Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 67



" Gue bakal nyari lokasi pastinya dulu, Lo tunggu sini aja, kalau gue udah nemuin gue kabarin," ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Darrel. Lelaki itu baru saja meminum obatnya hingga rasa sakit yang bersumber dari perutnya tak begitu terasa saat ini. Jawaban Darrel sudah ditebak oleh Radith, namun lelaki itu masih keukeuh Darrel tak boleh kelelahan


" Gue ada tanggung jawab di sini. akan menjadi gak berguna kalau gue Cuma nunggu kabar dari Lo. Iya kalau Lo bisa ngabarin gue? Kalau Lo tewas gimana?" tanya Darrel yang membuat Radith berdecih, Darrel tak perlu sampai menyumpahinya seperti itu.


" Ya udah terserah Lo gimana, asal Lo gak nyusahin gue aja," ujar Radith yang sudah memakai rompi anti peluru dan seaptu yang memiliki celah tersembunyi, lelaki itu memasukkan pistol laser ke sepatu itu, dia juga memasukkan sebuah maata silet untuk berjaga – jaga. Sementara itu Darrel masih memainkan ponselnya untuk membalas pesan yang dikirimkan oleh ayah Luna.


" Om Wilkinson ada kendala waktu mau ke sini. Dia bakal datang telat, kita harus cepet selametin Luna tanpa nunggu Om Wilkinson," ujar Darrel yang membuat Radith mengernyitkan dahinya, tumben sekali tuan Wilkinson memiliki kendala, biasanya lelaki itu yang membuat kendala pada orang lain, terutama pada orang yang menjadi targetnya.


" Dia juga gak bilang kendalanya apa. Kalau dia udah bilang kendala, berarti serius sih, gue juga gak berani nanya – nanya," ujar Darrel yng meletakkan ponselnya ke celana dan memakai alat alat yang dipakai oleh Radith. Mereka segera menyiapkan mental dan berjalan keluar sambil memegang GPS posisi Luna.


" Parah, ini hutan semua, kita bakal sampai kapan terabas hutan gini? Gak ada jalur buat jalan pula," ujar Radith yang menggorok tangannya. Kanan kiri mereka adalah semak belukar, beberapa di antara mereka berduri dan melukai tangan kedua pria itu. Darrel menghela napasnya, sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang panjang.


" Eh, kayaknya kita harus buang ponsel kita deh," ujar Darrel sesaat setelah teringat bahwa yang mereka hadapi bisa menangkap sinyal GPS. Setelah menjelaskan pada Radith, mereka membuang ponsel mereka, diikuti oleh pengawal yang ada di belakang mereka. Radith yang baru ingat jika dia memiliki pengawal .


" Kalian. Kalian bawa sesuatu yang bisa buat hilangin semak – semak ini gak? Tugas kalian kan pastikan kami gak terluka, kalau gini sama aja dong," ujar Radith yang membuat mereka saling pandang. Mereka langsung berjalan di depan Radith dan Darrel, membuka jalan sesuai petunjuk yang Radith katakan. Mereka menyusuri hutan cukup jauh, namun mereka juga belum sampai.


" Gue laper, gue haus," ujar Radith sambil mengelap keringatnya. Darrel menjadi kasihan pada lelaki itu, Radith tak pernah mengeluh, jika sudah mengeluh, berarti lelaki itu sudah tak dapat menahannya lagi. Salah mereka terlalu fokus pada persenjataan, sampai mereka tak ingat tentang logistik mereka, Radith memegang perutnya dengan kencang, berharap rasa lapar itu hilang sendirinya.


" Lo harus sabar dan kuat – kuatin, di sini gak ada sungai sama sekali, kita udah terlanjur ke tengah, kalau kita balik lagi, semua bakal sia – sia," ujar Darrel dengan serius, dia tahu saat ini tidak tepat jika mereka ingin bercanda. Radith sendiri menganggukan kepalanya dan mulai berjalan lagi, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat.


