Hopeless

Hopeless
Chapter 148



Berhari – hari berlalu, bahkan Luna juga sudah menyelesaikan semua ujian dan ini tinggal menunggu untuk penerimaan Rapot. Tanpa terasa sudah hampir satu tahun Luna bersekolah disini dan kini dia sudah terbiasa dengan situasi sekolah yang nyaris tak menggunakan otaknya. Bukan karna terlalu santai, tapi dasarnya Luna yang tak mau berpikir lagi karna sekeras apapun dia berpikir, dia tetap tak bisa mengerti pelajaran yang diujikan.


" Lo masih galau aja sih, udah dong galaunya, paling juga kak Darrel sibuk banget sama urusan restonya sampai gak bisa kabarin, kan semua juga bukan kawinin Lo," ujar Radith dengan wajah datarnya yang membuat Luna makin kesal.


" Kawin kawin pala Lo lah kawin, Nikah dulu baru kawin," ujar Luna dengan sewot yang tak terkira. Ini hari pertama bulan merahnya, kak Darrel masih tak bisa dihubungi dan kini Radith membuatnya kesal, apa lelaki itu berencana menyerahkan diri untuk menjadi makan siangnya?


" Heh, mumpung sekolah Free gak ada apa – apa, kenapa gak kita pergi keluar terus senang – senang gitu?" tanya Radith yang sedang brbaik hati untuk menyenangkan Luna. Lelaki itu tahu Luna masih ada di sisi paling sensitifnya, itu sebabnya Radith tak berani membuat Luna sungguh kesal padanya. Pernah dulu Radith sengaja membuat Luna kesal, gadis itu tanpa ampun menggigit tangannya hingga berbekas, sungguh gadis yang kejam.


" Eh dith, kak Darrel bentar lagi tuh ulang tahun, gimana kalau gue siapin pesta ulang tahun buat dia aja? Siapa tahu dia emang ngilang buat pastiin gue ingat sama Ulang tahunnya, iya kan dith? Iya kan?" tanya Luna dengan wajah sumringah, Rdith menghela napasnya dan terdiam tanpa respon.


" Lo harus bantu gue siapin pesta ultahnya, kan Lo cowok tuh, Lo pasti tahu cowok tuh sukanya sama apa, ya kan dith? Oke sip sudah diputuskan. Lo bakal bantuin gue, hahaha," ujar Luna dengan sepihak, namun Radith tetap saja tak bisa menolak permintaan Luna.


" Iya, tapi gak hari ini, gue udah janji sama Blenda buat temenin dia, dia harus kemo hari ini, dan gue gak mau dia sendirian, gak ada penolakan, oke sip, gue pergi dulu kalau gitu," ujar Radith yang langsung berdiri dan pergi dari hadapan Luna. Gadis itu hendak membuka mulutnya, namun dia menghentikan niatnya untuk mencegah Radith.


" Ya mau gimana lagi, dia punya pacar, ya bener lah dia tetap prioritasin pacarnya, hahaha, mikir apa sih Lo Lun," ujar Luna dengan tawa hambar dan mengalihkan pikirannya dengan ponsel yang sedari tadi dia anggurkan. Dia memilih untuk memainkan ponselnya ditengah rasa suntuk dan khawatir yang menguasai hatinya,


*


*


*


" Kok kamu lama sih Dave? Katanya gak ada pelajaran di sekolah, aku udah ketakutan banget nih, padahal ini bukan pertama kalinya aku kemo," ujar Blenda menyambut Radith yang masuk ke ruang itu.


" Hehehe maaf ya, tadi aku nemenin Luna dulu, dia galau banget karna tunangannya ngilang gak tahu kemana, ribet laah pokoknya," ujar Radith yang membuat Blenda terdiam.


" Loh, Luna punya tunangan kah? " tanya Blenda dengan terkejut. Gadis itu tak tahu jika Luna ternyata sudah memiliki tunangan, itu artinya kesesakan dalam hatinya memang tak berarti lagi dan tak berdasar.


