
" Radith, Radith gue mohon. Radith gue mohon Lo harus bertahan, Radith gak boleh kenapa – napa, gue mohon Dith," ujar Luna sambil menahan kepala Radith yang terus mengeluarkan darah. Napas lelaki itu mulai hilang perlahan, membuat Luna semakin panik dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada lelaki itu. Luna makin menangis karna paniknya.
" Radith, gue mohon Dith. Buka mata Lo dith, gue gak mau Lo kenapa – napa," ujar Luna sambil mengelus muka Radith yang sudah mengeluarkan keringat dan darah tak mau berhenti dari kepalanya. Luna berteriak dan meminta supir yang membawa mereka lebih cepat agar mereka bisa lekas sampai di rumah sakit dan Radith segera ditangani sebelum ham]l buruk terjadi pada lelaki itu.
Luna langsung turun dari rumah sakit sementara orang – orangnya membantu untuk membopong Radith. Luna mengikuti lelaki itu sambil sesenggukan sampai lelaki itu masuk ke dalam ruang UGD dan Luna harus menunggu di luar. Gadis itu melihat tangannya yang sudah berlumuran darah, tangan gadis itu sampai bergetar karnanya.
Seakan de javu, Luna pernah mengalami hal semacam ini saat dulu dia masih bersekolah. Kala itu Radith melindunginya dan tertusuk oleh pisau yang dibawa oleh Roy. Sekarang Radith harus berdiri di antara hidup dan mati karna menyelamatkannya sekali lagi. Hal itu membuat Luna frustasi dan mulai panik, dia takut Radith tak dapat bertahan karna kondisi lelaki itu yang tampak mengerikan.
" Kenapa Lo selalu berada dalam bahaya kalau sama gue dith? Kenapa Lo selalu terluka kalau sama gue? Apa gue wajah jahat di hidup Lo? Apa gue memang diciptakan buat bikin Lo celaka? Gue mohon Lo selamat dith, kalau setelah itu gue harus jauh dari Lo, gue bakal lakuin itu. Gue mohon."
Luna mengambil ponselnya dan memencet beberapa tombol yang ada di sana. Tak peduli ponslenya langsung berlumuran darah karna dia memegang ponsel tanpa mengelap tangannya dahulu. Dia langsung menghubungi salah satu nomor yang ada di ponsel itu dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
" Bang Jordan, abang. Radith, Radith kecelakaan waktu pulang sama Luna. Kami dikejar sama orang dan, dan mobil Radith nabrak pohon. Radith sekarat bang, tolong, tolong selametin Radith." Jordan yang ditelpon tentu saja menjadi panik. Lelaki itu meminta Luna untuk tenang dan menunggu sementara dia akan melakukan sesuatu.
" Nona, nona harus obati luka di tubuh nona agar tidak menjadi infeksi. Nona silakan ikut kami, kami akan membawa Luna ke dokter," ujar salah seorang pengawal yang tentu saja diabaikan oleh Luna. Bagaimana mungkin Luna memikirkan luka kecilnya saat dia tak yakin Radith akan selamat?
Gadis itu bangkit dari duduknya dan melihat ke arah jendela yang sedikit terbuka. Dia bisa me,ihat banyak darah yang dibersihkan oleh dokter, mereka berusaha untuk menyelamatkan Radith dan tamak serius pada lelaki itu. Luna melihat ke arah alat pendeteksi jantung yang mulai menurun dan perlahan terus menurun.
Air mata Luna kembali jatuh melihat hal itu. Dokter bahkan sampai panik dan langsung menyiapkan alat kejut jantung meski belum memakainya. Mereka kembali mengurus luka – luka Radith dan tampak menjahit luka di kepala lelaki itu. Suster yang menangani langsung menyiapkan satu kantong penuh darah yang langsung tersambung di lengan lelaki itu.
Luna langsung memukul pintu UGD tersebut dengan panik dan histeris saat dia bisa melihat alat pendeteksi jantung itu menunjukkans atu garis lurus dan berbunyi, membuat semua orang di dalam sana langsung bergerak dan dokter mulai menggunakan alat pengejut jantung untuk membuat jantung Radith berhenti bertedak. Salah satu suster melihat Luna yang mengintip dan langsung menghampiri pintu dan menutupnya dengan rapat.
Gadis itu langsung terduduk di lantai dan memukul dadanya yang terasa sesak. Gadis itu bahkan sampai ketakutan dan menangis sejadi – jadinya. Gadis itu harus kehilangan sosok malaikat yang menjadi pelindungnya selama ini. Luna harus kehilangan Radith yang dingin namun perhatian. Lelaki itu harus pergi dengan cara yang seperti ini.
" Lunetta! Bagaimana keadaan Radith?" Luna langsung mendongak dan menatap sosok lelaki yang langsung berjongkok di depannya. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan memeluk lelaki yang ada di hadapannya. Entah dengan apa lelaki itu bisa sampai ke tempat ini cukup cepat. Luna akan menanyakannya nanti.
