
Radith menunggu supir yang akan membawanya pulang karna kondisinya membaik dan tinggal menunggu pemulihan. Tak perlu untuk dirawat inap di tempat ini lagi. Radith sudah mengemasi barang – barangnya ( meski sebagian besar dibantu oleh oranag suruhan Luna). Gadis itu tak bisa datang karna hari ini ada ulangan dan gadis itu enggan mengikuti ulangan susulan.
" Kayaknya gue bakal sibuk deh setelah balik ke sekolah," ujar Radith dengan lesu sambil memangku tasnya karna dia duduk di kursi roda yang didorong oleh salah seorang suruhan yang diminta untuk mengantar Radith pulang.
Pikiran lelaki itu melayang dan tiba – tiba saja lelaki itu kepikiran tentang Elena dan Blenda. Lelaki itu memikirkan apa yang dikatakan oleh Elena. Bagaiman jika Blenda sebenarnya sudah mearasa lelah namun gadis itu bertahan karna Radith dan keluarganya yang berharap besar padanya? Tidakkah akan menjadi egois jika mengingkinkan Blenda tetap tinggal padahal gadis itu lelah dan kesakitan.
" Tuan muda, mobil sudah datang," ujar orang yang membantunya, membuat lelaki itu sadar dari lamunannnya dan mengangguk sebagai jawaban. Untuk urusan Blenda mungkin akan dia pikirkan lagi nanti, lelaki itu akan bertanya pada Blenda sendiri saat dia bersama dengan gadis itu.
" Emmm pak, langsung ke rumah sakit Blenda aja ya pak, saya tiba – tiba kepikiran dia dan mau ketemu sama dia, boleh kan pak? Biar nanti barang – barangnya dibawa ke rumah saya dulu," ujar Radith yang menatap ke arah atas. Orang yang membantunya tentu hanya mengangguk karna dia hanya boleh mengatakan Ya untuk segera membantu tuannya.
Radith masuk ke dalam mobil dan supir membawanya pada Blenda yang rupanya membaik, gadis itu belum kambuh lagi sejak Radith pergi dua bulan lalu, ya, gadis itu menepati janjinya pada Radith, malah Radith yang tak menepati janji untuk selalu mengabarinya dan memastikan dirinya baik – baik saja, bahkan Bunda sampai terkejut melihat Radith yang didorong oleh orang lain untuk membantunya.
" Loh Dave, kaki kamu kenapa jadi seperti ini? Wah, kalau Blenda tahu pasti dia histeris tuh," ujar Bunda yang membuat Radith merengut memandang ibu dari kekasihnya itu.
" Ya bunda bantu Dave dong biar Blenda gak begitu histeris," ujar Radith yang membuat Bunda tertawa dan membuka pintu untuk masuk agar Blenda tak heboh melihat kondisi Radith, biasanya anak gadisnya itu akan heboh dan histeris jika melihat orang yang ada di sekitarnya terluka.
Cukup lama bunda di dalam sebelum akhirnya pintu terbuka dan bunda meminta Radith untuk masuk. Lelaki itu menelan ludahnya dan masuk ke dalam kamar inap Blenda dimana gadis itu sudah menatapnya dengan tatapan tajam yang kesal.
" Kok bisa? Cerita yang lengkap, gak mau tahu," ujar Blenda dengan ketus yang membuat Radith terkekeh geli, pasti sulit sekali untuk Blenda berpura – pura galak pahadal gadis itu sedang khawatir. Radith dengan senang hati menceritakan kejaian yang dialaminya dari awal hingga akhir, Blenda mendengarkan dengaan seksama tanpa respon sama sekali.
" Yaudah kalau gitu jangan sakit lagi, masak aku udah nepatin janji tapi kamu malah langgar janji sih Dave, gak asik ah kamu," ujar Blenda yang akhirnya memaklumi Luka Radith karna memang bukan kemauan lelaki itu.
