Hopeless

Hopeless
Chapter 65



" Well, akhirnya satu tikus udah berhasil dibasmi, kuy lah party," ajak Darrel saat mereka berkumpul di teras rumah Luna.


" Ayok, ayok, yang ajep ajep itu kan kak?" tanya Luna dengan antusias sambil menggelengkan kepala, sementara tangannya menunjuk kearah atas, membuatnya mendapat jeweran dari Jordan.


" Ajep ajep apa? Ngawur aja," ujar Jordan dengan galak, membuat Luna memegang kupingnya dan terkekeh.


" Barbeque an aja gimana?" usul Radith dengan ceria, sudah lama dia memimpikan pesta barbeque, dia sering melihat di film film, sepertinya enak.


" Naah, setuju," sahut Tika dengan cepat.


" Yaudah siapin semua, gue terima nota aja, ntar gue yang bayar semua," ujar Jordan dengan santai sambil melepas sepatu kerjanya.


Darrel, Luna, Tika dan Radith juga mulai melepas sepatu mereka dan menaruhnya dengan rapi di rak, pernah Luna menaruh sepatu sembarangan, setelah dia cari keesokan harinya, ternyata sepatunya sudah dibuang oleh Jordan.


" Pesta Barbeque butuh apa aja sih?" tanya Luna dengan bingung, memang baru pertama kali baginya untuk mengadakan pesta barbeque.


" Cari aja di internet, nanti tinggal suruh orang orang Lo buat beli semua," ujar Tika memberi usul, Luna pun mengangguk dan mencari di internet bahan yang diperlukan.


Gadis itu mencatatnya di note dan mengirimnya ke salah satu orangnya, masalah pun beres. Semudah itu Luna menjalani hidupnya.


" Gue pergi dulu ya , ntar malem gue kesini," ujar Radith setelah mengecek ponselnya.


" Mau kemana? Kenapa gak disini sekalian sampai nanti malam?" tanya Luna dengan heran. Darrel yang melihat Luna seperti itu hanya mampu diam, seperti biasa.


" Ada urusan dulu, penting banget, gue harus pergi sekarang," jawab Radith sedikit terburu - buru.


" Blenda ya?" tebak Luna dengan reflek, Radith pun hanya mengangguk dan terkekeh, tanpa beban sama sekali.


" Yups, udah ya gue duluan, bye bye," ujar Radith sambil melambaikan tangan dan berjalan kearah motornya. Membuat Luna menghela napas seketika, namun dia segera mengubah air mukanya agar tidak menyakiti hati Darrel.


Namun Luna sedikit terlambat, Darrel sudah mengetahui wajah kecewa itu, meski sekali lagi dia hanya mampu diam, tidak bisa menegur atau protes pada Luna.


" Mau main apa disini?" tanya Tika setelah mereka duduk di sofa.


" Eemm, panggil perawatan aja yuk, kita pijet sama perawatan kuku," ujar Luna dengan antusias, membuat Tika dan Darrel meringis ngeri.


" Kak Darrel harus ikutan juga," ujar Luna dengan bahagia. Darrel hanya menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa.


" Gue aja gak pernah begituan Lun, apalagi kak Darrel," ujar Tika dengan geli.


" Gakpapa, ntar gue panggil Spa buat 4 orang sama bang Jordan," ujar Luna santai, membuat Darrel dan Tika melongo.


" Bang Jordan juga suka spa?" tanya Darrel dengan kaget, lelaki sekeren dan semacho Jordan menyukai spa? Tentu info baru bagi mereka.


" Iyalah, memang kenapa sih? Kok kalian kayak geli gitu?" tanya Luna yang akhirnya menyadari ekspresi mereka.


" Kaget aja cowok macam bang Jordan suka perawatan sama Spa gitu," jawab Tika saat Darrel tidak berani mengeluarkan pendapatnya.


" Hahaha, biasa kalik. Spa, Pijet Refleksi, perawatan wajah, bahkan perawatan kuku, udah pernah semua bang Jordan mah," ujar Luna tanpa beban.


Maafkan Luna ya Jordan, hancur sudah harga dirinya di tangan adiknya sendiri.


Luna segera menelpon Spa langganannya dan memesan layanan untuk empat orang. Tika menerima saja tawaran Luna, berbeda dengan Darrel, lelaki itu sebenarnya enggan, namun Luna merengek padanya membuatnya tidak tega dan akhirnya mengiyakan saja.


