Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 47



Darrel terbangun dari tidurnya. Dia merasakan tubuhnya lebih segar, kemarin setelah pingsan, dia merasakan kepalanya sangat pusing hingga dia memutuskan untuk melanjutkan istirahatnya guna memulihkan kondisinya. Lelaki itu langsung dikejutkan oleh kehadiran Luna yang sudah duduk di sofa yang ada di sana. Darrel melihat Luna memejamkankan matanya, sepertinya gadis itu tertidur.


" Luna, kamu di sini dari kapan? Kamu nungguin aku tidur?" tanya Darrel yang memanggil Luna dari kasurnya. Gadis itu tampak menggeliat dan mengucek matanya sebelum akhirnya membuka matanya dan langsung berdiri menghampiri Darrel. Gadis itu langsung memeriksa suhu kepala Darrel, leher, dan bahkan meremas telinga lelaki itu pelan.


" Kak Darrel udah gak kenapa – napa? Kak Darrel gak sakit kan? Atau ada yang sakit? Mau Luna panggilkan dokter lagi? Bentar Luna panggil susternya dulu," ujar Luna dengan panik, Darrel memegang tangan Luna agar gadis itu tak melakukan apapun. Luna menurut dan masih berdiri di samping Darrel dengan wajah khawatir. Meski sudah tak panas, lelaki itu masih terlihat pucat.


" Maaf ya udah buat kamu khawatir. Aku lagi kecapekan banget, tapi aku juga mau menghabiskan waktu sama kamu. Maaf ya malah jadi ngerepotin semua orang," ujar Darrel yang membuat Luna menggelengkan kepalanya. Gadis itu sama sekali tak keberatan, bahkan jika harus Luna yang merawat Darrel, Luna akan melakukannya.


" Semalaam kak Darrel kayak demam tinggi, terus papa nyewa perawat buat kak Darrel. Syukurlah kak Darrel udah gak kenapa – napa. Luna udah bawain makanan, tapi Luna gak mau bangunin kak Darrel, nanti kak Darrel malah keganggu. Jadi Luna tunggu kak Darrel sampai bangun sendiri, eh malah Luna yang ketiduran," ujar Luna sambil tertawa.


" Lah terus makanannya mana? Aku mau disuapin," ujar Darrel dengan manis, membuat Luna melongo karna tak terbiasa dengan sikap Darrel yang manja, lelaki itu bahkan memajukan bibirnya dan memasang wajah imut. Membuat Luna jadi sedikit tertekan karna takut sesuatu yang buruk terjadi pada lelaki itu.


" Darrel lagi sakit, Darrel gak bisa pegang sendok sendiri. Darrel mau Luna yang suapin," ujar Darrel yang membuat Luna meneguk ludahnya. Belakangan dia lebih melihat sisi Darrel yang sebenarnya, bagaimana lelaki itu marah, bagaimana lelaki itu manja dan bagaimana lelaki itu bersikap romantis. Sangat baru bagi Luna dan menimbulkan sensasi yang berbeda terhadap jantungnya.


Luan menurut dan mulai menyuapi llekai itu denagn pelan, lelaki itu sendiri seperti anak kecil yang menurut saat disuapi oleh Ibunya, Darrel mengunyah makanannya pelan, menikmati makanan yang diberikan oleh Luna dengan penuh penghayatan, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.


" Aku kenyang banget. Tolong ambilkan minum sama obat aku dong," ujar Darrel yang membuat Luna merasa heran. Bahkan Darrel baru memakan beberapa suap, bagaimana bisa lelaki itu merasa kenyang dengan mudah? Bahkan Luna pun tak akan bisa merasa kenyang, namun Luna akhirnya menyerah setelah beberapa kali memaksa Darrel untuk makan lagi.


Ponsel Darrel berbunyi, membuat Luna mengambil ponsel itu dan memberikannya pada Darrel. Luna bertanya – tanya siapakah yang menelpon lelakinya karna tak ada nomor yang tertera. Darrel sendiri langsung menatap kaget ponselnya. Lelaki itu langsung memelankan volume ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Luna sendiri langsung mengernyitkan matanya melihat Darrel.


