
" Luna telpon," ujar Darrel dengan wajah yang melongo, membuat Radith ikut bingung. Radith langsung memberi isyarat pada Darrel untuk segera mengangkat panggilannya. Darrel tak begitu yakin dengan keputusan itu, namun dia tetap melakukannya, dia memencet tombol hijau pada ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Ha.. halo," ujar Darrel dengan tergagap. Lelaki itu mengangkat tangannya dan memukul kepalanya pelan. Membuat Radith memelototkan matanya dan menunjuk ke lengan Darrel dimana darah pada infus yang mengalir itu terdapat darah. Darrel langsung terkejut dan menurunkan tangannya. Lelaki itu harus membiarkan kedua tangannya di bawah, hingga Radith membantunya dengan membawakan ponsel untuk lelaki itu.
" Kamu besok mau berangkat? Ah iya, harusnya kemarin yah, gara – gara aku kamu jadi nunda berangkat. Iya, eh? Minta bantuan buat packing. Tapi… Ya udah aku bisa, tapi ini aku lagi ketemu temen lama dan mungkin nanti sore baru ke sana. Gak papa kah?" tanya Darrel yang membuat Radith melotot. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, namun Darrel tak mau tahu.
" Lo gila? Gimana bisa Lo tetap ke sana padahal Lo baru cuci darah? Harusnya kan Lo banyak istirahat biar gak gampang drop kayak gini. Gimana sih Lo," ujar Radith yang membuat Darrel terkekeh, lelaki itu baru tahu Radith sangat perhatian dan bahkan jauh lebih cerewet dari Luna. Apakah ini Radoth yang sesungguhnya?
" Gue gak bisa biarin Luna marah atau curiga dengan gue yang gak bisa datang ke sana. Lagian Cuma bantu packing, gak akan lama. Besok Luna juga bakal langsung pergi ke Inggris, gue bisa lebih fokus sama kesehatan gue," ujar Darrel dengan enteng. Radith masih tak bisa menerima pernyataan Darrel.
Radith melihat mesin – mesin yang sudah sedari tadi masih menyala. Memang proses dialisis ini memerlukan waktu paling tidak satu jam. Makanya Darrel selalu merasa sepi dan bahkan sering merasa depresi saat melakukan cuci darah ini pada hari – hari pertama. Namun saat sudah terbiasa, lelaki itu bisa merasa lebih rileks dalam menjalaninya.
" Dith, Lo gak akan ada pikiran buat donorin gue ginjal gitu kan? Biar kayak di film – film gitu. Serius, gue gak bakal mau terima. Gue aja berusaha cari ginjal orang yang baru meninggal. Lo gak boleh ngelakuin tes dan donorin ginjal buat gue," ujar Darrel dengan wajah super serius, membuat Radith menaikkan satu alisnya mendengar lelaki itu.
" Lo kebanyakan nonton FTV kak! Gue gak ada rencana sama sekali buat donorin ginjal ke Lo. Lagian gue tahu kalau pendonornya masih hidup, bakal ada kemungkinan si pendonor itu yang gak bisa hidup dengan satu ginjal dan akhirnya mati. Gue gak mau lah," ujar Radith dengan galak, membuat Darrel mengangguk lega.
" Bagus, gue Cuma memastikan, gue anggap Lo udah janji apapun kondisinya, Lo gak boleh donorin ginjal buat gue. Walau Cuma ginjal Lo yang cocok. Kecuali kalau Lo mati," ujar Darrel dengan asal, membuat Radith terkejut dan mengelus dadanya sendiri.
" Mulutnya kayak gak pernah sekolah. perih banget nusuk sampai ke tulang. Padahal kalau di depan Luna Lo menye – menye banget bikin orang mau muntah," ujar Radith yang membuat tawa Darrel meledak. Dia tahu banyak orang akan berpikir seperti itu, padahal dia hanya mengungkapkan rasa sayang dan bahagianya karna memiliki Luna di sisinya.
