Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 48



Luna sudah bersiap dengan baju santainya. Sesuai rencana, dia dan Darrel akan pergi untuk menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan mereka. Entah mengapa Luna tak bisa merasa bahagia untuk hal ini, dia malah memiliki firasat tidak enak terhadap hal ini. Namun Luna segera menghilangkan perasaan buruk itu dan mengikuti Darrel yang sudah ada di dalam mobil.


" Kit mau pergi kemana dulu nih?" tanya Darrel sambil memakai sabuk pengamannya. Luna tampak berpikir sambil memakai sabuk pengamannya, gadis itu duduk tenang dan membuka ponselnya. Tadi malam dia sudah mencari referensi hotal yang memiliki ballroom cukup luas dan cantik. Luna menunjukkan hasil temuannya pada Darrel dan meminta lelaki itu untuk mengeluarkan pendapatnya.


" Kita coba yang ini aja ya, bagus nih, dekat juga kan dari sini," ujar Darrel menunjuk gambar yang ada di sana. Luna menganggukan kepalanya dan mengikuti kemauan Darrel. Mereka segera menuju tempat yang direncanakan, jalanan cukup sepi membuat mereka sampai di tempat itu lebih cepat lagi.


Mereka mulai bertanya pada pegawai yang ada hotel berbintang lima itu, menayakan harga sewa dan fasilitas yang mereka sediakan. Ternyata tempat ini juga bisa menyediakan catering dengan produk restoran mereka, membuat Luna dan Darrel sama – sama tertarik untuk melihat. Mereka masuk ke restoran yang ada di sana untuk melihat menunya.


" Kami tapi gak bisa cicipin dulu ya mbak? Takutnya kalau rasanya gak sesuai selera gitu mbak, kan mahal belum tentu enak. Ya kan mbak?" tanya Luna yang membuat pegawai itu tersenyum kecut. Pegawai itu mengajak Luna dan Darrel ke bagian dessert yang ada di sana, ternyata mereka menyediakan dessert untuk dimakan oleh pengunjung dengan model prasmanan.


" Ini tiap hari gini untuk customer hotel atau ini beli sendiri mbak?" tanya Luna penasaran sambil mengambil salah satu kue mangkuk yang ada di sana. Ternyata rasanya sangat lezat, membuat mata Luna berbinar dan menyodorkan kue mangkuk yang dibawanya ke Darrel. Lelaki itu hanya menjumput sedikit dan memasukkannya ke dalam mulut untuk merasakannya.


Ingin rasanya lelaki itu menangis, sudah sangat lama dia tak bisa merasakan makanan enak seperti ini. Dia harus puas dengan sedikit nasi dan sedikit sayur, itupun rasanya cnderung hambar. Bisa merasakan kue manis meski sedikit tentu saja membuatnya sangat puas, mengobati kerinduan akan manisnya hidup sebelum ginjalnya rusak.


" Kalau yang ada di resto ini semua dihitung kak, kalau untuk customer ada sendiri di lantai lima," ujar petugas itu yang membuat Luna menganggukkan kepalanya. Luna menghabiskan kue mangkuk kecil itu dan mengambil satu persatu dessert yang ada di sana, cukup untuk membuat pegawai yang mengikuti mereka sedikit cemas.


Pegawai itu mengira Luna salah tangkap dan menganggap jika semua hidangan yang ada di hadapannya bisa digunakan untuk testi, padahal jika jumlah yang berkurang dan jumlah uang berbeda, mereka harus membayar kekurangan itu dengan uang mereka sendiri, padahal harga kue kue an yang ada di sini terbilang sangat mahal dan tentu berat untuk mereka.


" Kamu ambil banyak – banyak, itu kasihan mbaknya ngelihatin sampai melongo gitu," ujar Darrel yang membuat Luna menengok ke arah pegawai yang masih berusaha tersenyum bagi Luna. Gadis itu tertawa dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


" gak papa, kan ini gratis, kalau bayar ya biar tanggung jawab pegawainya, kita kan nyari tsti di sini," ujar Luna denganw ajah yang congak. Darrel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Luna, namun lelaki itu tak berkomentar, sementara pegawai itu makin was- was dan tidak berani untuk menegur Luna yang sebenarnya sudah keterlaluan.