" Saya lagi ada di Inggris. Saya tidak bisa datang ke Indonesia dalam waktu dekat. Baiklah, saya akan usahakan untuk sampai ke Indonesia besok. Ya, terima kasih," ujar Darrel yang langsung mematikan panggilan sekaligus mematikan ponselnya. Lelaki itu menatap Luna yang juga menatapnya, membuatnya menjadi gugup dan tersenyum kikuk.


" Kamu kenapa ngelihatin aku nya sampai kayak gitu? Aku gugup tahu gak sih dilihatin kayak gitu," ujar Darrel yang tak membuat Luna bergeming. Gadis itu masih menatap Darrel dan meminta penjelasan dari lelaki itu. Darrel menghela napasnya dan memberikan ponselnya pada Luna, membuat gadis itu mengambil alih ponsel Darrel dan menyalakannya.


" Tadi itu sebenarnya teman lama aku, nah dia mau ajak kerja sama. Jadi dia minta aku pulang ke Indonesia, makanya nanti malam aku bakal pulang ke Indonesia biar bisa ketemu sama dia," ujar Darrel dengan pelan, Luna langsung terkaget dan memandang lelaki itu dengan tatapan marah.


" Bagaimana bisa kak Darrel ngelakuin itu? gimana bisa kak Darrel kan masih sakit, kak Darrel belum pulih, kalau kak Darrel ke sini aja jadi sakit, kalau kak Darrel maksa pulang ke Indonesia, yang ada kak Darrel tambah sakit dong," ujar Luna yang membuat Darrel terdiam. Lelaki itu bisa melihat Luna benar – benar marah kali ini.


" tapi aku harus benar – benar pergi ke Indonesia Lun, aku juga punya banyak tanggung jawab di sana kan, aku gak bisa istirahat di sini lama – lama," ujar Darrel yang berusaha membujuk gadisnya. Luna tampak diam, dia juga mempertimbangkan kewajiban Darrel, tapi tetap saja dia tak boleh mengabaikan kesehatan lelaki itu.


" Ya udah, kak Darrel boleh aja pergi ke Indonesia, tapi Luna ikut, Luna bakal jadi penjaga kesehatan pribadinya kak Darrel," ujar Luna yang meembuat Darrel melongo, dia tak bisa membiarkan Luna ikut dan terlibat dengan masalahnya kali ini. Dia benar – benar tak akan membiarkan Luna tahu dalam waktu dekat ini.


" Luna gak akan terima penawaran lagi, Luna gak mau tahu dan Luna bakal bilang ke Daddy kalau Luna mau ikut kak Darrel ke Indonesia. Lagian kita kan harus nyiapin pernikahan kita juga," ujar Luna yang membuar Darrel bimbang, bukan karna masalahnya, tapi karna alasan Luna ada di negara ini sekarang.


" Kamu pindah ke Inggris tuh biar kamu aman, lah kalau kmu balik lagi ke Indonesia, ya sama aja dong Lun, kenapa kamu harus ke sini?" tanya Darrel yang membuat Luna terdiam, namun Luna tak mau tahu, dia tak memberi Darrel pilihan lain, membuat lelaki itu akhirnya mengangguk dan menuruti apa yang diinginkan oleh Luna.


*


*


*


Tuan Wilkinson memberikan ijin pada Luna dan Darrel untuk pulang ke Indonesia dan mengurus pernikahan mereka, membuat mereka bisa tiba di Indonesia lebih cepat karna menggunakan pesawat pribadi meski mereka harus ebberapa kali transit untuk mengisi bahan bakar atau berganti pesawat. Luna yang bisa kembali ke Indonesia tentu merasa senang.


" Kita urus masalah persiapan besok aja ya, kamu ke rumah kamu dulu aja, aku langsung ke teman aku itu, nanti kalau udah selesai aku langsung datang ke rumah kamu," ujar Darrel yang langsung pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban Luna. Gadis itu memilih masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumahnya.


