Hopeless

Hopeless
Menunggu Hamil



Empat bulan pernikahan, belum ada tanda-tanda kehamilan pada Kinan. Kinan mulai resah karena Beni selalu bertanya setiap bulan. Kenapa masih datang bulan? Kok belum hamil? Jawaban atas pertanyaan Beni tersebut tentu saja karena Tuhan belum mengkehendaki. Belum rezekinya. Tapi jawaban seperti itu tidak akan masuk ke otak Beni yang sudah tidak beres.


Beni juga sudah tidak pernah menyetor hafalan kepada Kinan. Setiap kali Kinan bertanya, ada saja jawabannya. Abang capek, Sayang. Besok ya, Sayang. Rukun sholat 'kan Abang sudah hafal, Sayang. Yang lainnya Abang pelajari pelan-pelan ya. Jangan bosen ngajarin Abang, ya. Lah, dia yang malas setor hafalan, lagaknya minta jangan bosan diajari.


"Abang begadang lagi?" Kinan terbangun tengah malam karena kebelet pipis. Beni terlihat masih bermain ponsel.


"Abang terbangun tadi dan tidak bisa tidur lagi."


Kinan memperhatikan wajah Beni, ia tahu suaminya berbohong. Orang yang terbangun dan tidak bisa tidur lagi dengan orang yang belum tidur sama sekali jelas ada perbedaannya.


Beni mungkin pulang tepat waktu, tapi firasat Kinan, Beni masih saja berhubungan dengan barang harap tersebut. Beni sering mengalami kesulitan mengunyah makanannya seolah sedang panas dalam. Padahal dulunya, Beni pecinta makanan pedas. Keringat yang keluar dari tubuh Beni juga selalu berlebih. Mata kerap merah dan terlihat lelah, penampakannya tidak ubahnya zombie.


Ingin bertanya, tapi ia takut bertengkar. Akhir-akhir ini ayahnya sering menginap di rumah. Sepertinya bertengkar dengan lacurnya. Terkadang, Kinan menyalahkan Ayahnya juga, sudah tua masih saja suka main perempuan. Tapi, di sisi lain, Kinan juga kasihan kepada Ayahnya, memiliki istri tapi tidak pernah diurus. Makan dan pakaiannya Ayahnya, masih Kinan yang mengurusi. Ya, mungkin ini karma untuk Ayahnya yang tidak akan pernah dihormati atau dihargai sebagai suami karena sudah menyia-nyiakan ibunya dulu yang begitu amat menghormati Ayahnya.


Kembali ke pada Beni yang selalu menyisakan tanya pada Kinan. Ia yakin kecurigaannya tidak melenceng. Haruskah ia diam demi keamanan rumah tangga mereka? Kinan merasa itu bukan tindakan yang benar.


"Abang masih menggunakan barang haram tersebut?"


"Tidak," sahut Beni singkat tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel.


"Tapi aku merasa..."


"Itu hanya perasaan kamu." Beni terdengar sedikit kesal. Kinan meragu untuk melanjutkan pembahasan ini.


"Bang..." nyatanya Kinan tidak puas jika tidak membahas hal ini. "Kinan tahu Abang berbohong, firasat Kinan tidak mungkin salah. Kinan tahu ciri-cirinya seperti apa."


"Ini sudah malam, kamu sebaiknya tidur."


"Kita harus bicara."


Beni meletakkan ponsel. Kini mereka saling berhadapan.


"Kamu mau Abang bilang apa?"


"Katakan yang sejujurnya," tuntut Kinan.


"Kamu 'kan sudah bisa menebak. Sudah tahu. Jadi apa lagi yang mau Abang jelaskan?"


Kinan merasakan pening luar biasa. Meski firasatnya mengatakan bahwa suaminya masih tersesat, tetap saja rasanya menyakitkan saat Beni membenarkan dugaannya tersebut secara langsung.


"Abang sudah janji..." Kinan tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain menuntut janji pria yang baru menikahinya empat bulan yang lalu.


"Suntuk? Apa yang membuat Abang suntuk? Apakah selama menjadi istri Abang, Kinan tidak becus?"


"Bukan seperti itu..." Beni berusaha menjelaskan dengan mencari-cari alasan. Tidak ada yang salah dengan Kinan. Wanita yang dinikahinya itu benar-benar melaksanakan tugas dengan benar.


