
" Blenda," lirih Bunda sambil memeluk nisan di atas kuburan basah yang bertuliskan nama lengkap puterinya. Bunda hanya memiliki satu anak dan kini anak itu telah pergi dari hidupnya. Ibu mana yang tidak hancur mengetahui dan mengalami hal itu? Bahkan sampai detik ini bunda masih belum sepenuhnya mengiklaskan gadis kecilnya itu.
Ramainya tempat pemakaman itu membuat Luna sedikit merasa sesak, namun gadis itu tetap bertahan mengingat dia sempat cukup dekat dengan Blenda. Gadis muda yang selalu memberikan energi positif untuk orang di sekelilingnya, gadis muda itu memiliki aura cerah dan menyenangkan. Ternyata benar, Tuhan terlalu sayang pada anak – anak yang baik hingga tak mengijinkan mereka berlama – lama di dunia yang kejam ini.
" Bunda, Blenda udah titip pesan sama Dave, bunda gak boleh sedih dan harus mengiklaskan Blenda. Bunda gak mau kan Blenda sedih selama tidurnya? Blenda udah tidur nyenyak Bun, Blenda udah bahagia. Dia udah gak sakit lagi, sekarang kita semua harus bahagia walau Dave tahu itu berat."
Kalimat itu terus Radith ulang untuk meyakinkan Bunda dan dirinya sendiri bahwa Blenda tak perlu ditangisi dan mereka harus lekas bahagia untuk meneruskan kehidupan ini. Radith tahu bukan kesedihan atau tangisan yang mengiring Blenda menuju cahaya surga, Radith hanya tak mau jalan Blenda menjadi gelap karna orang di sekelilingnya terus bersedih dan muram.
" Anak Bunda hebat, dia bahkan bisa menahan rasa sakit yang tidak semua orang bisa menahannya, Bunda bangga sama Blenda, Istirahat yang tenang ya nak. Doakan bunda juga di atas sana biar Bunda lekas mengiklaskan kamu sepenuhnya. Kamu akan terus jadi kebanggaan Bunda, yang tenang ya nak," ujar Bunda pada akhirnya sambil mengecup nisan yang ada di hadapannya.
Luna berjongkok di sebelah Radith dan mulai berdoa dalam hati, mendoakan Blenda agar semua dosa gadis itu diampuni dan gadis itu mendapatkan tempat terbaik di surga. Luna juga mendoakan semua orang yang ada di sekitar Blenda dan di sekitarnya agar selalu bahagia di kemudian hari.
Setelah acara pemakaman selesai, Luna langsung pergi bersama Darrel menuju mobil lelaki itu, suasana menjadi hening dan sedikit tegang. Jujur saja, tidak ada satupun dari mereka yang menyangka Blenda pergi secepat ini, mengingat semangat juang gadis itu yang sangat besar. Entah mengapa hal itu sangat menganggu pikiran Luna.
" Permintaan pertama kamu udah aku kabulin kan? Sekarang permintaan kedua kamu apa?" tanya Darrel untuk memecah keheningan sekaligus mencegah Luna memikirkan hal yang tidak – tidak. Belakangan ini Luna sering berpikir negatif dan tentu hal itu tak baik untuk kesehatannya.
" Kak Darrel tahu gak kalau dulu bang Jordan pernah tinggal di panti asuhan?" tanya Luna secara tiba – tiba. Darrel yang sudah menyalakan mesin mobil sontak mematikan mesin mobil itu dan menatap ke arah Luna dengan pandangan kaget. Luna ternyata juga menatap Darrel yang tampak tak percaya dengan apa yang dia ucapkan.
" Hah? Emang iya? Aku gak pernah tahu," ujar Darrel dengan kaget. Dia tidak pernah bertanya atau pun mencari tahu tentang masa lalu keluarga Luna, baginya menjadi masa depan Luna sudah lebih dari cukup. Nyatanya fakta ini cukup mengejutkan dan tentu membuatnya penasaran, apalagi yang dia tahu Jordan adalah kebanggaan keluarga Wilkinson.
