Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 56



~ Flash back beberapa minggu lalu, dimana Darrel sedang pusing dan blank di perusahaannya, sebelum Darrel menyusul Luna ke Inggris~


" Halo? Karel? Kenapa?" tanya Darrel pelan, lelaki itu sebenarnya malas mengahadapi Karel, apalagi dia sudah berencana untuk mempercepat pernikahannya dengan Luna. Namun lelak iitu bisa mendengarkan isakan dari gadis itu, membuatnya menjadi serius dan khawatir sesuatu terjadi padanya.


" Kak, maaf, maafin Karel. Karel, Karel gak pantas. Tapi, tapi Karel gak bisa. Karel bakal akhiri hidup aja, Karel yang bisa," ujar Karel dengan tak jelas. Membuat Darrel menaikkan alisnya dan langsung berdiri dari duduknya. Bagaimanapun Karel adalah anak yang sangat Luna sayangi dan Luna anggap seperti adik sendiri, dia tak bisa membiarkan Karel terluka setelah Luna melakukan banyak untuk membuat gadis itu bahagia.


Darrel segera menuju panti asuhan dimana Karel tinggal, dia memiliki fisarat buruk, apakah gadis itu sedang dalam masalah? Atau gadis itu malah mmbuat masalah? Ah, Karel tak mungkin melakuka hal itu, dia kan tidak pernah neko – neko.


" Kamu kenapa? Apa ini? Kamu gila!" ujar Darrel saat melihat sebuah pisau tergeletak dan darah berceceran, lengan gadis itu tambah merah dengan darah yang mengalir. Darrel langsung mengangkat gadis itu dan membawa gadis itu ke rumah sakit. Dalam hati lelaki itu bertanya – tanya apa yang membuat gadis di hadapannya ini sampai melakukan hal seperti itu.


Sampai di rumah sakait Dokter langsung bertindak sementara Darrel menunggu di luar. Lelaki itu masih mengkhawatirkan gadis itu, namun di sisi lain dia juga masih memikirkan banyak hal, membuat lelaki itu menjadi tak fokus. Bahkan belakangan ini lelaki itu menjadi linglung dan sulit menangkap sesuatu. Banyak yang menjadi beban di kepala lelaki itu.


" Kamu kenapa? Banyak orang yang mau lindungin kamu dan mau yang teerbaik buat kamu, tapi kamu malah lakuin semua ini? Apa kamu udah gila?" tanya Darrel yang mengomeli gadis itu, namun gadis itu duduk dan memeluk Darrel, tentu sajaa hal itu membuat Darrel menjadi kaget dan melepaskan pelukan itu dengan segera.


" Karel hamil, tapi Karel gak mau, Karel gak mau rusak hubungan kak Darrel sama Kak Luna, Karrel gak mau kalian berantakan. Tapi Karel juga gak bisa bunuh anak ini. Biar Karel mati bersama anak ini aja kak," ujar Karel dengan wajah sedih nan frustasi, membuat Darrel makin bingung.


" Apa hubungannya sama aku dan Luna? Kenapa kamu takut hubungan kami rusak?" tanya Darrel dengan bingung. Karel tak menjawab, gadis itu menunduk dan menangis, membuat Darrel dipenuhi dengan pertanyaan yang sama. Namun kepala lelaki itu kembali pusing jika terus berpikir. Sepertinya lelaki itu harus memeriksakan diri ke dokter setelah ini.


" Karna ini, anak ini anak kak Darrel," ujar Karel dengan pelan.


" Hah? Anak aku? Gimana ceritanya? Aku gak pernah lakuin hal yang bikin anak itu ada loh sama kamu, gimana bisa itu jadi anak aku?" tanya Darrel dengan bingung, dia menyangka Karel hanya bercanda, namun gadis itu semakin menangis.


" Kak Darrel ingat terakhir kali kak Darrel datang ke panti dan saat itu hujan deras? Kak Darrel mulai demam karna kehujanan. Waktu itu Karel antar the panas sama soup karna disuruh sama bunda ke kamar kak Darrel. Tapi, tapi kak Darrel terus mengugau memanggil nama kak Luna."


" Karel gak tega buat bangunin kak Darrel, tapi waktu Karel mau pergi, tiba – tiba, tiba – tiba, hiks hiks. Karel diam karna Karel malu, Karel juga gak mau masalah ini jadi panjang. Karel pikir semua akan baik – baik aja karna itu pertama kali buat Karel, tapi ternyata Karel salah," ujar Karel terbata – bata.