" Lo ingat gak kak dulu kita pernah kayak gini?" tany Radith sambil memeluk lututnya. Radith dan Darrel duduk sambil menyendr pohon sementara pengawal mereka menjaga sekitar. Radith tak ingin memikirkan rasa laparnya hingga dia memilih untuk membuka pembicaraan, Darrel yang meengingat hal itu langsung terkekeh.


" Udah lama banget tuh, nyaris aja kita mati waktu itu. Kayaknya emang karna Lo nya deh, dulu gue menang olimpiade juga gak sampai bikin orang dendam gitu," ujar Darrel yang membuat Radith cemberut. Entahlah, Radith sedang lelah bersikap dewasa, apalagi Darrel lebih tua darinya, sah sah saja kan?


" Waktu itu pertama kalinya gue masuk ke jurang, pertama kalinya nangkap ayam hutan biar bisa makan. Gilak sih, sebegitunya Cuma demi gak kelaparan," ujar Darrel yang membuat Radith terdiam. Dia kesal karna Darrel membahas soal makanan lagi, padahal niatnya mengobrol untuk melupakan rasa laparnya.


" Lo ingat gak setelah itu kita mengalami apa?" tanya Radith yang membuat Darrel menganggukan kepalanya. Dia bisa ingat segalanya dengan baik. Sosok yang menolong mereka keluar dari hutan itu, penduduk desa, ah, bagaimana Darrel melupakan 'orang – orang' baik itu?


" Kalau semisal setelah ini kita ngalamin kejadian yang sama gimana kak? Ada orang yang bantu kita buat keluar ari hutan ini, dan langsung hilang setelah itu," ujar Radith yang mengadahkan wajahnya, menatap tingginya pohon – pohon di hutan ini. Sayangnya tak satupun pohon yang ada di sini berbuah, jika tidak mereka bisa berusaha mengambil buahnya untuk dimakan.


" Gak usah mengada – ada, kemungkinan kecil kita bisa gitu. Lagian kita gak lagi hilang, kita sengaja masuk ke hutan ini dan bahkan kita punya GPS," ujar Darrel mengangkat ipad yang diletakkan, mereka terkekeh dan meregangkan tubuh mereka sebentar lalu kembali bangun untuk melanjutkan perjalanan mereka.


" Aman kan situasinya? Ada yang mencurigakan gak?" tanya Darrel yang dijawab situasi aman oleh mereka, Darrel menganggukan kepalanya dan membantu Radith untuk berdiri, mereka melanjutkan langkah menuju tempat yang sepertinya masih jauh. Meski sudah lelah, Radith ingat dengan wajah Luna yang ketakutan, akhirnya memaksa tubuhnya untuk kembali prima.


" Gue takut kalau mereka berlaku kasar sama Luna, gue takut mereka apa – apain Luna. Luna kan perempuan," ujar Radith yang membuat Darrel menggelengkan kepalanya, lelaki itu tak begitu setuju dengan apa yang Radith takutkan, namun dia juga menyadari kemungkinan hal itu terjadi pada Luna, muncul sedikit kekhawatiran di hati lelak itu.


" Gue lebih takut kalau Luna nangis kencang, dia ngerengek minta dilepasin dan bikin penjaga di sana psuing. Belum lagi kalau Luna teriak – teriak, bikin telinga panas, kasihan sama penjaganya," ujar Darrel yang membuat Radith terkekeh, lelaki itu mengangguk, menyetujui apa yang menjadi ketakutan Darrel, orang yang menjaga Luna mungkin sudah menyerah dengan telinga yang sakit.


" Gue masih gak paham, kenapa musuhnya Om Wilkinson banyak banget. Padahal dia orang baik loh, dia banyak bantu kita, heran sih," ujar Radith yang membuat Darrel tertawa sekali lagi. Meski terlihat dan selalu bersikap dewasa, Radith memang belum terlalu matang.