Citranya sebagai ketua OSIS tampan dan berwibawa akhirnya lenyap karena kekasihnya sendiri. Semoga saja Luna tidak mengupload foto mereka dan mempermalukannya lebih jauh lagi.




*


" Luna sama Tika chef, yang cowok tim mencicipi," ujar Jordan dengan otoriter.


Saat ini mereka sedang berkumpul di halaman belakang rumah Luna, semua keperluan sudah siap, mereka hanya perlu meracik bumbu dan memanggang daging sapi.


" Mana ada kayak gitu, minta Chef asli yang masak aja kalau gitu," ujar Luna dengan kesal diperintah seperti itu.


" Hahaha, yaudah gini aja, yang cewek racik bumbu sama sayur buah, yang cowok urusan panggangan sama cuci piring," ujar Darrel memberi saran.


" Deal," sahut Luna dan Tika bebarengan. Kedua gadis itu berbalik bebarengan menuju dalam rumah.


" Lo gimana sih? Kok malah nyusahin kita?" tanya Jordan dengan sewot.


" Hehehehe, yaudah bang nanti saya aja yang lakuin," jawab Darrel terkekeh sambil menggaruk kepalanya.


" Ya gak gitu juga bro, Lo mah gitu kalau sama gue, takut amat," ujar Jordan menggembungkan pipinya. Jordan tidak menggigit, dia hanya suka memukul, itupun jika Darrel yang salah duluan.


" Ya kan abang yang dituakan di sini," ujar Darrel kelewat jujur, membuat Jordan menatapnya dengan tajam dan penuh amarah.


" Fix kita musuhan!" teriak Jordan dengan bersedekap dan berjalan menjauh dari Darrel. Darrel yang bingung pun hanya menggaruk lehernya, entah apa yang dialami Jordan hingga lelaki itu bertingkah aneh.


" Gilak, tuh orang udah tua masih kayak bocah aja," ujar Radith yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan tidak penting.


Sudah hampir 30 menit, namun Luna dan Tika masih belum kembali, Darrel yang merasa curiga segera bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Radith yang tidak peduli memilih diam, sementara Jordan yang masih kesal hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Darrel pun hanya menggeleng karena sejak masuk STM, dunia sekitarnya menjadi aneh.


" Kalian kok lama bang.... ASTAGA!"


Darrel berlari dan mendekat ke arah mereka, apakah ada peneror lagi? mengapa dapur seperti habis di bom oleh seseorang?


" Hehehe, kita gak tahu harus ngapain kak, Tika juga gak bisa masak, Chefnya ilang gak tahu kemana, tanpa sadar malah jadi ngeberantakin dapur."


Luna menggaruk wajahnya dengan bingung, padahal tangannya penuh saus membuat wajahnya terkena olesan saus. Darrel mendekat dan mengelap wajah Luna dengan tangannya dan mencuci tangannya di wastafel.


Darrel meminta Tika dan Luna untuk mundur, lelaki itu langsung mengambil alih untuk membuat bumbu Barbeque yang pernah dia buat.


Dengan lihai Darrel memotong dan meracik semua bumbu yang ada, tak butuh waktu lama bumbu pun siap. Lelaki itu mengambil alih buah baru dan memotong mereka, karena buah yang lama sudah pecah dan berantakan di lantai, entah apa yang dilakukan Luna sampai jadi seperti itu.


" Setelah ini kalian beresin dapur loh, daripada dimarahin sama bang Jordan, dia lagi kesel kayaknya," ujar Darrel tanpa mengalihkan pandangannya dari buah dan pisau yang dia pegang.


Luna dan Tika hanya mengangguk cemberut, seperti anak yang baru saja dimarahi oleh bapaknya. Mereka tampak tidak bergerak karena Darrel meminta mereka diam tadi.


" Selesai, aku keluar dulu, kalian beresin semua baru keluar, awas kalau masih berantakan," ujar Darrel mengancam sambil menunjuk mereka bergantian. Darrel pun keluar dari dapur setelah mereka mengangguk.


" Ini rumah siapa sebenarnya," ujar Luna sambil menghela nafas saat Darrel tak nampak lagi di ruangan ini. Tika sendiri hanya terkekeh melihat Luna yang akhirnya mengeluh juga.


Merekapun membereskan kekacauan yang ada, mengembalikan alat dan bahan sesuai tempatnya, ingin rasanya meminta bantuan pelayan, namun ternyata Jordan sudah meminta mereka off malam ini, sekeras apapun Luna berusaha, hasilnya akan sama.


Sementara itu Darrel keluar dan duduk di tempatnya semula, membuat Jordan dan Radith memandangnya curiga.


