Hopeless

Hopeless
Chapter 61



Luna memainkan ponselnya membuka konten makan yang membuatnya lapar. Hari ini hari Minggu, mereka baru saja sampai di kota asal disambut mati listrik di sekitar daerah itu.


Tidak begitu berpengaruh bagi Luna karena rumah gadis itu memasang Genset sendiri untuk tiap lantai, namun media sosialnya penuh dengan keluhan orang lain mengenai mati listrik ini.


" Lucu yah, baru mati listrik hebohnya kayak gini," ujar Luna sekenanya, yah gadis itu hanya bicara saja, dia tidak tahu rasanya batterai ponsel sekarat namun tidak ada aliran listrik untuk asupan.


Ah, Luna dengar mati listrik ini dikarenakan gempa bumi yang melanda beberapa daerah termasuk rumahnya, namun dia tidak ada di Indonesia saat kejadian.


" Yah, semoga yang ketemu tetap sehat, yang belum ketemu segera ditemukan, yang sudah meninggal tenang di surga, amin," ujar Luna saat melihat postingan akun gosip yang mengabarkan berita eksklusif mengenai gempa tersebut.


Gadis itu tidak ingin sedih berlarut, dia mencari eksplore dan langsung mencari hastag mukbang seafood. Melihat orang - orang itu makan kaki 'king crab' ataupun lobster raksasa tentu membuat Luna ngiler.


Gadis itu segera menelpon bagian dapur dan meminta mereka menyiapkan 'king crab' dan Lobster, tentu dibumbui ala video yang dia tonton.


Setelah menelpon, dia langsung menghubungi Darrel untuk datang ke rumahnya. Namun Darrel ternyata masih ada urusan dengan restorannya karena sedikit bermasalah.


" Yaudah, makan sendiri aja," ujar Luna meletakkan ponselnya dan menunggu seseorang mengantarkan makanannya.


Seperti Hotel? Haha, jauh lebih enak tinggal di rumah Luna teman - teman, karena semua biaya ditanggung ayahnya, apalagi dia bisa minta apapun disini.


~ Kring kring


Telepon di kamarnya berbunyi, dia langsung mengangkatnya dan mengernyit bingung karena petugas keamanan rumah yang menelponnya.


" Kenapa pak?" tanya Luna sambil tiduran di kamar.


" Eemm ini ada paket atas nama non Luna, masih dibungkus pakai solasi, saya gak berani buka," ujar petugas itu kepada Luna.


" Oke deh pak, minta pelayan antar ke kamar Luna aja ya pak, Terimakasih," ujar Luna riang sambil menutup telpon.


Luna langsung memikirkan hal itu, kapan dia membeli atau memesan barang yang memerlukan pemaketan? Jika bukan dia, kenapa atas namanya jadi dia?


~ tok tok


" Masuk mba, gak dikunci," ujar Luna sedikit berteriak saat kamarnya diketuk oleh seseorang.


Orang itu masuk ke kamar Luna membawa bingkisan yang dibungkus kresek hitam dan isolasi yang mengelilinginya, seperti paket pada umumnya.


" Makasih ya mba," ujar Luna sopan sambil menerima paket yang diberikan oleh pembantunya.


" Sama sama non, saya ke ruang utara lagi ya non," pamit pembantu itu sambil berlalu, tak lupa menutup kembali pintu kamar Luna rapat - rapat.


" Apanih, besar amat, perasaan gue gak pesan apa apa," ujar Luna membolak - balik kotak tersebut dan mengocok isinya.


Luna akhirnya dengan sabar membuka satu persatu bungkus yang menelimuti kotak itu, dengan tidak sabar dia menyobek asal bungkus tersebut.


Masih terdapat bungkus kertas kado yang diatasnya terdapat pita besar yang lucu, membuat Luna sedikit terkekeh melihat hal itu.


" Emang gue ulang tahun ya? Haha, lucu banget lagi," ujar Luna mengelus pita tersebut.


Gadis itu kembali membuka pembungkus terakhir kotak dan segera membuka isinya, matanya melebar tak percaya dengan apa yang didapatinya di dalam sana.


Boneka beruang putih yang sangat Lucu, ditambah lagi ukuran boneka tersebut cukup besar. Siapa yang mengirim Luna hadiah sebagus ini? Serta apa tujuan orang itu mengirim barang ini?


