Hopeless

Hopeless
Beni Yang Royal



"Masih marah?"


Jam sembilan malam, Beni kembali bertamu ke rumah Kinan dalam keadaan bersih, segar dan wangi. Pernah satu waktu Kinan mengatakan bahwa sangat menyukai aroma parfumnya. Dengan sengaja ia menyemprotkan sebanyak mungkin parfum isi ulang 50ml yang dibelikan ibunya seharga 60 ribu dengan tulisan Justin Biber di atas tutup botolnya.


Beni duduk di bangku plastik yang disediakan Kinan untuk mereka. Ia meletakkan martabak telur kesukaan Kinan di atas meja. Selain ingin menenangkan Kinan dengan memanjakan indera penciuman gadis itu, ia juga harus memastikan perut kekasihnya itu aman. Meski ikhlas ingin membantu Kinan, tapi melihat tekad Kinan yang besar menolak bantuannya membuat Beni semakin menyukai kekasihnya itu. Ia tahu bahwa Kinan bukan gadis matre seperti Nuri. Ayolah, ia sudah mengenal Nuri cukup lama. Bahkan beberapa temannya sudah berkencan dengan gadis itu.


"Tidak ada yang marah."


"Kalau tidak marah, itu martabaknya jangan dianggurin."


"Masih kenyang."


"Enak kalau masih hangat."


"Ya sudah, Kinan ambil piring dulu. Mau minum apa?"


"Zam-zam ada?"


"KW-nya yang ada. Air sumur yang dimasak."


"Ya sudah, itu saja."


Kinan pun segera berlalu ke dapur. Sembari menunggu Kinan, Beni mengeluarkan nokia E90 di jaman hape BlackBerry mulai muncul dengan harga selangit. Selangit bagi Kinan maksudnya.


Beni juga bukan pria yang suka bermain sosial media. Disaat facebook lagi marak-maraknya, ia bahkan tidak memiliki akun facebook. Sama halnya dengan ponsel, ia tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia elektronik.


Niat hati ingin bermain game, notif pesan mengalihkan perhatiannya. Pesan dari Nuri. Panjang umur benar si Nuri. Beberapa saat lalu, Beni sedang mengingatnya.


πŸ’Œ Hnya ign mmbri thu bhw 3 hri lg Kinan ultah.


Butuh beberapa saat bagi Beni untuk bisa memahami pesan singkat yang kelewat irit tersebut.


Kinan ultah menjadi poin penting baginya. Segera ia mengirim pesan balasan.


πŸ’Œ Kapan si Kinan ultah?


Cewe memang selalu lebih cepat membalas pesan. Dengan tutup mata, mereka bahkan tahu di mana letak huruf A sampai Z.


πŸ’Œ Htg az ndiri dr skrg


Beni tidak sabar. Pun ia segera menelepon Nuri.


"Apaan?" Sapaan dari Nuri. Mungkin jika Nuri ada di hadapannya, sudah ia toyor kepalanya.


"Jadi kapan?"


"Apaan yang kapan?"


"Si Kinan ulang tahun."


"Kan aku sudah bilang tiga hari lagi. Hitunglah. Kau bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatakan perasaanmu. Tembak di momen spesialnya, jangan lupa kado yang mahal."


"Aku dan Kinan sudah jadian."


"HAH? KAPAN? KOK KINAN TAK ADA CERITA?! TRAKKTIIIRRR BENIIIII...."


Beni menjauhkan ponsel dari telinganya. Lengkingan suara Kinan hampir membuat gendang telinganya pecah.


"Ada apa?" Kinan menatap Beni dengan bingung.


"KINAN, SEKARANG MAIN RAHASIAAN, YA. KAMU JADIAN DENGAN BENI TAK BILANG-BILANG. SEBAGAI MAK COMBLANG AKU KECEWA, KINAN!!"


"Nuri?"


Beni tertawa seraya memberikan ponselnya kepada Kinan dan mengambil alih piring dari tangan kekasihnya itu. Membiarkan dua sahabat itu berbincang, ia menyiapkan martabak ke atas piring.


Kinan terkejut saat Beni mengulurkan sendok ke mulutnya. Hei, ia belum pernah disuapi oleh siapa pun! Kecuali ibunya tentunya saat ia masih kecil. Ia bahkan tidak ingat di usia berapa terakhir kali ibunya menyuapinya.


"Aaa... tangan Abang pegal ini."


Kinan meragu untuk membuka mulut. Bayangannya, wajahnya akan terlihat jelek saat mangap. Belum lagi karang gigi yang setebal dosanya. Ia takut Beni melihat kecacatan dalam mulutnya.


