
Kinan menumpahkan tangisannya di atas bantal. Sesak, itulah yang ia rasakan. Beginikah rasanya patah hati yang sesungguhnya. Merutuki kebodohannya yang terlalu naif, tidak mencari tahu siapa pria yang ia pacari. Dia lah yang harus disalahkan di sini.
Kata-kata orang tua Beni masih terngiang jelas di telinganya. Bagaimana ekspresi Pak Untung meremehkan Ayahnya. Meski Ayahnya, Pak Mustofa, pria yang kurang dalam tanggungjawab, bukan berarti Kinan bisa menerima begitu saja saat ayahnya dihina. Anak mana yang tidak sakit hati mendengar hal itu meski memang benar Ayahnya preman kampung yang tidak punya pekerjaan.
Ponselnya tidak mau berhenti sejak tadi, begitu sampai di gang rumah, Kinan langsung meminta Beni menghentikan motor. Tidak ingin Beni langsung mengantarnya ke depan rumah. Sudah tengah malam, entah sudah berapa banyak panggilan juga pesan dari Beni. Kinan belum sanggup untuk meladeni pria itu.
Tidak ada gunanya memaksakan hubungan yang tidak memiliki ujung. Jauh di dalam lubuk hati Kinan, ia sangat senang saat Beni menceritakan masa depan mereka. Diam-diam ia juga membayangkan membina rumah tangga bersama Beni. Jika sudah begini, yang harus mereka lakukan adalah menghapus mimpi dan angan-angan tersebut. Inilah dikatakan LDR paling menyedihkan, bukan masalah jarak, melainkan karena perbedaan.
Tidak sedikit pun terlintas di pikiran Kinan untuk meminta Beni mengikuti agamanya sebagai pembuktian cinta seperti yang dituntut orang tua Beni terhadapnya. Ia tahu rasanya sangat sakit dan Kinan tahu buka. haknya untuk menghakimi keyakinan orang lain. Meski bukan muslim yang baik, tapi baginya, agama adalah sesuatu yang sakral, yang tidak bisa digadaikan begitu saja. Pertanda bahwa di hati Kinan masih ada iman walau hanya seujung jarum. Alhamdulillah. Biarlah hubungan mereka kandas. Itu lebih baik untuk semuanya.
Kinan tidak tahu sampai kapan ia menangisi nasib hubungannya. Saat ia bangun, ia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Vita yang memilih menginap di rumah temannya tadi malam, terkejut melihat penampilan Kinan.
"Kena sengat tawon, Kak?"
Matanya sembab dan wajahnya bengkak. Hanya kemungkinan disengat lebah lah penyebabnya yang lebih masuk akal bagi Vita.
"Iya," Tidak mungkin juga Kinan mengakui kebodohannya yang menangisi kandasnya hubungan percintaannya tanpa restu orang tua Beni dan karena beda keyakinan.
"Kasih obat, sono.."
"Nanti."
"Ya sudah, aku mandi dulu. Omong-omong, tau lagu Judika yang baru tidak?"
Saat dalam kondisi sehat, normal dan suasana hati baik-baik saja, Kinan bukan gadis yang mengikuti perkembangan musik. Ia tidak suka menyanyi karena memang suaranya sangat tidak enak di dengar. Dan dalam suasana hati yang kacau, apakah ia masih sempat memikirkan lagu terbaru. Ia bahkan lupa si Judika itu siapa.
"Tidak," Kinan menggelengkan kepala dengan malas.
"Enak lho."
"Kamu makan?"
"Liriknya yang enak didengar. Mau dengar?" Sebelum Kinan menjawab untuk menolak, Vita sudah memutar lagu tersebut dari ponselnya.
Separuh nafasku ku hembuskan untuk cintaku
Biar rinduku sampai kepada bidadariku
Kamu segalanya tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka papamu juga melarang
Seketika tangisan Kinan pecah membuat Vita bingung. Kinan mengabaikan pertanyaan Vita, ia tidak mempunyai jawaban.
"Sakit kamu, Kak?" Vita mengusap lengan Kinan. Kinan menggelengkan kepala. Percuma jika dia mengatakan dimana letak sakit yang ia rasakan. Hatinya, jantungnya. Tidak akan ada obatnya selain kerelaan dan lapang dadaa.