" Mbak, udah cobain ini? Ini enak banget loh mbak, nih mbak cobain deh," ujar Luna menyodorkan dessert yang menurut Luna paling enak. Pegawai itu menggelengkan kepalanya pelan sambil meringis, membuat Luna tak tahan untuk tidak tertawa, gadis itu langsung tertawa geli melihat wajah takut itu.


" Mbak, tolong semua yang ada di sini dihitung ya, termasuk yang saya makan tadi, saya makan semua satu – satu," ujar Luna yang membuat pegawai yang ada di mesin kasir yang ada di sana bingung dan tak berbuat apa – apa. Tentu dia mengira Luna hanya bercanda terhadap mereka, apalagi Luna memakai baju sangat santai saat ini.


" Mbak gak mau percaya sama saya? Hitung ini semua, atau saya pergi sekarang juga?" tanya Luna yang sengaja mengancam pegawai itu. Pegawai itu mengangguk dan mengetikkan beberapa angka di mesin yang dia operasikan. Meski tak yakin dan merasa takut, namun Luna berjalan tenang ke mesin kasir itu dan menanyakan total dessert yang ada di meja itu.


" Total semua jadi lima juta empat ratus dua puluh lima ribu kak," ujar pegawai itu dengan takut. Luna tak terkejut sama sekali, gadis itu langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu kredit yang ada di dalam dompet itu.


" Di sini bisa pakai kartu kredit gak? Atau kartu debit gitu?" tanya Luna yang diangguki oleh pegawai itu, pegawai itu mengatakan jika mereka menerima pembayaran dengan kartu kredit. Luna pun menyerahkan kartu kreditnya kepada orang itu sambil memakan kue lain yang dia bawa. Orang itu masih tak menyangka Luna memborong semua dessert yang mereka sediakan hari ini.


" Nah, mbak, kalau mau ambil dan coba gak papa. Udah saya bayar Lunas semua, mbaknya pilih aja, kalau mau dimakan semua juga boleh," ujar Luna yang membuat orang itu mematung, namun sesaat kemudian mereka langsung mengambil dessert itu karna Luna meyakinakn mereka.


" Saya boleh minta kartu nama atau nomor yang bisa dihubungi untuk nyewa ballroom sama cateringnya sekalian? Soalnya masih belum tahu dipakai buat tanggal berapa, nanti mungkin bakal ke sini lagi, tapi minta kontak dulu kalau ada," ujar Luna yang mmbuat pegawai itu mengangguk dan mengambil semua kartu yang ada di sakunya lalu menyerahkannya kepada Luna.


" Kalian habiskan semua dessert itu, jangan kalian jual lagi karna saya mengawasi kalian. Kalian boleh membagikannya sebagai testi pada pengunjung lain tapi jangan dipungut biaya. Saya yakin jika mereka merasakannya, mereka pasti akan suka, rasanya enak kok, kalian hebat buatnya," ujar Luna dengan senyum lebarnya, mereka sontak mengucapkan terimakasih untuk gadis itu.


" Terima kasih banyak kak, terima kasih. Kami akan menunggu kedatangan kakak kembali, semoga hari kakak menyenangkan," ujar orang itu dengan antusiasnya. Luna mengangguk dan mengucapkan terima kasih untuk mereka sebelum akhirnya keluar dari tempat itu dengan wajah yang tersenyum.


" Habis ini kita mau kemana?" tanya Darrel yang merasa dia bertugas sebagai supir untuk saat ini, lelaki itu kembali memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya. Luna tampak menimang – nimang, lalu gadis itu menengok ke arah Darrel dan terdiam, seakan bingung mau mengatakannya atau tidak.


