
Darrel menatap wajahnya yang sudah sangat pucat. Lelaki itu meremas perut sebelah kirinya yang terasa nyeri. Dia tak menyangka berjalan saja bisa menyebabkan kondisinya memburuk. Apakah setlah ini dia tak bisa melakukan apapun lagi? Dia akan menjadi tak berguna sama sekali jika hal itu sampai terjadi. Dia tak mau merepotkan orang - orang di sekitarnya.
" Ayo dong, Lo gak boleh lemah. Penyakit gini doang gak bisa bikin Lo kayak gini. Lo gak mau kan ngecewain Luna? Jangan cengeng, Lo pasti bisa," ujar Darrel pada kaca yang ada di hadapannya. Lelaki itu membasuh wajahnya dengan air dan menggigit bibirnya ssendiri agar memerah, dia tak mau terlihat pucat di hadapan Luna.
Lelaki itu kembali dan mendapati Luna yang sepertinya sudah bosan menunggunya. Dia berusaha berjalan dengan tegak dan sesantai mungkin meski wajahnya tak bisa berbohong dia sedang menahan sakit. Semoga Luna saat ini dalam mode tidak peka dan tak menyadari keadaan seperti biasanya.
" Kak Darrel kok lama banget sih? Luna udah sampai lumutan nih nungguin kak Darrel di sini. Nih Pong – pong juga udah ngeluh kepanasan karna nunggu kak Darrel," ujar Luna mengulurkan bonekanya. Darrel menaikkan sebelah alisnya dan menatap boneka yang dibawa oleh Luna, boneka yang berhasil dia menangkan.
" Kenapa gitu kamu kasih nama pong – pong? Kasih nama Giovan kek, Darrel kek biar ganteng gitu," ujar Darrel yang menaikkan rambutnya dengan jari, membuat Luna memutar bola matanya dengan malas. Lelaki itu selalu bisa membuatnya kesal dengan tingkahnya yang menyombongkan ketampanannya, memang sih lelaki itu sangat tampan, tapi kan tidak begitu juga.
" Namanya pong – pong, biar imut. Eh tunggu dh, kenapa kak Darrel kelihatan beda? Lebih pucat gitu, kak Darrel sakit kah?" tanya Luna yang langsung bangkit berdiri dan memegang dagu lelaki itu untuk mengecek keadaannya. Darrel sudah mengeluarkan keringat dingin karna kesakitan, kini tubuhnya bahkan terasa sangat dingin.
" Gak kenapa – napa kok. Cuma tadi kan aku kebelet yah, nah aku buka pintu kamar mandi tuh, terus kamu tahu gak? Ada ikan tanpa buntut Lun. Lemes lah aku, hilang hasrat aku buat buang air," ujar Darrel yang menggetarkan tubuhnya dnegan geli dan jijik, hal itu membuat Luna memasang wajah jijik mendengar cerita itu.
" Pokoknya kalau pergi ke tempat kayak gini, usahakan jangan pakai toiletnya deh Lun, serius. Kapok aku Lun rasanya," ujar Darrel yang sebenarnya mengada – ada. Dia hanya mau pikiran Luna teralihkan dan tak menanyakan wajah pucatanya. Dia menunggu respon Luna, gadis itu sepertinya membayangkan keadaan yang tadi 'dialami' oleh Darrel.
" Terus wajah kak Darrel jadi pucat gitu setelah lihat gitu? Nah kalau kak Darrel gak jadi ke kamar mandi, kenapa lama banget kak?" tanya Luna yang membuat Darrel mendesah dalam hati. Dia tak menyangka Luna asudah jauh lebih kritis dan lebih peka dari sebelumnya, lelaki itu harus menyiapkan jawaban yang tak menimbulkan pertanyaan lain.
" Tadi waktu masuk tuh antre lama banget, belakang aku gak ada orang sama sekali tapi. Nah waktu udah giliran aku, malah ada begituan, aku mau ngejar orangnya juga udah gak tahu dimana. Akhirnya ya aku Cuma cuci muka aja sama basahin rambut nih, terus tadi manggil petugasnya buat beresin itu," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna.