" Iya, yang waktu itu kita main bareng di pasar malam, itu kan tunangan Luna, aku kira kamu udah sadar tentang hal ini," ujar Radith dengan santai dan mengambil anggur diantara buah yang ada di nakas. Blenda harus berpuasa dua puluh empat jam sebelum menjalani kemo terapi, entah apa gunanya.


" ku pikir Cuma pacaran, ternyata udah tunangan. Keren banget ya Luna, di usia segitu udah punya tunangan, apalagi tunangannya kelihatan dewasa gitu, ganteng pula," ujar Blenda dengan wajah yang tak bisa dibaca oleh Radith.


" Kamu iri sama Luna karna udah tunangan atau iri karna tunangan Luna itu Darrel? Kalau kamu mau aku bakal bikin kamu tunangan sama dia. Gimana?" tanya Radith dengan wajah ketusnya, membuat Blenda tertawa dan langsung meminta Radith mendekat.


" Aku udah bersyukur banget punya kamu di hidupku. Dari kita kecil juga udah bareng – bareng, aku dengan sikap tengilku dan kamu dengan sifat dinginmu. Aku tahu gak mudah buat kamu nembak aku dan jadiin aku pacar kamu, maaf ya karna aku sakit kamu jadi terpaksa lakuin itu semua buat aku," ujar Blenda dengan senyum yang dipaksakan , bahkan Radith tahu jika hal itu dipaksakan.


" Kata siapa Loh aku nembak kamu karna kamu sakit. Aku kan jadi pacar kamu karna memang aku mau kamu jadi pacar aku. kapan lagi punya pacar yang bisa tahu dan bisa ngerti apa yang kamu butuhin, bisa jadi cewek yang jauh lebih dewasa dari usianya, aku beruntung banget karna mata aku terbuka pada waktunya buat sadar semua hal itu," jawab Radith yang mengelus kepala Blenda.


" Tapi kata kamu Luna lagi galau, kok kamu gak nemenin dia sih? Di sini kan aku sama Bunda, kalau dia kan sendiri, kamu bilang kakak, papa sama saudara kembarnya ada di luar negeri semua? Kasihan dong dia kesepian," ujar Blenda dengan wajah khawatirnya, membuat Radith berdecak.


" Kenapa kamu masih mikirin dia sih? Kamu itu prioritas aku, lagian dia udah minta aku bantuin dia buat siapin pesta ultah gitu buat Darrel, jadi mending hari ini aku sama kamu aja," ujar Radith yang tanpa sadar mengeluarkan ekspresi tak suka yang disadari oleh Blenda.


" makasih ya, karna kamu di sini, aku udah gak takut lagi. Aku takut setiap kali aku tidur atau kemo, aku gak bisa bertahan dan ninggalin semua gitu aja, aku takut kalau akhirnya aku harus kehilangan kalian semua. Ah bukan, tapi aku yang meninggalkan kalian semua, aku takut Dave," ujar Blenda dengan sedih.


" Shhh shhh kalau kamu masih sanggup betahan, kamu masih mau bertahan dan kamu masih ada kemauan untuk terus hidup, aku bakal ada di samping kamu buat semangatin kamu dan pastiin kamu gak menyerah, jadi kamu tenang aja ya," ujar Radith dengan senyum yang merekah, membuat Blenda mengangguk dan tersenyum tenang.


" Aku bersyukur banget karna kamu ada disini Dave, makasih ya, makasih banget," ujar Blenda yang dibalas pelukan oleh Radith, Blenda bahkan menitikkan air mata, entah karena senang atau kesal saat menyadari sesuatu yang sangat dia benci, ya mungkin dia harus mulai membiarkan perasaan itu tumbuh karna dia sendiri tak yakin bisa menemani Radith sampai akhir.