Boneka tersebut masih dalam posisi tengkurap, Luna segera mengambil boneka itu dan memeluknya, namun saat Luna membalik tubuh boneka itu, ekspresinya berubah.


" Aaaaaaaa," teriak Luna melempar boneka itu sampai ke dekat pintu, Luna menggeleng - gelengkan kepalanya frustasi melihat benda itu dan melihat tangannya.


Benda itu memang lucu jika dilihat dari belakang, namun siapa sangka dia memiliki wajah hancur penuh 'luka sayatan' karena badan dan mukanya dirobek dengan sengaja serta dilumuri oleh darah.


Luna langsung menangis melihat benda itu, di dalam kotak pun terdapat sebuah pesan yang tertancap di sebuah pisau tajam. Dengan takut gadis itu mengambil kertas tersebut dan membacanya.


" See you soon, you'll meet your Mother ASAP."


Luna membuang kertas tersebut dan menendang kotaknya sejauh mungkin. Gadis itu mengambil guling dan memeluknya erat - erat, dia sangat takut.


Meski banyak pengawal di rumah, orang itu tidak takut meneror Luna dengan mengirim barang seperti ini. Apalagi Jordan sedang ada di luar Negeri, tidak ada yang bisa datang dan menenangkannya saat ini.


Darrel? Lelaki itu sudah mengatakan ada masalah genting pada restoran pusatnya, bagaimana dia bisa menganggu lelaki itu?


Radith. Yah, Luna harus menghubungi Radith, mungkin lelaki itu bisa datang dan membantu Luna. Luna sangat takut saat ini. Luna langsung menacari nomor Radith dan menelponnya.


" Nomor yang anda tuju tidak dapat ..." Luna langsung mematikan panggilan saat yang mengangkat ternyata selingkuhan Radith.


Luna mencoba menghubungi Radith sekali lagi, namun yang menjawabpun tetap orang yang sama. Membuat Luna geram dan melempar ponselnya.


Gadis itu langsung meringkuk dan menangis ketakutan, apa salahnya? Mengapa orang itu terus menerornya?


Mengenal Syifa pun tidak, mengapa Syifa harus menerornya sampai seperti ini? Apa motif Syifa sebenarnya?


Luna menangis sesenggukan saat tidak menemukan jawaban apapun, dia hanya memeluk guling kesayangannya dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.



" Radith, keadaan Blenda Drop lagi, dia masuk ICU."


Radith mematikan sambungan telpon dan bergegas menuju rumah sakit. Padahal tadinya keadaan gadis itu baik baik saja, entah bagaimana bisa drop sampai harus masuk ICU.


Lelaki itu menunggu dengan khawatir di depan ruang ICU, entah apa yang dilakukan dokter di dalam sana sampai menghabiskan waktu satu jam dan belum juga keluar.


Radith mengambil ponsel di sakunya, namun ternyata ponselnya sudah mati, sepertinya dia lupa men-charge ponselnya hingga mati saat di perjalanan.


Tak lama, dokterpun keluar dari dalam sana, dokter membuka masker yang membungkus hidungnya dan menghampiri Radith.


" Kemana keluarga korban?" tanya Dokter itu saat hanya ada Radith disana.


Tadi orang tua Blenda menghubunginya, dan sesaat setelah dia sampai, kedua orang itu ditelpon oleh klien penting sehingga terpaksa meninggalkan Blenda. Nasib baik Radith sudah datang, mereka tidak terlalu khawatir.


" Sedang ada urusan dok, mereka tadi pamit. Bagaimana keadaan Blenda dok? Katakan saja pada saya," ujar Radith dengan wajah Khawatir.


" Keadaan gadis itu memburuk, dan anehnya proses dialisis yang harus dilakukan malah tidak berjalan lancar. Entah bagaimana mesin Dialisis eror sehingga tidak dapat memompa darah pasien."


Bagaimana mungkin mesin secanggih itu bisa eror? Kalaupun eror, mengapa tepat disaat Blenda yang memakainya? Radith tidsk dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya.


" Keadaan pasien cukup mrngkhawatirkan, mengingat komplikasi yang di derita pasien. Kita harus segera menemukan donor yang tepat dan melakukan transpalasi secepatnya."


Radith mengangguk saat Dokter mengatakan hal itu, dokter itu langsung pergi bersamaan dengan Blenda yang keluar dari ruang ICU.


