Hopeless

Hopeless
Chapter 153



" Aku gak mau Dave, aku gak mau pergi keluar negeri," ujar Blenda yang sedari tadi keukeuh sambil menangis karna kesakitan, namun dia tetap menolak untuk melanjutkan pengobatan ini.


" Percuma Blenda pergi ke luar negeri, Cuma habisin uang aja, Blenda gak mungkin bisa sembuh, malah Cuma habisin uang bunda aja, Blenda tahu kalau rumah kita udah dijual buat nutup biaya rumah akit, Blenda juga tahu Dave sampai harus kerja karna bantu biaya pengobatan. Blenda gak mau ngerepotin lebih jauh lagi bun, Dave, Blenda gak mau."


Gadis itu berteriak frustasi ditengah rasa kesakitan yang dia alami, Radith memandang Blenda dengan prihatin, lelaki itu tahu Blenda akan merasa seperti ini jika tahu kondisi keluarganya yang jatuh untuk biaya pengobatannya, namun hal itu bukanlah masalah besar bagi bunda dan ayah karna yang paling penting adalah keselamatan Blenda.


" Kalau kamu kasihan sama Bunda, kamu harus sembuh, kamu gak boleh biarin uang yang udah bunda gunain buat kesembuhan kamu jadi sia – sia, justru yang kayak gitu tuh lebih gak berguna, harusnya kamu motivasi dirimu sendiri buat sembuh, tumbuh dewasa, dan balikin semua uang bunda, dengan kamu nyerah gini, uang bunda gak akan balik lagi," ujar Radith yang terdengar pedas, namun cukup untuk menampar Blenda untuk sadar.


" Maaf Bunda kalau Dave kasar, Dave Cuma gak suka kalau Blenda berubah jadi manja, Rewel dan pesimis kayak gini, Dave gak kenal sama Blenda yang seperti itu, Blenda yang Dave kenal kebalikan dari semua yang Dave lihat," ujar Radith dengan tegas. Lelaki itu ingin membuat akal sehat Blenda kembali dan optimis untuk sembuh.


" Bunda, maafin Blenda udah egois dan gak mikirin perasaan Bunda yang berjuang keras buat kesembuhan Blenda, Blenda setuju untuk berobat di luar negeri, Blenda bakal berjuang buat sembuh dan gak ngerepotin bunda lagi nantinya," ujar Blenda saat tangisnya reda dan menatap Bundanya dengan wajah yang bersemangat, Radith ikut tersenyum mendengar hal itu, akhirnya gadisnya kembali lagi.


" Ini baru anak bunda, Bunda gak mau kamu nyerah Cuma karna masalah biaya, bahkan kalau j]harus bertukar nyawa atau posisi, Bunda bakal lakuin itu buat kamu, udah susah payah bunda ngelahirin dan ngebesarin kamu, bunda gak akan biarin kamu pergi gitu aja dari dunia ini, gak iklas bunda," ujar Bunda yang mengikuti cara Radith untuk menyemangati putrinya.


" Bunda kok jadi ikut – ikutan Dave? Gak pantes ah bund berlaku kejam gitu, bunda kan baik hati, gak kayak Dave," ujar Blenda menjulurkan lidahnya ke arah Radith, membuat Blenda menatap anaknya dengan geli sekaligus gembira karna anaknya yang ceria dan optimis sudah kembali.


" Iya aku kejam iya, yang penting bunda mah sayang sama aku, ya kan bun? Hahahha," ujar Radith yang malah tertawa renyah. Mereka mengobrol banyak sebelum akhirnya Blenda tertidur karna efek obat yang dia makan. Bunda langsung menghela napas saat melihat Blenda yang tidur dengan tenang.


" Sebenernya bunda bingung Dave, uang bunda dan ayah udah bener – bener habis, kami harus bagaimana lagi untuk menutup semua? Bunda bener – bener pusing, tapi bunda gak mau nyerah untuk Blenda," ujar Bunda dengan lirih, Radith sampai terdiam karna melihat Bunda begitu rapuh saat Blenda terlelap.