*


*


*


" Radith, Lo harusnya taruh itu disana, ah Lo tuh, ini aja nih tolong pompa in." Luna terus mengoceh dan Exicited dengan pesta yang sengaja dia siapkan di taman kota tempat pertama kali dia makan malam dengan Darrel, tempat yang penuh kenangan dan tentu saja tak akan dia lupakan.


" Bilang aja Lo iri, iisshh," ujar Luna tak kalah kesalnya. Luna kembali memasang balon balon lucu di sekitar danau itu. Tak mudah untuk meminta ijin pada pemilik danau, entah bagaimana caranya Darrel bisa meminta ijin bahkan sampai dua kali.


" Kalau Lo udah susah susah kayak gini, terus ternyata Darrel gak datang gimana dong Lun?" tanya Radith dengan wajah serius, namun Luna malah menganggap Radith sedang meledeknya.


" Lo tuh jadi orang jangan suka gitu sih dith, gue yakin kak Darrel pasti datang kok, Lo nya aja yang berpikiran lebih," ujar Luna tanpa melihat wajah serius Darrel. Radith hanya pasrah dan membiarkan saja Luna bertindak sesukanya. Toh jika Luna terluka, Radith sudah pernah mengingatkannya.


Tak terasa hari sudah semakin senja, Luna memutuskan untuk meminta bantuan orang suruhannya untuk menyelesaikan desain yang belum selesai sementara dia bersiap dan mengirim kabar pada Darrel untuk datang ke danau ini malam nanti.


" Gue mau pakai casual dress atau night dress ya? Duh, ya kalik gue pakai night Dress di ruang terbuka, bisa masuk angin deh gue. Pakai ini aja deh, comel banget," ujar Luna yang sudah mengeluarkan satu lemari khusus gaun pesta miliknya, seakan acara ini adalah acara yang teristimewa dan dia tak boleh memiliki cacat sedikitpun.


Luna kembali ke danau itu dan duduk di kursi yang ada di sana menunggu Darrel datang. Gadis itu tersenyum senang atas hasil karyanya yang memuaskan, apalagi Luna memilih balon warna pink dan hitam yang terlihat glamour namun juga lucu. Semoga saja Darrel menyukai acara yang sudah dia siapkan ini.


Dari seberang danau terlihat keramaian mengisi. Memang Luna sudah memboking sebagian tempat yang ada di sini, hingga tak ada yang bisa memasuki area ini meski area seberang tampak ramai. Luna melihat kembali pesan yang dia kirimkan kepada Darrel.


' Hei Kak, I Miss You, Do you want to meet me? Please come to the Place when we first met at 7 o'clock. I'll wait for you'


Ya, itulah pesan yang dikirimkan oleh Luna, gadis itu masih menunggu balasan Dari Darrel, namun pesannya hanya terkirim, tidak terbaca apalagi dibalas. Luna masih mencoba berpikir positif dan berjalan ke arah air untuk melihat pantulan dirinya.


" Annyeong nona manis, cakep amat sih kamu, pantes aja kak Darrel jatuh cinta, haha," ujar Luna yang memuji dirinya sendiri. Rasanya sepi sekali, dan bahkan sudah lima belas menit sejak Luna datang ke tempat ini, namun belum ada tanda tanda Darrel datang.


Satu jam berlalu, Luna masih menunggu Darrel dengan sabar meski hatinya mulai gelisah. Apakah Darrel memang pergi meninggalkannya? Apakah sungguh Darrel menghilang? Namun Darrel sudah berjanji tak akan pernah pergi lagi. Apakah lelaki itu sungguh meninggalkannya dan mengingkari janjinya?


" Kok jadi sesek ya? Apa gue mulai kedinginan ya?" Tanya Luna pada dirinya sendiri. Gadis itu memukul dadanya yang sesak tanpa bisa ditahan, bahkan air sudah meluruh dari matanya yang memakai maaskara. Tenang, maskara yang dipakainya water proof, tak akan Luntur meski dia menangis keras.