Mereka membawa Blenda ke ruang inap biasanya, gadis itu tampak kurus dan pucat, membuat Radith menjadi sedih melihatnya.


" Lo tuh kena sakit batuk kek, panu kek, penyakit orang kaya semua ysng ada di tubuh Lo," ujar Radith lirih sambil mengelus kepala Blenda.


Di lihatnya tangan pucat Blenda, namun saat Radith membaliknya, terdapat jejak bolpen seperti saat menemukan harta karun.


Radith mengikuti jejak itu dan sampai di kantung baju kebesaran pasien yang ada di rumah sakit itu, Radith ragu untuk mengecek isi kantong itu, namun mengingat Blenda masih belum bangun dan tidak adanya niat berbuat jahat, Radith memberanikan diri melihat isi kantong itu.


Lelaki itu mendapatkan sebuah kertas terlipat di kantung itu, segera diambilnya kertas itu dan dibukanya untuk membaca isinya.


' INI BARU PERMULAAN. BERHENTI ATAU DIA AKAN MATI!'


Radith meremas kertas itu dengan geram, bagaimana mungkin orang itu tega meneror Blenda yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Radith.


Orang itu bahkan berani mencelakai Blenda saat gadis itu ada di rumah sakit, padahal pengawasan rumah sakit ini terbilang ketat. Entah apa cara yang dilakukan orang itu untuk mencelakai Blenda.


" Jadi, kerusakan mesin dialisi disabotase? Bukan faktor Erornya mesin secara kebetulan."


Radith tersenyum sinis seakan ingin membunuh siapapun yang membuat Blenda sampai seperti ini. Bahkan gadis ini sudah menderita tanpa bantuan orang itu, namun orang itu dengan baiknya menambah penderitaan Blenda.


" Radith," panggil gadis itu dengan lirih, dilihatnya Radith yang tampak melamun sambil memegang tangannya.


" Udah bangun? Mana yang sakit?" tanya Radith dengan lembut pada Blenda.


" Perut aku sakit, aku gak tahu kenapa. Tadi mesin dialisisnya lagi jalan, terus aku tidur, kenapa sekarang rasanya sakit banget."


Blenda mengusap perutnya pelan, Radith pun menggenggam tangan Blenda yang ada di perut gadis itu.


" Udah, gakpapa. Nanti sakitnya hilang sendiri. Kamu udah makan?" tanya Radith masih dengan kelembutan. Blenda pun menggeleng sebagai jawaban. Gadis itu tidak suka makanan rumah sakit, namun dia tidak boleh makan sembarangan.


" Aku mau tawarin kamu makan, tapi aku gak tahu pantangan kamu, aku tanya suster dulu ya," ujar Radith hendak berdiri. Blenda menahan tangan Radith dan menggeleng, membuat lelaki itu duduk kembali ke kursi.


" Gak doyan, kayak makanan orang sakit, gak ada rasanya," ujar Blenda mengerucutkan bibirnya. Radith hendak memaki Blenda, namanya juga rumah sakit, makanan pasien pasti disiapkan untuk orang sakit. Apakah kegagalan faktor mesin dialisis membuat otaknya sedikit geser?


" Memang kamu sehat?" tanya Radith dengan sindiran pedas, Blenda menambah ukuran bibirnya semakin panjang, dia melepaskan tangan Radith dan terdiam. Benar juga, dia kan lagi sakit.


" Tapi aku gak mau, gak ada rasanya. Bikin muntah," ujar Blenda menggeleng kuat. Radith jadi tidak tega melihat Blenda yang seperti itu, Radith menghela nafas dan memikirkan cara membujuk Blenda.


" Gini aja, kamu makan, aku suapin," ujar Radith memberikan penawaran, namun jawaban Blenda tetap sama. Gadis itu enggan untuk makan bahkan jika Radith menyuapinya.


" Keluar dari sini kita makan makanan kesukaan kamu, tanpa melanggar pantangan dokter," ujar Radith menambah penawaran agar Blenda meluluh dan mau makan. Gadis itu masih menggeleng, sengaja ingin memeras Radith.


" Kita ke taman hiburan setelah kamu pulih," tawar Radith yang membuat Blenda berbinar. Blenda tahu ini penawaran terakhir Radith, sepertinya jika dihitung masih worth it meski dia harus memakan makanan hambar selama berada disini.


