
"Memancing kekecewaan?" tanya Faris.
"Iya, kayak tadi itu, Kang. Dua kali percobaan, gagal," balas Nezia seraya tersenyum lebar.
Mendengar balasan Nezia, Faris tersenyum simpul. "Kali ini, enggak bakalan gagal, Neng." ucap Faris, yakin.
"Cup." Sebuah ciuman mesra, mendarat di pipi Nezia.
Faris kemudian sedikit menjauhkan wajah. "Yang lain, nanti aja ya, Neng. Takutnya, ada yang ngetuk pintu lagi," ucap Faris seraya tersenyum lebar.
Tepat di saat yang sama, pintu kamar pengantin tersebut di ketuk dari luar.
"Biar Inez saja yang buka pintunya, Kang. Akang buruan ganti baju." Nezia segera beranjak.
Faris yang ikut beranjak, menarik pelan tangan sang istri dan kemudian memeluk istrinya dari belakang.
"Kalau saja resepsi tanpa mempelai itu pantas, aku tidak ingin kita hadir di sana dan orang-orang melihat kecantikan wajah kamu, Neng," bisik Faris di telinga sang istri.
Pipi Nezia memanas dan hatinya menghangat mendapatkan pujian seperti itu dari sang suami, wanita cantik itu juga merasa sangat dicintai oleh suaminya.
"Aku mencintaimu, Neng Ganis," lanjut Faris yang kembali mencium pipi istrinya.
"Udah dong, Kang. Kalau kita enggak keluar-keluar, nanti resepsinya enggak bisa segera dimulai dan kita enggak bisa segera ...." Tiba-tiba, Nezia menutup mulutnya.
"Segera apa, Neng?" kejar Faris.
"Tidak, Kang. Lupakan," balas Nezia, tersipu malu.
"Katakan saja, Neng?" desak Faris seraya tersenyum menggoda.
Suara ketukan pintu yang kembali terdengar, menyelamatkan Nezia dari cecaran sang suami.
"Kang, lepas. Inez mau bukain pintu," pinta Nezia.
"Kirain, mau bukain baju," sahut Faris seraya tersenyum nyengir, membuat Nezia cemberut.
"Ish, Akang!" Wanita yang telah memakai gaun pengantin tersebut segera berlalu dengan langkah pelan seraya mengangkat gaunnya yang panjang menjuntai, untuk membukakan pintu.
Sementara Faris yang masih tersenyum, segera menuju ranjang untuk mengambil pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri.
🌹🌹🌹
Kini mereka berdua telah berdiri di pelaminan yang megah, tamu-tamu istimewa yang malam ini hadir dan jumlahnya tidak banyak tersebut mulai menyalami seraya memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Ya, Ayah Alex hanya mengundang tamu-tamu penting saja di acara resepsi sang putri bungsu dan tidak sama dengan undangan yang pernah disebar untuk pernikahan Nezia dan Dito yang telah dibatalkan karena pernikahan antara Nezia dan Faris malam ini, dadakan.
Dito yang juga diundang oleh Abraham, hadir dengan wajah yang murung. Pemuda mantan calon suami Nezia tersebut menaiki pelaminan, dengan menundukkan kepala.
"Maafkan Dito, Tante, Om," ucapnya dengan netra berkaca-kaca, ketika menyalami Bu Nisa dan Ayah Alex.
Ayah dari Nezia tersebut kemudian menepuk pelan punggung Dito. "Semoga, ini semua bisa Nak Dito jadikan pelajaran dan ke depan Nak Dito bisa menjalani hidup dengan lebih baik," tutur Ayah Alex.
Dito mengangguk. "InsyaAllah, Om. Mohon do'anya," balas Dito seraya menangkup kedua tangan.
Pemuda tersebut kemudian mendekati mempelai.
Melihat Dito mendekat, tangan kiri Faris dengan sigap memeluk pinggang sang istri.
"Selamat, Bro. Aku yakin, kamu adalah laki-laki yang tepat untuk Inez," ucap Dito dengan legowo. "Semoga kalian bahagia selalu," lanjutnya mendo'akan dengan tulus.
Faris mengangguk seraya tersenyum. "Terimakasih, Bang. Semoga Bang Dito segera menemukan seseorang yang bisa melengkapi hidup Abang," balas Faris yang juga tulus mendo'akan mantan tunangan sang istri.
Dito kemudian mendekati Nezia, mengajaknya untuk bersalaman, tetapi Nezia menolak dengan menangkup kedua tangan di depan dada.
"Maafkan semua kesalahan abang, Dik," ucap Dito seraya menahan sesak di dada. Netra tajam pemuda tersebut kembali berkaca-kaca.
"Abang tahu, kesalahan abang tak termaafkan. Abang juga ikhlas jika kamu masih marah sama abang, tetapi abang mohon kamu bersedia memberi maaf atas kesalahan-kesalahan abang agar abang bisa tenang melanjutkan hidup ini, Dik." Dito menyeka sudut netranya dengan ibu jari.
