
Luna menghela nafas sambil mengelap keringatnya, panasnya hari ini jauh lebih terasa dibanding biasanya, sementara gadis itu harus tetap berada di dekat panggung untuk memantau jalannya acara.
Tampak dari kejauhan Luna bisa melihat Syifa yang membisikkan sesuatu pada Tika, Meski penasaran, gadis itu memilih diam dan pura - pura tidak melihat. Toh nanti Tika yang akan memberitahukan rencana Syifa padanya.
" Lo ngerti kan perintah gue?" tanya Syifa dengan nada mengancam pada Tika. Gadis itu dengan takut mengangguk dan membiarkan Syifa pergi begitu saja dari hadapannya.
Tika segera menyingkir dan langsung menelpon Luna, gadis itu dalam bahaya lagi. Bahkan mungkin saja nyawanya akan terancam bila tidak waspada. Cukup lama Tika menunggu Luna menjawab panggilannya, namun gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya.
" Duh, Luna, buruan jawab, Lo tuh dalam bahaya," ujar Tika kembali mrnekan tombol hijau untuk menelpon nomor Luna. Pada dering ke tiga, Luna mengangkat panggilan Tika, membuat gadis itu sedikit merasa lega.
" Luna, Lo dalam bahaya, Lo jangan naik ke atas panggung karena Gue disuruh Syifa buat jatuhin lampu yang ada diatas sana biar Lo ketimpa sama lampu disko itu. Gue harus lakuin apa yang Syifa minta, jadi Lo yang harus hati - hati," ujar Tika dengan detail, membuat Luna sedikit takut dan merinding dibuatnya.
" Wah, bagus ya Lo. Ternyata Lo pengkhianat."
Tubuh Tika menegang saat suara yang sangat dia kenal berbicara dari arah belakang tubuhnya. Dilihatnya Syifa yang memandangnya sinis dan jengkel, membuat gadis itu mundur dengan ketakutan.
" Hebat ya Lo, ternyata selama ini Lo kerja sama dia. Lo gak akan nysngka apa yang bakal gue lakuin sama Ibu kesayangan Lo yang gak berguna itu," ujar Syifa dengan kejam sambil memainkan rambut panjang lurusnya.
" Coba aja, Ibu siapa yang Lo kurung? Ibu gue bahkan ada di Amerika, dan Lo terus teror gue pakai alasan basi itu," jawab Tika dengan berani sambil membalas tatapan iblis Syifa. Tanpa diduga Syifa menjambak keras rambut Tika, membuat gadis itu terjungkal dan jatuh.
" Ikut gue," ujar Syifa memaksa Tika bangun dan memaksa gadis itu untuk mengikutinya, Syifa tak lagi peduli dengan tatapan orang - orang yang saling berbisik karena Syifa seakan menyeret Tika untuk mengikutinya.
Syifa memasukkan Tika ke dalam gudang dan menjatuhkan gadis itu di lantai. Dia menatap Tika dengan geram, berani - beraninya Tika mempermainkannya.
Gadis itu mengambil sebuah kursi dan Tali, memaksa Tika untuk duduk dan menali gadis itu agar tidak bisa bergerak.
" Gue emang gak bisa ngebunuh nyokap Lo, tapi gue masih bisa ngelihat Lo mati dengan perlahan di tempat ini."
Tanpa Tika sangka, Syifa mengeluarkan sebuah pisau tajam dan menodongkannya ke arah Tika, membuat gadis itu ketakutan karenanya.
~ kring kring kring
Syifa menghentikan aktivitasnya dan merogoh rok seragam milik Tika, diambilnya sebuah ponsel yang menampakkan nama Luna, Syifa langsung mematikan panggilan telpon itu dan menjatuhkan ponselnya dibawah kaki Tika.
" Jangan harap Lo bisa panggil bantuan kesini, gak usah banyak berharap ada yang bantu Lo," ujar Syifa dengan senyum sinisnya.
" Lo mau apa dari gue? Gue bahkan nyaris jadi pembunuh karna Lo janji biayain Ibu gue, tapi nyatanya Lo cuma nipu gue!" Seru Tika sambil mengeluarkan air mata, membuat Syifa tertawa terbahak - bahak.
" Lo nya aja yang bego! Gue bilang bakal bantu Lo, gue gak bilang gue bakal biayain semua! Bantu doa juga termasuk bantuan bego!" Sentak Syifa membuat Tika menggeleng tidak percaya.