" Oh iya, terus Lo yakin mau pergi ke rumah Luna setelah ini? Ini bahkan udah mau sore, terus nih mesin dialisis masih ada lima belas menit lagi. Lo yakin bakal langsung gas ke sana?" tanya Radith yang kembali pada topik pembicaraan. Darrel tampak bingung dan terdiam. Memang yang paling baik saat sudah melakukan dialisis adalah istirahat yang cukup.
" Bukan yakin gak yakin sih, gue gak bisa bikin tuh anak frustasi packing sendirian padahal dia tahu gue udah bilang mau datang. Lo tahu kan apa yang bakal terjadi kalau dia tahu gue ingkr janji? Bisa mencak – meencak seharian tuh anak," ujar Darrel yang terkekeh setelah membayangkan apa yang akan Luna lakukan.
" Kalau gitu gue aja yang ke sana. Gue yang bakal bantu dia jadi dia gak mencak – mencak," ujar Radith yang memberikan usul denegan cepat, lelaki itu membuat Darrel langsung menatapnya dengan cepat dan meliriknya dengan ganas, membuat yang ditatap merasa tak nyaman.
" Gak usah mikir macam – macam, gue gak bakal rebut istri orang, gue Cuma gak mau Lo terus – terusan drop dan malah mati mengenaskan. Lo kan juga tokoh utama di sini, gak lucu kalau Lo matinya cepat. Jadi gue yang bakal ke sana. Toh Luna itu kan gampang dibelokin pikirannya, gak akan sulit kok," ujar Radith yang membuat Darrel berpikir.
" Lo yakin mau ngelakuin itu buat gue? Buat gue Dith? Takjub Loh ini gue kalau Lo benar- benar mau ngelakuinnya buat gue," ujar Darrel yang membuat Radith memutar kedua bola matanya dengan wajah malas.
" Ya udah gak jadi. Lo banyak omong, berisik," ujar Radith dnegan cepat, membuat Darrel menjadi geli melihat wajah itu. Darrel tersenyum dan mengangguk, dia tahu maksud Radith baik, dia tak akan curiga atau berpikir buruk tentang lelaki itu. kembali lagi pada konsep dasarnya. Jika memang Luna diciptakan untuk Darrel, tentu Darrel tak akan kehilangan Luna apapun rintangannya.
" Ya udah, Lo mending pergi sekarang aja deh, daripada nanti kelamaan terus dia ngira gue sengaja nyari – nyari alasan," ujar Darrel yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan mengelus kakinya yang sedikit kram.
" Lo gak papa gue tinggal sendiri di sini? Kalau nanti kenapa – napa gimana? Gue khawatir Lo ini, mau gimana pun juga kita kan sama – sama merasakan jadi baby brothernya Luna walau statusnya beda," ujar Radith yang membuat Darrel mencubit lengan lelaki itu karna bicara sembarangan.
" Gak usah bertindak kayak Lo pacar gue deh dith, ntar kalau jadinya gue baper sama Lo, kan susah juga Lonya. Kecuali Lo ngaku sekarang kalau sebenernya Lo sukanya sama gue, bukan sama Luna," ujar Darrel sambil menunjuk wajah Radith. Radith menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah takjubnya
~plak ( Radith memukul pelan bibir Darrel)
" Makin gak bener nih mulut. Udah ah, gue balik. Kalau Lo ada apa – apa gak usah telpon gue, langsung terlpon dokter, bye," ujar Radith yang langsung berjalan meninggalkan Darrel yang mengamati lelaki itu sampai lelaki itu benar –benar hilang dari pandangannya.
" Apa gue harus mulai kasih waktu lebih buat kalian dan gue mulai menjauh dari kalian berdua? Gue emang bisa kelihatan semangat di depan kalian, tapi bahkan gue gak yakin sama diri gue sendiri kalau gue bakal dapat donor yang pas dan bisa melanjutkan hidup lagi."