" Darimana Lo? Lama amat? Jangan bilang Lo bantuin Luna ya?" tuding Jordan dengan sengit, kalau Darrel membantu Luna, berarti dia sudah melanggar perjanjian dan membuat pihak pria merugi.


Sepuluh menit kemudian, Luna dan Tika keluar membawa daging yang sudah dioles bumbu serta buah buahan yang sudah dipotong, membuat Jordan bertambah curiga. Luna saja tidak bisa membedakan bumbu dapur, bagaimana mungkin dia bisa membuat bumbu barbeque?


" Ini kamu bikin sendiri?" tanya Jordan dengan memicingkan matanya. Luna menggeleng dengan polosnya


" Enggak, ini tadi dibuatin kak Darrel," jawabnya dengan polos, membuat Tika dan Darrel menepuk wajah mereka dengan frustasi.


" LUNA!" Teriak Tika dan Darrel bersamaan, Luna diberi makan apa selama ini? Entah apa isi otaknya, Darrel sudah bersusah payah membantu mereka, Luna malah membongkar kedok Darrel.


" Rel," panggil Jordan yang melihat Darrel dengan tatapan kesalnya.


" Iya bang, ngaku saya," ujar Darrel dengan lemas dan memijit kepalanya.


Luna sendiri tidak mengerti apa yang terjadi, Darrel tidak memintanya untuk diam dan merahasiakannya, bukan saya Luna kan?


" Nah, Darrel, sekarang gantian Lo bantuin kita bakar semua dagingnya, jangan cuma ciwi ciwi aja Lo bantuin," ujar Jordan tanpa dosa dan kembali tiduran di matras yang dia bawa.


Darrel tidak membantah apapun lagi, dia menurut dan mengambil alih nampan yang Luna bawa dan mulai memanaskan panggangan. Luna yang merasa tidak enak berniat membantu Darrel.


Gadis itu mendekati Darrel dengan wajah murungnya, sepertinya Darrel langsung dikerjai oleh Jordan karena tadi dia membantu Luna.


" Kak Darrel, aku bantuin ya," ujar Luna yang sudah berdiri di samping Darrel.


" Gak usah," jawab Darrel singkat tanpa melihat ke arah Luna. Membuat Luna menggigit bibirnya karena takut Darrel marah padanya.


" Maafin Luna kak," ujar Luna dengan sedih dan suara yang mulai bergetar.


" Iya gakpapa," jawab Darrel sekenanya. Luna makin yakin Darrel marah padanya, jika lelaki itu tidak marah, dia pasti menenangkan Luna dan tidak menyalahkan gadis itu.


" Kak Darrel maaf," ujar Luna yang semakin ketakutan dan mulai menangis, membuat Darrel menatap Luna heran.


" Gak ada angin gak ada  hujan, kok nangis?" tanya Darrel dengan alis yang berkerut, Luna hanya menggelengkan kepalanya namun tidak menghentikan tangisnya.


Darrel mendekat dan memeluk gadis itu, membuat Luna semakin terisak dalam dekapan Darrel.


" Lo apain adek gue?" tanya Jordan yang mendongak dari tidurnya, namun tidak berniat merelai kedua orang yang berpelukan itu.


" Digigit semut bang," ujar Darrel dengan santai, membuatnya dihadiahi cubitan dari Luna.


" Aduh, sakit atuh neng. Kamu kenapa sih?" tanya Darrel sekali lagi, Luna masih menggeleng dan enggan menjawab Darrel.


" Kak Darrel jangan marah sama Luna, Luna minta maaf kak," ujar Luna mendongak dan menatap Darrel yang juga menatapnya.


" Lah? Siapa yang marah sama kamu sih? Aku lagi konsen nyalain pemanggang Lun, agak macet," ujar Darrel menunjuk pemanggang dengan dagunya.


" Pokoknya kak Darrel gak boleh marah sama Luna, Kak Darrel gak boleh benci Luna," ujar Luna dengan isakan yang mulai mereda.


" Iya, janji gak akan marah atau benci sama Luna, kalau sayang dan Cinta boleh ya?" tanya Darrel yang masih sempatnya menggoda Luna. Membuat gadis itu melepaskan pelukan mereka.


" Buruan dipanggang, Luna laper," ujar Gadis itu mengelap matanya yang berair dan pergi meninggalkan Darrel.


" Katanya mau bantuin?" tanya Darrel sedikit berteriak.