" Kenapa? Kamu mau kemana? Abang Darrel siap antar kamu kemanapun dan kapanpun, asalkan abang lagi ada waktu aja," ujar Darrel yang membuat Luna terkekeh. Darrel bersikap seolah dia adalah supir yang berpengalaman. Luna melihat list yang sudah dia buat, masih banyak yang harus dia lakukan, bahkan mereka juga belum ukur baju untuk pernikahan.


" Kita ke makam mama yuk kak. Luna baru ingat kita belum minta restu mama buat menikah, takutnya jadi gak berkah, sekalian ke makam Blenda. Nanti mampir beli bunga dulu," ujar Luna yang sejenak membuat Darrel terdiam, dia juga melupakan hal yang sangat penting, meminta restu ibu Luna.


" Ya udah, kita ke makam mama kamu ya, aku tahu toko bunga bagus yang ada di dekat makam mama kamu, ada bucket juga, jadi kita bisa kasih buat mama kamu," ujar Darrel yang membuat Luna tersenyum, gadis itu menyalakan lagu yang ada di sana untuk mengurangi keheningan yang ada di sana.


Luna dan Darrel berhenti ke toko bunga dan membeli dua bucket bunga dan satu keranjang cukup besar berisi bunga tabur. Mereka langsung pergi ke makam dan berjalan menyusuri jalanan kecil yanag disediakan agar mereka tak perlu melompati 'rumah' orang lain. Tempat pemakaman ini masih sepi, karna lahan ini khusus disediakan untuk orang – orang yang diijinkan oleh tuan Wilkinson untuk dimakamkan.


Luna berjongkok di salah satu makam dengan patok yang cukup besar, papaanya memang sengaja membedakan patok mamanya agar lebih mudah dikenali. Mereka meletakkan keranjang dan bunga yang mereka bawa dan mulai berdoa, setelah itu Luna menyirami patok tersebut dengan air dan mulai menaburinya dengan bunga.


" Ternyata papa masih sering ke sini atau suruh orang buat kasih bunga ke makam mama. Ini bunganya baru terus loh, keren banget," ujar Luna yang mengelus bunga – bunga yang ada di sana, sementara Darrel meletakkan bunga di depan patok tersebut.


" Tante, Darrel mau menikahi Luna. Darrel harap Tante mau menerima Darrel jadi anak tante. Darrel minta tolong Tante bimbing Darrel agar menjadi lelaki yang baik, pacar yang baik, suami yang baik dan sahabat ynag baik untuk Luna menggantikan tugas Om. Tante lihat kan Darrel ganteng gini, pasti nanti anak kami bibit unggul tante," ujar Darrel dengan pedenya. Luna menyenggol lelaki itu karna malu.


" Kak Darrel tuh memang ganteng Ma, tapi dia tuh over pede, Luna juga kesal ma sama kak Darrel. Tapi Luna sayang banget ma sama kak Darrel, Luna pingin menghabiskan waktu Luna bersama kak Darrel. Mama harus merestui Luna, mama tahu kan Luna gak bisa ditolak? Hehehe."


" Tnate tenang aja, setelah menikah sama saya, saya bakal didik Luna untuk lebih dewasa dan mandiri, gak manja lagi. Oh ya tante, Luna udah bisa bikin bubur ayam loh tante, sama masak mie instan, peningkatan kan tante?" tanya Darrel dengan senyum lebarnya.


" Mama gak usah kasih restu ke kak Darrel, Luna gak mau ma. Kak Darrel nakal suka ngeledekin Luna. Mentang – mentang dia sempurna dan bisa segalanya, dia ngeledek Luna yang masak air aja gak bisa," ujar Luna dengan kesal. Darrel tertawa mendengar Luna yang mengeluh pada mamanya. Meski mereka tak pernah bertemu secara langsung, ikatan ibu dan anak itu selalu ada.


" Darrel gak kebayang kalau tante masih ada di dunia ini, Luna pasti lebih manja dan gak bisa apa – apa ya Tante? Luna sendiri di rumah aja manjanya gak ketulungan kan Tan? Hehehe," ujar Darrel yang membuat Luna terdiam seketika, gadis itu langsung emnunduk dan tersenyum tipis.


