Hopeless

Hopeless
Doa Dibayar Tunai



Subuh, Kinan terbangun, merasakan pegal dan sakit di tubuhnya, sisa pertengkaran semalam bersama suami. Kepalanya juga pening luar biasa karena tertidur dalam keadaan menangis.


Kinan segera duduk, melihat Beni, pria yang sudah menikahinya hampir satu tahun. Kinan memandangi suaminya yang sedang terlelap. Kembali air mata mengaburkan pandangannya. Di mana Beninya yang dulu. Kenapa pria yang begitu mencintainya itu bisa berubah menjadi monster? Inikah dampak dari narkoba?


Tidak ada gunanya bertanya-tanya karena Kinan tidak akan menemukan jawaban. Terdengar kumandang adzan. Sudah lama ia tidak sholat karena marah kepada Allah. Istighfar, Kinan. Mempersalahkan takdir dan skenario hidupnya. Meragukan jalan hidup yang ia sepakati dengan Tuhan semasa di dalam kandungan ibunya.


Penderitaan dan siksaan batin yang dia alami membuat imannya yang tipis semakin sekarat. Ia memalingkan wajah dari Allah. Namun, subuh ini, begitu mendengar panggilan sholat, kakinya bergerak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Selesai dari toilet, Kinan mengambil mukena yang dulu dijadikan mahar di hari pernikahan mereka. Masih terlihat sangat baru karena jarang digunakan. Tiba-tiba hatinya merasa tercubit. Tidakkah ini menandakan kesombongannya, keangkuhannya. Dia terlahir sebagai Islam, lantas apa yang sudah ia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya memang seorang muslim? Kinan mempertanyakan dirinya, apakah dia bisa mengartikan makna di balik syahadat. Benarkah hatinya meyakini Keesaan Tuhan?


Seakan tertampar, Kinan melangkah menuju ruang utama dengan mimik wajah yang terlihat linglung. Ia menggelar sajadah, memakai mukenah masih dengan jiwanya yang seolah tidak berada di dalam raganya.


"Allahuakbar," begitu ia mengangkat kedua tangan, mengucap takbir, air matanya meluruh membaca untaian ayat demi ayat hingga sholatnya berakhir tangisannya belum juga berhenti. Pun Kinan menengadahkan kedua tangan, memohon kepada sang Pencipta.


Doa yang sama Kinan lantunkan di sholat dzuhur, ashar dan magrib. Dan apa yang terjadi? Selesai sholat maghrib, dia sedang menggoreng kerupuk untuk indomie yang baru ia masak. Beni belum pulang bekerja. Tiba-tiba minyak panas terciprat ke tangannya hingga melepuh. Tidak berapa lama Beni pun datang. Kinan masih mendiamkan suaminya sehingga ia tidak menyambut kedatangan Beni.


Beni masuk ke dalam kamar, tidak berapa lama ia kembali keluar. Kinan mendengar suara Beni sedang berbicara dengan orang lain.


Suara yang tadinya terdengar seperti bisikan, kini berubah gaduh seperti sedang bertengkar. Kinan tetap mengabaikan keributan dari luar. Namun, ia mulai diserang rasa penasaran begitu mendengar banyak suara, bukan dari dua orang yang berbeda.


Kinan segera keluar karena Beni berteriak memanggil namanya dan meminta tolong.


Dan begitu Kinan di luar, apa yang terjadi. Polisi sedang meringkus Beni dan temannya yang bernama si Tamvan. Doa Kinan dibayar tunai!