Hopeless

Hopeless
Chapter 159



Tanpa terasa liburan untuk kenaikan kelas telah berakhir. Kini Luna harus mengganti badge angkatan dari yang semula hanya satu bintang menjadi dua bintang karna dia sudah kelas dua. Konon katanya, kelas dua adalah waktu dimana kita semua bisa bebas dan bertindak semau kita karna kita sudah beradaptasi dengan lingkungan.


Konon katanya pula kita bisa bertindak sedikit sombong di hadapan adik kelas yang bisa dipastikan akan alim – alim seperti saat dia pertama masuk. Kelas dua adalah waktunya bersenang – senang sebelum mereka naik ke kelas tiga dan menganggap sekolah itu penting karna mereka harus segera mengikuti ujian negara yang menentukan masa depan mereka.


Meski sebenarnya Luna tak setuju jika kehidupan mereka ditentukan oleh selembar kertas. Yah, selembar kertas tak akan berpengaruh banyak dalam hidupmu, jika kau bisa memanfaatkan apa yang kau miliki, apa yang kau minati dan apa yang ingin kau perjuangan, kau akan mendapatkannya meski nilai mu sewaktu sekolah tak cukup memuaskan.


" Dith, masak kak Darrel makin sibuk aja loh dith, apalagi dia harus nyelesaiin semua tesnya lebih awal, terus habis UN dia bakal langsung berangkat ke Jepang, padahal temennya yang lain juga duah berangkat buat magang, eh dia malah nanti – nanti, tapi sibuknya dari sekarang, berasa jnda gue dith," ujar Luna dengan murung.


" Janda? Lo emang udah ngapain aja sama Darrel? Sampai udah jadi janda? Waahh, parah – parah," ujar Radith yang malah fokus pada kata Janda dibanding cerita Luna yang tak henti membahas Darrel sejak mereka duduk di kursi kelas. Radith merasa dia akan jatuh cinta karna terus mendapat asupan topik tentang Darrel yang tersimpan rapi dalam ingatannya.


" Sembarangan kalau ngomong. Gak kayak gitu dith, maksud gue tuh, gue kayak gak ada kerjaan banget kalau dia sibuk gini, berasa gak punya pacar gue tuh, astaga," ujar Luna yang meletakkan kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan tangan. Posisi yang nikmat untuk tidur.


" Emang biasanya Lo ada kerjaan? Ko kan Cuma update story, ngintilin gue, gangguin gue main, bikin gue kalah push rank, muter aja terus di situ, emang Lo ada kerjaan lain selain itu?" tanya Radith dengan pedasa, namun Luna memilih tak menanggapi lelaki itu, membuat lelaki itu menghela napasnya dan memilih untuk mendiamkan Luna, membiarkan gadis itu sibuk dengan dunianya sementara dia bahagia dengan dunianya.


" Gue baru ingat, Lo kok ada di sini sih? Lo kan harusnya ngurusin OSIS? Lo kabur ya?" tanya Radith dengan kaget, lelaki itu ingat kalau Luna tetaplah pengurus OSIS, gadis itu harusnya ebrada di aula sekarang, namun mengapa dia malah ada di sini dan mengganggu dirinya?


" Males gue ke sana, bukan sesi gue juga, nanti aja gue ke sana kalau perkenalan, kan ada bidangnya sendiri – sendiri, gue udah ada tugas buat pensi tahun ajaran baru, pusing gue karna ditunjuk jadi ketua panitia," ujar Luna tanpa mengangkat kepalanya.


" Kalau Lo jadi ketua panitia, kenapa Lo masih di sini? Harusnya kan Lo udah siapin semua Lun, masak Lo malah enak – enakan santai di sini? Pensi penyambutan lima hari lagi kan? Wah, gak bertanggung – jawab Lo," ujar Radith dengan taakjub dan menggelengkan kepalanya.


" Gak bertanggung jawab pala Lo ada lima! Selama liburan juga gue udah nyiapin semua kalik, tinggal nunggu hari H dan itu urusannya sekbid acara, gue mah jadi penanggung jawab aja, gak ada kerjaan lagi, tapi gue pusing nyari pengisi acaranya, sampai sekarang gak dapat guess starnya, minta tolong bang Jordan juga dia Cuma mau bantu biaya, gak mau kasih ide," ujar Luna yang membuat Radith kembali terkejut.


