
" Gue mohon, deketin gue ke Luna lagi," ujar Darrel dengan tatapan memelas, bahkan Angga dan sebagian besar siswa disana merasa miris dengan sikap Darrel, lelaki itu seakan kehilangan harga diri dan citra sebagai ketua OSIS yang baik hanya karena wanita.
" Gue gak bisa bantu banyak, tapi kalau gue boleh kasih saran, Lo minta Luna buat balik lagi ke Lo, yang gue tahu Luna terluka banget karna Lo," ujar Angga yang mengambil sebuah handuk kecil yang biasa dia gunakan saat latihan basket. Dengan sabar Angga mengelap tangan Darrel yang pepuh darah, persis seperti ayah yang mengurus anaknya.
" Maksud Lo?" tanya Darrel tak mengerti, apakah Luna sebegitu terlukanya karna Darrel mulai dekat dengan Fera? Namun dia kan juga melakukan hal yang sama pada Radith, mengapa gadis itu sampai sebegitu terlukanya?
" Gue gak tahu kalian ada masalah apa waktu itu, tapi gue nemuin Luna nagis – nangis kayak orang hilang dipinggir jalan komplek rumah Lo, dan akhirnya dia pingsan dan gue bawa ke klinik, sebegitu frustasinya dia, walau gue gak tahu dia dnegar atau lihat apa, tapi gue yakin pasti ada hubungannya sama Lo," ujar Angga menjelaskan apa yang dia lihat dan alami kala itu.
" Shit, kenapa Lo baru bilang sama gue?" tanya Darrel dengan panik, dikeluarkannya gelang kaki yang selalu dia bawa, ternyata benar itu milik Lunetta, dan gadis itu ada disana saat Fera memintanya kembali menjadi kekasihnya, apakah Luna mengira Darrel mengiyakan permintaan itu?
" Gue mau bilang ke Lo, tapi gue mikir apa gunanya, toh Lo udah ada Fera, dan waktu gue udah berusaha bikin Lo dekat lagi sama Luna walau pelan, Lo malah tunangan sama Fera," ujar Angga mengedikkan bahunya dan tak merasa bersalah, memang dia tidak ingin menjadi tersangka, dia kan tidak ada hubungannya dengan mereka.
" Luna tahu gue tunangan sama Fera?" tanya Darrel dengan heran, pasalnya dia tak memberitahu orang lain selain Annga karna dia sendiri masih tak yakin dengan keputusan itu, dan kini dia benar – benar ingin membatalkan semuanya bagaimanapun caranya.
" Gue yang kasih tahu dia, waktu itu gue minta dia bertahan , tapi waktu gue tahu Lo tunangan sama Fera, geu gak bisa diem aja, gue harus kasih tahu dia karna gue gak mau dia terus berharap dan akhirnya luka. Gue gak nyangka Lo yang bakal jadi jauh lebih ancur kayak gini," ujar Angga menggelengkan kepala sambil terus mengelap tangan Darrel yang masih mengalirkan darah.
" Kalau gue temuin dia dan minta maaf kira- kira dia mau maafin gue gak ya Ngga?" tanya Darrel dengan pandangan mata menerawang. Siapa menyangka berawal dari kesalah pahaman hingga muncul keegoisan, masalah yang aslinya sepele menjadi sebesar ini. Darrel bahkan tidak pdergi ke restoran beberapa hari ini karna terus meyakinkan hatinya dan hatinya berkata Luna.
" Mending Lo minta ke bokap buat batalin pertunangan ini, baru Lo datangi Luna, karna Luna gak akan mau rebut calon tunangan orang, gilak aja tuh," ujar Angga memberikan sarannya yang membuat Darrel memikirkan hal itu matang – matang.
" Lo bener, gue harus bilang sama bokap gue dulu sebelum bilang ke Luna, gue harus bisa batalin pertunangan ini gimanapun caranya."
*
*
" Lo mau pesan apa? Biar gue yang antriin rame banget nih soalnya," ujar Radith yang sudah duduk di salah satu meja di kantin bersama Luna, gadis itu tampak melihat sekitar dan pilihannya jatuh ke menu batagor.