" Abang dari malaysia, makanya bisa cepat. Gimana keadaan Radith? Apa yang terjadi?" tanya Jordan yang menatap ke arah pintu UGD namun pintu itu sudah tertutup rapat. Luna tak bisa menjawa, dia hanya memejamkan matanya dan menggeleng – gelengkan kepalanya berkali – kali. Membuat Jordan yakin sesuatu yang salah sudah terjadi.
Lelaki itu langsung berdiri dan membuka pintu UGD dan menutupnya kembali, membuat Luna terkejut dengan tingkah nekat lelaki itu. Namun Luna tak bisa mengikuti Jordan untuk masuk ke dalam sana. Dia lebih baik menunggu Jordan melakukan keajaiban, keajaiban apapun yang penting Radith bisa kembali hidup.
Jordan keluar dari dalam ruang itu lima belas menit kemudian. Lelaki itu hanya memakai masker tanpa baju khas dokter yang biasanya dia lihat di ruang operasi. Jordan berjongkok dan menatap Luna yang sangat menunggu kabarnya. Lelaki itu menghela napasnya berkali – kali dan mengusap kepala Luna. Gadis itu sangat berantakan.
" Lunetta, kamu tenang ya. Radith emang sempat kehilangan detak jantungnya, tapi sekarang semua udah baik – baik aja. Dia udah lewat masa kritis dan sekarang kita tinggal tunggu dia bangun," ujar Jordan yang membuat Luna menatap lelaki itu dalam, mencari kejujuran diantara kedua bola mata lelaki itu. Luna langsung memeluk Jordan saat Luna bisa melihat sorot kejujuran yang lelaki itu tunjukkan.
" Terima kasih, terima kasih udah nyelametin Radith. Terima kasih Radith udah kembali hidup," ujar Luna yang berterima kasih entah pada siapa. Gadis itu sangat bersyukur Radith kembali mendapatkan detak jantungnya dan kini lelaki itu baik – baik saja meski dia tak bisa memastikan Radith akan kembali normal setelah bangun.
" Abang gak bisa pastikan. Tapi kalau lihat dari lukanya, ada tiga kemungkinan. Pertama, dia bakal baik – baik aja dan semua normal. Kedua, dia bakal hilang ingatan atau gegar otak karna cidera kepala yang sangat parah. Ketiga, dia bakal cacat karna tulang kakinya terjepit waktu kecelakaan itu," ujar Jordan yang membuat Luna kembali menangis.
"Luna gak mau Radith menderita kayak gitu bang, Luna gak mau Radith ngalamin semua itu. Luna mohon bang, suruh dokter itu menyelamatkan Radith. Lunaa mohon bikin Radith baik – baik aja, Luna bakal lakuin apapun untuk hal itu. Luna mohon bang," ujar Luna yang tampak frustasi. Jordan sendiri sampai tak tega melihat adiknya sehancur ini.
" Kamu tenang dulu, abang bakal minta dokter buat lakuin yang terbaik. Sekarang kamu nurut sama abang, kita ke dokter buat ngobatin luka kamu sekalian ganti baju. Kamu penuh sama darah kayak gini, abang gak tega lihatnya," ujar Jordan yang diangguki oleh Luna. Gadis itu berjalan di sebelah Jordan yang merangkulnya.
" Kalau kamu udah siap, kamu bisa cerita sama abang kenapa bisa sampai seperti ini. Abang udah selidiki pelakunya dan bentar lagi kita dapat kabar. Tapi abang mau tahu bagaimana mobil Radith sampai meledak dan kamu kayak gini. Gimana ceritanya?"
" Radith, Radith tahu kami diikuti. Terus mobil yang ngikutin kami udah mulai nabrak – nabrakin mobil Radith sedangkan kalau gak bisa bertahan, mobil Radith bisa aja malah masuk ke dalam jurang. Terus Radith jadi pelan, nah terus tiba – tiba Radith suruh Luna buka pintu dan dia nendang Luna. Terus Radith langsung naik mobil kencang kejar – kejaran sama orang itu."
" Jadi dia nendang kamu keluar dan kamu jadi luka gini? Dia cerdas. Dia gak mau kamu kenapa – napa, dia udah perhitungkan semua buat nyelametin kamu," ujar Jordan yang langsung mengerti maskud tindakan Radith. Lelaki itu salut pada Radith yang masih memikirkan cara untuk menyelamatkan Luna.
" Tapi bang, karna Radith nyelametin Luna, dia langsung kenceng dan akhirnya, akhirnya waktu Luna ketemu mobilnya udah meledak dan dia udah kayak gitu. Kalau dia gak mikir gimana cara nyelametin Luna, mungkin kejadiannya gak kayak gini bang," ujar Luna dengan frustasi.
" Kamu gak salah di sini. Kalian tetap akan terluka walau Radith gak lakuin itu. Orang – orang itu ingin Radith mati, gak keberatan kalau kamu ada di dalam mobil itu. Justru Radith mau salah satu diantara mereka harus ada yang selamat. Kamu harus ngerti maksud dia. Hal terpenting di sini, siapa orang yang udah ngelakuin ini, abang masih gak ngerti."
