian kalau gak mau dia diambil orang lain," ujar arwah itu sambil mundur teratur dan mencolek Luna, namun dia hanya menembus gadis itu dan pergi dari ruang itu dengan menembus pintu yang membatasi ruang itu.


" Dith, kok gue rasanya merinding ya, teus tadi ada hawa dingin gitu lewat, Lo ngerasain juga gak?" tanya Luna yang membuat Radith sedikit gelagapan karnanya.


" Kena AC kalik, gue malas naikin suhunya, mungkin karna itu jadi ngerasa dingin," ujar Radith yang diangguki oleh Luna, gadis itu mengangguk dan membuka kresek berisi anggur itu dan mulai memakannya.


" eh, itu kan buat gue, kok Lo yang makan?" tanya Radith dengan nada sewot. Luna terkejut dan memandang anggur ditangannya lalu tersenyum dengan pipi yang menggembung.


" berbagi itu indah dith, hehehe."