" Batagor seporsi, tahunya diganti sama kentang aja, timunnya banyakin, gak pakai lama, pedesnya sedengan aja, terus sambel kacangnya yang banyak, terus.."
" Bacot," potong Radith yang langsung berdiri dan meninggalkan Luna, Luna terkekeh karna memang dia sengaja membuat Radith kesal, lelaki itu sudah kehilangan mood karna ulangan P.Kn. yang mendadak, untung saja guru itu hanya memberi soal dan fokus pada majalah yang dipegangnya, lebih untung lagi karna guru itu mencari soal yang urut di buku paket hingga SEMUA siswa beramai ramai membuka buku paket untuk menjawab soal.
Ayolah, bukan berarti mereka berniat tak jujur, hanya mereka tak suka dengancara guru tersebut memberi ulangan dadakan, apalagi mereka tahu yang mereka kerjakan hanya menumpuk di meja guru itu sampai kenaikan nanti tanpa disentuh apalagi di koreksi. Mereka hanya melakukan antisipasi dan mencari nilai sempurna bagaimanapun caranya, karna nyatanya nilai memang lebih dihargai dibanding kejujuran di negeri ini.
Namun jika ulangan umum seperti UTS atau UAS, baik Luna maupun Radith anti dengan yang namanya menyontek, karna itu akan membandingkan kualitas mereka dengan siswa dari jurusan lain, meski banyak yang melakukan kecurangna, mereka akan berdiri teguh dan percaya pada jawaban yang sering kali hanya mereka tulis kembali soalnya.
Radith kembali setelah bermenit – menit kemudian, membawa dua piring batagor dan kembali lagi ke warung itu untuk mengambil es teh pesanannya.
" Kok Lo ikut ikut gue sih pesan batagor?" tanya Luna memandang Radith dengan wajah yang disinis siniskan.
" Lo pikir gue mau gitu antre lagi ke barisan lain? Bisa gak makan gue karna antre doang, Lo bukannya makasih, malah ngeselin," ujar Radith dengan sewot dan langsung duduk di kursinya, Luna terkekeh karna Radith sungguh dalam mode singa, jangan berani mengganggu apalagi membuatnya kesal.
Pandangan Luna teralihkan karna tiba – tiba kantin ramai membicarakan satu titik, dilihatnya dua orang lelaki berjalan memasuki kantin tersebut, namun fokus Luna ada pada lengan salah satu lelaki itu yang penuh luka, bahkan luka itu belum mengering, tentu hal itu menjadi perbincangan siswa yang ada disana.
" Tangannya kenapa tuh Lun?" tanya Radith menyadarkan Luna, Luna langsung membuang muka dan menatap es teh nya yang tampak menggiurkan dengan lelehan embun yang menghiasi gelas berukuran besar itu, maklum lah, porsi STM.
" Gak tahu lah gue, kan gue udah gak ada urusan sama dia, gak usah nanya – nanya lagi, kayak orang nyasar aja Lo nanya – nanya mulu," ujar Luna kesal padahal Radith baru menanyainya sekali, Radith langsung mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan heran.
" Cewek yah, gak lagi kesel, gak lagi PMS, gak lagi patah hati, bawaannya ngeselin banget, marah marah mulu taek," ujar Radith menyantap batagor yang daritadi hanya dia pandangi.
" Lo nya aja yang ngeselin, harusnya Lo tahu dong mana yang harus Lo tanyain, mana yang enggak," ujar Luna dengan sewot, bahkan Radith sampai menengok terkejut karna Luna berkata demikian.
" Seet dah, Lo beneran PMS ya? Santai kalik bu ngomongnya, gue juga santai ngomongnya," ujar Radith menggeleng dramatis sambil mengelus dadanya yang terkejut karna disentak oleh Luna.
" Lo yang santai, gak usah bawa – bawa PMS, gue gak lagi PMS, emang gue gini orangnya, apa Lo gak suka? Gak usah dekat – dekat sama gue kalau gak suka!" seru Luna yang langsung meletakkan sendoknya dan merajuk, Radith langsung menatap Luna dengan curiga.