~ Duuaarrr Jdeeeerrr jedeeerrr


Luna menutup telinganya karna suara petir yang membuatnya takut. Luna benci petir, gadis itu takut akan suaranya. Meski sudah tahu akan hujan deras, Luna tetap bertahan di tempat itu karna takut Darrel akan datang dan tak mendapatinya di sini. Lelaki itu pasti akan kecewa. Ya, Luna harus bertahan sedikit lagi.


Hal yang ditakutkan oleh Luna menjadi nyata. Tak lama setelah petir yang saling menyambar, langit mulai mengeluarkan tangisnya dan membasahi gersangnya tanah di bawahnya. Seakan alam pun ikut merasakan apa yang Luna rasakan. Gadis itu duduk di kursi sambil mendekap tubuhnya sendiri karna dingin yang menerpa kulitnya.


" Kak Darrel kok tega kak, kak Darrel kenapa ingkar janji ke Luna? Kak Darrel kemana?"


Sementara itu di tempat lain ….


" Ck, kok dari tadi gue ngerasa gelisah sama tuh bocah tengil sih, njir, gue kenapa sih, udah lah, paling juga dia sama ayang beb nya lagi neduh di rumah kosong terus anget – anget an. Astaga gue, otaknya gak pernah bener."


Lelaki itu terus mendumel hal yang membuat hatinya resah, entah mengapa dia merasa sesuatu tidak berjalan dengan baik. Lebih parah lagi, semakin dia berusaha menghilangkan pikiran itu, semakin bayangan itu menguasai pikiran Radith saat dia menutup mata.


" Ck, ngerepotin aja sih," ujar lelaki itu yang akhirnya memilih bangkit dan mengambil kunci mobilnya, tak lupa membawa payung yang ada di tempatnya. Lelaki itu berlari ke arah mobil dan langsung menyalakan mobil itu, beruntung mama dan kakaknya sudah tidur, hingga dia bisa leluasa pergi tanpa ada pertanyaan.


Radith melajukan mobilnya dengan pelan karna derasnya hujan membuat kaca mengembun dan tentu jarak pandangnya terbatas. Lelaki itu harsus berkali – kali menyetir sambil mengelap kaca dari dalam untuk menghilangkan embun yang menempel di kaca.


Lelaki itu memarkirkan mobilnya di samping mobil yang bertugas untuk menjaga Luna. Lelaki itu keluar dari mobil dan menghampiri mobil itu untuk memastikan Luna baik – baik saja.


" Lunetta mana?" tanya Radith saat kaca mobil itu terbuka. Orang itu tampak mengusap matanya, sepertinya dia malah tertidur di saat seharusnya dia menjaga Lunetta.


" Ma.. maaf tuan muda, Nona Lunetta meminta saya untuk tidak keluar dari mobil jika dia belum memerintahkan saya untuk keluar, saya tertidur, namun ponsel saya aktif dengan volume maksimum," ujar orang itu yang tampak membela diri, membuat Radith makin geram karnanya.


" Terus kalau ternyata Luna diserang dan gak bisa ngabarin, Lo mau apa? Lo mau disini sampai ada berita duka? Sampai Luna keluar di koran harian? Lucu Lo! Ini hujan deras, harusnya Lo jaga dia, karna keselamatan Luna lebih penting dari perintahnya! Dasar gak berguna!" seru Radith dengan emosi dan langsung meninggalkan mobil itu.


Orang itu tampak kaget karna dibentak oleh Radith, bahkan wajah Radith masih tampak memerah meski di tempat itu sedikit gelap. Radith berlari ke arah pesta yang disiapkan oleh Luna, sembari berharap Luna baik – baik saja dan tak terluka sedikitpun.


" Lunetta!!!" Seru Radith yang terkejut dengan Luna yang sudah terduduk di tanah sambil menunduk. Secepat mungkin Radith datang ke arah Luna sembari bersumpah akan membuat orang tadi bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi pada Luna.