" Aku menang Lomba loh, masak kamu gak mau kasih selamat sama aku?" tanya Radith yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
" Kalau sebagai gantinya keselamatan kamu ya buat apa kamu jadi juara? Mending gak usah sekalian kalik Dave," ujar Blenda yang membuat Radith kembali terkekeh. Mereka mengobrol banyak tentang berbagai hal entah berapa lama, bahkaan Radith juga membantu Blenda untuk makan dan minum.
Menemani gadis itu sampai gadis itu mengantuk, lelaki itu bahkan menyetel musik karaoke dan menyanyikan liriknya agar Blenda lekas tertidur, namun musik di ponselnya berhenti karna dia mendapat panggilan dari seeorang. Blenda yang hendak tertidur sampai kembali membuka matanya karna penasaran.
" Apaan sih Lun, gue lagi sibuk banget nih," ujar Radith saat panggilan terangkat. Lelaki itu mengubah raut wajahnya saat gadis di seberang sana menyampaikan alasan dia menelpon Radith.
" Yaudah iya gue ke rumah Lo sekarang, gak usah nekat, gak usah aneh – aneh, iya ini gue lagi di rumah sakit sama Blenda … udah gak papa, gue kesana sekarang… yoi."
" Blen, aku ke rumah Luna dulu gak papa ya," ujar Radith menatap Blenda untuk meminta ijin, memang Blenda yang saat ini berhak untuk memberikan ijin padanya, Blenda kan calon ibu dari anak – anaknya.
" Iya gak papa, kamu hati – hati," ujar Blenda dengan senyum yang merekah, lelaki itu menganguk dan mengecup pundak kepala gadis itu sebelum akhirnya kelaur dari sana dengan susah payah karna tak terbiasa menggunakan kursi roda.
Blenda tersenyum kecut saat Radith sudah benar – benar pergi dari kamarnya. Gadis itu menyadari sesuatu yang mungkin bahkan tak disadari oleh Radith. Entah mengapa rasanya sesak, bahkan gadis itu sampai menitikkan air mata dan *** dadanya sendiri agar rasa sesak itu segera hilang. Ya, dia harus siap untuk kehilangan segalanya dengan kondisinya sekarang.
" Udah lah, gak usah Lo pikirin, mending sekarang Lo belajar buat ulangan besok, sekalian gue pinjam catatan Lo biar besok waktu gue susulan gue gak bego – bego amat, oke?" tanya Radith yang sudah ada di ruang tamu lantai 3 di rumah Luna. Gadis itu sudah meminta Radith untuk masuk ke kamarnya, namun lelaki itu mneolaknya mentah mentah.
" Iya, bentar gue ambilin dulu, gue tulis semua soalnya kok, paling juga soalnya sama atau gak jauh jauh dari soal ini, kayak Lo gaak tahu aja guru itu," ujar Luna yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu meengangguk dan membolak – balik buku paket yang berisi mareti ulangan besok. Radith menghela napasnya karna dia belum siap untuk mengikuti ulangan dan ulangan susulan di semua mata pelajaran besok.
Luna kembali dan membawa sebuah buku tipis yang tenryata hanya berisi coretan untuk hitung hitungan matematika serta sepuluh soal yang tadi keluar saat ulangan. Radith langsung mencari jawaban dari soal itu dan menghapalkan jawabannya lalu membaca sekilas buku catatan Luna untuk mengantisipasi jika soal yang keluar tak sama.
" Frustasi gue empat mata pelajaran ulangan semua," ujar Luna membanting buku yang dia pegang ke atas meja. Radith hanya melirik ke arah Luna tanpa terkejut. Lelaki itu merasa sikap Lunalumrah karna sia sendiri juga frustasi, apalagi banyak ulangan yang dia lewatkan karna mengikuti Lomba.