" Lo jahat! Lo kayak iblis tahu gak! Lepasin gue! Lepasin Gue! TOLONG!" Tika berusaha melepaskan ikatan tali yang dibuat oleh Syifa, namun malah tali itu akhirnya menggesek dan melukai tangannya.
" Lo coba aja sampai tangan Lo putus, Lo teriak sampai amandel Lo sobek, gak akan ada yang datang buat nolongin Lo."
Tika menekan giginya bahkan sampai bergemeletuk, menyesal pernah melakukan hal bodoh untuk membangu gadis iblis tersebut.
" Kalau bukan karna Lo bantuin dia, gue udah bisa bunuh dia dari dulu! Lo tuh cuma batu loncatan gue, tapi malah bikin gue kesandung."
Tika tidak sudi menjawab atau mendengarkan apa yang Syifa katakan. Tika berharap bantuan segera datang, semoga saja Luna bisa menemukannya dengan bantuan yang ada.
" Sekarang mungkin gue harus ngorotin tangan dan pisau kesayangan gue buat nyingkirin Lo, Lo ada kata ..."
" TIKA! TIKA LO DIMANA! TIKA INI LUNA! TIKA!"
" LUNA GUE DI GUDANG, TOLONGIN GUE!"
" LO DIEM!" Bentak Syifa yang membuat Tika diam seketika.
Luna membuka pintu gudang dan menutup mulutnya saat melihat Tika yang sudah ditodong pisau oleh Syifa.
" Syifa! Kamu apain Tika?!" Tanya Luna dengan kaget dan memekik.
" Cih, datang juga Lo, baguslah, gue gak perlu bersandiwara lagi di depan Lo," ujar Syifa yang berjalan pelan menghampiri Luna.
" Lo gak bawa bantuan?" tanya Tika saat melihat Luna hanya sendiri.
Luna hanya menggeleng sebagai jawaban, membuat Tika menendang lantai saking kesalnya. Tika tahu Luna polos dan bodoh, namun mengapa gadis itu sampai ke tempat ini tanpa bantuan?
" Lo teriak, gue bakal potong tali pita Lo biar Lo gak bisa ngomong lagi di sisa hidup Lo," ancam Syifa yang membuat Luna diam seketika.
" Masuk ke dalam," ujar Syifa menuntun Luna dengan dagunya, Luna mengikuti apa mau Syifa untuk menyelamatkan nyawanya, lebih baik dia menurut dibanding Syifa nekat melukainya.
" Lo pasti bertanya tanya kenapa gue benci sama Lo kan?" tanya Syifa bermonolog, Dia mendekati Luna dan memegang dagu gadis itu agar menatapnya.
" Lo tuh gak tahu diri! Gak bisa diuntung," ujar Syifa pelan tepat di telinga Luna, membuat gadis itu merinding mendengar perkataan Luna.
" Gue udah suka sama Radith dari SMP, bahkan gue sekolah disini karna Radith, Tapi Lo! Lo dengan gak tahu dirinya dekat sama dia, bahkan Lo gak tahu dirinya tetap dekatin Radith padahal Lo udah pacaran sama Darrel! Lo kegatelan tahu gak!" Teriak Syifa sambil mendorong Luna sampai jatuh tersungkur.
" Tapi gakpapa, mulai hari ini Gue gak akan pernah lihat muka Lo lagi, Gue gak perlu muntah - muntah lihat wajah sok cantik Lo yang ngegodain Radith," ujar Syifa memainkan pisau yang dibawanya.
" Syi.. Syifa, gue gak tahu kalau Lo suka sama Radith, tapi.. tapi Lo salah paham, gue, gue gak ada apa apa sama Radith. Lo juga tahu kan gue pacaran sama kak Darrel," ujar Luna dengan ketakutan, dia takut Syifa serius dengan perkataannya.
" Berisik Lo! Bikin mood gue tambah ancur, tadinya gue mau bunuh Lo dulu, tapi kayaknya Lo harus lihat Sahabat Lo ini mati biar Lo menderita sebelum nyusul nih sahabat busuk Lo."
" Syi.. Syifa, Jangan, Lo jangan nekat. Syifa!"