" Dia baik ke kita, belum tentu dia baik ke orang lain. Lo gak tahu aja kan beliau kalau di belakang kita kayak apa? Tangannya dingin Dith, gak segan buat bunuh orang yang menghalangi jalannya. Bahkan sahabat Luna yang jadi pengkhianat itu aja aslinya mau dibunuh loh, Cumabeliau masih mikirin Luna, jadi Cuma hukum aja."


" Apalagi bisnis yang dijalanin sama Om Smith itu gak semua bersih. gue juga pernah kok nanganin yang gak bersih. Kalau salah langkah, selesai semua bisnisnya, makanya gue pusing dan sampai gak pulang ke Indo lebih dari satu tahun," ujar Darrel yang membuat Radith mengangguk, dia tahu Darrel sangat sibuk mengurus bisnis keluarga Wilkinson di saat dia bahkan belum menjadi anggota keluarga resmi.


" Bertahun – tahun Lo hidup di antara keluarga Wilkinson, Lo gak tahu kalau Om Smith Wilkinson itu Mafia? Dia bahkan udah kayak Bos Mafia ****," ujar Darrel sambil menggetarkan bahunya, dia memang sedikit takut jika membahas persoalan ini.


" Gak usah dibahas, yang penting kita buruan, karna bentar lagi malem, kita kudu nemu pemukiman paling gak. Eh, dua dari kalian, kalian jalan duluan dan cari pemukiman, nih, ada desa kecil di sini, kalian cek desa ini beneran ada atau enggak," ujar Darrel yang diangguki oleh mereka. Mereka langsung pergi dari hadapan Darrel setelah mempelajari map dari Ipad Darrel.


" Eh, Lo nyuruh mereka pergi, nanti kita ketemu dimana? Kan kita jalan terus," tanya Radith dngan bingung. Darrel melirik ke arah Radith dan meminta lelaki itu diam. Darrel langsung memutar map yang dia pegang dan berjalan ke arah lain.


" Gue tahu kalau mereka itu bukan asli orang gue, gue bahkan gak ingat pernah rekrut mereka, ada baiknya kalau mereka hilang sekalian di hutan ini daripada akhirnya nyusahin," ujar Darrel di telinga Radith. Radith mengangguk paham dan melanjutkan langkah mereka dengan pengawal yang tersisa. Entah mengapa lelaki itu merasa hawa tak enak.


" Kayaknya kita harus lanjutin perjalanannya sendiri kak, entah kenapa gue ngerasa diawasi banget,," ujar Radith pelan di telinga Darrel. Darrel mengangguk paham. Mereka melanjutkan langkahnya lagi agar orang – orang itu tidak merasa curiga, sampai akhirnya Darrel pura – pura panik dan menempelkan Ipadnya ke telinga.


" Gawat, Om Smith butuh bantuan. Tapi gue udah gak kuat buat balik lagi. Kalian, kalian balik dulu dan bantu Om Smith. Lo di sini aja sama gue dan Radith buat jaga kami. Lo bisa kan?" tanya Darrel yang diangguki oleh mereka. Mereka segera putar balik dan berlari karna tuan besar mereka membutuhkan bantuan, sementara Darrel dan Radith saling mengode satu sama lain.


~jleeepp


Tiba – tiba saja Radith mengeluarkan sebuah suntikan berisi bius. Membuat lelaki itu ambruk dengan mata yang terbuka. Mereka melakukan Highfive dan langsung berlari dari sana. Mereka sudah dekat dari tempat tujuan, mereka tak bisa mengambil resiko dengan mengajak orang – orang itu.


" Kalau ternyata mereka benar – benar orang kita, berarti kita bunuh diri. Kita malah suruh mereka pergi," ujar Darrel sambil berjalan pelan. Jika sudah dekat, tentu banyak jebakan yang siap menanti mereka, jika tak hati – hati, nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya. Darrel bertugas mencari jalan sementara Radith bertugas untuk mengawasi.