Darrel mencoba mengingat tentang hal itu. Darrel langsung teringat bahwa dia meneduh di panti asuhan itu karna pekerjaannya belum selesai, namun karna hujan tak kunjung reda, bunda memintanya untuk menginap hingga dia tidur di salah satu kamar yang ada di sana. Setelah itu Darrel tak ingat apapun, yang jelas saat bangun, Darrel memang sudah tak memakai baju, namun dia memakai celana yang utuh.


" Jadi, malam itu? Aku? Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Darrel terbata – bata. Karel tak menjawab, gadis itu hanya menunduk dan menangis, membuat Darrel terduduk di sofa seketika. Tiba – tiba dia merasakan kepalanya sakit berat, sangat berat dan nyeri. Lelaki itu teridam beberapa saat sebelum akhirnya membuka matanya.


" Kamu gak usah sedih atau berpikir baut mengakhiri hidup. Itu anak aku kan? Aku bakal tanggung jawab untuk anak itu, aku bukan laki – laki yang suka lari dari tanggung jawab, kamu tenang aja," ujar Darrel dengan lemas, wajah lelaki itu sudah pucat, namun dia tak mau memperlihatkan kalau dia kesakitan di hadapan Karel.


" Ta.. tapi.. kak Luna? Bagaimana dengan kak Luna? Kalian sudah sampai ke tahap serius," ujar Karel yang membuat Darrel menganggukan kepalanya pelan.


" Ya, kaami sudah sampai ke tahap serius, tapi bukan berarti aku bakal lari dari tanggung jawab. Kalau gak ada yang mau diomongin, aku benar – benar harus pergi sekarang, aku minta orang buat antar kamu, kasih aku waktu buat beresin semua," ujar Darrel yang langsung keluar dari kamar inap itu.


*


*


*


~ flash back Radith saat Luna menatap indahnya langit dan rumah pohon, sementara lelaki itu menelpon Jordan


" Lo serius Luna sampai kayak gitu karna Darrel? Wah, tuh anak gak tahu diuntung. Adek gue dibikin lecet kayak gitu, gak tahu apa harga kulit mahal," ujar Jordan yang membuat Radith berdecak kesal.


" Apaan sih bang, ini maslaah serius, Lo masih bisa – bisanya bercanda kayak gitu. Ini adik Lo loh bang, dia diselingkuhi sama Darrel, Lo gak mau bertindak apa – apa?" tanya Radith yang membuat Jordan tertawa, ternyata Radith dan Darrel tetap saja masih mudadan tak berpengalaman meski mereka sudah cukup dewas untuk masalah lain.


" Gak usah muter – muter, gue udah pusing banget, gak bisa mikir. Lo kasih tahu aja sih bang maksudnya apa? Maksudnya gimana?" tanya Radith yang membuat Jordan berdehem dan mulai bebricara serius dengan Radith.


" Anak yang ada di perut si ular itu bukan anak Darrel. Dia udah rencanain semua dengan rapi. Gue udah tahu siapa bapaknya dan gue bakal bawa ke Lo besok, tapi Lo harus bikin Darrel datang ke rumah gue dan bikin Luna gak pergi kemana – mana. Tuh anak kalau marah emang serem dan gak pakai akal, makanya bahaya biarin dia sendiri di luar sana."


" Terus kenapa Darrel percaya aja kalau itu anaknya? Kenapa dia gak selidiki dulu? Gue kira dia udah selidiki dan yakin kalau itu anaknya, makanya gue langsung percaya aja sama dia," ujar Radith yang membuat Jordan mengangguk, padahal Jordan tahu Radith tak bisa melihat ekspresinya saat ini.


" Gue juga bingung kalau masalah itu, gue gak tahu kenapa Darrel kayak gitu, kayaknya dia lagi nanggung banyak beban. Yang gue tahu sih masalah ginjal sama masalah perusahaan aja, tapi gue gak nyangka dia sampai kehilangan pikiran dan ceroboh gitu," ujar Jordan yang disetujui oleh Radith.


" Ya udah, intinya itu bukan anak Darrel. Nah, kalau Lo mau tahu, besok aja gue males cerita lama – lama. Yang jelas Lo jaga Luna biar dia gak bertindak bodoh. Gue kecewa sama kalian semua, yakin. Drama sampah kayak gini masih aja pada percaya dan heboh," ujar Jordan yang langsung menutup panggilan secara sepihak.


*


*


*


" Lo masak gak ngerasa curiga waktu dia telpon Lo sambil nangis dan Lo temuin dia dengan keadaan mau bunuh diri dengan alasan gak mau ngerusak kebahagiaan Lo. Kalau dia niat bunuh diri dan mati, gapain dia telpon Lo?" tanya Radith yang membuat Darrel terdiam, lelaki itu benar – benar blank untuk saat ini.