Syifa menghiraukan perkataan Luna dan mendekat ke arah Tika dengan tetap memainkan pisaunya. Syifa tersenyum sinis memandang Tika yang tampak ketakutan.
" Ini hukuman karna Lo udah berkhianat sama gue," ujar Syifa mendekatkan pisaunya ke arah leher Tika.
~ BRAK!
" Polisi! Angkat tangan! Atau kami tembak!"
" Kalau kalian mendekat, saya gak segan memutus leher orang itu," Ujar Syifa semakin mendekatkan pisaunya ke leher Tika.
" Jatuhkan pistol kalian atau saya bunuh dia sekarang!" teriak Syifa yang membuat polisi tadi sedikit bimbang. Akhirnya polisi itu perlahan menjatuhkan pistol yang dia bawa dan mengangkat kedua tangan mereka.
" Great! Kalian bisa melihat secara langsung kematian gembel gak tahu diri ini, Ahahahaha," ujar Syifa tertawa terbahak - bahak.
Tanpa Syifa sadari, Luna berlahan bangun dan mengambil sebalok kayu lalu memukulkannya ke punggung Syifa.
~ Bugh
Syifa yang terkejut menjatuhkan pisau yang dia pegang dan memegangi punggungnya, sementara Tika dengan sigap menendang pisau tersebut agar jauh dari jangkauan Syifa.
Tampak gadis itu tersungkur merasakan sakit di punggungnya, Polisi langsung mendekat dan memborgol kedua tangan Syifa agar gadis itu tidak berulah lagi.
Tak lama Jordan dan Darrel masuk sambil tersenyum karena akhirnya mereka bisa melumpuhkan Syifa dengan strategi mereka.
( Flash back On)
" Tapi gimana caranya kita tangkap dia? Bahkan dia gak pernah terjun secara langsung," ujar Luna dengan bingung.
" Kita bisa pakai Tika, tapi disini Tika harus bener bener jaga diri karna kita gak tahu apa yang dilakuin Syifa."
" Rencana gue, Gue yakin Syifa bakal celakain Luna waktu pensi, dan dia bakal suruh Tika. Nah tugas Lo, Lo harus segera telpon Luna waktu dia udah kasih tahu tugas Lo, buat Syifa dengar dan anggap Lo pengkhianat. Gue bakal pasang GPS dan alat perekam suara di badan Lo, kita bakal datang secepatnya saat dia bawa Lo," ujar Jordan membuat yang lain mengangguk paham.
" Tapi kalau Tika jadi kenapa napa gimana?" tanya Luna dengan khawatir.
" Enggak mungkin, gue setuju sama rencana Lo bang, gue bakal jaga diri selama gue ada di tangan dia."
" Tugas Luna, Kamu harus segera hubungin abang waktu Lihat Tika dibawa sama Syifa, abang bakal datang membawa polisi buat tangkap dia. Dia gak akan bisa berkutik lagi," sambung Jordan pada rencanyanya.
" Oke Luna paham. Tapi Lo, Lo yakin bakal lakuin ini? Gue takut Lo kenapa - napa," ujar Luna memegang tangan Tika dan menatap wajah gadis itu.
" Gue gakpapa, percaya aja sama gue dan Lo juga bantu gue dengan segera telpon bang Jordan kalau dia sampai memakan umpan kita."
Mereka mengangguk dan berharap semua berjalan lancar dengan Syifa yang terjebak dengan rencana mereka.
( Flash back Off)
" Pak, ini alat perekam suara. Disini sudah ada semua yang dia ucapin, tentang dia yang mau bunuh saya juga ada," ujar Tika menyerahkan sebuah alat kecil kepada Polisi.
" Baik, kami akan selidiki dan urus kasus ini sampai tuntas, terimakasih atas kerja sama kalian semua," ujar polisi tersebut tersenyum sopan.
" Pak, dia kan dibawah umur, apakah dia tetap bisa di penjara?" tanya Jordan dengan serius.
" Tentu saja, mengingat dalam kasus ini adalah perencanaan pembunuhan, pasal yang sangat berat. Kami akan usut dan bila tersangka terbukti bersalah kami tetap akan menjalankan hukuman sesuai prosedur, kami juga memiliki penjara untuk anak. Kami akan lakukan yang terbaik dan seadil mungkin," ujar Polis tersebut dengan tegas.