" Lo masih empat Lun, gue udah lima sama susulan, belum lagi gue udah dikabarin kalau Lusa gue harus udah beres sama semua ulangan yang ada, gimana Gue bisa tenang coba, mendidih nih otak gue," ujar Radith sambil membaca buku lain. Lelaki itu belajar bersama Luna untuk membuat point penting dari setiap materi, jika terdesak mungkin akan berguna ( If you know what I mean, hahaha)
Mereka belajar hingga larut malam, bahkan Radith sampai lupauntuk pulang, saat Radith hendak pulang Luna berkata
" Lo nginep di sini aja dith, tidur di kamar tamu, daripada Lo pulang juga kan, seragam Lo biar dibawain kesini, terus kalau buku, gue yakin buku Lo semua da di sekolah, udah nginep sini aja," ujar Luna yang merasa kasihan karna Radith susah untuk bergerak, namun lelaki itu masih memaksakan diri untuk datang dan kini memaksakan diri untuk pulang.
" Iya juga ya, ya udah deh gue nginap disini ya, okesip," ujar Radith yang langsung menuju kamar di sebalah kamar di kamar Luna saat ini. Luna sempat melongo karna satu lantai ini adalah kamarnya, namun Radith mengira kamar di sebelah kamar Luna dalah kamar tamu, tapi ya sudah lah.
Luna masuk ke kamarnya dan memejamkan matanya untuk tidur karna dia harus menghadapi hari yang berat besok pagi, lebih baik dia menjaga stamina dibanding harus pusing mengingat rumus rumus yang sama sekali tak dia mengerti.
Pagi menyapa, mentari menunjukkan hangatnya pada setiap insan untuk bersiap menghadapi hari, sementara bulan beristirahat karna tugasnya sudah usai untuk menghangatkan malam. Sepasang mata seorang gadis mengerjap karna kantuk yang masih menguasai dirinya namun ketukan pintu terdengar bersautan membuatnya terpaksa bangkit dari tidurnya.
" Apa sih? Masih pagi juga," ujar gadis itu dengan kesal saat pintu terbuka dan mengucek matanya untuk berbicara pada si pengetuk pintu, namun penampilan orang di depannya membuat dahinya mengernyit dan menatap orang itu dengan heran.
" Ngapain Lo udah rapi begini? Masih kepagian kalik dith," ujar gadis itu dengan tatapan wajah malas.
" Masih kepagian pala Lo peang, udah setengah tujuh ini, Lo mau berangkat jam berapa? Gue tinggal kalau Lo gak mau berangkat," ujar Radith yang membuat Luna melongo seketika. Gadis itu mendelik saat melihat jam besar yang ada di ujung ruangan.
" Tungguin, sepuluh menit lagi siap," ujar Luna dengan cepat dan langsung menutup pintu kamarnya, sementara Radith beranjak ke sofa yang ada di ruangan itu. Benar saja, tak sampai sepuluh menit, Luna keluar memakai seragam dengan dasi yang dia gigit dan kaos kaki yang dia bawa.
" Naik mobil aja ya, biar gue bisa sarapan sama pakai nih semua," ujar Luna yang diangguki saja oleh Radith, sebelumnya lelaki itu sudah menemui supir untuk memanaskan mobil yang akan dia pakai ke sekolah, sudah dia duga Luna belum bangun. Meski begitu dia tak berniat untuk membangunkan Luna lebih awal.
Luna membawa bekal untuk dia sarapan dan membawa botol berisi susu. Gadis itu masuk ke dalam mobil sementara Radith membantunya untuk membawakan sepatunya karna dia belum memakai kaos kaki. Gadis itu bertelanjang kaki saat berlari menuju mobilnya dan langsung duduk dengan napas yang terengah.
Radith langsung masuk ke mobil itu dibantu oleh orang yang ada di sekitar sana, mobil melaju menuju ke sekolah mereka, semoga saja tidak macet dan mereka tepat waktu sampai ke sekolah. Luna sibuk dengan roti tawar rangkap dengan selai coklat sebagai pemanis, memakan roti itu dengan nikmat dan langsung menghabiskannya. Gadis itu beralih pada susu dan segera menghabiskannya.
" Kok Lo gak bangunin gue lebih awal sih dith? Lo sengaja ya?" tanya Luna dengan kesal sambil memakai kaos kakinya dan membenarkan dasi yang masih berupa kain panjang. Lelaki itu mengangguk mantab tanpa dosa karna memang dia sengaja melakukan hal itu.