" Ayok kita pulang, keburu makin panas. Nanti kamu gosong, rugi skincare dong," ujar Darrel menarik tubuh Luna, gadis itu tertarik dan tak dapat menyeimbangkan diri sehingga menubruk Darrel, untung saja lelaki itu bisa menahan pijakannya dan tak terjatuh. Namun bukan itu saja masalahnya, kini Darrel harus memejamkan mata sambil menggigit bibirnya kuat.
Pasalnya Luna dengan reflek meletakkan tangannya ke pertu seebelah kiri Darrel dan membuat lelaki itu jadi kesakitan. Lelaki itu menahan sekuat tenaga agar tidak bersuara dan segera membangunkan Luna lalu mengubah air mukanya jadi biasa saja. Membuat Luna tak mengetahui apa yang sudah dia lakukan.
" Makanya kalau diajak bangun itu bangun langsung. Kalau kamu sampai jatuh malah nanti ada yang bangun. Kan jadinya susah Lun, apalagi kalau sampai aku merasakan sesuatu yang bulat tapi bukan tekat," ujar Darrel yang membuat Luna melongo, namun gadis itu segera mengubah air mukanya dan tersenyum.
" Gak papa, biar nanti ada yang tegak tapi bukan keadilan dan ada yang keras tapi bukan kepala," ujar Luna yang ganti membuat Darrel melongo, lelaki itu tak menyangka Luna tahu bahasa semacam itu juga, sepertinya Luna sudah 'memakan' banyak hal yang disuguhkan oleh media sosial. Darrel tak mau kalah begitu saja, lelaki itu mendekat dan mengunci pergerakan Luna.
" Kamu udah banyak belajar ya, kayaknya bakal ada yang enak tapi bukan nasi padang nih, jadi gak sabar deh aku. nikah sekarang aja yuk," ujar Darrel dengan senyum nakalnya. Luna langsung melebarkan matanya dan mendorong perut Darrel dengan kuat, lelaki itu langsung memundurkan badannya dan memegang perutnya sendiri.
" Kita pulang sekarang yuk, biar kamu bisa istirahat dan siap – siap, besok pagi kita ke KUA, gak pakai tapi, oke sip," ujar Darrel yang langsung merangkul Luna. Gadis itu memberontak, namun Darrel malah mencium kepalanya, membuat gadis itu terdiam dan anteng seketika. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar dan dia tak bisa menolak Darrel yang merangkulnya.
" Kita belum sah loh, kamu gak usah mikir yang engga – engga, nanti ada yang basah tapi bukan hujan," ujar Darrel yang membuat Luna merajuk, gadis itu tak tahu banyak kosa kata seperti itu, namun Darrel sepertinya sudah sangat paham tentang hal seperti itu, jelas saja dia kalah telak.
" Luna gak mau main yang kayak gini lagi. Pokoknya Luna bakal marah kalau kak Darrel masih mau main yang kayak gini, gak mau tahu," ujar Luna yang membuat Darrel terkekeh. Lelaki itu tak menjawab lagi, dia memilih berjalan dengan merangkul Luna.
Menurut Luna hal ini merupakan hal yang romantis, namun bagi Darrel, dia hanya tak ingin terlihat susah berjalan, makanya dia melakukan ini dan bertingkah manja pada Luna, padahal dia secara tak langsung membuat Luna menopang tubuhnya. Wajah lelaki itu kian pucat saat mereka sampai di mobil.
" Biar supir aja yang bawa. Aku pusing, kayaknya karna kepanasan deh, aku kan gak pernah kena panas kayak gini, jarang banget, kepala aku pusing," ujar Darrel yang memegangi kepalanya. Lelaki itu membuat Luna khawatir dan dengan gesit memebantu Darrel masuk ke dalam mobil dan Luna duduk di sebelahnya.