" Gak jadi!" seru Luna tanpa berbalik, gadis itu menuju dipan yang sudah diberi kasur kecil, membuat siapapun yang berbaring di atasnya merasa nyaman


Darrel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Luna, pria itu segera memanggang daging daging yang sudah dibumbui agar lekas matang dan selesailah tugasnya.


Bau daging yang harum mengundang 'lalat' datang, lalat itu berdiri di sebelah Darrel seakan siap menyantap daging pertama yang matang.


" Bantuin juga enggak, nunggu makan pertama iya," ujar Darrel menyindir orang itu.


" Ye, kan udah ada tugas masing masing kak, Lo yang masak, gue yang makan, adil kan?" tanya orang itu dengan wajah yang menyebalkan, membuatnya dipukul capitan oleh Darrel.


" Minggir gak Lo? Gue capit terus gue panggang Lo disini!" ujar Darrel dengan galak, membuat orang itu tertawa ngakak.


" Silakan babang Darrel, adek Radith gak takut," ujar Lelaki itu dengan menepuk nepuk dadanya.


" Radith minggir gak!" seru suara cempreng yang memekakkan telinga kedua orang disitu.


" Hah, kalau dia mah gue kalah, gue mending nunggu aja," ujar Radith mengangkat tangan dan berjalan mundur.


" Masih lama ya kak?" tanya Luna sambil memegang perutnya, gadis itu tampak cemberut karena lapar.


" Kamu makan semangga dulu, nanti kalau udah mateng aku panggil, biar yang pertama buat kamu," ujar Darrel mengusap wajah Luna, namun karena tangannya kotor, jadilah wajah Luna menghitam.


" Eh, kok malah kotor, bentar aku bersihin," ujar Darrel sedikit heboh. Darrel kembali mengusap wajah Luna, bermaksud membersihkan noda hitam itu, namun yang terjadi dia malah meratakannya.


" Loh kak, kan tangan kak Darrel kotor!" pekik Luna saat menyadari perbuatan Darrel. Lelaki itu tertawa terbahak - bahak saat melihat wajah Luna yang rata dengan noda hitam.


Luna memukul pundak Darrel dengan kesal, membuat lelaki itu memegang kedua tangan Luna agar tidak memukulnya lagi.


" Sini sini, aku bawa Tissue, aku bersihin beneran dulu," ujar Darrel yang tak tega kekasihnya mirip tentara perang.


Dengan sabar Darrel menghapus kotoran di wajah Luna, sementara gadis itu menutup mata, menunggu Darrel menyelesaikan tugasnya.


" Gak bisa deh Lun kayaknya, coba kamu cuci muka pakai air," ujar Darrel setelah berusaha membersihkan kotoran itu.


Luna berdecak dan langsung pergi begitu saja, sementara Darrel melanjutkan aktivitasnya.


Tak lama Luna kembali dengan wajah yang bersih bening, seperti tanpa kaca, clinkk *eh.


" Mana yang udah matang, Luna lapar," ujar Luna sedikit merengek


" Nih udah matang satu, ambil pisau gih, aku potongin," ujar Darrel sambil mengangkat daging yang sudah matang.


Luna sedikit berlari untuk mengambil pisau, kemudian dia segera menghampiri Darrel lagi. Lelaki itu memotong daging menjadi potongan kecil, lalu meniupnya agar tidak panas dan segera menyuapi Lunetta.


Gadis itu dengan senang hati membuka mulutnya dan mulai mengunyah daging yang empuk dan enak tersebut, bahkan dia meminta Darrel untuk menyuapinya lagi.


" Ehem! Enaknya yang pacaran, lainnya mah jadi nyamuk aja ya," ujar Jordan menyindir, sambil menepuk angin seakan ada ngamuk.


Darrel melirik Luna dan tersenyum, Luna yang mengerti langsung mengangguk dan merangkul perut bidang Darrel dan sedikit mengelusnya, membuat Darrel sedikit kegelian karenanya. Darrel sendiri merangkul pundak Luna dan mencubit pipinya gemas.


" Sayang, kayaknya ada yang iri nih sama kita," ujar Darrel dengan sengaja.


" Iya nih, udah jadi Jomblo Veteran soalnya," jawab Luna menengok ke arah Darrel yang lebih tinggi darinya.


" Bilangin gih, biar cepet cepet nikah, daripada nanti kamu langkahin kan."


" Ah gakpapa, biar nanti kita langkahin aja kak."


" AWAS KAMU MINTA UANG SAKU KE ABANG!" Seru Jordan dengan kesal, membuat kedua orang itu tertawa sampai terpingkal - pingkal.