" Kita doa sama – sama ya Bun, pasti ada jalan buat Blenda, Dave juga bakal cari cara buat masalah biaya ini, kita sama – sama usaha dan doa ya Bun, Dave pamit dulu bun, besok Dave kesini lagi," ujar Radith dengan lembut dan memegang tangan Bunda. Bunda mengangguk dan tersenyum, mengulurkan tangannya agar dicium oleh Radith. Radith langsung pergi dari sana untuk pulang ke rumahnya.


*


*


" Lo tahu gak dimana bisa dapat uang cepet? Gue bener – bener butuh uang buat pengobatan Blenda, gue mau bantu Bunda, Lo kan orang kaya tuh Lun, Lo bisa bantu gue nyari lowongan gitu gak?" tanya Radith saat sampai di rumah dan langsung menelpon Luna. Lelaki itu tak bisa menenangkan pikirannya untuk sekadar berbasa – basi.


" Kalau kerjaan gue gak bisa bantu dith, tapi kalau masalah biaya pengobatan gue bisa, rumah sakit bokap ada program lawan kanker, ngasih bantuan – bantuan gitu, Lo kesini aja, gue panggil petugas yang berwenang ke rumah gue," ujar Luna dengan cepat, karna Luna tahu Radith serius dan sangat terburu – buru.


" Oke gue ke rumah Lo sekarang," ujar Radith yang langsung mematikan sambungan telponnya. Luna langsung menggeser – geser ponselnya dan mencari nomor seseorang yang ada di sana.


" Abang, Luna butuh bantuan."


*


*


" Syarat yang digunakan hanya surat keterangan dokter bahwa benar pasien mengidap salah satu jenis kanker ganas, fotokopi kartu identitas, fotokopi kartu keluarga dan surat persetujuan orang tua karna pasien akan ditempatkan ke rumah sakit terbaik, pihak keluarga juga boleh ikut mendampingi dan tinggal di apartemen yang sudah kami siapkan, meski apartemen sederhana, semua biaya akan kami tanggung seratus persen."


Radith terkejut mendengar penjelasan petugas yang ada di rumah Luna ini, mana mungkin ada yang semudah ini? Apakah sungguh rumah sakit Wilkinson sedang membuka amal? Tapi kenapa malah Radith menjadi curiga?


" Ini memang pogram sosial yang dijalankan oleh Mr. Wilkinson bersama beberapa rumah sakit ternama di dunia," ujar petugas itu karna melihat Radith yang ragu, dia melirik Luna yang juga enatapnya dengan cemas, berhrap Radith tak curiga lagi untuk kali ini.


" Baikalh, saya akan segera siapkan semua persyaratan yang berlaku, terimakasih untuk waktu, kesempatan dan informasinya, saya sangat bersyukur dengan adanya program amal seperti ini, banyak mereka yang menderita kanker dan tak memiliki biaya masih memiliki harapan untuk sembuh, sekali lagi terimakasih," ujar Radith dengan lancar dan sopan. Orang dihadapannya mengangguk puas dan menjabat tangan Radith yang terulur.


" Oh iya, prosesnya berapa lama ya pak?" tanya Radith kemudian.


" Tidak lebih dari satu minggu setelah mengumpulkan persyaratan, karna kami harus mengonfirmasi data, dan mencarikan rumah sakit yang sesuai dengan kondisi calon pasien, sehingga penanganannya dapat maksimal dan tak memerlukan waktu yang lama," ujar orang itu yang membuat Radith mengangguk lega. Setidaknya Blenda tak perlu menunggu lebih lama lagi dengan resiko yang tinggi.


" Saudara tidak perlu khawatir, karna ada penandatanganan kontrak untuk pertanggung jawaban dari rumah sakit kami terhadap program ini sehingga kami akan bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu yang di luar prosedur, jadi pihak calon pasien tidak perlu khawatir," ujar orang itu yang membuat Radith makin lega dan yakin ini adalah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan setelah doa dan usaha mereka mencari jalan.