Sementara itu Darrel langsung masuk ke mobil yang berbeda dan pergi dari bandara secepatnya. Lelaki itu menuju tempat yang tak pernah asing baginya, tempat yang membuat beban dalam hidupnya bertambah dan bahkan kini hidupnya makin kacau.


" Bunda, Bunda apa kabar?" tanya Darrel dengan sopan saat dia sampai ke tempat itu. bunda tersenyum kecil, namun wanita paruh baya itu tampak tak begitu senang dengan kehadiran Darrel, tak seperti saat sebelumnya. Bunda tampak menunjukkan wajah tak enak pada lelaki itu.


" Darrel maafkan bunda, bunda harus membuat kamu memikul beban berat, maafkan bunda," ujar Bund adengan seih, namun Darrel menggelengkan kepalanya sopan, lelaki itu memegang tangan bunda dan memanadang bunda dengan tatapan yang mengatakan dia baik – baik saja. Darrel melihat banyak orang di panti asuhan ini, bahkan banyak orang baru., membuat panti asuhan ini makin ramai.


*


*


Luna duduk di dalam kamarnya, dia merasa Darrel semakin aneh. Lelaki itu memiliki gangguan kesehatan, Luna yakin akan hal itu, dan juga dengan kondisinya yang lemah, dia bisa memaksakan dirinya untuk pergi ke suatu tempat, lelaki itu tidak gila harta, dia tidak akan memaksakan diri hanya untuk bisnis dan uang.


" Astaga, Lo udah janji buat percaya sama kak Darrel, Lo harus percaya sama dia dan Lo harus percaya sama kak Darrel, demi apa Lo gak boleh mikir yang macam – macam, apapun yang gak diomongin sama kak Darrel berarti Lo emang belum boleh tahu, gak usah maksa, pasti Lo bakal dikasih tahu pada waktunya," ujar Luna dengans enyum yang merekah.


Luna bangkit dari tidurnya dan langsung memesan perawatan rutin yang dulu sering dia pesan. Luna duduk di sofa dengan memakai earphonya sambil menunggu perawatan itu datang ke rumahnya. Dia sudah nyaman dan terbiasa tinggal di rumah ini meski dia hanya sendiri.


" Nona, nona sudah pulang lagi ke Indonesia, saya pikir nona akan pergi ke Ingrris untuk waktu yang lama," ujar salah seorang pelayan dengan sopan. Luna melepas earphonenya dan terkekeh, memang rencana awal seperti itu, tapi situasi kondisinya saat ini kan berbeda.


" saya akan berada di Indonesia beberapa hari untuk mengurus pernikahan saya dengan Darrel, kalau urusannya sudah selesai saya harus kembali ke Inggris, dan mungkin tak kembali lagi, saya juga tidak tahu kalau masalah itu," ujar Luna yang diangguki oleh pelayan itu, pelayan itu hanya berbasa – basi dan terlihat sopan di hadapan majikannya.


" Permisi." Luna langsung menengok ke arah pintu dan membukakan pintu untuk tamu yang sudah dia pesan. Luna menidurkan dirinya di sofa sementara mereka mulai bekerja, mereka mulai memijat tubuh Luna dan membuat gadis itu merasa rileks. Luna sendiri memilih untuk memejamkan matanya dan menikmati setiap pinjatan itu.


Setelah selesai dengan pijatan, Luna diminta untuk bangun karna mereka akan melakukan perawatan pada kuku Luna. Gadis itu menurut saja dan menyerahkan sebelah tangannya pada mereka. Luna langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang yang kemungkinan sedang tak sibuk di jam segini. Gadis itu langsung menelponnya dan benar saja, orang itu langsung mengangkat panggilan Luna.


" Lo kenapa tiba – tiba nelpon? Lo kecelakaan pesawat? Atau Lo ilang di salah satu kota yang ada di sana?" tanya orang itu yang membuat Luna langsung terdiam dan merasa kesal sendiri. Gadis itu langsung mengubah panggilan menjadi mode video call, membuat Luna bisa melihat wajah lelaki itu dengan lebih jelas lagi.