" Mana ada artis yang mau di booking dalam waktu lima hari? Kacau Lo, mending Lo undang artis lokal aja, kalau Lo udah panggil yang terkenal pasti jadwal mereka udah full, aturan mah Lo nyari guess star itu satu bulan sebelumnya, gak mepet kayak gini," ujar Radith yang semakin membuat Luna merasa pusing.


" Gimana gue mau cari sebulan sebelumnya? Proposalnya juga abru di acc dua minggu lalu, itu pun gue sama anak OSIS datang sendiri ke rumah kepsek karna lagi liburan, kurang niat apa gue dith?" tanya Luna setengah curhat.


" Yaudah, Lo ikutin aja saran gue, Lo undang artis ibu kota yang lumayan terkenal. Dikasih dana berapa dari sekolah? kalau cukup sih panggil dua atau tiga, kalau gak cukup ya minta aja perwakilan kelas buat pensi kayak dulu," ujar Radith menyampaikan sarannya. Luna terdiam dan berpikir untuk mempertimbangkan ide itu.


" Iya sih, ide Lo masuk akal, nanti deh kalau kumpul gue sampai in ide Lo, tapi atas nama gue ya? Kan gak mungkin gue sebut nama Lo di forum," ujar Luna yang membuat Radith menjadi gemas sendiri. Semua itu tak ada urusan untuknya, terserah Luna mau memakai ide itu sebagai idenya atau ide gadis itu, semua terasa sama saja.


" Terserah Lo aja, yang penting Lo panggil artis yang bagus, harus berkualitasa walau Cuma artis lokal, biar Pesona OSIS STM Taruna tetap terjaga di mata sekolah sekitar. Oh ya, pemilihan ketos baru kapan?" tanya Radith saat mengingat kembali OSIS mereka terkenal karna Ketua OSIS nya yang tampan dan berbakat. Siapa lagi kalau bukan Darrel?


" Kayaknya bukan Oktober atau November deh. Gak begitu paham gue, paling juga gue gak ikut lagi, udah jadi dewan pengawas aja, biar adek – adeknya yang kerja," ujar Luna sambil mengedikkan bahunya, Radith hanya mengangguk sebagai jawaban.


" Gue ke aula dulu ya, dikabarin kalau ada apa – apa, bye dith," ujar Luna yang langsung pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Radith. Lelaki itu mengabaikan Luna dan kembali memainkan ponselnya. Tak ada gangguan, dia bisa kembali melanjutkan push rank nya yang selalu tertunda.


*


*


*


Luna berdiri diantara anak OSIS yang satu persatu memperkenalkan dirinya di depan murid baru. Luna bisa melihat Darrel di deretan paling ujung. Seperti dirinya, lelaki itu menyempatkan diri untuk datang ke aula ini, hanya sekadar melakukan perkenalan, karna lelaki itu sendiri memiliki kesibukan sebelum keberangkatannya. Belum lagi sebelum UN dia akan dikarantina hingga dia harus menyelesaikan urusan sekolah sebelum semua itu.


" Perkenalkan nama saya Giovan Darrel Atmaja, kalian bisa panggil saya Darrel, saya dari kelas Dua Belas TEI 1, jabatan saya di sini adalah ketua OSIS," ujar Darrel dengan senyum manis yang merekah, membuat banyak orang yang ada di sana tersenyum centil berusaha menarik perhatiannya.


Luna sendiri langsung memandang tajam ke arah Darrel dan cicwi – ciwi centil itu bergantian, mengapa Darrel tak kunjung melihat ke arahnya? Dia akan membuat Darrel diam tak berkutik, bahkan tak akan lagi mengeluarkan senyum yang manis itu.


Satu persatu dari mereka mulai memperkenalkan diri sesuai urutan jabatan. Luna berada cukup jauh dari Darrel, karna posisi jabatan Luna yang tak begitu tinggi di organisasi ini, dia akan mendapat kenaikan jabatan jika dia mendaftar lagi untuk seleksi, namun dia memilih menjadi dewan pengawas dibanding menjadi pengurus OSIS lagi.


