Hopeless

Hopeless
Chapter 192



" Abang, besok Luna terapi, abang harus mau temani Luna, lunca Cuma mau ditemani sama bang Jordan, please ya bang," ujar Luna lewat telepon yang langsung diiyakan oleh Jordan. Sesibuknya lelaki itu, papanya memintanya untuk tetap menjadikan Luna prioritas, apalagi jika gadis itu sampai meminta, pasti ada hal yang dikhawatirkan gadis itu.


Mungkin Luna merasa takut karna besok adalah terapi pertamanya sekaligus pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui seberapa parah ataksia itu menguasai tubuhnya. Luna membutuhkan Jordan yang membuatnya tenang, dia tidak mau merepotkan Radith atau pun Darrel untuk hal ini, maka dari itu dia langsung meminta Jordan untuk menemaninya. Tentu Jordan tidak akan menolak permintaan itu.


Ke esokan harinya, Jordan benar – benar langsung kembali ke Indonesia dan membawa Luna emnemui dokter yang akan membantu Luna untuk terapi berjalan sekaligus melakukan pemeriksaan lanjutan. Meski takut, Luna tetap melakukan apapun yang diminta oleh dokter. Tak mungkin kan dokter berniat untuk mencelakainya atau membuat dia makin cidera? Setidaknya dokter tak akan melakukan hal itu jika masih mau bekerja dengan normal di rumah sakit milik papanya.


" Bagus Luna, kamu melakuakn hal yang bagus. Kamu harus paksa kaki kamu untuk berjalan, maka saraf di kaki kamu akan menuruti apa yang dikehendaki oleh otak. Kalau kamu merasakan sakit, kamu harus bilang ya, itu artinya saraf kamu mulai merespon apa yang kamu lakukan." Luna menuruti apa yang dikehendaki oleh dokter itu.


Terapi akhirnya selesai setelah beberapa metode yang Luna lakukan. Gadis itu ditidurkan oleh dokter di sebuah kasur yang ada di rumah sakit itu smeentara Jordan tetap mengawasi di seberang dokter itu. Dokter mulai menggunakan palu kecil dan stetoskopnya.


Dokter itu mulai mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh Luna lakukan di saat seperti ini. Jordan mengangguk mengerti apa yang dokter katakan, namun Luna memandang dokter itu tanpa ekspresi dan bahkan tak berkedip. Gadis itu terkejut saat Jordan menepuk pundaknya, Jordan terkejut karna Luna tersentak, apakah gadis itu sedang kehilangan fokusnya?


" Kenapa kamu melamun?" tanya Jordan yang membuat Luna menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca, gadis itu kembali menatap dokter yang juga menatapnya khawatir. Dokter itu membuka mulutnya dan menanyai Luna beberapa hal, namun gadis itu sama sekali tak menjawab.


" Dokter.." ujar gadis itu lirih dengan air mata yang sudah turun. Jordan dan dokter itu semakin panik dan memandang Luna dengan cemas. Jordan sendiri langsung memegang kepala Luna dan mengelusnya pelan, menenangkan gadis yang kini gemetar. Apa Luna merasakan sakit sampai tidak bisa berkata – kata seperti ini?


" Saya gak bisa dengar apapun yang dokter dan bang Jordan bilang. Saya kenapa dok?"


Deg


Serasa semua tulang dalam tubuh Jordan remuk seketika. Lelaki itu sampai berlutut dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Luna dengan erat. Dokter sendiri tak menjawab dan langsung bertindak. Dia mengambil senter kecil dalam kantungnya dan memeriksa telinga Luna dengan teliti.


" Kita harus mengecek kondisi dalam telinga Luna, saya akan menyiapkan ruangan dan alatnya segera," ujar Dokter itu yang langsung panik dan keluar dari ruangan, meninggalkan Jordan yang masih shock dengan kondisi Luna, sementara Luna mengorek kupingnya sendiri dengan wajah bingung. Mengapa tiba – tiba dia tidak bisa mendengar apapun?