" Gue tahu kalau Lo lagi kangen sama gue tapi takut buat nelpon duluan, makanya ini gue nelpon Lo duluan, gue mah baik Dith, gak kebanyakan pencitraan dan punya inisiatif," ujar Luna dengan bangganya, kini giliran dia yang ada di seberang sana yang menatap Luna dengan malas.


" Lo lagi di Indonesia lagi? Bukannya Lo lagi di London? Kenapa balik lagi? Ini kan belum waktunya Lo balik," ujar Radith yang membuat Luna terkekeh, gadis itu tahu jika kepulangannya yang lecih cepat akan mengundang reaksi seperti ini, apalagi jika gadis itu juga menelpon ketiga temannya yang lain.


" Gue lagi temenin kak Darrel karna ada urusan di sini, gue tahu kalau dia lagi sakit tapi gue gak tahu sakit apa, makanya gue khawatir kalau dia di Indonesia sendirian dan jadi gila kerja sampai dia tambah drop," ujar Luna yang membuat Radith mengerutkan keningnya.


" Darrel udah ada di Indonesia? Lah, dia bilang gak balik ke Indonesia, bahkan misi gue sama dia aja jadi gue yang kerjain semua karna dia mau nyusul Lo, kenapa dia balik ke Indonesia?" tanya Darrel dengan heran, Luna mengangkat sebelah alisnya, memang biasanya urusan Darrel berhubungan dengan Radith, maka dari itu mereka sering mengetahui info satu sama lain.


" Jadi dia gak bilang sama Lo ya? Ya mungkin dia ada urusan sama teman bisnis yang lain, mungkin aja kan dia sibuk sama kliennya," ujar Luna yang tak membuat Radith merasa puas, lelaki itu masih tampak memikirkan sesuatu, membuat Luna yang menatapnya kembali terheran.


" Tapi Lun, kayaknya gak mungkin deh. Dia gak pegang perusahaan apapun lagi di Indonesia. Bokap Lo sendiri yang bilang ke gue buat urus semua yang ada di Indonesia, bahkan bokap Lo juga kasih perusahaan yang dipegang Darrel ke Karin," ujar Radith dengan wajah bingungnya, lelaki itu sepertinya jujur, karna tak terlihat tenang seperti biasanya.


" Tapi tadi kak Darrel bilang kalau dia ada urusan sama temannya di sini, dan harus buru – buru balik ke Indonesia, ya gue pikir urusan bisnis, emang bukan ya?" tanya Luna dengan pelan, gadis itu langsung merasa cemas dan memikirkan banyak hal.


" Lo gak usah mikir macam –macam dulu, kalau nanti dia pulang, Lo tinggal tanya ke dia, dia dari mana dan ngapain. Kalau dia ngomong masalah bisnis, berarti dai bohong, gue bisa jamin kalau dia bohong. Walau gue yakin dia gak mungkin bohong ke Lo sih," ujar Radith yang membuat Luna menganggukan kepalanya.


Luna langsung mematikan panggilan dari Radith dan kembali fokus pada kuku kukunya yang sudah menjadi cantik. Gadis itu mengucapkan terimakasih dan memberikan pada mereka uang biaya perawatan ditambah tips untuk mereka.


Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan menunggu Darrel untuk pulang ke rumah. Darrel sampai di rumah Luna beberapa jam kemudian dengan wajah yang lesu dan berantakan.


" Astaga, kak Darrel dari mana aja? Kenapa kak Darrel berantakan sekali?" tanya Luna yang langsung menghampiri lelaki itu denagn cemad dan mengajak lelaki itu untuk duduk di sofa.


" kan aku udah bilang ketemu teman, dia mau kerja sama sama aku, aku capek banget. Aku malam ini nginap di sini ya," ujar Darrel yang melepaskan dasinya dan meletakkannya di meja.


Luna terdiam dan menatap lelaki yang ada di sebelahnay dengan mata yang berkata – kaca.


Apakah Darrel membohonginya?