Mereka yang ada disana tersenyum lega mendengar perkataan polisi tersebut. Setidaknya Syifa tidak akan lolos dengan alasan dibawah umur, bagaimanapun kejahatan yang dilakukannya sangat berbahaya.
" Gue gak takut dipenjara, bahkan gue gak menyesal apalagi bakal minta maaf sama Lo! Gue lakuin semua karna gue suka sama Radith! Gue bakal lakuin apapun buat dapetin dia!" seru Syifa yang berusaha mendekati Luna, namun tangannya ditahan oleh polisi itu.
" Lo pikir dengan Lo lukain orang disekitar gue, Gue bakal luluh dan suka sama Lo?"
Suara yang berat itu membuat perhatian orang yang ada disana teralihkan. Syifa menggeleng takut melihat wajah kecewa Radith, Syifa tidak ingin Radith membencinya.
" Radith, Lo gak benci gue kan? Lo maafin gue kan? Toh Luna gak mati dith," ujar Syifa dengan nada memohon pada Radith, membuat lelaki itu berdecih karena sifat Syifa yang muka dua dan membuatnya muak.
" Pak, saya ada bukti tambahan untuk kejahatan dia," ujar Radith mengabaikan Syifa dan mengulurkan sebuah Flash disk pada polisi itu.
" Itu rekaman kamar rumah sakit teman saya. Disitu terlihat dengan jelas Syifa sengaja merusak mesin dialisis, tentu hal itu akan berakibat fatal terhadap teman saya. Bahkan teman saya sampai harus di operasi dan nyaris kehilangan nyawanya."
" Bukan.. Itu bukan gue.. sumpah bukan gue yang lakuin itu semua Dith," ujar Syifa dengan gagap karena ketakutan.
" Bukan Lo? harusnya Lo lebih pintar dengan enggak membuka masker yang nutupin wajah Lo sehingga kamera yang gue pasang gak nangkap wajah Lo," ujar Radith dengan senyum miring, menyudutkan Syifa yang terus menyangkal.
" Radith, gue.. gue lakuin itu karna gue muak sama dia! Lo kenapa lebih pilih cewek penyakitan itu dibanding gue dith? Gue, gue sayang sama Lo!" seru Syifa berusaha memegang tangan Radith, namun polisi menjauhkan tangannya.
" Gak kayak gitu caranya! Dengan Lo lukain orang di sekitar gue, gue malah eneg dan benci sama Lo, jijik," ujar Radith dengan malas.
Syifa menanggis dan menggelengkan kepalanya kuat, sementara Polisi mulai menggiringnya untuk masuk ke mobil polisi.
Semua siswa yang melihat Syifa tentu terkejut sekaligus jijik, anak seperti Syifa ternyata bisa melakukan tindakan kriminal sekeji itu. Mereka menyoraki Syifa sampai gadis itu masuk ke mobil polisi dan polisi membawa mereka pergi dari sekolah itu.
" Gue ke kantor polisi dulu buat kasih kesaksian, Kalian nanti nyusul ya," ujar Jordan melangkah pergi dari tempat itu.
" Lo kenapa punya bukti lain buat Syifa tapi diam aja? Kalau ada bukti itu kan kita gak perlu susah - susan bikin rencana ini," tanya Darrel yang menatap Radith.
Lelaki itu mengangkat bahu acuh, seakan tidak melakukan kesalahan apapun.
" Kan gak seru kalau langsung ketahuan," ujar Radith dengan santai.
" Dasar bego! Gue sama Luna nyaris celaka tahu gak! Dan Lo juga Lun, kenapa Lo datang ke gudang tanpa bantuan? Kalau tadi dia apa apain Lo gimana?" tanya Tika dengan galak pada Luna.
" Gue khawatir sama Lo, gue gak sabar nunggu Bang Jordan datang," ujar Luna menunduk lesu.
" Tapi Lo bikin kita berdua nyaris celaka, Lo tuh pentium berapa sih? nyebelin banget," ujar Tika dengan wajah galaknya.
Darrel terkekeh dan menengahi mereka, tidak ingin mereka melanjutkan perdebatan yang akan berujung pertengkaran.
" Udah deh guys, yang penting semua masalahnya udah selesai. Kita bikin party buat rayain semuanya," ujar Darrel merangkul Luna dan mengajak mereka semua meninggalkan tempat itu.
Pada akhirnya, satu masalah dalam hidup Luna berhasil dia taklukkan