" Bang Jordan, Luna gak kenapa – napa kan bang? Luna gak tambah parah kan bang? Kenapa Luna gak bisa mendengar apapun? Telinga Luna eknapa bang?" tanya Luna yang langsung melepaskan tangan Jordan dan meremas telinganya sendiri sampai telinga itu memerah. Jordan langsung emmegang tangan Luna dan mengamanan tangan itu.


Luna menangis tanpa suara, rasanya takut dan sesak, gadis itu tak bisa menjalani kondisi yang seperti ini, hidupnya terasa snagat sunyi tanpa suara sama sekali, Luna tidak betah dan berusaha untuk memegang telinganya, namun tangannya dipegang kuat oleh Jordan, membuat gadis itu akhirnya sesenggukan dan menangis lebih keras.


Tak lama dokter datang dan meminta Jordan untuk membantunya memindahkan Luna ke kursi roda dan keluar dari ruang itu. Luna melakukan rontgen untuk bagian saraf telinganya. Dokter pun langsung menghela napas setelah serangkaian tes berakhir. Dokter itu menghampiri Jordan dan menepuk pundak lelaki itu. Jordan menatap dokter tersebut dengan cemas.


" Sepertinya ataksia tersebut sudah sampai tahap melumpuhkan sistem pendengaran Luna. Mungkin setelah hari ini Luna akan sesekali sulit mendengar, sama seperti saat dia sering tersandung dan tidak bisa merasakan kakinya, lama – kelamaan Luna akan mengalami ketulian yang permanen. Saya harap ini pertama dan terakhir kali Luna kehilangan pendengarannya. Saya akan menyiapkan alat bantu dengar yang akan digunakan oleh Luna jika pendengarannya terganggu."


" Luna gak kenapa – napa kan bang? Luna baik – baik aja kan bang?" tanya Luna dengan khawatir, gadis itu masih ketakutan, sementara Jordan berusaha tersenyum dan mengangguk lalu mengelus kepala Luna. Jordan ingin mengatakan Luna tak perlu khawatir, namun bila Luna tak bisa mendengar suaranya, rasanya percuma, karna Luna tak akan percaya perkataannya.


Tak lama dokter kembali membawa sebuah alat bantu dengar dan membantu Luna untuk memakai alat itu. Dokter mulai memanggil nama Luna pelan dan gadis itu menengok, membuat Jordan melebarkan matanya dengan penuh harapan, semoga alat bantu ini benar bisa membantu Luna untuk terus bisa mendengar.


" Luna bisa dengar suara saya?" tanya dokter itu dengan pelan sambil memandang ke arah Luna. Dokter itu berusaha tidak membuat Luna membaca gerkan mulutnya untuk memastikan gadis itu mendengar, bukan menerka apa yang dia katakan.


" Luna dengar suara dokter. Tapi, kenapa Luna harus pakai alaat ini dok?" tanya Luna dengan tidak mengerti. Tentu gadis itu bingung dengan alat yang terpasang seperti headset yang menempel pada telinganya, apakah seterusnya dia harus memakai alat bantu dengar ini? Apakah sekarang bukan hanya lumpuh, dia juga menjadi tuli? Mengapa hidupnya terasa semakin berat setiap harinya?


" Sistem pendengaran kamu mulai terganggu, namun saya bisa memastikan hal ini hanya sementara dan tidak akan lama. Saat mau tidur, kamu bisa lepaskan alat bantu ini dan paginya kamu cek, jika kamu sudah bisa mendengar dnegan normal, kamu bisa melepas alat bantu dengar ini, tapi kalau masih tidak bisa, kamu harus memakai alat ini untuk bisa mendengar."


" Apa ini karna ataksia yang Luna alami do? Sekarang Luna juga mulai tuli? Apa Luna bakal tuli permanen nantinya? Dulu kan kaki Luna sering gak bisa digerakin dan sekarang Luna lumpuh dan akan menjadi lumpuh permanen nantinya, apa hal itu terjadi juga dengan telinga Luna?"