" Lo serius gak lagi PMS? Berarti bentar lagi nih, pasti nih bentar lagi," ujar Radith menebak nebak dan membuat Luna mendengus kesal, gadis itu tk menanggapai Radith dan meminum sisa es tehnya dan kembali ke kelas setelahnya.
*
*
~serrrr
Luna merasa sesuatu mengalir di bawah sana, Luna langsung mendelik dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, alu ijin ke guru yang mengajar untuk ke kamar mandi. Di kamar mandi Luna langsung memastikan hal yang tadi dia duga. Gadis itu kembali ke dalam kelas dan duduk tenang di kursinya.
Saat guru yang mengajar keluar Lun a langsung mendatangi Radith dan menabok lelaki itu dengan buku tulis yang dia bawa, Radith tentu terkejut sekaligus kesal karna perlakuan Luna, lelaki itu memandang Luna dengan tatapan tanya, meminta penjelasan terhadap apa yang Luna lakukan.
" Gara – gara Lo! Lo harus tanggung jawab!" seru Luna dengan kesal, gadis itu duduk dengan kesal dan wajah yang dibuat judes sempurna, Radith sampai ternganga dibuatnya.
" tanggung jawab apa njer? Lo hamil? Kan kita belum jadi nabung kemarin," jawab Radith dengan asal yang membuatnya mendapat hadiah lagi dari Luna.
" gara – gara Lo doain gue PMS, sekarang gue PMS beneran, Lo harus tanggung jawab bikin mood gue balik lagi," ujar Luna dengan tangan yang dia apit di ketiak, persis sekali dengan anak kecil yang merajuk.
" huahahahahhahahahaha, Selamat yaaaa, selamat menikmati rasanya, Lo betah – betahin sendiri aja ya, gue gak ikut – ikutan," ujar Radith tertawa terbahak – bahak sampai menaikkan tangannya ke atas.
*
*
*
Langkah kaki Jordan berjalan tegak menuju ruang kerja tuan Atjama, dia sudah bertekad akan menghentikan perjodohan yang semakin hari semakin mengusik harinya. Dia akan segera menuntaskan perkara ini hingga beban yang ada di dalam hatinya bisa terangkat.
" Pa, Darrel gak mau basa – basi lgi, Darrel mau pertunangan ini dibatalkan, papa tahu kan Darrel bukan tipe anak yang bisa dipaksa? Darrel gak mau pertunangan dan hubungan pribadi Darrel diatur oleh orang lain," ujar Darrel yang langsung masuk ke dalam ruang CEO tanpa berbasa – basi lagi.
Tuan Atmaja yang sedang membaca berkas sontak melihat ke arah pintu dnegan kaget dan menatap Putranya itu dengan gemeas, untung saja dia tidak punya riwayat jantung, atau memang putranya itu sengaja membuatnya terkena serangn jantung? Tega.
" Ya, papa tahu kau suka hidup bebas, bahkan kau melupakan sopan santunmu untuk memberi salam jika bertemu atau berbicara dengan yang lebih tua, Mau bagaimanapun, aku tetap ayah kandungmu, jaga sopan santunmu," ujar tuan Atmaja yang memang memiliki stok sabar yang berlimpah, dia tahu sifat putranya bila sudah terlanjur jengkel.
" Papa gak bisa batalin semuanya, tingal beberapa minggu lagi pertunangan kamu akan dilaksanakan, bahkan sudah disiapkan seratus persen. Dan yang lebih penting dari semua itu, papa sudah bekerja sama penuh dengan papanya Fera dan semua akan menjadi kacau kalau pertunangan ini batal."
" Pa, disini Darrel yang bertunangan, Darrel yang akan menjalaninya dan Darrel yang memiliki perasaan. Kenapa papa selalu kaitkan hidup Darrel untuk keuntungan bisnis papa sendiri? Darrel bukan sapi perah, dan Darrel yakin tak dilahirkan untuk jadi seperti itu," ujar Darrel dengan sedih, dia tak mampu lagi bersikap arogan karna hatinya sudah hancur saat ini.
Hati ayah mana yang tak tergores bila melihat anaknya sedih seperti itu? Bahkan hati yang sekeras batu pun akan remuk bila melihat kondisi mengenaskan Darrel dan kesedihan yang jelas terlihat di wajah lelaki itu. Tuan Atmaja baru menyadari luka di tangan Darrel yang memang belum mengering karna tidak diobati sama sekali, kantong mata menghitam dan wajah yang lebih tirus, sebegitu terkekang kah putranya?
