Hopeless

Hopeless
Chapter 96



Luna menengok ke kiri dan kanan saat sudah turun dari Bus, Radith sendiri sudah pergi entah kemana. Melihat Luna sudah turun, Pak Jono segera menghampiri Luna dan membawakan tas milik Luna. Gadis itu menyerahkan tasnya dan mengikuti kemana pak Jono berjalan.


Meski rasanya sedikit kesal karna Darrel tidak menawarkan diri untuk menjemputnya, padahal Luna sudah berharap lebih pada lelaki itu dan biasanya Darrel langsung peka, namun kali ini Darrel seperti orang asing saat mereka bertelponan tadi.


Pak Jono melajukan mobilnya sementara Luna memilih untuk merebahkan diri di kursi penumpang, kakinya dia senderkan di jendela mobil itu. Biarlah orang menganggap dia kampungan, karna memang posisi ini nyaman dan membuatnya tidur dengan nyenyak.


Tak butuh waktu lama untuk Pak Jono sampai ke rumah keluarga Wilkinson, Luna langsung masuk ke dalam rumah dan membiarkan pak Jono mengurus barang – barangnya. Gadis itu langsung merebahkan diri di Sofa menatap langit rumahnya yang dihiasi lampu Kristal.


“ Huufftt, rumah segede ini tapi sepinya minta ampun. Mending di buat kos – kosan atau panti asuhan, pasti kan jadi ramai,” ujar Luna yang mulai berkhayal, kebiasaan yang gadis itu lakukan jika merasa bosan atau sedang tak ingin memikirkan apapun.


Luna mengangkat tangannya dan mengamati perubahan yang terjadi di kulit tangannya. Melihat perubahan yang signifikan membuat Luna berdecak kesal.


“ Gila nih, baru empat hari aja udah se hitam ini, udah kasar, bersisik, kering, hitam pula, demi apa gue harus perawatan,” ujar Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu ingin beranjak untuk melakukan perawatan, namun dia tidak mau jika taka da kawan yang menemani.


Luna mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, mencari nomor yang bisa diandalkan untuk diajak perawatan, ya, orang itu Key. Key paling antusias jika Luna mengajaknya untuk perawatan seperti ini. Ah, gadis itu kan centil dan heboh sekali masalah penampilan dan kecantikan.


“ Halo Key? Sibuk gak? Temenin gue perawatan yuk,” ujar Luna yang melihat Key sedang fokus pada laptopnya, bahkan gadis itu memakai bandana, artinya dia sedang pusing.


“ Gue gak bisa Lun, gilak ini masih banyak banget. Gue dapat tugas disuruh merangkum tiga bab ateri pembelajaran dan gue harus kebut sekarang. Lo bayangin aja deh, pecah nih rasanya pal ague,” ujar Key frustasi dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan.


Luna yakin bukan hanya kepala Key yang ‘ pecah ‘ namun juga kamarnya yang akan jauh lebih berantakan dari kapal pecah. Key memiliki kebiasaan buruk saat dia sedang lelah, frustasi, marah atau stress. Gadis itu akan memberantaki kamarnya atau sekadar melempar barang barangnya hingga berserakan dan pecah dimana mana, apakah itu sebuah kelainan? Entahlah.


“ Yah, berarti Lucy juga sibuk dong?” Tanya Luna dengan sedih, tidak mungkin dia mengajak Adel, gadis itu kan paling anti dengan yang namanya perawatan.


“ Iyalah, kan gue satu kelas sama Lucy, coba Lo ajak Adel deh, siapa tahu dia mau,” ujar Key memberi saran yang dihindari oleh Luna.


“ Mana mau Adel diajakin perawatan gini? Dia mah cewek jadi jadian, gak peduli masalah kecantikan,” ujar Luna dengan kesal dan memikirkan Adel yang membang anti untuk masalah perawatan ke dokter atau salon.


“ Loh, Adel kan sekarang bergaulnya sama cabe hits sekolah, siapa tahu dia udah paham pentingnya perawatan, apalagi sejak dia pacaran sama waketos yang famousnya minta ampun, jaga penampilan lah dia,” ujar Key yang terdengar kesal.


Luna sendiri malah baru tahu info ini, dan melihat ekspresi Key, gadis itu tampak tak suka dengan Adel yang sekarang. Apakah Adel sudah berubah dan menjadi seperti yang dibilang oleh Key? Tapi Luna sangat mengenal Adel, tidak mungkin Adel melakukan itu semua.


Baru beberapa bulan berpisah dengan teman – temannya sudah membuat persahabatan ini retak begitu saja, biasanya jika ada yang berselisih, Luna lah yang menjadi penengah bagi mereka, jangan berharap banyak pada Lucy yang kebanyakan tak mengerti pokok masalah yang dibahas.


Luna memilih mematikan sambungan telpon sebelum Key melampiasakan emosi dan frustasinya kepada Luna. Gadit itu memainkan ponselnya dan berpikir siapa yang bisa dan bersedia untuk menemaninya. Luna tersenyum saat mengingat satau nama yang tak mungkin menolak permintaannya. Gadis itu mulai mencari nomor dan melakukan panggilan.