" Selamat Pagi semua, Perkenalkan nama saya Lunetta Azura, kalian bisa panggil saya Luna, saya dari kelas Sebelas TEI 1, jabatan saya di sini sebagai Sekbid Acara, salam kenal," ujar Luna mengeluarkan semua kemampuan senyum terbaiknya. Gadis itu tersenyum sempurna membuat banyak orang di sana terkagum sempurna, bukan hanya laki – laki, yang perempuan pun sampai terkagum.


" Kak, Instagram nya apa? Kak Nomor WA dong, kak ID line, kak kantin bareng yuk." Itulah beberapa tanggapan anak lelaki tengil yang ada di sana, mereka tak memiliki ketakutan sama sekali sebagai anak baru, Luna pun hanya bisa menanggapi mereka dengan senyum sopan yang memang manis dari sananya.


Ketika giliran selanjutnya memperkenalkan diri, banyak mata yang masih menatap ke arahnya, Luna melambaikan tangannya sedikit untuk menyapa mereka tanpa menimbulkan perhatian lebih. Dari semua mata yang melihatnya kagum, ada sepasang mata yang membuatnya diam dan buru – buru menatap ke arah lain.


Sepasang mata milik Drarel yang langsung menajam dan menatap Luna dengan tatapan tak suka karna Luna menyapa adik kelas mereka yang tengil. Jika saja bukan di sekolah, Darrel sudah pasti akan membalas mereka semua dengan kejam, bahkan memastikan mereka tak akan hidup dengan nyaman setelah ini. Namun dia harus menahan semua itu karna statusnya sebagai ketua OSIS.


Perkenalan berakhir, mereka meneruskan kegiatan ke sesi satu, pengurus yang ada di sana pun bubar, tak terkecuali Luna, gadis itu hendak kembali ke kelasnya, pergi ke kantin untuk membeli asupan gizi dan setelah itu pergi ke ruang OSIS untuk mengurus sisa masalah kegiatan awal tahun ajaran STM Taruna.


Langkah Luna langsung terhenti dan sedikit terpelanting ke belakang saat seseorang menggenggam tangannya dengan erat, padahal dia belum keluar dari aula, namun orang itu sudah menariknya dan menahan langkahnya. Apapun maksud lelaki itu, Luna tak bisa melakukan ini di hadapan para siswa baru, dia tak ingin mendapat masalah lagi.


" Kak, jangan di sini ih, di luar aja kalau mau nyelesaiin, malu dilihatin banyak orang, lepasin dulu, itu loh banyak yang ngelihatin," ujar Luna yang membuat Darrel melirik tanpa menengok karna posisinya membelakangi mereka. Luna bisa melihat mereka mulai berbisik dan menunjuk ke arah mereka berdua.


Luna memaksa untuk melepaskan tangan Darrel, namun lelaki itu dengan berani menautkan tangan mereka dan pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun. Hal yang dilakukan Darrel tentu memancing perhatian bagi peserta MOS, apalagi Luna dan Darrel sudah menjadi 'Central of View' sejak perkenalan tadi, gerak gerik mereka sedikit saja menimbulkan respon berlebihan bagi mereka.


" Kak Darrel itu kenapa? Jangan kayak gitu lah kak, kak Darrel kan ketua OSIS, masak kayak gitu tadi di depan anak – anak baru," ujar Luna dengan pelan dan mengelus tangan pria yang masih menggenggam tangannya erat tanpa menyakitinya. Urat di lengan lelaki itu sampai terlihat, jika saja Luna tak mengenal Darrel, gadis itu pasti akan takut ebrhadapan dengan Darrel.


" Ya kamu gak usah TP TP Di depan adek kelas gitu dong, pakai ada yang nembak kamu di depan umum gitu, anak OSIS lain langsung ngelihatin aku, aku gak mau ada gosip baru lagi, kita udah cukup tenang beberapa bulan ini, jangan sampai ada gosip kita memburuk karna kejadian ini, aku gak mau Lun," ujar Darrel dengan wajah seriusnya. Sebenarnya Luna merasa geli melihat Darrel, namun gadis itu menahannya.


" Iya kak, Luna kan Cuma mencoba ramah sama adek kelas baru kita, masak Luna harus ketus sama mereka. Kak Darrel aja tadi juga senyum – senyum gitu bikin ciwi – ciwi di sana langsung ngerasa rahimnya terisi, kan gak lucu juga kak," ujar Luna yang memang sempat melihat mereka langsung mengelus perutnya dan cekikikan.