Dokter tampak terkejut karna diberondong oleh Luna. Namun dokter itu juga tidak bisa berbohong mengenai kondisi Luna. Dokter itu mengangguk, membenarkan apa yang Luna duga, membuat gadis itu terdiam dan berusaha mengatur napasnya. Tentu saja dia terkejut dan tak menyangka kondisinya sudah sejauh ini, jika sudah seperti ini, apa mungkin dia masih bisa disembuhkan? Apaa mungkin masih ada keajaiban baginya untuk sembuh?


" Sekarang Luna boleh pulang dok?" tanya Luna yang diangguki oleh dokter itu. Luna hendak menggerakkan tangannya, namun tangan itu bergetar dnegan sendirinya. Hal itu tentu membuat Luna terkejut, sedih, marah dan frustasi dalam waktu yang bersamaan. Sudahlah kakinya lumpuh, telinganya tuli dan kini tangannya bergetar sendiri, kurang alasan apa yang memungkinkan Luna untuk tak frustasi?


" Arrrgghh! Luna benci! Luna benci seperti ini!!!" pekik gadis itu dengan sangat keras, gadis itu berusaha mengontrol tangannya, namun tangannya semakin bergetar dan terus bergerak sendiri, sampai akhirnya Jordan yang turun tangan dan menggenggam tangan itu erat.


Jordan berysaha keras untuk tidak menangis, dia tak mau membuat Luna merasa dikasihani atau apapun itu yang membuat mental Luna drop. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Luna dan memeluk gadis itu, dalam pelukan Luna lah Jordan mulai menghapus air mata yang tidak bisa dia tahan untuk tak keluar. Lelaki itu menghapus air matanya diam – diam agar Luna tidak tahu bahwa dia merasa hancur melihat Luna seperti ini.


Getaran di tangan Luna berlangsung selama beberapa menit, akhirnya gadis itu bisa tenang dan duduk diam. Ya, hanya duduk diam karna dia tidak bisa merasakan seluruh tubuhnya. Tubuh gadis itu terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Luna merasa dirinya seperti mayat hidup, tidak bisa bergerak sama sekali. Ternyata seperti ini rasanya menderita stroke, tapi apakah harus dia merasakannya di usia yang sangat muda ini? Tentu hal ini tidak masuk akal.


" Abang suapin ya, kamu belum makan kan siang ini?" tanya Jordan yang dijawab gelengan oleh Luna. Jordan mengangguk dan meminta orang – orangnya membawakan makanan sehat dan juga lezat sesuai dengan saran dokter. Tak lama ada dua orang yang masuk ke dalam ruang itu membawakan dua sterofoam berisi makanan yang Jordan pesan.


" Dengan sabar Jordan menyuapi Luna yang tanpa minat mulai mengunyah makanannya. Namun ternyata diam – diam gadis itu berusaha menggerakkan tangannya sambil mengunyah, sampai kahirnya tangan gadis itu bisa kembali digerakkan dan gadis itu memegang tangan Jordan yang mengarahkan sendok ke mulutnya. Jordan tentu terkejut sekaligus bahagia melihat tangan Luna sudah bisa digerakkan lagi.


Luna memakan makanannya dengan lahap tanpa bersuara sementara Jordan makan dengan pelan sambil mengamati adik kecilnya yang kini sedang sangat jatuh menurutnya, meski Luna tetap berusaha tenang dan biasa saja dihadapannya. Baik Luna atau Jordan, keduanya tak ingin membuat satu sama lain khawatir, mereka berusaha terlihat dan menunjukkan semua baik – baik saja, meski keduanya tahu kenyataan berbanding terbalik.


" Bang, habis ini boleh gak kita ke makam Blenda terus ke makam mama? Tiba – tiba Luna pingin ke sana."