" Makanya dong baca lapaknya bang Jordan. Dia tuh nakal banget sampai papa gak tahan terus buang dia ke panti asuhan. Nah, entah kenapa Luna tiba – tiba mau ke sana ketemu Bunda, permintaan kedua Luna itu aja deh biar gak terlalu berat," ujar Luna yang membuat Darrel termangu, benarkah Jordan separah itu sampai dibuang oleh orang tuanya sendiri? Rasanya Darrel harus mampir ke lapak Jordan sesekali untuk memastikan berita itu.
" Ya udah kalau gitu kita ke sana. Mau sekarang atau kapan nih? Mau sekalian beli keperluan buat oleh – oleh gitu gak?" tanya Darrel yang membuat Luna berpikir dan memutuskan untuk mampir ke supermarket. Dia akan membeli sembako dan mainan serta keperluan lain yang akan dia berikan sebagai hadiah.
" Panti Asuhan Kasih. Hm, aku masih gak nyangka kalau Bang Jordan pernah dibuang ke sini. Itu yang keterlaluan papa kamu atau bang Jordan?" tanya Darrel sambil terkekeh, tentu saja Jordan yang keterlaluan karna Mr. Wilkinson selalu bertindak tegas dan adil demi kebaikan anak – anaknya, contohnya Luna yang dipaksa masuk STM agar bisa berubah lebih dewasa.
" Luna udah lama banget gak ke sini, mungkin sejak kak Nayshilla meninggal. Kak Nay kan dulu tinggal di sini makanya Luna sering main ke sini. Semoga aja bunda masih ingat sama Luna," ujar gadis itu yang turun dari mobil diiringi tatapan bertanya dari anak – anak yang masih bermain di halaman rumah itu.
" Pasti berat banget ya jadi bang Jordan. Aku jadi makin salut sama dia yang bisa bertahan, kalau aku ditinggal sama orang yang aku sayang, aku pasti hancur tak bersisa," ujar Darrel tanpa sadar, namun cukup membuat Luna menghentikan langkahnya. Gadis itu memejamkan matanya dan menghela napas sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya tanpa menjawab perkataan Darrel.
" Ada perlu apa ya kemari?" tanya seorang Ibu yang sudah menua dengan kacamata baca berantai yang dia pakai. Luna tersenyum senang dan berjalan untuk menyalimi Ibu itu, hal itu diikuti oleh Darrel dengan canggung. Jujur saja, Darrel tak pernah pergi ke tempat seperti ini sbeelumnya, dikelilingi dengan banyak anak membuatnya sedikit canggung.
" Bunda udah lupa ya? Saya Lunetta, adik dari Jordanio yang udlu pernah tinggal di sini. Sudah lama sekali ya Bunda," ujar Luna dengan sopan dan penuh senyum membuat Bunda berpikir dan langsung tercengang karna ingat dengan nama itu.
" Gadis kecil adik Jordanio yang manja itu ya? Astaga, kamu kok sudah besar sekali, tambah cantik, bunda pangling sama kamu. Kamu apa kabar? Haduh, ayo masuk dulu, ayo nak kita masuk," ajak Bunda pada Darrel dan Luna, membuat kedua orang itu mengangguk senang dan masuk ke rumah utama.
" Ini siapa Luna? Pacar kamu? Atau malah suami kamu? Tampan sekali, kamu beruntung sekali ya." Darrel yang dipuji langsung menatap Luna dengan tatapan angkuhnya, seakan mengatakan Luna seharusnya bangga memiliki kekasih seperti dirinya, kekasih idaman hampir semua orang. Luna hanya mendengus geli melihat Darrel yang berlagak seperti itu, sudah biasa orang lain terlalu memuji dan membanggakan Darrel.
" Perkenalkan Bunda, dia Darrel, teman Luna. Tapi jangan puji dia bunda, takutnya kepalanya membesar terus dia terbang, kalau meletus di langit kan susah bunda," ujar Luna sambil terkekeh, bahkan sedikit tertawa saat melihat ekspresi wajah Darrel langsung berubah tak terima karna dikatai oleh dirinya.