" Emang ada yang kayak gitu?" tanya Darrel dengan wajah herannya. Luna menghela napas dan mengangguk, karna dia sendiri pernah melakukan guyonan seperti itu.


" Ada beberapa orang yang kalau ngelihat cowok cakep langsung ngerasa hamil jalur halusinasi kak, Luna juga sering gitu waktu nonton oppa oopa korea, Luna langsung ngerasa hamil online sama mereka," ujar Luna yang membuat Darrel tertawa ngakak. Hamil jalur Halusinasi? Hamil online? Tidak sekalian hadiah Ale – ale atau ciki komo?


" Ya udah, kamu mau aku anter ke kelas atau Kemana dulu gitu? Aku mau ke ruang guru lagi habis itu, mau nyelesaiin tugas tugas di semester dua soalnya aku mulai bulan januari udah di karantina sebelum berangkat ke Jepang," ujar Darrel yang membuat Luna berpikir.


" Gak usah deh kak, Luna mau ke kelas, terus ke kantin, terus lanjut rapat kegiatan minggu depan, pusing Luna kak belum nemu guess star," ujar Luna yang baru sempat menceritakan hal ini pada Darrel karna memang mereka sangat jarang bertemu. Sedikit miris, namun memang keadaan yang membuat mereka harus melakukan itu.


Saat liburan lelaki itu sibuk dengan urusan restoran dan bisnis papanya sekaligus, saat masuk sekolah lelaki itu sibuk mengurus sekolah yang akan dia tinggalkan lebih cepat, bahkan dia harus merapel semua tes dan materi di semester dua ke semester satu, sekaligus melakukan pengayaan untuk persiapan ujian. Jika bukan orang cerdas, tak mungkin Darrel bisa melakukan itu semua.


" Ada guess star juga? Bukan Cuma pensi biasa?" tanay darrel yang memang tak tahu menahu masalah ini. Dia memang ketua OSIS, namun dia sudah menyerahkan smeua tanggung jawas itu pada wakilnya, dan wakilnya hanya mengiyakan karna tahu kondisi Darrel yang memang tak memungkinkan untuk meneruskan jabatannya.


" Tahun ini ada kak, soalnya di kotak aspirasi siswa tuh ada yang minta kalau bikin pensi ada guess star dari luar biar pensinya gak monoton, waktu Luna ajuin ke sekolah langsung di Acc, masalah dana mah gampang, udah ada, sisa banyak malah, tapi Luna bingung masalah guess star, gak ada channel juga," ujar Luna dengan frustasi.


" Tenang aja, kamu urus yang lain, masalah guess star aku yang urus, nanti kalau udah beres aku kabarin kamu buat masalah administrasinya. Oke?" tanya Darrel dengan senyum yang merekah, setidaknya itulah yag bisa dia lakukan untuk menebus tanggung jawabnya yang terbengkalai sebagai ketua OSIS sekaligus sebagai kekasih Luna.


" Kak Darrel serius? Kak Darrel kan sibuk banget? Gak usah kak kalau malah bakal ngerepotin kak Darrel, Luna bakal cari dalam waktu dekat ini kok, kak Darrel tenang aja, kak Darrel kan udah pusing sama persiapan ke Jepang," ujar Luna dengan kalemnya, padahal dia berharap Darrel membantunya.


" Gak usah berlagak gitu ah, kalau aku nurut sama kamu nanti kamu yang susah loh. Hahaha, lagian aku Cuma bisa bantu itu. Kasih aku dua hari, nanti aku kabarin kamu, oke sayang? Oke sip, aku ke ruang guru dulu ya, udah ditelponin nih, kantong aku geter," ujar Darrel yang tak lupa mengecup puncak kepala Luna dan langsung pergi dari sana.


Luna melangkah gembira menuju kelasnya, ada untungnya pula dia menjadi kekasih Atmaja, lelaki itu bisa membantu hal yang tak semua orang bisa membantunya. Sudah tampan, mapan, bisa diandalkan pula. Luna yakin banayk yang iri dengan hubungan mereka dan bermimpi mendapat kekasih seperti itu.


Teruslah bermimpi wahai saudara, kalau sampai kamu terjatuh, berarti tidurmu kurang ke tengah. – Lunetta_2019


*


*


*


Next Part on Process😛😆