Blenda pun mengangguk riang saat Radith tersenyum dengan penawaran terakhirnya. Membuat Radith terkekeh dan mengusap kepala Blenda dengan gemas. Memang gadis itu tampak dewasa, namun dia tetaplah gadis SMP yang sesekali menunjukkan sikap manjanya.


" Aku ambil makanannya dulu," ujar Radith berdiri dan meninggalkan Blenda sendiri untuk mengambil makanan.


Radith sedikit mempercepat langkahnya, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Blenda, apalagi pengawal yang di kirim Jordan sepertinya menunggu di luar.


Lelaki itu kembali dengan nampan berisi makanan dan air putih, dia masuk dan melihat Blenda yang menangis sambil melihat tangannya.


" Kenapa?" tanya Radith setelah meletakkan makanan Blenda di atas nakas. Blenda menggeleng lemah sebagai jawaban.


" Kenapa?" tanya Radith lagi, kali ini sedikit memaksa agar Blenda mau membuka suara. Gadis itu menghela nafas dan menunjuk ke tangannya, Radith memperhatikan tangan itu, tadi dis sudah menghapus jejak bolpen sehingga tangan Blenda sudah bersih.


" Banyak bekas suntikan, tangan aku gak mulus lagi dave," ujar Blenda dengan sedih, pengobatannya yang rumit membuatnya sering ditusuk oleh jarum suntik.


Radith yang melihat itu tentu sedih, dia tidak dapat melakukan apapun, apalagi itu sudah Prosedur dari dokter yang harus dipatuhi.


" Makanya kamu sembuh, kalau udah sembuh kita bisa perawatan bareng biar kulit kita Glowing bercahaya," ujar Radith yang mengelus tangannya sambil menunjukkan wajah centil.


Blenda terkekeh dan menabok pelan lengan Radith yang menunjukkan wajah menjijikan baginya, sejak kapan lelaki itu suka melakukan perawatan?


" Sejak kapan kamu suka perawatan? Cuci muka aja pakai sabun cair buat badan," jawab Blenda sambil terkekeh.


" Loohh, jangan salah. Kalau kamu sembuh, aku janji deh bakal temenin kamu perawatan," ujar Radith dengan kekehan dan wajah yang serius.


" Seriusan loh, kamu harus mau aku ajak Facial, creambath dan lain lain lagi," ujar Blenda antusias sambil menunjuk ke arah Radith.


" Oke deal, tapi syaratnya kamu harus sembuh total," ujar Radith sambil terkekeh. Namun siapa sangka jawaban Radith malah membuat Blenda menjadi murung.


" Iya kalau aku bisa sembuh dave, rasanya capek aja gitu tiap hari minum obat banyak, masih disuntik obat, masih operasi buat pengobatan."


" Hey hey hey, semangat dong, masak kayak gitu sih. Kamu harus semangat dan percaya kamu bisa sembuh, nunggu kamu lulus SMP, mama papa kamu bakal bawa kamu nyari dokter terbaik buat kamu sembuh," ujar Radith menyemangati Blenda.


Entah terlambat atau tidak, memang mereka menunggu Blenda lulus sekolah baru membawa gadis itu ke dokter spesialis di luar negeri. Siapa yang sangka gadis ceria dan aktif itu menyimpan beberapa penyakit ganas yang bisa kapanpun mengambil nyawanya.


" Suapin aku makan dave," ujar Blenda memberi perintah.


Radith dengan sigap mengambil nampan berisi makanan yang bening bening. Ayam kukus dengan sedikit bumbu, tahu rebus dan sayur bening. Kebanyakan orang pasti memilih untuk puasa dibanding harus memakan ini.


Dengan sabar Radith menyuapi Blenda, Blenda membuka mulut dan mulai mengunyah makanan itu. Tampak wajah tidak nyaman ditunjukkan oleh gadis itu.


Gadis itu sampai menangis sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya, lalu menelannya pelan dan mengambil minum.


" Kok nangis?" tanya Radith dengan wajah yang sedih.


" Aku gak tahu harus berapa makan kayak gini dith, rasanya gak enak tapi aku harus terbiasa," ujar Blenda sambil menyeka air matanya.


Radith pun tersenyum dan mengusap wajah Blenda agar gadis itu tidak sedih lagi.


" Tahan sebentar lagi, kamu pasti sembuh," ujar lelaki itu memberi kekuata