
Darrel bangun dari tidurnya dan merapikan lengan bajunya. Sepertinya setelah ini dia akan menggunakan lengan panjang karna makin hari jumlah suntikan yang ada di lengannya semakin banyak. Dia bahkan memiliki firasat buruk untuk kondisinya kali ini. Entahmengapa perlahan pikiran positif dalam dirinya makin berkurang. Alasan dia bertahan hanya untuk Luna, ya, lelaki itu ingin selalu ada di dekat gadisnya.
" Lo gak boleh mikir macam – macam. Lo gak boleh nyerah gitu aja Rel, Lo tahu kalau Lo pergi dan kalah, Luna bakal sendiri, dengan ataksia dan Mysophobia yang bikin gadis itu gak baik – baik aja kapanpun. Lo harus bisa, ini Ginjal Lo, Lo yang kendaliin dia, bukan dia yang kuasain Lo," ujar Darrel yang berjalan tegak dan keluar dari dalam kamar itu.
Meski sudah berusaha untuk berjalan tegak, tetap saja lelaki itu tidak bisa berjalan lurus. Bahkan kondisinya seperti orang yang sedang maabuk dan kehilangan kesadaran. Lelaki itu memegang tembok dan berhenti berjalan. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap baik – baik saja. Dia terus mensugesti dirinya sendiri.
" Kak Darrel? Lo ngapain ada di sini kak? Lo? Lo sakit kak?" tanya seseorang yang sangat Darrel kenal, lelaki itu langsung menekan gigi – giginya agar tak menggeram. Untuk apa lelaki itu ada di tempat ini dan di saat yanag seperti ini pula? Darrel tak bisa memberitahukan kondisinya pada Radith. Tidak untuk saat ini.
" Gue cek kesehatan rutin aja. Lo sendiri ngapain? Kontrol?" tanya Darrel dengan santai tanpa melepaskan pegangannya pada tembok. Radith tentu tak percaya dengan alasan yang digunakan oleh Darrel, lelaki itu tampak panik di mata Radith, tidak seperti Darrel biasanya. Memang ada sesuatu yang disembunyikan.
" Iya gue kontrol rutin. Ah iya kak, Lo udah jadi ngelamar Luna? Gue gak nyangka Lo bakal bohongin semua orang kayak gitu kak. Lo juga udah suruh gue gendong Lo buat naik tangga padahal kaki Lo gak kenapa – napa. Gue salut banget sama Lo," ujar lelaki itu sambil bertepuk tangan pelan. Darrel terkekeh kecil sambil memegangi perutnya.
" Gue gak bohongin semua orang, gue Cuma nutupin fakta ini dari Lo sama Luna. Aslinya gue mau kasih tahu Lo waktu itu, tapi bang Jordan bilang mau lihat pertunjukan hiburan, ya udah gue gak jadi bilang ke Lo," jawab Darrel yang kembali tertawa pelan. Radith ikut tertawa mendengar hal itu.
" Kalau gue tahu lebih awal, gue jungkir balikin Lo waktu itu kak. Mana Lo berat banget lagi, untung aja gue kuat loh," ujar Radith sambil menunjukkan otot lengannya. Darrel tersenyum tipis melihat hal itu. Lelaki itu merasa tak bisa lebih lama lagi ada di tempat ini, dia harus segera pergi dari hadapan Radith.
" Gue harus ketemu sama orang, gue cabut dulu ya. Lo periksa yang bener biar gak pincang lagi tuh kaki. Gue balik ya," ujar Darrel yang langsung berjalan melalui Radith. Radith tak langsung pergi, dia malah membalikkan badannya dan menatap Darrel yang tak melepaskan tembok sama sekali.
" Gue dejavu sama kondisi dia yang kayak gitu. Apa gue gak tahu sesuatu tentang dia? Apa dia nyembunyiin hal lain? Ah, kenapa gue peduli? Dia bakal bilang kalau dia rasa gue perlu tahu," ujar Radith yang hendak membalikkan tubuhnya, namun dia melihat Darrel terjongkok dan langsung terduduk dengan kepala yang menyender di tembok.