" Kau sungguh ingin membatalkan pertunangan ini? Bukankah kamu dan Fera pernah menjadi sepasang kekasih? Bahkan papa bisa melihat Fera sangat mencintai kamu, meski bocah SMA seperti kalian tak begitu mengerti makna cinta sejati."
" Darrel yakin pa, Darrel sudah mencoba untuk kembali mencintai Fera, dulu memang kami pernah menjadi kekasih, tapi Fera pergi begitu saja dan membuat Darrel terpuruk, lama – lama ras itu hilang pa, Darrel udah gak bisa ngerasain kehangatan seperti waktu dulu, Darrel gak bisa maksain semua ini, Darrel gak akan sanggup."
Tuan Atmaja cukup terkesan dan terkejut akhirnya Darrel mengutarakan apa yang dia rasakan setelah 17 tahun hidup di dunia ini. Darrel tak pernah mengleuh, tumbuh menjadi lelaki pendiam dan tidak pernah meminta yang aneh – aneh, bahkan Darrel kecil lebih memilih untuk menabung uang jajannya daripada meminta sesuatu memakai uang orang tuanya.
" Papa sungguh tidak bisa lagi membatalkan pertunangan ini dengan kehendak papa, namun semua masih belum terlambat jika Fera sendirilah yang memilih untuk membatalkan pertunangan ini, kamu bujuk Fera untuk mau melepaskan kamu dan pertunangan kalian," usul tuan Atmaja yang membuat Darrel kembali berbinar.
" Terima kasih pa, terima kasih," ujar Darrel yang melihat bahwa tuan Atmaja emmang memiihaknya, bahkan Darrel tak segan memeluk lelaki tua itu, membuat kehangatan yang sempat mendingin itu kembari membara.
Darrel pergi dari sana dan hendak menemui Fera, dia segera menghubungi Fera untuk memastikan keberadaan gadis itu, dengan senang hati Fera menerima ajakan Darrel untuk bdetemu karna dia tak tahu maksud Darrel meminta bertemu dengannya.
Mereka bertemu di salah satu resto ternama yang terkenal sepi karna harganya yang mahal, Darrel memilih tempat itu agar bisa berbicara dnegan tenang dan tak membuat Fera begitu terkejut. Darrel menaydari perasaan Fera, namun dia juga tak bisa lagi memaksakan semuanya.
" Fer, aku mau to the point aja boleh gak?" tanya Darrel dengan senyum tipisnya, Fera yang masih belum menyadari keadaan hanya tersenyum lebar dan mengangguk semangat.
" Aku mau kita batalin pertunangan ini, papaku udah setuju dan papamu hanya menunggu keputusan kamu, kamu tahu kan perasaan gak bisa dipaksakan?" pertanyaan itu membuat senyum Fera lenyap seketika, gadis itu menggeleng kuat dan menjawab.
" Gak bisa, gak bisa, kamu harus jadi tunangan aku, aku cinta banget sama kamu rel, kamu tahu itu kan? Kamu gak bisa tinggalin aku gitu aja," ujar Fera dengan pedihnya.
" Kmau tahu kan cinta gak bisa egois? Cinta gak bisa dipaksakan? Aku tahu kamu bukan orang yang egois kayak gitu. Dulu memang aku bener – bener cinta sama kamu, tapi waktu mengubah semua Fer, aku udah gak bisa rasain itu lagi," ujar Darrel sehalus mungkin, meminimalisir rasa sakit yang akan Fera terima.
" Gak, aku gak akan batalin pertunangan ini, aku cinta mati sama kamu dan kau bakal terus perjuangin hubungan ini," ujar Fera dengan cepat dan langsung berdiri danpergi begitu saja dari tempat itu. Darrel melongo menatap kepergian Fera, nyatanya gadis itu memang sungguh berubah, dulu dia tidak egois seperti ini.
" Arrrgghh." Teriak Darrel dengan emosi sambil menjambak rambutnya sendiri