
Suara langkah kaki membuat ruangan yang menggema itu menjadi sedikit ramai. Ketukannya yang berirama menimbulkan kesan lain bagi siapapun yang mendengar. Langkah kaki itu memasuki sebuah ruangan bertuliskan nama dokter yang mengajaknya untuk bertemu tadi pagi. Orang itu mengetuk pintu dan kemudian duduk di kursi yang disediakan di sana.
" Saya sudah memberitakukan apa kejadiannya dan bagaimana resiko ke depannya. Kita harus segera melakukan perawatan intensif sebelum semua terlambat dan menjadi sia – sia, kamu tahu kan ini bukan masalah yang sepele, saya gak bisa ambil resiko sebesar ini," ujar dokter itu yang langsung pada intinya tanpa berniat berbasa – basi dengan Darrel, lelaki itu mendesah cemas atas apa yang sudah dikatakan oleh dokter.
" Dokter, saya gak bisa lakuin itu semua, kita gak bisa lakuin perawatan itu segera, kondisinya gak boleh terbongkar sekarang dok, saya gak mau mereka yang tahu malah sedih dan susasanya bertambah rumit, apa bisa minta obatnya aja dok?" tanya Darrel berusaha bernegosiasi dengan dokter itu, doter itu menggeleng lemah sebagai jawaban.
" Tidak akan pernah bisa disembuhkan, yang bisa kita lakukan adalah upaya pencegahan agar tidak kambuh, tapi kalau pihak keluarga dan pasien sendiri tidak mau, kami dari pihak rumah sakit tentu tidak bisa memaksa. Kamu pasti tahu betul apa yang terbaik untuk kamu sendiri," ujar dokter itu yang membuat Darrel menghela napasnya.
" Maaf dokter, tapi sungguh, jangan sekarang, saya gak bisa ambil semua resiko tersebut. Saya sudah berkonsultasai sama bang Jordan juga, kami masih punya cukup waktu karna kondinya masih belum separah itu. Biarkan kami pakai waktu itu untuk mengungkapkan semuanya."
" Semua tergantung pada kondisi pasien, kalau pasien dalam keadaan sehat dan kuat, tentu tidak akan kambuh atau apapun, tapi kalau pasien dro[, banyak kasus yang menyebabkan kematian mendadak,. Apa kamu siap dengan semua resiko ini?" tanya Dokter itu mencari keyakinan di mata Darrel. Lelaki itu mengangguk paham dan pamit dari sana
Darrel keluar dari dalam ruangan dan langsung memegangi kepalanya yang terasa berat dan pening, meski begitu dia tetap melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu segera. Namun dia menabrak seseorang dan terjatuh, karna kondisi kepalanya pusing, lelaki itu tak bisa menahan tubuhnya dan jatuh seketika.
" Kak Darrel? Lo ngapain di sini? Njir, ketabrak gitu aja langsung jatuh Lo, lemah amat." Darrel mengenal suara itu, lelaki itu menengok ke atas dan mendapati wajah yang sangat familiar baginya. Gelagat Darrel langsung berubah, seakan dia adalah kucing yang tertangkap basah mencuri ikan asin.
" Lo ngapain di sini?" tanya Darrel dengan cepat dengan nada gugupnya. Radith yang melihat itu langsung emngernyitkan dahinya dan menatap Darrel dengan curiga. Dia langsung tahu ada sesuatu yang tak beres pada lelaki itu, tapi apa yaang disembunyikannya? Apakah sesuatu yang penting? Ah, apa urusan Radith untuk mengetahui itu semua? Asal tak ada hubungannya dengan Radith, itu bukan urusan Radith.
" gue mau ketemu petugas yang ngasih tahu syarat itu, katanya gue harus ke sini sekarang, Lo sendiri ngapain ke sii kak? Ngapelin dokter muda? Atau suster yang ada di sini?" tanya Radith dengan alis yang terangkat. Darrel memandang Radith dengan malas.
" Bantuin gue bangun kek, gue tuh lagi pusing, nabrak Lo pula, jadi tambah pusing nih gue. Gue buru – buru, gue mau pergi, bantuin gue bangun ih," ujar Darrel mengulurkan tangannya. Radith memandang tangan itu tanpa reaksi, tanpa menyambut tangan itu, bahkan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Lelaki itu langsung berjalan pelan melewati Darrel yang menatapnya dengan cengo
" Lo bangun aja sendiri, Bye kak, semangat," ujar Radith melambaikan tangannya, membuat Darrel berdecak kesal, namun tak membantah apapun yang dikatakan oleh Radith. Lelaki itu bangun sendiri dan merasakan dunia berputar untuk sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya untuk pulang dan kembali melanjutkan tidurnya.