" Ya udah, setelah kamu selesai makan kita ke sana."


Luna mengangguk dan segera menghabiskan makanannyaa, gadis itu menghabiskan makanannya segera dan menunggu Jordan melakukan hal yang sama. Segera setelah makanan Jordan habis, lelaki itu memanggil dokter dan meminta ijin untuk pamit. Dokter memeriksa kondisi Luna sekali lagi, terutama kondisi alat bantu dengar itu.


" Baiklah, hasil pemeriksaan alat bantu dengarnya baik, kalian bisa pulang. Tapi tolong jaga kondisi Luna agar tidak kelelahan dan jaga pola makan. Jangan lupa juga obatnya rutin diminum agar Luna tidak sering kambuh seperti ini. Dan yang terpenting, selalu jaga pikiran kamu untuk tetap positif, itu akan sangat membantu untuk kepulihan kamu, kamu mengerti?"


Luna mengangguk paham dan duduk di kursi roda dengan nyaman. Setelah mereka berpamitan, Luna dan Jordan segera meninggalkan rumah sakit untuk mengunjungi makam Blenda, sebelum itu Luna mampir ke toko bunga dan memilih sendiri bunga yang akan dia berikan pada Blenda meski Jordan sudah bilang jika semua itu bisa dilakukan oleh pesuruhnya, namun Luna tetap ingin melakukannya sendiri.


Mereka sampai di kawasan pemakaman dimana mama Luna dan Blenda dimakamkan. Mereka memang dikebumikan di pemakaman keluarga Wilkinson dengan alasan Blenda sudah seperti keluarga mereka sendiri. Bahkan ayah Blenda langsung diterima sebagai direktur utama di salah satu perusahaan Wilkinson karna papa Luna sudah percaya dnegan kinerja Beliau yang rela melakukan apapun demi anaknya.


Tipe manusia yang memilki tekat kuat dan terus berusaha untuk mencapai tujuan. Orang seperti itulah yang dibutuhkan oleh Mr. Wilkinson sebagai kepala perusahaan yang dikelolanya, tentu akan snagat menguntungkan baginya memilki seorang pekerja keras yang bertekad kuat.


" Hai Blenda, apa kabar kam udi atas sana? Di sana ramai gak? Enak gak? Dingin gak? Kamu bahagia gak?" tanya Luna beruntun yang membuat Jordan gemas sampai mengacak kepala Luan dengan asal, membuat Rambut gadis itu berantakan seketika, yang dilakukan Jordan membuat Luna berdecak dan langsung merapikan rambutnya.


" Kamu kalau nanya jangan kebanyakan, kasihan Blenda. Dia itu bukan tersangka yang lagi kamu intrograsi loh Lun, masak nanyanya banyak gitu, satu – satu ah nanyanya," ujar Jordan yang membuat Luna terkekeh. Gadis itu merasa sah saja dia bertanya banyak, toh tidak akan ada yang menjawabnya, dia melakukan itu kan hanya untuk berbasa – basi dengan nisan yang bertuliskan nama lengkap Blenda di sana.


" Blen, Lo udah tahu kan dari atas sana? Tapi gue tetep mau cerita sama Lo. Gue masih gak nyangka kalau Radith ternyata suka sama gue, tapi dia takut ngakuin perasaannya karna dia masih pacaran sama Lo."


" Hah? Radith bilang dia suka sama kamu?" tanya Jordan yang berada di sebelah Luna. Luna langsung metelakkan telunjuknya ke bibir Jordan. Meminta lelaki itu tidak berkomentar karna hal ini bukan urusan Jordan, Luna kan sedang bercerita dengan Blenda. Urusan wanita, lelaki dilarang ikut – ikutan dalam masalah ini.


" Bukan berrarti dia gak sayang sma aLo ya, gue rasa dia tetap sayang sama Lo, kami semua sayang sama Lo. Gue Cuma mau bilang, di sini gue bakal jagain Radith buat Lo, walau nantinya Radith yang bakal jagain gue sih. Lo tetap bahagia ya di sana, jagain kami, doa in yang terbaik bukan kami, kami bakal selalu ingat Blenda di tempat khusus. Yang tenang di sana ya Blen."