“ Halo? Kak Darrel sibuk banget gak? Luna butuh temen nih, Luna gak tahu harus ngehubungin siapa lagi,” ujar Luna yang sengaja membuat suaranya semelas mungkin, sebenarnya dia tak perlu melakukan itu karna Darrel memang selalu menuruti apapun yang menjadi mau Luna, lelaki itu tak mungkin menolak.


“ Kalau sekarang sibuk sih, memang kamu mau kemana?” Tanya Darrel yang membuat Luna menatap ponselnya dengan bingung. Apakah Darrel seorang cendikiawan? Bahkan Luna tak mengatakan dia akan pergi ke suatu tempat.


“ Mau pergi ke dokter kecantikan langganan Luna kak, kulit Luna rusak semua karna empat hari sering dijemur kayak ikan teri,” ujar Luna yang menengok lagi kearah kulitnya yang tak berubah dari kondisi sebelumnya. Terdengar kekehan Darrel dari seberang sana.


“ Iya, nanti sore aku temani ya, kalau sekarang aku bener bener lagi sibuk, banyak file restoran yang harus aku beresin sendiri, nanti sore aku ke rumah, gakpapa kan?” Tanya Darrel yang terdengar khawatir, mungkin takut Luna marah padanya.


“ Gakpapa kak, Luna tunggu ya kak, nanti kak Darrel kalau mau otewe kabarin Luna aja,” ujar Luna yang mengeti keadaan Darrel dan menutup panggilan telpon.


Luna sudah berterima kasih Darrel mau dan bersedia menemaninya, Luna cukup tahu diri untuk tidak menuntut lebih dan meminta lelaki itu selalu menyediakan waktunya untuk Luna. Darrel memang bucin, namun dia bukan pengangguran.


Sementara itu di tempat lain Darrel tampak frustasi dengan semua berkas yang ada di depannya, seberapa lama dan teliti dia mengecek file yang ada di hadapannya, tetap saja penggelapan uang dan file rahasia perusahaan tidak dapat dia pecahkan.


“ Lekas temukan file rahasia itu keberlangsungan perusahaan sedang dipertaruhkan!” seru Darrel yang menelpon orang kepercayaan sekaligus sekretarisnya dalam mengelola perusahaan kecil yang sedang dia rintis, perusahaan yang dia gunakan sebagai tabungan jika bisnis restorannya diambang kebangkrutan.


“ Tuan muda, kami sudah menelusuri, namun belum menemukan titik terang. Kami akan segera mengabari tuan mud ajika


Gadis itu memilih untuk bangkit dan berjalaan menuju Lift untuk masuk ke kamarnya, di dalam kamar dia bisa merebahkan dirinya lebih leluasa, apalagi pendingin ruangannya jauh lebih terasa disbanding ruang tamu yang dipasang AC duduk, menurut Luna dinginnya kurang memuaskan.


Luna tertidur entah berapa lama dan gadis itu terbangun saat mendapatkan panggilan telpon dari Darrel, Luna langsung menjawab panggilan itu dengan mata yang masih tertutup sebelah.


“ Kamu ketiduran ya? Aku udah dibawah,” ujar Darrel dalam panggilan itu membuat Luna mengucek matanya dan melihat ke arah jam dan mendapati waktu menunjukkan pukul tiga sore.


“ Tunggu bentar ya kak, Luna ketiduran nih, Kak Darrel tungguin dulu, Luna mau siap – siap,” ujar Luna yang langsung mematikan panggilan setelah mendengar jawaban Darrel. Gadis itu mengganti pakaiannya dan memakai kaos santai ditemani celana jeans pendek.


Luna turun ke lantai dasar dengan lemas dan sesekali menguap, gadis itu memandang Darrel yang tampak serius dengan ponsel yang menempel di telinganya, lelaki itu memandang Luna dan bertanya tanpa suara.


“ udah?” Tanya lelaki itu yang dijawab anggukan oleh Luna, lelalki itu tampak mengatakan beberapa hal sebelum akhirnya enutup panggilan tersebut. Darrel langsung bangkit dan menyambut Luna dengan riang, sangat berbeda dengan Darrel beberapa saat lalu yang serius dan tegang.


“ Untuk apa aku ngejar semua harta di dunia ini kalau hartaku yang paling berharga merasa kesepian? Aku mulai kerja juga modal nikah kita, karna gengsi itu mahal, iya kan?” Tanya Darrel yang tak gentar menggoda Luna dan memasang wajah genitnya.


“ Apasih, gak jelas deh,” ujar Luna yang tersipu malu sambil memukul Darrel agar menjauh darinya. Darrel terkekeh sebelum akhirnya mengajak Luna untuk berjalan menuju mobil dan pergi dari rumah Luna sebelum hari menjadi petang.


“ Aku nanti nunggu di café dekat tempat kecantikan itu aja ya?” Tanya Darrel yang enggan untuk ikut masuk ke dalam tempat itu, namun Luna menggeleng keras sebagai jawaban.