" Kak Darrel tidur aja, kalau nanti sampai rumah kak Darrel, Luna bangunin. Kasihan pacar Luna sampai pucat kayak anak SD disuruh upacara," ujar Luna yang menuntun kepala Darrel untuk menyender di pundaknya. Lelaki itu langsung menyamankan dirinya di pundak Luna.
" Aku ingin sesuatu yang empuk, tapi bukan bantal," ujar lelaki itu yang tak membuka matanya sama sekali. Luna langsung merasa jengkel, namun saat dia hendak protes, Luna menyiapkan omelan yang akan dia sampaikan, dia melihat ke arah Darrel yang sudah terpejam dengan tenang, membuatnya tak tega untuk memarahi dan membangunkan lelaki itu.
" Kenapa kalau tidur cakep banget kayak kelinci gini sih? Tapi kalau bangun mesumnya kayak srigala. Apa kak Darrel harus kena duri tajam kayak aurora biar tidur selamanya? Eh jangan deh, nanti Luna yang rindu, hehehe," ujar Luna yang kini sudah berpindah ke kedua mata Darrel, gadis itu menekan kedua mata Darrel dengan jarinya, membuat lelaki itu menggeliat tak nyaman.
" Sakit," rengek lelaki itu sambil mencari posisi yang lebih nyaman lagi di pundak Luna. Gadis itu menepuk – nepuk pundak Darrel agar lelaki itu kembali tertidur. Bahkan di usia dua puluh tuga tahun Darrel masih bertingkah seperti anak kecil saat tertidur, benar – benar sesuatu yang baru untuk Luna.
" Bagaimana masa depan? Apakah Kak Darrel akan tetap bersama Luna untuk waktu yang lama? Apakah kak Darrel akan menemani Luna sampai Tuhan yang pisahkan kita? Bagaimana cara kita menghabiskan masa tua bersama? Luna gak sabar menunggu semua hal itu terjadi kak," ujar Luna pelan, gadis itu mengelus pelan kepala Darrel agar lelaki itu makin larut dalam tidurnya dan tak mendengarkan celoteh Luna.
" Luna harap semua akan indah, semua akan berakhir bahagia. Entah itu untuk Luna, untuk Kak Darrel, untuk papa, untuk bang Jordan dan kak Keysha, untuk sahabat – sahabat Luna, dan untuk Radith juga. Semoga semua bisa merasakan kebahagiaan," ujar Luna yang ikut memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di kepala Darrel.
*
*
" Luna, Luna bangun. Kita udah sampai di rumah kamu. Bangun yuk." Luna menggeliat dan terbangun saat sebuah tangan menepuk pipinya pelan. Gadis itu terkejut karna dia sudah tidur di pundak Darrel, padahal tadi lelaki itu yang tidur di pundaknya.
" Gak usah kaget gitu. Tadi aku bangun, kepala aku kerasa berat ditimpa kepala kamu. Ya udah kepala kamu yang aku pindah ke pundak aku biar kepala kamu yang aku timpa," ujar Darrel dengan wajah serius, padahal bukan seperti itu kejadiannya.
" Apa sih kak Darrel ih, ah iya, kenapa sampainya di rumah Luna duluan? Harusnya di rumah kak Darrel," ujar Luna yang menaydari dia sudah berada di halaman rumahnya. Tadi saat terbangun Darrel memang meminta supir berputar arah agar dia bisa mengantarkan Luna dulu karna dia berencana untuk langsung pergi ke rumah sakit.
" Ya udah yang penting udah sampai sini. Masak mau putar balik lagi? Boros dong Lun. Ya udah, kamu masuk gih, mandi, tidur, biar cantik. Jangan lupa besok pagi kita ke KUA," ujar Darrel sambil merapirak rambut Luna yang berantakan. Gadis itu langsung menepis tangan Darrel dan merapikan rambutnya sendiri.