" Kalau ada mama, mungkin Luna gak akan manja kak. Mama bakal didik Luna dan ajarin Luna untuk jadi cewek yang baik, untuk jadi istri yang baik dan untuk jadi anak yang mandiri. Luna terlalau dimanja sama Daddy, jadi Luna gak bisa apa – apa. Tapi Luna bersyukur, Luna bisa tumbuh jadi anak yang baik buat semua orang bahkan tanpa mama. Luna bahagia," ujar Luna dengan lirih.


" Ya udah, kita gak boleh sedih – sedih, pamali dilihat mama kamu," ujar Darrel yang membuat Luna mengangguk. Gadis itu mengelus sekali lagi makam mamanya, dia tak pernah merasa terlalu sedih saat berkunjung karna dia sendiri tak pernah tahu rasanya memilki seorang ibu, dia hanya merasa kalau dirinya adalah cerminan dari ibunya.


" Mama, Luna mau pamit dulu ya, maaf gak bisa lama – lama dan maaf Luna gak sering buat main padahal Luna gak sibuk, maafin Luna ya ma. Luna mau ke makam Blenda Ma, pasti Blenda di sana sama mama udah bahagia kan?" tanya Luna dengan senyumnya. Darrel dan Luna berpamitan sekali lagi pada 'mama' Luna dan pergi dari tempat itu menuju ke makam Blenda.


" Wah, ternyata ada yang sering datang ke makam ini. Pasti Radith nih," ujar Luna dengan takjub. Darrel jongkok di depan makam dan meletakkn bunga yang dia bawa di sebelah bunga segar yang ada di sana. Luna sendiri langsung menaburkan sisa bunga yang dia bawa sampai memenuhi makam itu. Mereka kembali menundukkan kepala dan berdoa untuk Blenda.


" Hai Blen. Tiba – tiba gue kangen sama Lo, gue kangen Lo yang ceria dan selalu kasih energi positif buat gue, buat Radith dan buat semua yang ada di dekat Lo," ujar Luna dengan pelan, Darrel hanya diam dan membiarkan Luna bercurhatan dengan seseorang yang sebenarnya tak dikenal oleh Luna.


" Sebentar lagi gue mau menikah Blen, gak nyangka waktu udah cepat banget berlalu. Gue bahagia banget akhirnya gue bisa melangkah ke tahap yang lebih dewasa lagi. Gue tahu kalau Lo itu orangnya dewasa, Lo mau bantu gue jadi lebih dewasa kan dari atas sana? Doain gue ya Blen," ujar Luna dengan tersenyum.


" Kak Darrel, kak Darrel bisa tutup telinga dulu gak? Luna mau ngomong rahasia ke Blenda," ujar Luna yang diangguki oleh Darrel, lelaki itu menutup telinga dan matanya, membiarkan Luna memberitahukan rahasianya pada Blenda.


" Gue sejujurnya khawatir sama Radith, entah ini gue yang kepedean atau emang beneran, gue ngerasa Radith masih ada rasa sama gue. Kalau dibilang gue suka, masih ada tapi sedikit, sisanya buat kak Darrel. Gue benar – benar mau lepasin Radith Blen, tapi gue gak mau nyakitin dia tiba – tiba walau dia wajahnya dingin dan menyeramkan gitu."


" Kalau Lo bisa datang ke Radith lewat mimpi atau apapun. Tolong Lo bilang ke Dia buat lupain perasaannya ke gue biar dia gak terlalu sakit, atau Lo minta sama Tuhan biar Tuhan kirim cewek baik buat Radith biar dia gak terlalu sakit hati," ujar Luna dengan pelan.


Darrel menahan senyumnya mendengar apa yang Luna katakan, namun tiba – tiba saja hasrat inin tersenyumnya menghilang dan bahkan dia sampai menggertakkan giginya dalam diam.