" Nyesel gue banyak gaya mau lembur semua berkas itu, jadi ngantuk banget gue, pusing lagi, kalau gue kecelakaan gimana nih? Gue telpon sopir aja deh ah," ujar Darrel mengambil ponselnya dan menghubungi sopir di rumahnya untuk menjemputnya dan membawa mobilnya kembali ke rumah. Darrel menunggu dengan sabar di depan lobby.
Lelaki itu melihat seorang pria memakai kursi roda di dorong oleh orang lain, sepertinya mereka sepasang kekasih. Entah mendapat pikiran dari mana, Darrel langsung menghampiri orang itu dan menatap keduanya bergantian.
" Kenapa mas?" tanya seorang gadis yang mendorong kursi roda itu, sementara lelaki yang di dorong hanya menatap Darrel dengan tatapan kosong.
" Ini pacarnya ya mbak? Sakit apa?" tanya Darrel dengan nada sopan, tak ingin menyinggung keuda orang yang ada di depannya. Sang lelaki hanya melengos, sementara gadisnya hanya tersenyum dan menghela napas pelan.
" Kanker kaki mas, makanya harus pakai kursi roda sekarang selama perawatan," ujar gadis itu yang membuat Darrel melongo.
" Kanker kaki? Memang ada ya? Kok saya malah baru dengar ya Mba?" tanya Darrel dengan penasaran.
" Saya juga sama kayak masnya waktu tahu pertama kali, ternyata da pula kanker kaki, kata dokter memang kanker ini termasuk langka karna gak semua orang ngeh kalau ada. Kebanyakan orang kan tahu kanker ya yang umum aja, kayak kanker otak, kulit, rahim, servik, leukimia, dan sebangsanya. Kata dokter beberapa kasus, kanker juga nyerang ke kaki, ya salah satu kasus tunangan saya ini mas."
Darrel membulatkan mulutnya paham dan mengerti dengan penjelasan orang itu. Darrel hendak menjawab, namun mobil berhenti di depannya dan beberapa orang turun dari mobil itu, membuat Darrel mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut tentang kanker kaki tersebut. Mungkin dia akan mencari tahu sendiri lewat internet setelah ini.
" Maaf mba, mas, ternyata saya udah dijemput, makasih ya mba sharingnya, nambah juga wawasan saya. Semoga pengobatan masnya lancar dan sembuh total, semoga kalian selalu bahagia ya, saya pamit dulu," ujar Darrel yang diangguki oleh dua orang itu. Darrel masuk ke dalam mobil dan langsung memejamkan matanya, berbagai pikiran langsung menghantui matanya yang tertutup.
" Tuan muda, kita langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya supir itu yang membuat Darrel kembali membuka matanya meski hanya sedikit.
" Langsung pulang aja pak, capek banget saya, mau istirahat aja, kalau nanti ada siapapun yang nyari atau telpon, kasih tahu aja ya pak kalau saya lagi gak bisa diganggu, kepala saya pusing banget, takutnya malah jadi drop nanti," ujar Darrel yang diiyakan oleh orang yang ada dihadapannya. Sopir itu mengangguk dan langsung menjalankan perintah tuannya dengan patuh.
*
*
*
" Kamu udah siapin semua? Dipastiin dulu ada yang ketinggalan gak? Susah ngirim kesana nya kalau sampai ada yang ketinggalan." Sedari tadi Radith ribut menyiapkan keperluan Blenda karna ternyata gadis itu pergi dua hari lagi ke US, sangat jauh dari Indonesia. Bahkan mereka tetap memerlukan waktu sepuluh jam perjalanan meskipun memakai pesawat pribadi.
Hal yang membuat Radith kembali curiga karna bahkan Blenda dan keluarganya difasilitasi dengan transportasi pribadi untuk sampai di negeri paman Sam itu.
" Aneh banget ya Dave, kok ada gitu loh program amal yang sampai semewah dan sespesifik ini. Masak bunda sama ayah juga dikasih apartemen sendiri, bahkan ayah ditawarin buat jadi pegawai disana Loh, dan kamu tahu, yang neghubungin ayah itu mr. Wilkinson sendiri. Keren gak tuh? Ayah di telpon sama bos besar," ujar Blenda dengan semangat.