" Kak Darrel langsung pulang ke rumah? Atau mau pergi kemana dulu?" tanya Luna yang membuat Darrel berpikir. Terakhir kali lelaki itu berbohong, dia mengalami kecelakan yang membuatnya harus dioperasi walau operasi kecil. Dia tak boleh berbohong untuk kali ini.
" Aku mau ke rumah sakit. Dari tadi lemas terus, biar diperiksa sama dokter aja," ujar Darrel yang diangguki oleh Luna. Darrel sudah mengatakan (sebagian) kebenaran. Terserah Luna mau menangkap hal yang dia katakan seperti apa. Luna akhirnya berpamitan dan turun dari mobil, sementara Darrel langsung meninggalkan rumah Luna untuk menemui dokter.
Sesampainya Darrel di rumah sakit. Lelaki itu sudah sangat lemas sampai harus dibantu oleh pengawal – pengawalnya. Merka membantu Darrel untuk ditangani oleh dokter khusus yang dia minta memprioritaskan dirinya saat keadaan seperti ini. Lelaki itu sudah tak mengatakan apa – apa lagi, hanya terus menekan perutnya agar rasa sakitnya berkurang.
" Ini bukan waktunya kamu untuk cuci darah, kenapa kamu sampai lemas seperti ini? Kita harus lakukan cuci darah sekarang," ujar dokter yang dijawab gelengan kepala oleh Darrel. Lelaki itu tak mau jadwal cuci darahnya dipercepat, hal itu akan membuat tubuhnya manja dan akhirnya ke depannya dia harus melakukan cuci darah lebih awal.
" Darrel minta obat atau apa dulu aja dok, cuci darahnya sesuai jadwal aja. Sayang sama uangnya," ujar Darrel yang masih sempat – sempatnya tidak serius di saat yang mengkhawatirkan seperti ini. Dokter itu pun langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat Darrel yang susah sekali untuk diberitahu.
" saya sudah sering bilang ke kamu untuk menjaga kondisi kamu. Jaga pola makan kamu dan jaga daya tahan tubuh kamu. Jangans ampai kelelahan. Apa hal itu sulit sekali buat kamu?" tanya dokter itu sambil mengambil sebuah jaarum suntik dan mencari aliran darah yang ada di tangan Darrel. Lelaki itu memejamkan matanya saat jarum suntik menembus kulitnya.
" Berat banget lah dok, saya gak bisa makan enak lagi, gak bisa minum enak lagi. Dah gitu darah saya harus dicuci terus sekarang. Kan boros dok, untung gak pakai sabun juga tuh cucinya," ujaar Darrel yang membuat dokter itu merasa gemas. Darrel selalu bisa mengalihkan pembicaraan agar dia tak merasa kasihan pada lelaki itu.
" Sebenarnya saya sudah mendapat kabar tentang beberapa pendonor tempo hari, tapi semua kondisi ginjalnya tidak cocok untuk tubuh kamu. Kamu harus bersabar semaksimal mungkin sampai waktunya tib, saya tahu hal ini akan terasa berat untuk kamu, tapi saya harap kamu tidak akan menyerah oleh keadaan."
" Ya, saya tahu dok, saya tidak akan menyerah pada organ tubuh saya sendiri. Makanya saya gak mau terlalu memanjakan dia dok, terima kasih dokter sudah mau selalu merawat saya dan membantu saya mencarikan donor ginjal, terima kasih banyak dokter," ujar Darrel yang akhirnya bisa menjadi serius.
Dokter itu menepuk pundak Darrel dan kembali menyampaikan beberapa pesan sebelum akhirnya meninggalkan Darrel yang masih tidur di kasur rumah sakit itu. Darrel menarik napas dengan panjang dan menghembuskannya pelan – pelan.
" Semangat Rel. Putra keluarga Atmaja gak boleh lemah, apalagi sekarang Lo bakal jadi menantu keluarga Wilkinson. Lo gak boleh kalah sama sakit ini. Semangat!"