"Inez sudah memaafkan Bang Dito," balas Nezia seraya tersenyum. "Lanjutkan hidup abang dan jangan pernah lagi menyakiti wanita seperti apa yang pernah Bang Dito lakukan pada Inez," pungkas Nezia, penuh penekanan.
Mempelai laki-laki yang disebut namanya tersenyum, seraya mengeratkan pelukan pada pinggang sang istri.
Membuat Nezia menoleh ke arah suaminya dan tersenyum manis.
"Cup." Kembali kecupan mesra, mendarat di pipi Nezia.
Dito membuang pandangan ke arah lain dan kemudian segera berlalu menuruni pelaminan. Sementara tamu undangan yang menyaksikan aksi Faris, terutama keluarga besar Nezia, bertepuk tangan seraya bersorak.
"Wah, lebih gila dari gue si Faris, Ga. Masak di pelaminan dan disaksikan banyak tamu," ucap Duta seraya terkekeh.
Yoga geleng-geleng kepala, menyaksikan aksi Faris barusan. "Kalian berdua, memang sebelas dua belas, Ta," balas Yoga yang ikut tertawa.
Mirza dan yang lain juga nampak bercanda, membahas aksi Faris barusan.
Sementara di pelaminan, pipi sang mempelai wanita, merona merah. "Akang! Kenapa cium-cium sembarangan!" protes Nezia.
"Enggak cium-cium sembarangan, Neng. Aku cuma cium pipi kamu," elak Faris, bercanda. Membuat bibir Nezia mengerucut.
"Jangan cemberut! Nanti aku cium juga bibirnya di sini," bisik Faris, seraya tertawa dalam hati.
Setelah semua tamu undangan mengalami mempelai, kedua mempelai itu pun kemudian turun dari singgasana pelaminan dan menemui anggota keluarga.
"Kayaknya, ada yang sudah enggak tahan, nih?" ledek Om Ilham.
"Mana mungkin tahan, Om, kalau tadi sore udah dikasih depe," timpal Mirza.
"Depe-nya seberapa banyak, Ris?" tanya Akbar, yang ikut-ikutan meledek kedua mempelai. "Kok kayaknya, keponakan gue udah lemes gitu," lanjut putra sulung Opa Alvian tersebut seraya terkekeh, hingga mengundang tawa saudara yang lain.
"Kalau sampai lemes, berarti banyak banget, Bar," sahut Bayu, sahabat baik Kevin. "Untung Inez masih kuat berdiri di pelaminan, pasti dia udah minum ramuan turun temurun keluarga kalian, kan?" lanjutnya memastikan.
"Kok Abang tahu?" tanya Faris, polos. Membuat tawa keluarga besar Nezia, semakin pecah.
Nezia mencubit pinggang sang suami karena gara-gara ulah Faris tadi dan kepolosannya barusan, kini dirinya menjadi bulan-bulanan ledekan saudara-suadaranya.
"Yuk, Kang! Kita masuk saja," ajak Nezia, hendak menyeret tangan sang suami.
"Jangan buru-buru napa, Nez!" cegah Lili, yang sedari tadi ikut mentertawakan sang sahabat.
"Makan dulu, Nez," suruh Lila, tetapi Nezia menggeleng dan kemudian melambaikan tangan tanda pamitan.
"Isi amunisi dulu, woi!" seru Mirza sebelum keduanya menjauh.
Nezia menggeleng dan terus berlalu, yang diiringi sang suami.
"Mereka enggak makan, nanti juga pasti kenyang," ucap Om Ilham.
Attar yang belum menikah sendiri, megerutkan dahi. "Kok bisa, Bang?"
"Mereka 'kan pengantin baru. Faris bakalan kenyang minum susu murni," balas Om Ilham seraya tersenyum simpul.
"Apa Inez juga disediain susu murni, Bang? Dia 'kan, enggak suka susu murni," tanya bungsu Opa Alvian tersebut dengan begitu polos.
"Tanya aja sama sohib kamu." Om Ilham menatap Lila dan Lili bergantian.
Lila yang pemalu menunduk, tersipu. Sementara saudari kembarnya yang suka ceplas-ceplos, terkikik mengetahui maksud dari Om Ilham.
"Kenyang makan sosis, Bang Attar," ucap Lili blak-blakan, membuat Doni tersenyum seraya geleng-geleng kepala.
"Pantesan, Bang Doni awet muda. Lah, istrinya ternyata suka makan sosis," balas Attar setelah paham maksud dari perkataan Om Ilham. "Asal jangan sampai keselek sosis jumbo aja, Lil!" lanjutnya terkekeh, yang kembali disambut tawa oleh saudara-saudaranya.
☕☕☕☕☕ bersambung ...
Sambil nunggu live streaming MP-nya si Neng dan Akang, mampir dulu di "PESONA RUMPUT TETANGGA"
Jangan lupa, subscribe dan kasih ulasan bintang⭐ lima, yah 🥰🤗