" Mending Lo buru – buru kasih tahu keluarga Blenda tentang ini, biar bisa segera di proses, mana tahu surat keputusan dari dokternya lama atau perlu waktu buat proses gitu kan? Buru gih," ujar Luna yang diangguki oleh Radith.


" Kalau gitu gue pamit dulu ya Lun, makasih banyak Lo udah bantu gue, gue gak tahu lagi harus gimana kalau gak ada Lo, makasih banget, Lo emang temen gue yang paling abik," ujar Radith dengan tulus dan nada lemas, mungkin memang lelaki itu menguras tenaga dan pikirannya untuk Blenda.


" Hati – hati di jalan, jangan malah Lo yang kecelakaan, rumah sakit gue gak buka program buat yang kecelakaan," ujar Luna yang membuat Radith tertawa dan mengiyakan pesan gadis itu. Lelaki itu keluar dari rumah Luna dan menaiki motornya menuju rumah sakit untuk segera menyampaikan hal ini pada Bunda.


Luna melihat Radith pergi langsung mendesah lega dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang ynag membantunya. Untung saja orang itu tidak keberatan dengan permintaan Luna, orang itu malah setuju dengan niat Luna yang mau membantu orang lain, langsung mengarahkan apa yang harus Luna lakukan dan akhirnya menjadi seperti yang Luna harapkan.


" Abang, makasih ya udah mau bantu Luna," ujar Luna dengan senyum yang merekah meski wajah Jordan tak melihat ke arahnya dan fokus pada monitor yang ada di depannya. Lelaki itu meletakkan mouse yang dia pegang dan melihat ke arah Luna.


" Abang belum bilang ke daddy loh, semoga aja boleh sama daddy, kalau gak ya berarti kamu harus jual semua koleksi kamu buat bayar rumah sakitnya," ujar Jordan yang membuat Luna melongo, ternyata daddynya tak tahu tentang rencana Luna yang mau membantu Blenda. Bagaimana jika daddy nya tak setuju dan dia harus berkorban?


" Abang harus bilang sama Daddy sekarang," ujar Luna dengan nada suara yang keras, membuat Jordan menutup matanya karna lengkingan itu membuat telinganya berdengung.


" Tenang aja, kalau gak dibolehin sama Daddy tinggal abang jual nih perusahaan pusat , pasti lebih dari cukup buat bayar biaya rumah sakit selama setahun sekalipun," ujar Jordan yang membuat Luna tertawa. Benar juga, abangnya akan membantunya mendapat ijin dan dukungan dari Daddynya, apalagi kini bang Jordan bisa mengancam Daddy nya dengan perusahaan pusat yang kini dia kelola.


" Pokoknya harus boleh, ini kan pertama kalinya Luna minta uang ke Daddy buat bantu orang, biasanya Cuma buat shopping aja, masak gak boleh? Harusnya daddy mah terharu Luna udah mendingan, udah lebih baik dari sebelumnya, abang setuju sama Luna kan?" tanya Luna dengan puppy eyes yang membuat siapapun gemas, Jordan tertawa dan menggelengkan kepalanya, Luna tetaplah Luna,gadis manja yang selalu ngotot untuk dipenuhi keinginannya.


" Iya iya, pasti boleh, papa kan juga bingung mau habisin duitnya gimana, makanya pasti boleh kalau b uat kegiatan amal ini, apalagi yang minta anak kesayangannya, beeuhhh, gak mikir dua kali deh Lun, jadi kamu gak usah khawatir, mending kamu sekarang mesra – mesra an sama Darrel sebelum kalian LDR tiga tahun," ujar Jordan yang langsung mengalihkan pembicaraan dan membuat Luna merengut seketika.


" Kok bang Jordan tahu sih kalau kak Darrel mau berangkat ke Jepang? Jangan – jangan abang juga udah tahu dari awal kalau kak Darrel ikut tes dan pelatihan?" tanya Luna dengan wajah sinis yang di buat – buat.