" Hahaha, memang tampan loh Lun, harusnya kamu bangga, dijagain biar gak diambil sama orang. Kalau bunda masih muda juga pasti bunda naksir sama pacar kamu ini, iya kan anak muda? Aduh, parasnya sempurna, tubuh proporsional, jadi keingat Almarhum suami Bunda, sebelas dua belas sama kamu anak muda," ujar Bunda yang membuat Darrel tertawa.
" Luna kangen sama tempat ini Bunda, ternyata udah banyak berubah ya, lebih bagus dan lebih luas. Tiba – tiba aja Luna ingat sama tempat ini dan pingin main. Maaf ya bunda baru main ke sini lagi setelah sekian lama.," ujar Luna sambil meminum air dalam gelas itu, memang jika urusan seperti ini Luna cenderung tak sungkan dan tak punya malu.
" Bunda malah bersyukur dan berterima kasih karna kamu masih ingat dengan tempat ini. Terima kasih juga udah mau main lagi, kalau ada waktu luang bisa lah sering – sering main, temenin anak – anak juga, pasti mereka senang bertemu sama kamu," ujar Bunda yang lagi – lagi membuat Luna tersenyum.
" Iya bunda, Luna pasti lebih sering main ke sini kalau punya waktu luang. Ah iya, Luna bawa sedikit oleh – oleh buat bunda dan anak – anak, sebentar bunda, Luna ambil dulu," ujar Gadis itu dengan cepat dan menarik Darrel untuk membantunya. Mereka kembali melewati anak – anak yang masih menatap mereka. Darrel tersenyum dan mengelus kepala setiap anak yang dia lewati sebagai perkenalan awal mereka.
" Adik – adik, kakak bawa hadiah untuk kalian semua, siapa yang mau hadiah?!" teriak Luna saat berada di sebelah mobil Darrel. Mereka semua berteriak bahagia dan berlari ke arah Luna yang membuka pintu mobil setelah Darrel membuka kuncinya dari jauh.
Luna mengeluarkan banyak mainan, baju, topi, jaket, sepatu, sandal dan masih banyak lagi. Untuk membeli ini pun sebenarnya Darrel harus merogoh kocek cukup dalam mengingat Luna yang sedang tak pengertian enggan mengeluarkan dompetnya atau kartu kreditnya. Namun melihat antusiasme dan kebahagiaan mereka membuat Darrel melupakan itu semua dan turut bahagia bisa melihat senyum anak – anak itu.
Mereka semua berbaris dan memilih hadiah yang akan menjadi milik mereka. Mereka mulai memilih sepatu dan baju yang pas untuk mereka, ada punya yang mengambil jaket. Hebatnya, tak ada dari mereka yang berebut, jika si A sudah memegang jaket, maka si B akan mencari benda lain meski dia menginginkan benda yang dipegang si A.
" Didikan bunda keren banget yah, pantes papa kamu percaya sama tempat ini buat ngedidik bang Jordan, salut banget aku," bisik Darrel di telinga Luna, gadis itu tersenyum dan mengangguk, menyetujui apa yang Darrel katakan. Memang benar Bunda sangat istimewa dan mengagumkan bisa mendidik banyak anak seperti ini.
Pandangan Luna jatuh pada seorang gadis yang tak berminat bergabung dengan anak – anak yang lain. Ya, seorang gadis karna Luna tafsir usianya tak jauh berbeda dengan Luna, bahkan mungkin tingginya nyaris menyamai Luna. Sorot mata Luna yang bingung tentu membuat Darrel tertarik mengikuti arah pandang Luna.
" Luna, terima kasih ya, anak – anak jadi senang sekali dapat hadiah banyak kayak gini. Lain kali gak usah repot – repot gini, kamu datang main ke tempat ini aja bunda sudah bahagia banget," ujar Bunda yang membuat pandangan Luna teralihkan. Gadis itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
" Luna gak repot kok bun, Luna malah sangat bahagia bisa berbagi sama mereka. Lagian kan yang bayar semua kak Darrel, ya kan kak? Hahahah," ujar Luna tak sungkan dan tak tahu malu. Darrel sendiri hanya tertawa sambil mengacak Rambut Luna. Gadis itu memang sangat ekspresif dan tak pernah sungkan terhadapnya.