"Sepertinya bekas sengatannya berdenyut, ya. Ke bidan sana, minta disuntik. "Ayo, Vita boncengin."
Kinan kembali menggelengkan kepala. Vita akhirnya menyerah dan memilih pergi mandi, meninggalkan Kinan yang mengulang-ulang lagu Judika.
Sementara Beni di rumahnya ngamuk-ngamuk sama orang tuanya. Hendri, saudaranya bahkan turun tangan untuk melerai pertengkaran antara Beni dan orang tuanya.
"Ibu sama Bapak tidak seharusnya to the poin seperti itu! Beni bawa Kinan kemari hanya untuk memperkenalkan sama Bapak, sama Ibu."
"Dia itu tidak baik untuk kamu. Ayahnya pengangguran, preman kampung, mereka hanya akan memperalat dirimu. Mengambil hartamu."
Tudingan ibunya langsung dibantah oleh Beni. "Ibu jangan bicara sembarangan! Kinan tidak seperti yang Ibu tuduhkan."
"Lihatlah, kau bahkan berani membantah orang tuamu setelah berhubungan dengan gadis itu. Dia membawa pengaruh buruk untukmu!"
"Ibu tahu apa tentang Kinan? Ibu tidak tahu apa-apa?"
"Kamu pikir Ibu tidak tahu apa-apa? Heh? Kamu penuhi semua kebutuhannya, beli ini beli itu. Kamu hanya dimanfaatkan. Tiap malam kamu ke rumahnya, kamu pikir Ibu tidak tahu. Sudah, hentikan pembahasan ini. Anaknya Pak Gilbert sudah lebih cocok untukmu. Kami sudah sering membahas ini dan kau juga sudah tahu itu."
"Oh, jadi maksud Ibu, Novi yang mengadu sama Ibu. Yang memberikan laporan. Kalau Ibu memang Novi jadi menantu Ibu, kenapa tidak minta Bang Ryan saja yang menikah sama si Novi."
"Ryan sudah punya kekasih..."
"Aku juga punya Kinan, Bu! Jika Ibu ingin Novi minta Bapak yang kawin sama si Novi."
"Memang anak kurang ajar kamu, Ben! Kamu ingin Bapak kamu poligami."
"Jangan ikut campur dengan masalah Beni, Bu. Beni sudah dewasa. Tahu yang baik dan yang salah."
"Kinan itu tidak ada baik-baiknya. Jangan ngeyel kamu kalau dibilang orang tua! Kau berani melangkahkan kaki ke rumahnya lagi, Ibu hapus namamu dari daftar keluarga!"
"Oh, Ibu ngancam ceritanya? Oke, Bu, Beni keluar! Makan tuh si Novi!" Beni segera berlalu meninggalkan rumahnya yang disusul saudara dan iparnya.
"Jangan terbawa emosi, Ben." Reva, kakak iparnya angkat suara. "Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Ibu sedih lho melihat kamu seperti ini."
Beni mendengus, nasehat kakak iparnya tidak masuk ke telinganya. Yang ia butuhkan hanya Kinan. Tiga hari Kinan mengabaikannya tanpa kabar. Setiap ia datang bertamu ke rumah Kinan, Vita selalu mengatakan bahwa Kinan tidak ada di rumah. Baik itu pada saat pagi, siang atau pun malam hari. Dan Vita menolak untuk memberitahu keberadaan gadis itu.
"Lagi pula, reaksi kamu ini berlebihan sekali, Ben. Pacar kamu buka satu-satunya wanita di dunia ini. Banyak di luar sana wanita yang jauh lebih cantik, lebih baik dan seiman dengan kita.."
"Eh, mulutmu diam, ya. Jangan bacot!" Beni melayangkan tatapan menghunus seraya mengayunkan langkahnya. Naik ke motor dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Rumah Kinan adalah tujuannya. Hanya Kinan yang bisa menenangkannya. Kinan tidak boleh meninggalkannya. Apa pun akan ia lakukan asal gadis itu mau kembali kepadanya. Baginya, Kinan adalah hidupnya. Titik!