Kinan istri yang patuh pada suami. Jika Beni mengatakan jangan keluar, tidak suka dengan istri yang suka keluyuran, maka yang dilakukan Kinan hanya berdiam diri di rumah. Saat Beni melarangnya bertemu dengan Nuri atau temannya yang lain, tanpa protes ia akan mengikuti ingin suaminya.


Kinan sudah siap memasak saat suaminya masih tidur. Menyediakan pakaian dengan rapi dan wangi. Membersihkan tempat tidur saat Beni hendak istirahat. Memijat jika Beni sedang letih. Kinan akan langsung mengerti jika Beni ingin dimanja saat suaminya itu tiba-tiba berbaring di atas pangkuannya. Dan Kinan bukan tipikal istri yang banyak tuntutan, tidak pernah meminta uang bulanan harus sekian meski ia tahu suaminya memiliki uang yang banyak. Kinan juga bukan tipikal istri yang suka hedon, keluar masuk salon. Bahkan pakaiannya masih itu-itu saja. Bukan karena Beni pelit, tapi begitulah Kinan, ia tidak ingin menghambur-hamburkan uang suaminya dengan sia-sia.


Lantas, kenapa Beni mengatakan dia suntuk?


"Jika ada yang kurang berkenan di hati Abang atas pelayananku sebagai istrimu. Ada baiknya Abang katakan langsung, jangan dipendam."


"Sumpah, Sayang, ini bukan karena kamu."


"Lalu apa? Jika ada masalah di luar, Abang bisa berbagi dengan Kinan. Kinan mungkin tidak bisa memberi solusi, tapi Kinan akan menjadi pendengar yang baik untuk Abang, bukannya lari ke barang haram yang nantinya akan membuat Abang semakin terpuruk dan hancur."


"Beri Abang waktu, Sayang."


"Kinan hanya ingin yang terbaik untuk Abang." Jujur, Kinan sebenarnya mulai emosi. Bisa-bisanya Beni membohonginya. Lagi dan lagi ia harus menahan emosinya karena tidak enak juga didengar oleh keluarganya.


"Begitu kamu hamil, Abang janji, Abang sudah bersih. Abang ingin menjadi Ayah yang baik."


"Ha-hamil?"


"Ya, itu alasan yang kuat, Sayang. Kalau diantara kita sudah ada anak sebagai pelengkap, Abang akan menjadi manusia yang lebih baik."


"Apakah Kinan tidak cukup menjadi alasan?" Lirihnya dengan sedih. Bukannya ia cemburu jika Beni kelak akan lebih memprioritaskan anak dibandingkan dirinya. Hanya saja, janji Beni kali ini terdengar semu. Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan hamil dan ia tidak akan pernah tahu kapan Tuhan akan mempercayakan anugerah itu kepada mereka. Kemungkinan terburuknya, bagaimana jika Tuhan tidak memberikan mereka keturunan. Apakah Beni akan semakin menjadi, tenggelam dalam kesesatannya.


"Kamu tahu Abang sangat mencintaimu. Tolong lah, Sayang, mengerti sama Abang." Beni menggenggam tangannya, Kinan langsung menariknya dengan kasar.


"Kenapa Kinan harus mengerti saat Kinan tahu bahwa semuanya akan berdampak buruk?"


"Ini tidak mudah bagi Abang."


"Ini juga tidak mudah bagi Kinan. Kinan tidak ingin rumah tangga kita hancur, tapi aku sudah bisa menebak bahwa ini akan hancur." Kinan mulai menangis. Apa yang dialami ibunya, sepertinya akan ia alami. Kegagalan dalam berumah tangga.


"Ssstt..." Beni menarik Kinan ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan kuat meski Kinan berusaha berontak. "Tolong jangan katakan seperti itu, Sayang. Abang bersumpah, Abang janji, begitu kamu hamil, Abang akan berhenti. Jika Abang tidak menepati janji Abang, kamu boleh ambil sikap. Terserah Kinan mau membawa kemana hubungan ini. Abang akan terima. Untuk itu, beri Abang kesempatan satu kali lagi. Kita sama-sama berdoa agar kamu segera hamil."