" Aiihhh, Lo ngomong apa sih Rel? Gimana bisa Lo bisa ngomong gitu di saat lo udah ngelamar Luna dan mutusin buat jadiin dia istri? Lo gila atau gimana coba?" tanya Darrel pada dirinya sendiri. Lelaki itu langsung memejamkan matanya cepat agar tak memikirkan hal yang macam – macam lagi, lelaki itu ingin menidurkan tubuhnya sebentar sebelum proses dialisis ini benar- benar berakhir.
*
*
*
' Lo di rumah kan?'
' Gue masuk.'
' Oke Radith, masuk aja.'
Radith mengirimi Luna pesan berantai dan tak menunggu gadis itu menjawab. Dia masuk ke dalam rumah Luna dan langsung berjalan ke arah lift. Saat dia sampai ke lantai tiga dan lift terbuka, Luna sudah dalam posisi menunggu pintu lift terbuka.
" Lah, gue mau turun buat nemuin Lo, malah Lo naik duluan kayak ini rumah Lo sendiri," ujar Luna yang menggelengkan kepala sambil berbalik dan berjalan lagi ke arah kamarnya. Radith tak menjawab pertanyaan Luna, dia malah mengamati ruangan Luna ini dan meniliti apakah ada yang berubah.
" Lo mau ngapain tumben – tumbenan datang ke sini? Lo rindu sama gue?" tanya Luna dengan sinis. Radith masih tak menjawab, bahkan kini tak melangkah karna dia melihat sebuah foto dalam figura dengan ukuran besar. Mungkin ukurannya merupakan ukuran asli model yang ada di sana.
" Lo terkagum sama foto gue? Gue sengaja minta buat bikin yang ukuran asli loh, itu tingginya persis sama gue. Gimana? Keren gak?" tanya Luna mengagumi diri sendiri karna di foto itu dia sangat cantik. Apalagi ukurannya yang sangat besar membuat mereka yang melihat akan lebih terkagum lagi.
" Gak, biasa aja," jawab Radith seadanya. Luna mendesah dan memilih mengabaikan Radith. Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar, dan langsung melanjutkan aktivitasnya sambil mengecek ponsel apakah Darrel sudah selesai atau bahkan sudah sampai di rumahnya, namun lelaki itu sama sekali tak memberinya kabar.
" Lo gak usah nungguin Darrel, Dia gak akan datang kok. Tadi dia bilang ada acara mendadak dan benar – benar gak bisa ke sini, jadi dia minta tolong gue buat bantuin Lo," ujar Radith yang membuat Luna membuka mulutnya cukup lebar. Gadis itu bahkan tak mendapat kabar apapun dari Darrel, namun lelaki itu malah langsung mengutus lelaki yang ada di depannya ini.
" Lo mending pulang aja deh, gue bisa sendiri. Gue gak butuh bantuan Lo, gue Cuma butuh kehadiran kak Darrel. Tadi siang setelah dia antar gue, dia kelihatan pucat banget, tapi sekarang dia malah temuin temannya dan ada acara pula, Pacar mana yang gak khawatir coba? Kan nyebelin banget tuh orang," ujar Luna yang tak ditanggapi oleh Radith.
" Lo benar gak butuh bantuan gue?" tanya Radith yang tak mau membahas tentang Darrel. Luna mengangguk yakin, membuat Radith mengangguk paham dan langsung keluar dari kamar Luna, tak lupa menutupnya agar pintu kamar Luna terkunci. Lelaki itu berjalan ke arah sofa dan menidurkan dirinya di sana.
Luna keluar dari dalam kamar lima menit kemudian. Dia menengok dari dari dalam kamarnya untuk memastikan Radith masih ada di sana atau sungguh sudah pulang. Luna langsung mendesis kecewa saat tak melihat kehadiran Radith.
" Kalau niat bantu tuh gak usah banyak tanya, tinggal langsung bantu aja. Dah gitu disuruh pulang malah langsung pulang, dasar gak peka. Pantas aja jomblo sejak jaman dahulu," ujar Luna yang membuat Radith terkekeh, lelaki itu langsung menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah Luna yang masih tak menyadari keberadaannya.