" Bunda, gadis yang di sana itu kok dari tadi diam aja sih bunda? Gak mau ke sini juga waktu Luna nawarin hadiah. Dia seumuran Luna kan bunda? Udah dari dulu ada atau memang baru bunda?" tanya Luna yang sebenarnya bingung menyusun kata – katanya agar enak didengar, untung saja bunda mengerti dan tak mempermasalahkan hal itu.
" Namanya Karelina, dia baru tiga atau empat tahun ada di sini, jadi kamu memang gak pernah tahu tentang dia. Sejujurnya bunda sangat sedih karna sejak dia ada di tempat ini, dia sangat jarang bicara dan tidak pernah mau bergabung dengan anak – anak lain."
" Berarti dia dibawa kemari udah posisi cukup besar dong Bunda? Kalau Luna boleh tahu, alasan dia dibawa ke tempat ini karna apa bunda?" tanya Luna dengan pelan karna sebenarnya dia mulai merasa sungkan menanyakan hal yang menurutnya senditif. Bunda bahkan menghela napas dan berubah sendu, membuat Luna yakin bukan alasan yang baik gadis itu dibawa ke tempat ini.
" Umur dia enam belas tahun, seumuran sama kamu kan? Dia dibawa kemari sejak kedua orang tuanya tewas karna kecelakaan dan tidak ada satu pun dari saudara orang tuanya yang mau merawat dia. Mungkin karna hal itu dia sangat tertutup dan pendiam, apalagi karna kecelakaan itu dia mengalami kebutaan."
" Ma, maksud Bunda, dia buta? Pantas saja pandangannya terlihat kosong. Astaga, kasihan sekali bunda. Luna gak bisa bayangin setiap hari yang Luna lihat hanya gelap, pasti rasanya tidak enak sekali, takut, ngeri, ah pokoknya Luna gak akan kuat deh bunda."
Bunda tersenyum mendengar pengakuan itu dari Luna. Memang berat jika harus menjalani hidup seperti itu. Sudah harus mengalami kecelakaan yang merenggut terang dalam hidupnya, dia juga harus kehilangan kedua orang tuanya di saat yang bersamaan. Orang dewasa pun belum tentu bisa menerima kenyataan itu, maka dari itu bunda sangat memaklumi dan pelan – pelan berusaha membuat gadis itu menerima kenyataan dan terus melanjutkan hidupnya dengan kebahagiaan.
" Makanya jangan pernah lupa bersyukur kamu masih dikasih ijin sama Tuhan buat lihat indahnya langit senja, buat ngelihat tampannya wajah aku ini. Kamu lihat sendiri kan? masih banyak kan orang yang mau melakukan itu semua tapi dia gak bisa, " ujar Darrel sambil merangkul kepala Luna dengan gemas dan penuh kasih sayang.
" Pacar kamu benar, selagi kita masih bernapas, kita harus terus mengucap syukur untuk hal itu. Bahkan dari hal yang sederhana, yaitu udara yang diberikan oleh Tuhan pada kita secara gratis. Mata yang bisa melihat indahnya dunia secara gratis, dan masih banyak hal lain. Hal – hal yang tampak kecil dan seringkali tak disadari, namun ketika kita kehilangannya akan sangat terasa bahwa hal itu sangat berharga."
Luna merenung dan meresapi apa yang bunda katakan. Luna menyadari dirinya memang masih sering mengeluh dibanding bersyukur, kini melihat gadis seusianya yang jauh lebih tak beruntung dari dirinya, tentu menjadi tamparan tersendiri bagi gadis itu untuk terus berubah ke arah yang lebih baik.
" Luna sudah sangat beruntung diberi tubuh yang lengkap, keluarga dan orang sekitar Luna yang sayang sama Luna. Terimakasih Tuhan, maaf selama ini Luna lupa bersyukur untuk hal itu."