" Gak masalah, kita Cuma perlu hati – hati dan mengawasi mereka, biar kita bisa tahu kita bisa sendiri atau harus nunggu Om Wilkinson," ujar Radith percaya diri. Mereka segera berjalan mendekat, tak jauh dari mereka ada sebuah rumah yang cukup besar dengan banyak penjaga di sana. Darrel dengan sigap menarik ujung kemejanya hingga tangannya terlihat.


" Wih, kamera tersembunyi nih?" bisik Radith yang tak dijawab oleh Darrel. Lelaki itu fokus dengan cincin yang ada dijarinya dan memotret situasi sekitar. Foto itu otomatis akan dikirimkan ke Mr. Wilkinson. Sematang ini persiapan mereka untuk bisa menyelamatkan Luna.


" Kita gak bisa ngabarin Om Smith, kita juga gak bisa nunggu mereka sampai mana karna tadi kita tinggalin ponsel kita. Menurut Lo, kita harus nunggu atau kita ke sana sendiri?" tanya Darrel sambil berbisik. Lelaki itu mulai memegang perutnya yang ngeri. Darrel memiliki aturan makan yang ketat, lelaki itu tak boleh terlalu banyak makan, namun juga tak boleh telat makan.


" Lo gak papa kak? Lo gak bawa obat Lo?" tanya Radith yang khawatir karna Darrel sedikit pucat. Lelaki itu menggelengkan kepala. Dia membawa obat, namun sama saja karna dia belum makan, dia tak bisa meminum obatnya. Lebih baik dia melupakan rasa sakitnya untuk saat ini.


" Mereka semua bawa pistol, kalau kita langsung serang, pasti kita kalah. Paling enggak sih berdarah, kita harus bikin mereka pergi dari sana dulu," ujar Darrel yang diangguki oleh Radith, mereka mulai menyusun rencana. Mereka akan mengalihkan perhatian dan membuat rombongan itu berpisah hingga mereka bisa menghabisi penjaga itu satu persatu.


" Lo stock peluru gak?" tanya Darrel yang mengeluarkan Pistol yang biasa. Dia sengaja menyimpan pistol laser untuk keperluan mendadak karna hanya memiliki dua peluru di setiap laser. Radith mengeluarkan sesuatu dari tasnya, dia sudah menyiapkan banyak peluru. Membuat mereka mengangguk yakin satu sama lain.


" Ini saatnya, kita gak boleh takut atau ragu. Gue percaya sama Lo," ujar Darrel yang membuat Radith tersenyum. Lelaki itu sebenarnya gemetar, dia tak pernah menghadapi yang seperti ini. Paling jauh dia hanya memainkannya melalui Xbox, itupun musuhnya komputer dan berupa zombie, mana bisa disamakan?


" Lo pernah mainan ini gak sebelumnya?" tanya Darrel yang baru teringat akan hal itu. Radith menggelengkan kepalanya, membuat Darrel terkejut. Darrel sudah beberapa kali menggunakan 'mainan' ini, bahkan saat pertama kali mencoba, dia terpental cukup jauh. Hal ini akan berbahaya untuk Radith jika menggunakannya di saat seperti ini.


" Kalau Lo yakin Lo bisa nembak, Lo tembak aja, tapi kalau engga, Lo jagain aja biar gue yang nembak, awal kepental Lo entar," ujar Darrel dengan wajah yang serius. Radith sampai harus menelan salivanya karna kaget dan takut menjadi satu. Namun tatapan Darrel yang meyakinkan membuat lelaki itu mengangguk tegas.


" Gue laki, gu yakin gue bisa," ujar Radith dengan tegas. Mereka melakukan tos ringan sebelum akhirnya melangkah pelan untuk memancing mereka satu persatu ke dalam hutan ini.


Akankah mereka berhasil? Akankah tak ada dari mereka yang terluka? Akankah Luna bisa diselamatkan?


We Don't Know, Maybe it will end with Happiness, or just Sadnees and Hopeless.