" Kak Darrel!" pekik Radith kaget sambil sedikit berlari menghampiri lelaki itu. Radith masih bisa mengingat pesan dokter yang tak memperbolehkannya berlari kencang apapun alasannya. Lelaki itu menghampiri Darrel yang tampak pucat dengan keringat yang membasahi seluruh dahinya. Lelaki itu langsung membopong Darrel dan meminta suster membantunya.
" Darrel! Cepat bawa dia ke ruang VIP," perintah salah satu dokter yang kebetulan lewat, lelaki itu mngikuti instruksi dokter dan membawa Darrel masuk ke salah satu ruang yang ada di sana. Dokter langsung mengeck kondisi Darrel dan menggelengkan kepalanya dengan panik.
" Suster, cepat siapkan mesin dialisis dan bawa kemari. Lekas suster, dia tak bisa bertahan lagi," ujar dokter yang membuat Radith membatu di tempatnya. Lelaki itu seakan tak percaya dengan apa yang sudah disebutkan oleh dokter itu. Mesin dialisi? Untuk apa Darrel memakai alat itu? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar Radith.
Suster masuk dengan terburu – buru, memasang beberapa alat di lengan Darrel, termasuk kantong darah yang akan menggantikan darah kotor yang dikeluarkan. Radith masih tak bisa mengatakan apapun. Seakan semua terlalu mendadak baginya. Apakah ini alasan yang sama Darrel sampai mengalami kecelakaan kala itu? Mengapa Radith tak mengetahui apapun?
" Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada pasien?" tanya Radith saat dokter selesai memeriksa kondisi mesin dan meminta suster untuk melanjutkan tugasnya untuk pasien lain. Dokter itu menatap Radith dengan kaget, sepertinya dia kaget dan tak menyadari Radith masih berdiri di tempat ini dan menyaksikan semua.
" Kamu anggota keluarga atau kerabat pasien?" tanya dokter itu dengan was – was. Radith langsung menggelengkan kepala dengan cepat. Jika dia mengatakan kalau dia mengenal Darrel, dia yakin dokter itu justru tak akan mengatakan apapun pada Radith.
" Saya kebetulan melihat pasien terjatuh tadi dan saya menolongnya. Saya hanya heran apa yang diderita pasien ini sampai banyak mesin seperti ini. Memang ini mesin apa dokter?" tanya Radith dengan wajah lugu dan tegang yang dibuat – buat. Dokter itu menghela napas dan melepas kaca matanya hingga kacamata itu menggantung, dokter itu mengelap keringat yang ada di kelopak matanya.
" Ini adalah mesin cuci darah. Semua pasien yang memiliki masalah pada ginjal harus melakukan proses cuci darah atau dialisis di mesin ini. Saya merasa kasihan pada pasien ini, dia mengalami gagal ginjal akut di usia yang sangat muda, bahkan kondisi tubuh yang langka membuatnya tak bisa sembarangan menerima donor Ginjal."
" Dari penampilannya, sepertinya dia bukan orang yang tidak mampu dokter. Apalagi dokter sangat mengenalnya, berarti dia sudah lama di sini kan dok? Apa dia tidak mampu membayar untuk ginjal yang sesuai? Apalagi sejauh yang saya tahu, untuk cuci darah itu tidak murah, tapi dokter berani langsung melakukan cuci darah pada orang ini," ujar Radith hati – hati.
Radith merutuki perkataannya yang seakan dia sangat ingin tahu, dia berharap dokter itu tidak curiga dengan tingkahnya. Dia kembali memasang wajah serius yang seakan bertanya – tanya, semoga dokter itu percaya bahwa dia hanya ingin tahu tentang 'orang asing' ini.
" Ini bukan perkara uang. Saya tidak begitu mengenal dia, tapi sudah beberapa bulan, atau mungkin hampir satu tahu lelaki itu rutin melakukan cuci darah di rumah sakit ini dan meminta saya secara pribadi untuk merawatnya, saya yakin dia orang berada. Tapi untuk mendapatkan donor yang tepat, uang berapapun tak bisa melakukannya. Ini murni berdasarkan kondisi tubuh pasien."
" Saya masih tidak mengerti. Maaf jika saya terlalu banyak bertanya atau terlalu banyak ingin tahu. Memang kondisi tubuh pasien ini kenapa sampai dia tak bisa menerima donor Ginjal? apakah tiap orang memiliki tipe ginjal berbeda?" tanya Radith lagi.