" Kalau mereka incar Wilkinson. Mereka pasti serang ke abang atau serang ke Darrel, bisa juga mereka serang ke kamu. Tapi mereka serang Radith. Apa tujuan mereka sebenernya?" tanya Jordan yang tentu saja tidak bisa dijawab oleh Luna. Bagaimana Luna bisa tahu tentang hal itu?
" Kalau kamu yang diincar, mereka pasti berhenti dan melakukan sesuatu ke kamu. Tapi mereka tetap ngejar Radith walau tahu kamu gak ada di mobil itu. Jelas kalau mereka memang pure ngincar Radith. Tapi kenapa? Radith bahkan gak pegang perusahaan yang besar dan gak banyak pengusaha besar tahu tentang dia."
Luna juga terdiam mendengar hal itu. Benar yang dikatakan Jordan. Radith bukan ancaman di dunia Industri. Bahkan industri yang dipilih Radith kurang berpotensi jika bersaing dengan pengusaha besar di luar sana. Tapi mengapa mereka menjadikan Radith target? Apakah ini pembalasan dendam atau apa? Memang Radith memiliki musuh?
" Kalau melihat jumlah mereka yang snagat banyak, abang yakin masalahnya gak simple dan bakal makan waktu lama buat nyelidikin semua. Abang mau kamu berhati – hati, abang gak mau kamu jadi target berikutnya. Kamu harus lebih waspada sebelum kita tahu siapa dan apa motifnya. Kamu bisa kan?" tanya Jordan yang diangguki oleh Luna.
" Atau kamu ikut abang aja ke luar negeri Lun? Abang gak mau kamu terluka kayak gini Lun. Abang gak mau kamu kenapa – napa. Kamu mau kan ikut abang? Ada Danesya juga di rumah abang yang di Inggris, kamu mau kan?" tanya Jordan yang menatap lurus ke mata Luna.
" Abang," ujar Luna pelan. Gadis itu menunjukkan mata yang berkaca – kaca dan seakan teringat seusatu. Gadis itu bahkan sampai tergagap dan bingung bagaimana car menaynmpaikannya pada Jordan. Jordan menunggu saja apa yang akan dikatakan oleh Luna.
" Kak Key! Kak Key lagi di rumah orang tuanya. Dia lepas dari penjagaan ketat di rumah," ujar Luna pada akhirnya. Jordan langsung teringat akan hal itu dan segera bangkit. Lelaki itu segera mengambil ponselnya dan meminta bantuan untuk menjaga rumah keluarga Keysha dan menjemput gadis itu agar selamat sampai ke kota ini.
" Kita ke kama Radith aja yuk, abang bakal antar kamu ke sana dan minta orang buat jagain kamu. Abang harus jemput Keysha sendiri, abang gak tenang tentang dia," ujar Jordan yang membuat Luna mengangguk paham. Mereka masuk ke ruang rawat Radith dan langsung meninggalkan Luna untuk menjemput istri dan calon anaknya.
Sementara itu di ruangan Radith. Semua terasa hening, lelaki itu tak membuka mata sama sekali. Wajah lelaki itu lebam dan terdapat plester di kepala lelaki itu. Luna merasa sedih dan kasihan melihat Radith yang seperti ini, dia tak menyangka Radith sampai seperti ini karna menyelamatkannya.
" Lo harus sbangun dan baik – baik aja Dith. Lo harus bisa baik – baik aja biar gue gak merasa bersalah ke Lo. Gue mohon Dith, gue bakal menyesal seumur hidup gue kalau gue kehilangan Lo kayak gini, gue mohon," ujar Luna yang memegang tangan Radith dengan erat. Gadis itu memejamkan matanya dan berdoa untuk Radith.
Radith bahkan tak kunjung sadar, tak seperti film yang Luna tonton. Lelakinya akan sadar saat si wanita memegang tangan lelaki itu. Nyatanya Radith tak langsung sadar meski Luna sudah memegang tangan lelaki itu. Luna kembali memegang erat tangan lelaki itu dan meletakkan kepalanya di kasur itu sebagai alas.
Entah kenapa matanya menajdi berat dan semakin menutup. Gadis itu bahkan menguap beberapa kali dan setelahnya, hanya da dengkuran halus yang keluar dari napas teratur gadis itu. Ya, Luna masih sempat tertidur di saat seperti ini. Dia sudah menangis lama dan merasa lelah, mungkin bisa dimaklumi dia yang tertidur.
Saat Luna tertidur, seseorang yang tangannya Luna genggam mulai menunjukkan reaksi. Lelaki itu membuka matanya perlahan dan terdiam karna merasakan pusing di kepalanya yang seakan ingin membunuhnya. Lelaki itu langsung terdiam dan melihat tangannya yang dijadikan bantal oleh gadis itu. Membuatnya tak menggerakkan tangannya sama sekali agar tak menganggu gadis itu.
" Gue bahagia Lo selamat. Gue lega Lo baik – baik aja. Sleep tight," lirih lelaki itu pelan sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya karna rasa sakit yang menyerang kepalanya membuat matanya sulit untuk terbuka.