“ Gak bisa dong, kak Darrel harus masuk, harus temani Luna. Kan Luna ajak kak Darrel bukan Cuma buat jadi supir,” ujar Luna dengan cemberut, Darrel menghela napas dan mengacak rambut Luna dengan gemas. Gadis itu selalu berhasil membuat hari buruknya berubah menjadi indah.


“ Iya, kalau kamu yang minta pasti aku turutin, gak usah pasang wajah melas gitu ah, kayak gak dikasih makan dua hari aja,” ujar Darrel yang tertawa ringan karna wajah Luna sungguh menggemaskan.


“ Nyebelin banget deh asli,” ujar Luna yang menyingkirkan ketiak Darrel yang betah ada di atas kepalanya, mentang – mentang lampu lalu lintas masih menunjukkan angka ratusan.


Mereka sampai di parkiran dan segera turun dari mobil, Darrel menyipitkan matanya sebelum melangkah karna meski hari sudah sore, silau matahari dan teriknya masih terpancar dengan baik, mungkin matahari sedang gembira hari ini.


Luna berjalan menuju dokter kecantikan dan rumah spa itu dengan tangan yang menutupi wajahnya agar wajahnya tak terpanggang matahari secara langsung.


Mata Luna menyipit saat melihat sosok yang dia kenal berdiri di pintu masuk tempat yang dia tuju. Tanpa ragu Luna memanggil orang itu dengan keras sambil memanggil namanya.


“ Hooiii! Raidth!!” Seru Luna yang sebenarnya masih cukup jauh dari tempat itu, karna mereka berada di kawasan pertokoan, lahan parkirnya pun sangat luas hingga Darrel bisa memilih tempat parker yang dirasa teduh.


“ Gak usah teriak, nanti kalau dekat kan bisa dipanggil,” ujar Darrel menggeleng pelan karna tingkah Luna yang selalu spontan dengan apa yang dia lakukan atau katakan. Luna sendiri hanya terkekeh dan kembali fokus dengan jalannya.


Radith yang melihat Luna dengan jelas memilih untuk mengabaikan gadis itu, namun Luna semakin sering dank eras memanggil namanya, membuatnya akhirnya menengok dan mengangguk dingin pada Luna, dia menatap ke arah Darrel yang juga menatapnya dnegan tatapan tak suka karna respon singkat lelaki itu.


“ Lo ngapain kesini? Mau perawatan juga?” Tanya Luna dengan riang karna melihat Radith hanya berhenti di depan pintu dan memainkan ponselnya. Radith menggeleng cepat sebagai jawaban.


“ Gue mau ke mini market, ngadem dulu bentar disini, pendingin udaranya enak banget soalnya,” ujar Radith dengan wajah datarnya, membuat Luna mengangguk percaya dan tak menanyaka apapun lagi.


“ Raidth, ayo masuk, udah aku daftarin.” Semua orang yang ada disitu menengok dan mendapati Blenda yang menampakkan kepalanya untuk berbicara dengan lelaki itu.


“ Yakin gak perawatan disini dith?” Tanya Luna dengan wajah gelinya saat melihat kuping Radith memerah dan lelaki itu langsung menggaruk kupingnya sendiri. Sementara dalam hati Radith mengutuk Blenda yang malah membocorkan acara mereka kepada Luna yang cerewet minta ampun.


“ Laki mah ngaku dith, Lo laki bukan?” Tanya Darrel menepuk pundak Radith dan memandang lelaki itu dengan pandangan mengejek. Radith melirik Darrel sekilas, menarik napasnya dan tersenyum sambil melepaskan tangan Darrel dari bahunya.


“ Laki mah malu diajak ke tempat begini, situ laki bukan?” Tanya Radith yang sengaja membalas perkataan Darrel. Darrel yang disindir pun tidak terima dan mendekar kea rah Radith sambil menunjuk lelaki itu.


“ Lo! Awas ya Lo!” ujar Darrel mengancam dengan nada kesal dan kaki yang mendekat.


Blenda dan Luna yang melihat itupun menggeleng takjub dan memilih menarik pasangan masing – masing untuk masuk ke dalam tempat yang paling anti dikunjungi oleh kedua lelaki itu.


.


.


.


.


.


Salam dari Author


Maaf karna aku gak tahu ternyata file dari piak manganya jadi korup, membuat part 96 tertinggal begitu saja. makanya ini Author nyusulin Part 96 nya ( Author nulis dari awal karna back up hilang)


Untuk yang bertanya kapan novel Hopeless tamat? Karna ceritanya mulai membosankan dan alur menjadi aneh ( berputar putar)


Eliz minta maaf karna karya ini malah jadi membosankan dan tidak menghibur kalian lagi, jujur ini aja udah memeras otak gimana ceritanya bisa lanjut dan gak berhenti di tengah jalan. Anyway, novel ini bakal segera tamat ( tergantung minat kalian mau lanjut atau tamat)


Itu dulu dari Eliz, terimakasih untuk segala dukungan yang di berikan.


salam😘