" Biar Lo belajar tanggung jawab sih niatnya, eh ternyata Lo Kebo banget dan gak bangun – bangun, ya udah deh gue bangunin, kalau Lo tadi gak bangun juga pasti udah gue tinggal kok," ujar Radith dengan santainya. Luna berdesih dan menatap jalanan yang untungnya cukup lenggang untuk seukuran ibu kota.
Mereka sampai ke sekolah tepat waktu dan langsung masuk ke kelas mereka diiringi tatapan bertanya karna Radith memakai kursi roda. Seorang guru masuk dan tanpa basa –basi menuliskan beberapa soal di papan tulis sebagai soal ulangan.
" Karna saya kasihan sama kalian, ulangan hari ini open book ya, tapi kalian hanya boleh mengerjakan berdasarkan buku catatan kalian, gak boleh ada yang membuka ponsel atau membuka buku paket. Saya harap hasilnya bisa bagus, kan udah open book," ujar guru itu yang langsung duduk di tempatnya.
Luna memandang Radith yang ada di belakangnya dengan tatapan suka cita karna mereka sudah menyiapkan catatan kemarin, dan tenryata catatan itu sangat berguna karna semua jawaban ada di sana. Radith sendiri tersenyum dan mulai membuka fotokopi catatan karna dia malas menulis ulang apa yang ditulis oleh Luna, semoga saja guru itu tak tahu kelakuan Radith karna lelaki itu menempelkan kertas fotokopian di buku catatannya.
Ah ya, di rumah Luna, mereka memiliki satu mesin print yang juga bisa digunakan untuk scanner, sehingga Luna cukup meletakkan buku catatannya disana dan mengkopi apa yang dia tulis untuk Radith hingga semua menjadi praktis, sesuai dengan ciri khas Radith, hahaha.
" Radithya, nanti pulang Sekolah kamu bisa menemui saya di ruang guru untuk ulangan susulan ya, saya akan memberi tugas sebagai gantinya karna saya tahu kamu harus menghadapi banyak ulangan karna ikut Lomba. Saya memberik keringanan karna kamu sudah mengharumkan nama sekolah," ujar guru itu yang membuat Radith menghela napas lega.
" Terima kasih untuk pengertian dan keringanannya Bu, saya akan menemui ibu nanti," ujar Radith dengan sopan dan senyum yang merekah.
" Tunggu dulu, ada apa dengan kaki kamu? Kok kamu pakai kursi roda seperti itu?"
" Tempo hari saya kecelakaan bu, namun sekarang sudah baik - baik saja, sebentar lagi juga sudah pulih."
" Baiklah kalau tidak ada hal yang perlu di khawatirkan lagi, lain kali selalu waspada agar tidak celaka. Pesan ini juga untuk kalian semua. Paham?"
" Paham Bu," jawab para murid serentak.
" Lo tunggu gue dulu atau gimana? Gue mau ketemu beberapa guru buat nanya ulangan dan tugas susulan selama dua bulan ini," ujar Radith saat kelas sudah usai, Luna tampak menimang dan akhirnya memilih untuk menunggu Radith. Lelaki itu pergi meninggalkan Luna di kelas bersama beberapa orang yang memiliki keperluan berbeda hingga harus tinggal di kelas itu.
Luna kembali mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Darrel, namun nomor lelaki itu sama sekali tak aktif. Semenjak Darrel mengantarnya ke rumah sakit untuk bertemu sengan Radith, lelaki itu sama seklai tak bisa dihubungi, bahkan bang Jordan tak mau membantunya untuk menemukan Darrel.
Entah apa yang mereka rencanakan, dan apapun itu, semoga Darrel baik – baik saja dan tetap menjaga janjinya pada Luna, meski saat Ini Luna merasa ragu dan bingung. Bahkan Angga yang merupakan teman satu kelasnya juga tak mau memberi tahu dimana Darrel, lelaki itu berasalahn dia pun tak tahu Darrel kemana. Padahal kan tak mungkin lelaki itu tak tahu sahabatnya sendiri ada dimana.
" Kak Darrel kemana? Luna rindu kak, cepat pulang dan ada kabar ya."