" Lo masak gak curiga kalau dia memang goresin pisau ke tangannya, kenapa bekasnya hilang dalam satu malam? Kalau Lo cerita sama gue, gue bakal bantu Lo buat selidikin semua. Tapi Lo malah mmeutuskan buat nikahin nih lacur," ujar Radith yang memebuat Darrel menatap Radith.


" Terus, bapak dari anak dia siapa?" tanya Darrel. Radih langsung meminta beberapa orang membawa seorang pria yang sedikit diseret untu kdatang ke mereka. Luna dan Darrel memasang wajah bingung, namun Karel sudah ketakutan.


" Karel, kenapa kamu terus harapkan dia yang sama sekali gak cinta sama kamu? Aku yang cinta sama kamu bagaimanapun keadaan kamu. Aku bakal tanggung jawab atas anakku itu, aku gak akan bikin kam usedih atau menderita. Aku mohon," ujar lelaki itu yang membuat semua yang ada di sana ( kecuali Radith) menganga.


" Maksud kamu apa lakuin ini? Maksud kamu apa hancurin hubungan aku sama Luna? Maksud kamu apa ngaku kalau anak itu anak aku? aku gak nyangka, aku kira kamu polos dan jujur, kamu terlalu berhutang budi sama aku dan Luna jadi kamu gak akan bohong dari aku. Aku salah, kamu itu ular."


" Kak Darrel kenapa salahin Karel? Apa Karel salah terlalu sayang sama kak Darrel? Bahkan Karel udah suka sebelum Karel isa melihat, Karel tulus. Tapi kak Darrel Cuma pikirin Luna, Luna dan Luna. Apa Karel salah lakuin segala cara buat dapetin kak Darrel?" tanya Karel pada lelaki itu.


" Salah! Gue udah percaya sama Lo. Bahkan gue maasih coba baik ke Lo beberapa saat lalu, gue masih alus sama Lo karna gue mau tahu alasan Lo. Gue udah berharap Lo kasih alasan masuk akal yang bisa diterima otak gue, tapi ternyata jawaban sampah yang keluar dari Lo. Lo tahu? Yang Lo lakuin bukan Cuma hancurin hubungan Gue. Lo udah hancurin gue, hancurin Luna."


Luna yang merasa cukup jelas dengan semua langsung menggeret kopernya untuk pergi, namun tangan gadis itu ditahan dari kedua sisi. Radith di kiri dan Darrel di kanan. Luna langsung menghempas kedua tangan itu bersamaan, membuat kedua lelaki itu saling pandang tanpa berkata apa – apa.


" Lo gak bisa pergi. Alasan Lo pergi karna Lo merasa Darrel mengkhinati Lo. Padahal kalian berdua masuk ke perangkap yang bikin kalian saling salah paham. Kenapa Lo tetap pergi di saat Lo tahu kalian berdua korban?" tanya Radith yang membuat Luna emnghentikan langkahnya.


" Gue marah karna kak Darrel khianatin gue. Saat tahu semua, Lo pikir rasa kecewa itu hilang? Dia lebih pilih percaya sama orang lain dan dengan gampangnya mutusin gue. Enam tahun gue sama dia apa artinya? Gak ada kan?" tanya Luna dengan santai. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, namun sebelum benar- benar pergi, gadis itu menatap Karel yang sudah memucat.


" Gak usah tegang. Gue gak akan bunuh Lo. Anggap aja itu rejeki dari anak yang Lo kandung. Jangan pernah muncul di hidup gue, jangan sampai gue lihat Lo setelah ini, karna gak akan ada dewi fortuna lagi yang akan lindungin Lo."


Luna masuk ke dalam mobil, dan langsung pergi dari sana. Radith meminta lelaki itu membawa Karel, namun Karel memberontak. Wanita itu tetap ingin Darrel yang menjadi ayah dari anaknya. Bahkan wanita itu mulai berteriak dan akhirnya tertawa – tawa sendiri. Mmbuat Radith menjadi sedikit ngeri. Akhirnya lelaki yang dia bawa berhasil membawa Karel pergi dari sana.


Kini hanya keheningan yang ada di antara Radith dan Darrel, namun keheningan itu tak bertahan lama saat Darrel memegang kepalanya kuat. Wajah lelaki itu kian memutih, bahkab bibrinya sudah pucat pasi.


Benar saja, saat Radith memegang pundak lelaki itu, lelaki itu langsung ambruk ke arah depan dan menghantam jalan setapak yang keras. Sontak saja pengawal Darrel langsung berlari dan membawaa lelaki itu.


" Bawa dia ke rumah sakit," perintah Radith dengan cepat.