" Yah, bahasa gampangnya seperti itu. Kamai bisa saja memasangkan ginjal secara asal pada pasien, tapi jika tubuh pasien menolak ginjal itu, malah ginjal itu akan menjadi boomerang untuk pasien. Bahkan bisa menyebabkan kematian pada pasien. Kami tidak bisa melakukan hal yang terlalu beresiko. Saya merasa kasihan pada pasien, dia sangat tampan dan bergairah. Tapi kondisi tubuhnya yang langka membuatnya sulit mendapat donor ginjal."
Radith menganggukkan kepalanya pelan. Kini dia mengerti, kenapa Darrel tak pernah menemui Luna dua tahun terakhir. Apakah lelaki itu berjuang sendirian mengenai kondisinya? Apakah tuan Wilkinson tahu akan hal ini? Pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Radith sampai lelaki itu merasa nyaris gila hanya karna memikirkannya.
" Anda ada keperluan apa datang ke rumah sakit ini? Kalau misal ada ayang bisa saya bantu, saya dokter spesialis organ dalam di rumah sakit ini, sesekali menjadi dokter pembantu untuk operasi bedah," ujar dokter itu yang membuat Radith menjadi canggung dan melambaikan tangannya pelan.
" Kondisi saya tidak seburuk itu dokter. Saya hanya mau kontrol saja, malah kebetulan bertemu dengan pria itu. terima kasih atas tawarannya, saya pergi dulu," ujar Radith yang kali benar – benar pergi dari sana. Radith segera melakukan kontrol dan mendengarkan nasehat dokter untuk pemulihan kakinya.
Radith buru – buru keluar dari ruang itu dan kembali ke ruang dimana Darrel berada. Lelaki itu langsung masuk tanpa permisi, membuat penghuninya menengok kaget karna ada tamu tak diundang, lebih kaget lagi karna tamu itu orang yang sangat dia kenal. Bagaimana bisa lelaki itu sampai ke sini? Ke kamar khususnya?
" Kenapa Lo gak pernah beritahu apapun tentang kondisi Lo ke gue? Kenapa Lo sok kuat banget nanggung semua sendirian? Lo superman? Lo Thor? Biar apa kayak gitu?" tanya Radith tanpa jeda sambil masuk dan duduk di sebelah Darrel yang menghembuskan napasnya melihat Radith yang over reaction untuknya.
" Ini alasan gue gak kasih tahu Lo. Bawelnya ngalahin nyokap gue sendiri. Lo kenapa bisa ada di sini sih? Lo nyasar? Katanya Lo mau kontrol? Gak jadi?" tanya Darrel yang ingin mengalihkan pembicaraan, namun Radith tak bodoh, lelaki itu langsung menatap Darrel dengan tajam dan mendekat, lalu menggeplak kepala Darrel dengan pelan.
" Lo lagi ngomong sama Radith bukan Luna. Lo gak bisa pakai trik yang sama. Selain gue, siapa lagi yang tahu tentang kondisi Lo ini? Dari kapan Lo mulai sakit? Kenapa Lo sembunyiin ini dari Luna?" tanya Radith dengan serius. Darrel tahu dia tak bisa menghindar lagi, dia menganggukan kepalanya dan bersiap untuk memberitahu Radith.
" Selain Lo, Cuma bokapnya Luna yang tahu. Gue sakit sejak setahun lebih, gak tahu lebihnya berapa. Gue gak mau kasih tahu Luna karna dia bakal lebih panik dari Lo ini, dan gue khawatir dia bahkan sibuk urusin gue sampai lupa sama dirinya sendiri. Lo tahu dia kan? Gak ada yang bisa bantah kalau dia mau sesuatu, termasuk untuk gue. Gue gak mau itu terjadi."
Radith langsung terdiam mendengarkan penjelasan Darrel. Radith menyadari bahwa Darrel meletakkan Luna pada posisi omor satu dalam daftar prioritas, bahkan lelaki itu tak peduli dengan kondisinya selama itu untuk Luna. Entah mengapa pernyataan tersirat itu sangat menohok hatinya.
" Kalau Lo sayang sama dia, harusnya Lo kasih tahu dia, biar dia gak seenaknya sama Lo dan gak mikir macam – macam kalau Lo gak ada waktu buat dia. Penyakit Lo ini serius, Lo gak bisa sembunyiin ini selamanya," ujar Radith yang mulai serius saat dia mengerti alasan Darrel. Namun Darrel malah tertawa mendengar itu.
