Hopeless

Hopeless
Jamu Kuat



"Se-sekarang, Kang?" tanya Nezia tergagap.


Istri Faris tersebut merasa belum siap jika harus melakukannya sekarang, apalagi ini masih terlalu sore dan malam nanti mereka juga masih ada satu acara lagi.


Faris menggeleng-gelengkan kepala, seraya tersenyum lebar mengetahui kegugupan sang istri. "Kita simulasi dulu, Neng."


"Simulasi? Seperti mau ujian negara saja, Kang, pakai simulasi segala?" Nezia langsung menoleh dan melancarkan protes. Gadis cantik tersebut sampai tidak menyadari bahwa jarak keduanya begitu dekat.


Faris tersenyum menatap manik hitam Nezia.


Wajah Nezia tiba-tiba memanas kala menyadari bahwa jarak mereka berdua, hampir terkikis habis.


Istri Faris tersebut bahkan dapat merasakan hangatnya hembusan napas sang suami, membuat dadanya berdebar kencang. "Kang ...." Nezia tak mampu lagi berkata-kata, dia menelan saliva berkali-kali.


Nezia memejamkan mata, kala Faris mencoba mengikis jarak keduanya seraya menangkup kedua pipinya. Jantung wanita cantik itu semakin berdebar kencang dan tangan Nezia berkeringat dingin.


Dengan mengucap basmallah dalam hati, Nezia telah siap untuk menyambut apapun yang akan dilakukan oleh Faris terhadap dirinya. Kepasrahan seorang istri, yang menyambut baik kehadiran sosok seorang imam dalam hidupnya.


"Cup ...." Sebuah ciuman yang hangat dan lama, mendarat di kening Nezia. Membuat wanita cantik itu tersenyum malu karena telah menyangka, sang suami akan segera menunaikan tugasnya saat ini juga.


"Kenapa senyum-senyum, Neng?" tanya Faris setelah menjauhkan sedikit wajahnya. Pemuda berwajah manis tersebut menatap intens pada sang istri.


"E-enggak apa-apa, Kang," balas Nezia, gugup, seraya mengalihkan pandangan karena tak sanggup jika harus bersitatap dengan netra elang Faris.


"Mau simulasi beneran?" kejar Faris, membuat Nezia mengerucutkan bibir.


"Enggak, Kang! Kang Faris ada-ada aja, deh!" elak Nezia. Padahal, kalaupun bukan hanya sekadar simulasi, dirinya pun telah siap lahir dan batin.


"Jangan seperti itu bibirnya, Neng. Aku enggak tahan," protes Faris sambil menyembunyikan wajah di bahu sang istri.


"Kalau enggak tahan, ya tinggal di comot aja, Kang. 'Kan udah halal," balas Nezia keceplosan. Istri Faris itu langsung menutup mulutnya, begitu menyadari apa yang baru saja dia ucapkan.


"Kamu barusan bilang apa, Neng?" tanya Faris dengan tatapan menggoda.


"Enggak, Kang. Bukan seperti itu maksud Inez." Mempelai wanita itu segera beranjak dan kemudian berlari kecil menuju kamar mandi.


Meninggalkan Faris yang tertawa senang, melihat sikap istrinya yang malu-malu tapi mau.


Di dalam kamar mandi, Nezia bernapas dengan lega. "Huh ... nih mulut, bisa-bisanya keceplosan! Pasti gara-gara sering ngumpul sama saudara-saudara yang absurd, makanya jadi ketularan!" gerutu Nezia pada diri sendiri.


'Berendam saja kali, ya? Tiba-tiba jadi gerah.' Nezia berjalan menuju 𝘣𝘒𝘡𝘩𝘢𝘱, dia tertegun kala mendapati di dalam bak mandi yang berukuran besar dan muat untuk dua orang tersebut, telah terisi dengan taburan kelopak mawar di seluruh permukaannya.


'Siapa yang sudah menyiapkan semua ini? Apa Mbak Ana dan Mbak Heni?' Nezia bertanya-tanya dalam hati.


'Mandi di 𝘴𝘩𝘰𝘸𝘦𝘳 sajalah, sayang kalau itu aku pakai buat mandi sendirian.' Senyum merekah menghiasi wajah cantik Nezia.