"Nanti saja." Tolak Kinan sambil mendorong tangan Beni.


"Aaa, Sayang. Nanti dingin." Beni memaksa.


"WOI, KALIAN NGAPAIN? SEDANG APA? ISH, JANGAN PAMER KEMESRAAN DOONGGG!!


"Nuri berisik! Jangan ganggu, kami lagi pacaran. Matiin, Sayang."


"Beni kampret!!" Nuri mengambek dan memutuskan panggilan.


Mau tidak mau, Kinan akhirnya membuka mulut seadanya. Tidak terlalu lebar. Beni bahkan sedikit kesulitan memasukkan sendoknya.


"Ponsel Sayang mana?"


"Di kamar. Kenapa?"


"Tidak niat untuk diganti?"


"Tidak ada uang."


"Mau Abang beliin?"


"Tidak usah."


"Benaran?"


"Hmm."


"Gantian hape, yuk?"


"Maksudnya?"


"Abang pakai hape kamu, kamu pakai hape Abang."


Kinan mengerutkan kening sambil mencerna ucapan pria itu. Apa faedahnya berganti hape. Nuri dan beberapa temannya pernah bercerita bahwa mereka memang kerap melakukan hal semacam ini. Saling bertukar ponsel dengan kekasih mereka dalam beberapa hari dan semuanya berujung pertengkaran karena saling mengetahui kedok masing-masing.


Kinan tidak ragu untuk melakukan hal itu. Tidak ada yang akan menghubunginya. Tapi bagaimana dengan Beni? Ia khawatir akan banyak cewe-cewe yang menghubungi Beni. Ia belum siap untuk menerima kenyataan bahwa Beni juga seorang pecinta wanita.


"Hanya tiga hari, Sayang. Mau, ya?"


"Tapi kamu 'kan kerja." Kinan beralasan.


"Abang," Beni meralat cara Kinan memanggilnya.


"Iya, iya. Tapi Abang 'kan kerja."


"Hm, benar juga. Bagaimana jika ponselnya saja. Kartu SIM-nya tidak usah ditukar."


Kinan semakin bingung, jika tidak saling bertukar kartu SIM, dia tidak mempunyai alasan untuk menolak. Akhirnya ia pun setuju.


Tiga hari kemudian, Beni datang ke rumah Kinan. Seperti biasa, malam hari.


"Jalan, yuk." Ajak Beni.


"Kemana?"


"Cafe Kita-Kita."


"Mau karaoke?"


"Suara Abang jelek. Makan."


"Oh."


"Tapi kalau Sayang mau karaokean juga tidak masalah."


"Kinan juga tidak bisa nyanyi. Ya sudah, ayo."


Di cafe kita-kita, mereka berbincang sambil menikmati makanan yang tersaji.


"Selamat ulang tahun, Sayang." Beni tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah ponsel. Ponsel yang sedang trend pada masanya. BlackBerry. Terang saja mulut Kinan menganga. Selain tidak menyangka bahwa Beni mengetahui hari lahirnya, ia juga tidak menyangka akan mendapatkan hadiah mahal dari seseorang.


"Semoga panjang umur, sehat selalu. Semakin cinta sama Abang. Maaf ya, Sayang, belum bisa kasih kejutan yang wow. Kue dan lilin juga tidak ada. Tapi Abang bawa hadiah. Jangan ditolak karena ini hari spesial kamu."


"BB? Yang ada pinnya?" Ia sering melihat Nuri yang sedang asyik main facebook, berandanya penuh dengan permintaan invite pin BB. Sungguh ia sangat menginginkan ponsel ini tapi tidak pernah benar-benar berharap bisa memilikinya. Dan sekarang, ponsel itu ada di hadapannya, diberikan oleh pria yang menjadi kekasihnya.


"Iya, yang ada pin-nya. Tapi Sayang tidak boleh bagi-bagi pin sama cowo, faham?"


"Ta-tapi ini 'kan mahal?"


"Kok malah bahas harga. Ini hadiah Abang untuk Sayang."


"Ta-tapi..."


"Bilang makasih, dong."


Sejak hari itu Beni menunjukkan ketotalitasannya sebagai kekasih. Hubungan mereka berjalan mulus hingga satu tahun. Beni benar-benar sangat royal. Setiap minggu selalu memberikan uang jajan untuk Kinan. Bahkan saat lebaran, Beni mengajaknya ke mall, satu-satunya mall yang ada di daerah mereka untuk membeli baju lebaran. Beni memilih sendiri sesuai seleranya. Diratukan seperti ini siapa yang tidak luluh. Kinan menemukan dirinya mulai tergantung kepada pria itu.