" Gue gak nyangka kata – kata kayak gitu keluar dari Lo. Gue kira Lo bakal bahagia dan berharap gue cepat mati loh. Secara gue kan saingan Lo buat dapetin Luna. Eits, gak usah kaget atau nyangkal, gue tahu semua, gue tahu Lo suka sama Luna, tapi gue sengaja biarin dan gue gak akan pernah marah karna hal itu," ujar Darrel dengan santai.
" Lo.. Lo tahu? Tapi Lo diam aja? Lo emang berencana mau nyerah dan iklasin Luna buat gue? Gue bisa loh bikin dia suka lagi sama gue, gampang itu mah," ujar Radith yang malah blak – blakan tentang hal ini. Radith melihat respon santai Darrel, membuatnya santai menanggapi pernyataan Darrel.
" Lo pikir gue rela dan gue diam aja? Gue gak rela lah! Tapi karna kondisi gue ini, mungkin gue harus biarin dia terbiasa sama Lo biar dia terbiasa tanpa gue. Makanya satu tahun ini gue benar – benar hilang dari hidup dia padahal gue bolak – balik dan sering lama stay di Indonesia. Gue harap kalau memang gue gak bisa diselamatkan, Lo bakal bantu gantiin tugas gue buat jagain Luna," ujar Darrel dengan serius.
" Ah gak asyik jawabnya kaku. Gini ya kak, tugas buat jagain Luna itu sepenuhnya jadi tanggung jawab Lo. gue gak mau ambil tanggung jawab ini, gue juga mau cari orang yang bener - bener gue cinta, gue rasa gue itu Cuma peduli sama calon istri Lo itu, yah, walau gue juga nyesek sih lihat kalian berdua."
" Itu namanya lo suka sama dia ****. Lo gak bisa nyangkal hal kayak gini sama gue. Kalau Lo benar – benar suka sama dia dan dia juga suka sama Lo, gue bakal putusin dia. Toh sebentar lagi gue harus fokus sama kesembuhan ini dan gak mungkin buat gue jadi pacar Luna," ujar Darrel dengan lemah.
" Lo gak usah sok mellow gitu kak, jangan pernah lakuin hal yang gak Lo mau, jangan lakuin hal yang hati kecil Lo sendiri bilang gak mau. Jangan munafik dan sok – sokan berkorban demi orang yang Lo sayang. Bukannya bagus, Lo malah kayak orang ****," ujar Radith dengan serius.
" Hahaha, mulut Lo karetnya dua emang. Pedas banget. Gue bakal bertahan dan berjuang semampu gue sesuai kata Lo itu. gue gak akan menyerah apalagi ada Luna. Tapi kalau gue sembuh, Lo jangans edih atau menyesal sama keputusan Lo saat ini. Karna gue gak akan kasih kesempatan lain buat Lo balik ke Luna," ujar Darrel sambil tersenyum tipis.
" Lo bilang gini tuh kayak Luna barang enteng buat Lo. Seenaknya Lo tawarin ke orang lain, gimana kalau Luna tahu hal ini kak? Kejang – kejang kalik dia," ujar Radith menggelengkan kepalanya dan langsung membayangkan tingkah Luna yang heboh jika Darrel benar – benar melakukan hal ini.
" Gue gak kasih Luna ke orang lain. Lo bukan orang lain dan gue yakin Lo bisa jagain Luna, jadi gue bisa tenang lepas Luna buat Lo," ujar Darrel yang hendak memejamkan matanya.
" Selama Lo hidup, gue gak akan lakuin itu. bahkan kalau Lo sengaja mati, gue gak akan ambil tanggung jawab itu. Jangan seenaknya sakit terus lepas tanggung jawab. Pengecut," ujar Radith yang membuat Darrel tertawa, lelaki itu mengangguk setuju dan menuruti perintah Darrel.
~ ting ~ ting ~ ting ~ting
Darrel mengambil ponselnya yang berbunyi dan melihat siapa yang menelponnya. Lelaki itu langsung menatap ke arah Radith yang mengangkat sebelah alisnya.
" Luna telpon," ujar Darrel dengan cepat dan panik.