'Ish, kenapa pikiranku jadi 𝘡𝘳𝘒𝘷𝘦𝘭𝘭π˜ͺ𝘯𝘨 gini, sih!' umpat Nezia pada dirinya sendiri.


Istri Faris itu kemudian mandi dengan sangat cepat. Mengguyur kepalanya yang mulai dipenuhi dengan bayangan sang suami.


Usai mandi, Nezia bingung karena dia lupa tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


'Tuh, kan. Aku sampai lupa enggak bawa baju ganti. Masak iya pakai kebaya yang tadi lagi, sih!' bibir Nezia seketika manyun.


Hanya ada handuk kimono, satu handuk berukuran besar, dan satu handuk berukuran kecil untuk mengeringkan rambut. Mau tak mau, Nezia memakai handuk kimono tersebut.


Ragu, Nezia membuka sedikit pintu kamar mandi. Dia melongokkan kepala dan melihat keadaan kamar.


'Apa, Kang Faris tidur?' batin Nezia bertanya, kala melihat sang suami merebahkan diri di sofa dengan mata terpejam.


Nezia berjalan keluar dari kamar mandi dengan berjingkat, istri Faris tersebut berharap sang suami tidak membuka matanya sampai dirinya selesai berpakaian.


Wanita cantik itu terus berjingkat menuju almari pakaian, dimana pakaian mereka berdua telah disimpan oleh sang ibu.


Baru saja Nezia membuka almari, istri Faris itu terkejut ketika ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Nezia memejamkan mata, mendadak dia merasa kesulitan bernapas.


Apalagi saat Faris menenggelamkan wajah di tengkuknya, Nezia membeku di tempat dengan jantung yang berlompatan tak karuan.


Hembusan hangat napas Faris yang menyapu kulit sensitifnya, membuat bulu-bulu di seluruh tubuh Nezia, berdiri.


"Kamu menggodaku dengan memakai handuk seperti ini, Neng," bisik Faris, tepat di belakang telinganya.


"Kang, aku ...." Wanita cantik itu menelan saliva dengan susah payah.


"Kenapa, hem?" tanya Faris, sambil memegang dagu sang istri dan menuntunnya untuk menoleh ke arahnya.


Faris semakin merapatkan tubuh keduanya, hingga Nezia dapat merasakan sesuatu yang keras menempel di bagian bawah tubuhnya.


Nezia membuka mulut dan menatap sayu pada sang suami. Begitu pula dengan Faris, tatapan pemuda tersebut tertuju pada bibir ranum sang istri.


"Neng ...."


"Kang ...."


Faris semakin mendekatkan wajah, dekat dan semakin dekat.


Suara ketukan pintu dari luar, membuat Faris memejamkan mata dan membuang kasar napas, kecewa.


"Kamu benar, Neng. Ini masih terlalu sore," ucap Faris yang kemudian melepaskan pelukan dan segera melangkah untuk membukakan pintu.


Nezia pun nampak kecewa, tetapi wanita itu hanya dapat tersenyum dikulum. "Memang benar, Kang. Ini masih terlalu sore," gumamnya.


"Bu, silahkan masuk," ucap Faris dengan sopan kala melihat sang ibu mertua.


"Tidak, Nak Faris. Ibu hanya ingin memberikan ini untuk kalian," balas wanita anggun tersebut, seraya memberikan dua gelas minuman hangat.


"Langsung diminum ya, biar badan kalian tetap fit sampai nanti malam," lanjut Bu Nisa.


Faris menerima baki dari tangan sang ibu mertua dengan dahi berkerut dalam.


"Ya, sudah. Nak Faris masuk sana, jangan lupa segera beri kami cucu yang banyak," pungkas wanita yang awet muda tersebut seraya tersenyum lebar. Bu Nisa segera berlalu, meninggalkan Faris yang senyum-senyum sendiri.


Faris segera masuk ke dalam dan tak lupa menutup serta mengunci pintu kamarnya. 'Apa ini jamu kuat?' Faris bertanya-tanya dalam hati, senyuman sumringah menghiasi bibirnya.


β˜•β˜•β˜•β˜•β˜• bersambung ...