" Tapi tetep aja kepikiran. Pantes aja ya rejekinya lancar banget gitu, kegiatan amalnya gak main – main, kayak udah gak tahu lagi gitu uangnya dipakai buat apa, kamu harus tiru tuh dith, kalau punya uang jangan lupa dibuat amal juga, biar kita didoain, terus makin lancar deh rejekinya."
" Iya, iya, kamu mah kok jadi berisik masalah gii sih? Lagipula tuh ya, emang tuan Wilkinnya baik kayak malaikat, tapi duitnya dihambur – hamburin sama anak ceweknya. Gak tahu rasanya kekurangan uang, nah aku gak mau jadi orang kaya tuh ya karna itu, nanti anakku jadi manja kayak Luna tuh," ujar Radith dengan nada kesalnya.
" Kok kayak Luna? Kan anak kamu? Kecuali kalau ibunya Luna, baru ada kemungkinan mirip Luna, gimana sih kamu, hehehe," ujar Blenda dengan bercanda, namun Radith tahu Blenda mengucapkannya dengan nada yang tak enak untuk didengar.
" Kenapa sih kamu harus ngelakuin hal yang gak kamu suka? Kenapa kamu harus bersikap baik – baik aja disaat sebenernya kamu terluka? Kamu mau jadi pahlawan yang jodohin aku sama dia sementara kamu terluka? Udah gak jamannya yang kayak gitu Blen. Kamu bunuh diri kamu sendiri buat orang lain, gak logis. Aku gak suka kamu kayak gitu lagi," ujar Radith dengan serius membuat Blenda menunduk.
" Memang salah ya Dave aku ngebiarin kamu bahagia? Aku gak papa dith kalau kamu gak sama aku, aku gak papa kalau bahagia kamu memang gak sama aku, daripada kamu bingung sama hati kamu sendiri, mending kamu pergi sama dia, aku gak papa, toh aku sendiri gak tahu apa yang bakal terjadi sama aku ke depannya. Aku gak mau kamu nungguin aku."
" Aku gak peduli Blen. Aku bakal tunggu kamu sampai kamu pulang, kamu udah jadi bagian dai hidup aku sejak kamu kecil, sejak kita kecil, kamu itu spesial buat hidup aku.."
" Iya, spesial dengan kamu yang sayang sama aku kan? Aku juga tahu dith kamu sayang sama aku, tapi aku pun tahu kamu sayang sam aku sebagai adik, kamu gak ada rasa sayang lebih dari itu ke aku. apa kamu masih gak bisa sadar hal itu dith? Sekarang kamu coba tutup mata dith."
Radith menatap Blenda dengan heran. Kenapa tiba – tiba Blenda memintanya menutup mata? Saat ini bukan saat yang tepat untuk bermain, banyak yang perlu disiapkan sebelum keberangkatan Blenda. Bahkan berkat Mr. Wilkinson, mereka bisa mengurus passport nanti, yang penting Blend abisa berangkat dan menjalani pengobatan dulu.
" Tutup mata kamu," ulang Blenda yang kini sedikit lebih galak. Radith menghela napasnya dan menutup matanya, mengikuti instruksi Blenda yang sebenarnya tak dia mengerti, biar cepat saja dia menuruti apa yang Blenda katakan.
" Sekarang kamu tarik napas pelan – pelan, kamu bayangin siapa yang kamu suka, siapa yang ada dipikrian kamu waktu kamu tutup mata. Orang itu yang sebenarnya kamu sayang sebagai hal yang spesial, kamu gak perlu bilang ke aku, tapi kamu bilang ke diri kamu sendiri, siapa orang itu." Radith mengikuti instruksi Blenda meski dia yakin tak akan ada yang berubah.
Lelaki itu menegakkan tubuhnya saat melihat bayangan yang ada di matanya. Bagaimana mungkin ada bayangan itu? Kenapa dia tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya. Mengapa.. mengapa sosok itu yang ada di hadapannya?