" Lo juga kalau ditawarin bantuan dan Lo butuh, harusnya langsung diiyain. Buat apa sih gengsi dibesar – besarin? Dasar cewek banyak mau nya," ujar Radith yang membuat Luna langsung kaget. Gadis itu langsung menutup mulutnya dan memukul mulutnya pelan. Harusnya dia tahu jika Radith tak mungkin pergi begitu saja saat dia sudah mau repot datang ke tempat ini.
" Masih butuh bantuan gak? Sekali Lo ngomong enggak, gue beneran pulang sekarang," ujar Radith yang membuat Luna menggeleng, gadis itu memilih untuk menerima bantuan Radith dan membiarkan lelaki itu masuk ke dalam kamarnya. Luna lalu masuk sambil membiarkan pintu kamarnya terbuka agar para setan tak terjebak di dalam ruangan ini.
" Kenapa ini berantakan semua deh? Kayaknya dua hari lalu Lo bisa packing sendiri. Kenapa Lo keluarin semua?" tanya Radith yang heran dan menendang beberapa boneka yang menghalangi jalannya, membuat Luna memukul kaki lelaki itu dan memungut bonekanya yang sudah disakiti oleh Radith.
" Karna dua hari lalu gue Cuma bawa skincare sama abrang penting tanpa baju sama sekali. Tapi kalau sekarang gue pingin bawa semua boneka gue. Gue sayang banget sama mereka, mereka udah menyatu dengan keringat dan iler gue, gue gak yakin bisa tidur tanpa mereka," ujar Luna memeluk boneka itu satu persatu kemudian menggigit mereka bergantian.
" Lo jorok banget ya ternyata. Gak nyangka gue orang sebersih Darrel bakal kawin sama orang kayak Lo," ujar Radith menggelengkan kepalanya dengan dramatis. Luna yang mendengar celaan itu tentu merasa tak terima, apalagi Radith menyebut kata 'kawin' di depannya.
" Nikah dulu baru kawin! Lo pikir gue ayam betina!" tukas Luna dnegan galak. Gadis itu langsung mendorong kaki Radith dan merapikan bonekanya jadi satu. Radith akhirnya mengalah dan membantu Luna untuk merapikan barang – barang yang sama sekali tak masuk akal untuk dibawa saat seseorang ingin pergi ke luar negeri.
" Eh Lun, tapi enakan kawin daripada nikah loh Lun, Lo gak percaya?" tanya Radith yang membuat Luna memukul Radith dengan boneka yang paling besar yang bisa dia raih. Radith mengaduh kesakitan karna ulah gadis itu, bahkan wajahnya terasa aneh karna bulu pada boneka itu mengenai wajahnya. apalagi baunya yang sudah tak wangi lagi, sangat menganggu.
" Lo tuh bisa gak sih gak usah mesum jadi cowok? Cari cewek sana Lo biar Lo gak berfantasi kayak gitu, aneh tau gak sih jadinya," ujar Luna yang tak ditanggapi oleh Radith. Gadis itu terus mengomel sampai Radith merasakan kupingnya panas.
Sudah lelaki itu masih merasakan aneh pada wajah dan hidungnya, ditambah gadis itu mengomel tanpa henti seperti kereta express yang harga tiketnya kelas eksekutif. Radith langsung menodongkan tangan dengan lima jari terbuka ke depan wajah gadis itu agar gadis itu berhenti berbicara. Luna langsung menutup mulutnya setelah itu.
" Pertama, gue cowok umur dua puluh dua tahun yang sangat wajar ngomongin hal itu. kedua, Lo pukul muka gue pakai boneka itu. itu boneka kapan terakhir kali dicuci Lun? Baunya tengik banget, pusing kepala gue,"' ujar Radith yang membuat Luna menatap boneka yang dia gunakan untuk memukul Radith.
" Sejak gue baru beli. Eeuum, dua tahun atau tiga tahun lalu? Entah."
Radith langsung membulatkan bola matanya medengar pernyataan polos itu keluar dari mulut Luna tanpa dosa dan pertimbangan sama sekali.
" Lo benar- benar jorok!!"