Luna mengusap nisan Blenda pelan, lalu menyirami nisan itu dengan air mineral yang dia bawa. Membersihkan nisan tersebut dari tanah dan debu yang menempel. Luna langsung pergi dari sana ditemani oleh Jordan yang masih diam tak berani merespon Luna.


" Emang bener Radith bilang dia suka sama kamju? Kapan? Kok abang gak dengar berita ini?"


" Waktu kemarin bang, kan bang Jordan sama kak Darrel sibuk, nah Luna minta Radith temenin Luna jalan – jalan. Eh malah dia bilang dia suka sama Luna tapi dia gak akan melakukan apapun karna dia sadar kalau Luna punya kak Darrel. Luna jadi bingung bang, bahkan Luna gak tahu Luna suka sama siapa. Luna pusing dan gak mau mikirin itu bang."


" Wah, ada nyali juga dia ngakuin perasaannya ke kamu, harusnya kamu tuh nanggepin perasaan dia, biar nanti jadinya heboh, terus dia bertengkar sama Darrel, kan seru tuh kayak di film – film."


" Apa sih bang, gak jelas, Luna gak mau mikir itu bang, Luna Cuma mau mikir gimana caranya Luna sembuh, itu kan lebih penting buat sekarang." Tak terasa mereka sampai di makam mama Luna yang senantiasa bersih dan rapi.


" Selamat sore mama, Luna kembali lagi. Sama bang Jordan ma, tapi sekarang Bang Jordan tambah tengil ma, coba sesekali mama datang ke mimpi bang Jordan terus kasih dia peringatan biar gak godain Luna terus." Jordan tertawa dan mulai menaburkan bunga ke makam yang senantiasa harum itu.


" Ya gimana Jordan gak godain ma, Luna sekarang cowoknya dua ma, Jordan aja kalah sama Luna. Anak siapa sih ma dia? Kayaknya mama sama papa sama – sama setia deh."


" ABANG!"


" Iya – iya, kamu kan ke sini mau cerita sama mama, cerita gih."


" Abang pakai headset terus dengerin lagu dulu, Luna gak mau abang dengar apa yang Luna omonging." Jordan tidak protes, lelaki itu melakukan apa yang Luna katakan, lelaki itu memasang headsetnya dan menunjukkan ke Luna dia sedang mendengarkan lagu dengan volume tinggi, membuat Luna mengangguk puas dan tersenyum.


" Mama, mama tahu kan kalau kondisi Luna sekarang tambah buruk?"


" Luna takut ma, Luna takut Luna pergi terlalu cepat. Luna masih punya banyak mimpi yang belum Luna wujudin ma, Luna masaih belum bisa bahagiain papa dan Bang Jordan. Luna gak mau pergi sebelum bikin mereka bahagia ma."


" Maaf karna Luna egois, mama pasti kangen kan sama Luna? Apalagi terakhir kali ketemu mama minta Luna ikut sama mama. Maaf ma, Luna belum bisa ikut mama, masih banyak yang harus Luna lakukan. Luna akan berjuang untuk sembuh ma, Luna gak mau iktu mama dulu, maafin Luna ya ma."


" Luna sayang sama mama, Luna rindu sama mama, tapi Luna gak bisa tinggalin dunia ini terlalu cepat. Luna harap mama mengerti. Mama doain Luna ya ma, doain Luna biar Luna bisa bertahan lebih lama lagi. Luna sayang sama mama."


Tanpa Luna ketahui, seseorang sedang menahan kuat air matanya dengan ponsel yang dia remas, keputusannya untuk mematikan musik yang dia dengar sepertinya salah, karna kini dia harus mendengar ratapan itu dan dia harus berpura – pura tak terjadi apa –apa.