" Kamu bakal lihat orang yang kamu sayang dalam kegelapan, orang yang buat kamu nyaman dan buat kamu ngerasa aman, orang yang selalu ada dipikiran kamu. Tanpa kamu sadar, dia atau mereka bakal kelaur sendiri dipikiran kamu, bahkan tanpa bisa kamu kendalikan. Lakukan ini dith kalau kamu bimbang tentang hati kamu, tentang kamu yang harus memilih pilihan diantara dua orang."
Radith terdiam dan membuka matanya, menatap Blenda dengan tatapan tak percaya, lalu menunduk seketika saat menyadari apa yang terjadi. Blenda bahkan langsung tahu apa jawabannya saat melihat perubahan ekspresi Radith. Gadis itu mengangguk puas dan mendekat ke arah Radith dengan menggerakkan kursi roda itu sendiri.
" Kmau udah gak ragu kan sama hati kamu? Itu alasan aku mau putus sama kamu Dave, kenapa susah banget buat kamu sadar semua hal itu dith? Bahkan aku langsung tahu kalau hati kamu itu buat dia. Aku memang egois karna memakai alasan kamu ada di sisi aku biar aku sembuh, pahadal hal itu gak saling berhubungan." Blenda diam sejenak untuk melanjutkan kata – katanya.
" Tapi setelah banyak hal yang kita lalui, setelah beberapa kali kamu cerita ke dia, aku sadar Dave, cinta memang gak pernah bisa dipaksain, aku gak bisa maksa kamu buat terus ada di sini sementara aku tahu kalau kamu bener – bener suka sama dia. Aku gak mau egois lagi, apalagi setelah ini aku bakal fokus buat kesembuhan aku, aku gak akan tahan kamu di sisi aku lagi."
" Jadi, ayo kita putus Dave, kamu mantab in hatimu buat siapa, kamu pastiin rasa itu buat siapa, kalau memang orang itu aku, kita bakal ketemu lagi suatu hari nanti, dan kamu bakal balik lagi sama aku. tapi kalau selama aku pergi kamu bener – bener yakin kalau kamu suka sama Luna atau kamu temuin gadis lain lagi, aku gak akan kenapa – napa, kita bakal bahagia lewat jalan yang berbeda."
Radith tak kuasa menahan dirinya untuk memeluk Blenda. Gadis itu sudah sepenuhnya berubah. Dia dulu hanya mau menangnya sendiri untuk urusan cintanya, bahkan terkadang menggunakan cara yang kekanakan tak seperti pribadinya untuk memancing perhatian Radith.
" Kamu udah berubah, adek kecil aku sekarang udah besar, udah bisa lebih dewasa dari sebelumnya, aku bangga sama kamu, aku bakal selalu sayang sama kamu Blen, semua gak akan berubah walau aku ketemu sama jutaan orang lain di luar sana, makasih ya kamu udah ada di hidup aku, makasih kamu udah lengkapi hidup aku, makasih udah jadi bagian dariitu semua."
" Jadi kamu setuju kita putus kan Dave? Aku balik lagi jadi adik kamu, dan kamu balik lagi jadi kakak yang bener- bener perhatian sama aku, bukan karna aku sakit tapi karna aku Blenda. Janji?" tanya Blenda dengans enang dan mengulurkan kelingkingnya. Radith menyambut kelingking itu dan kembali memeluk Blenda sambil mengecup puncak kepala gadis itu.
" Aku bakal tunggu kamu pulang, nanti kalau kamu pulang, aku bakal kenalin orang yang udah gantiin posisi kamu, kamu gak akan marah atau cemburu kan?" tanya Radith yang malah sengaja menggoda Blenda, Blenda menggelengkan kepalanya dnegan lucu.
" Asal ceweknya lebih cantik dan lebih baik dari aku gak masalah, tapi kalau ternyata lebih buruk, ya aku bakal ketawa pakai toak di depan kamu, ketawa puas sambil salto guling – guling, hahahha," ujar Blenda dengan riangnya.
" Dasar nyebelin," ujar Radith dengan kekehan di bibirnya. Dia lega, semua akan berakhir dengan baik, dia lega Blenda memiliki hati yang tegar serta pikiran yang dewasa. Gadis itu terluka, Radith tahu itu, namun Radith harus berpura – pura bahagia agar Blenda tak meluapkan rasa sedihnya.
Lebih baik melihat gadis yang disayanginya tersenyum bahagia dibanding melihat tangisnya, apalagi Radith yang menjadi alasan tangis itu. Sungguh, Radith tak rela.
*
*
*
Next Part jam 12 siang