" Iyalah, apapun yang dia lakukan tuh pasti ijin dulu ke abang, kalau abang restuin baru deh dia gerak, malah abang keselnya sama Radith, udah tahu Darrel ke singapore, malah ngebiarin kamu nyiapin pesta ulang tahun buat Darrel, emang minta ditendang empedunya," ujar Jordan yang membuat Luna menggeleng tak percaya.


" Abang jaddi juga tahu kalau Luna nangsi – nangis kayak orang gila waktu nungguin kak Darrel? Kenapa kalian tega gak kasih tahu Luna dan malah biarin Luna kayak gitu? Ih nyebelin banget sih kalian, gak tahu ah," ujar Luna yang langsung emnutup sambungan telpon dan menutup MacBook nya dengan kasar.


" Berasa kayak orang bodoh gue harus kayak gini sendirian, tahu gitu gue pura – pura bego tentang ulang tahun kak Darrel, astaga, kok gue jadi emosi gini ya? Sabar Luna sabar, anak manis yang sabar pasti disayaang sama kak Darrel," ujar Luna mengelus dadanya sendiri dan membuka lagi MacBook itu dan menguhungi Darrel namun ternyata Darrel masih offline.


Gadis itu mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Darrel melalui panggilan Video. Cukup lama Luna memangil barulah Darrel menjawab, Luna terkejut karna Darrel menatap ponselnya dengan mata yang terpejam, sepertinya lelaki itu baru bangun tidur.


" Udah jam berapa ini? Kok baru bangun sih?" tanya Luna dengan galak, lelaki itu tampak tak nyaman dengan suara teriakan Luna, namun lelaki itu tak protes sama sekali. Dia hanya mengusap wajahany agar matanya dapat terbuka.


" Aku barusan tidur sayang, nih lihat mata aku yang menghitam ini, gak ganteng lagi aku," ujar lelaki itu dengan suara serak, Luna langsung fokus pada kelopak mata Darrel yang memang menghitam, memang apa yang lelaki itu lakukan sampai baru sempat tidur pagi ini?


" Aku habis lembur masalah perusahaan papa, demi memastikan martabat keluarga Atmaja tetap aman, biar kamu bangga waktu kamu jadi nyonya Atmaja, hehehe," jawab lelaki itu yang memiringkan posisi ponselnya. Luna hendak menjawab, namun matanya lamgsung fokus ke hal lain.


" KAK DARREL TELANJANG?" Teriak Luna yang membuat mata Darrel terbuka seketika, suaranya mengalahkan suara alarm miliknya. Seketika kepalanya terasa pusing karna dia terkejut.


" Aku gak telanjang astaga, Cuma lepas baju aja, nih loh aku masih pakai boxer," ujar Darrel mengarahkan kamera ke bagian celana. Lelaki itu memakai boxer merah bertotol yang lucu, namun malah membuat Luna merasa malu.


" Pakai baju dulu ih baru telpon Luna," ujar Luna menutup matanya, meski gadis itu masih mengintip


" Kamu yang telpon aku loh btw, mana aku tahu kalau kamu keberatan, yaudah bentar deh aku pakai baju dulu," ujar lelaki itu sambil berdiri dengan kamera yang malah menyorot bagian perut kotak – kotak dengan pusar yang sangat seksi dan enak dilihat.


" Kak Darrel tuh makannya banyak, gak pernah gym, kok perutnya bagus sih?" tanya Luna tanpa sadar, Darrel langsung melihat ke arah perutnya dan menatap Luna dengan senyum yang menggoda.


" Aku tuh selalu olahraga, kamu aja yang gak tahu, eh kalau kamu mau lihat ABS aku, ya udah aku gak jadi ambil baju aja, nih kamu lihat sampai puas," ujar Darrel dengan senyum nakalnya dan langsung menjauhkan kamera hingga dada dan perutnya terpampang nyata di depan Luna.


" KAK DARREL!" Pekik Luna dengan kaget