
...LDR yang paling jauh dan menyakitkan itu bukanlah karena jarak, melainkan karena Aamiinku dan Amen-mu berbeda....
...-Kinanti Anggraini-...
...****************...
Butuh beberapa detik bagi Kinan untuk mengumpulkan kembali kesadaran dan akal sehatnya. Namun, setelah ia bisa merasakan otot sarafnya bisa kembali berfungsi dengan normal, pertanyaan lain pun datang mengusik. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Tidak mungkin ia meminta penjelasan kepada Beni. Menatap pria itu pun ia sudah enggan. Tidak mungkin juga ia berbalik dan kabur meninggalkan rumah Beni disaat kedua orang tua pria itu sedang menatap mereka.
Tidak ada pilihan selain mengayunkan kaki masuk ke ruang utama. Ia harus menghadapi apa pun yang dihadapkan padanya. Mendadak hatinya berbisik mengagungkan nama Tuhan. Ya, manusia memang selalu merengek kepada sang Pencipta disaat keadaan genting dan terjepit. Kebanyakan dari kita saat dalam keadaan happy, mendadak amnesia kepada sang pemberi nikmat tersebut. Benar apa betul, jamaah??
Kinan mengulurkan tangan, menyalam tangan kedua orang tua Beni. Tidak ada raut keramahan sama sekali. Mimik mereka tidak terbaca. Harusnya Kinan sudah menduga ini, bagaimana bisa Novi berhubungan dekat dengan keluarga Beni. Ya, Novi, temannya itu juga merupakan nasrani. Apakah ini juga alasan Beni saat membatasi Kinan berhubungan dengan Novi. Khawatir jika temannya itu membuka rahasianya. Lalu bagaimana dengan Nuri? Apakah Nuri tahu prihal perbedaan keyakinan ini. Meski keislaman Kinan hanya tertulis di KTP, harusnya Nuri tahu bahwa Kinan menghindari hubungan yang berbeda keyakinan.
"Duduk," perintah Ibu Rosa.
Kinan pun segera duduk, melirik sekilas kepada Beni yang duduk di dekat pintu masuk, dua meter dari Kinan.
"Beni sudah menceritakan tentang hubungan kalian berdua. Sangat tidak mungkin jika kalian berdua menikah dengan dua keyakinan yang berbeda. Jadi, apakah kamu bersedia pindah agama?"
Kinan tahu pertanyaan semacam ini pasti keluar, tapi ia tidak menyangka jika orang tua Beni bertanya tanpa tedeng aling-aling, langsung ke permasalahan inti.
Sekarang apa yang harus kujawab tanpa harus melukai perasaan mereka dan tanpa menyinggung keyakinan mereka. Kinan berperang dengan hatinya.
"Jelas kami tidak akan membiarkan Beni keluar dari keyakinannya. Selain itu, Bapak di kampung ini merupakan ketua persatuan adat. Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang hal ini? Kami akan malu karena dianggap tidak becus mengurus anak kami, tidak berhasil mendidik anak kami yang meninggalkan Tuhannya. Bagaimana, kamu mau pindah keyakinan?"
Kinan merasakan jantungnya berdegup lebih cepat 1000 kali lipat. Darahnya berdesir, merangkak cepat ke otaknya. Kakinya lemas, tapi Kinan tahu ia masih bisa berdiri bahkan untuk berlari sekalipun.
Sadar atau tidak, hatinya terus saja mengagungkan nama Tuhan, menggumamkan ayat-ayat yang ia tahu. Al- Fatihah, tiga Qul, doa makan, doa selesai makan, doa tidur dan bahkan doa mandi wajib. Hanya setakat itu ilmu agamanya. Setipis triplek.
Di sekolah negeri, tempat Kinan menuntun ilmu, baik dari SD sampai SMA, mata pelajaran agama hanya dipelajari satu kali seminggu selama 90 menit. Yang dipelajari hanya inti-intinya saja. Nabi yang wajib diketahui, malaikat dan tugasnya, rukun iman, rukun islam, sholat dan sejarah kelahiran Nabi. Itu pun sudah Kinan lupakan, ingatannya tentang semua itu sudah samar.
"Mohon maaf, Ibu, Bapak, sebelumnya Kinan tidak tahu bahwa Bang Beni memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya."
"Kan Beni sudah bilang, Bu. Kinan tidak tahu apa-apa soal ini."
"Yang kami tanyakan, kamu bersedia pindah keyakinan?" Ibu Rosa kembali mendesak. Sementara ayah Beni dari tadi hanya diam dan menonton.
"Mohon maaf sekali lagi, Ibu. Kinan tidak bisa."
"Kamu lihat, Beni," Ibunya menoleh ke arah Beni. "Dia tidak mau pindah agama. Lalu kamu mau menikah dengan dua keyakinan begitu maksudmu, Beni?"
"Bu, aku..."
"Artinya kamu tidak benar-benar menyayangi putra kami?" Ibu Rosa menyela ucapan Beni dan bertanya kembali kepada Kinan.
"Ini bukan masalah sayang atau tidak, Ibu. Andai saya tahu jika keyakinan kami berbeda, Kinan tidak mungkin bersedia menjalani hubungan ini."
"Jika sayang, kenapa tidak pindah saja."
"Maaf, Ibu, di dalam keyakinan Kinan, orang yang sudah meninggal terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh. Ibu saya sudah meninggal. Jika bukan kami anak-anaknya yang mengirim doa untuk Ibu saya siapa lagi?"
"Jika memang kamu tidak mau, apa boleh buat, sudahi hubunganmu dengan anak saya!"
"Ibu!!" Beni berdiri dan berjalan mendekat. "Ibu jangan ngomong gitu, dong."
"Kamu berani membantah Ibu?"
"Jika Ibu dan Bapak maunya begitu, Kinan tidak ada masalah. Kinan akan mengakhiri hubungan kami, tapi tolong dengan sangat Bu, Bapak, minta sama anak Bapak dan Ibu agar tidak datang lagi ke rumah saya."
"Kamu lihat, Ben, dia tidak ingin berjuang sama sekali untukmu. Lalu apa yang ingin kau perjuangkan." Akhirnya Pak Untung buka suara. "Kamu bukannya putri Pak Mustofa, preman kampung yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas itu. Coba kamu tanya sama Bapak kamu dulu, apakah Bapak kamu memberi izin agar kamu pindah agama."
Hati Kinan berdenyut mendengar ayahnya direndahkan. Matanya sudah perih menahan air mata. Tapi sudut bibirnya masih bisa untuk tersenyum walau dalam keadaan terpaksa.
"Saya tidak perlu bertanya pada Ayah saya untuk hal ini, Bapak, karena saya sendiri tidak mau untuk berpindah keyakinan. Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Kinan mau pamit pulang." Kinan segera berdiri dan berpamitan kepada kedua orang tua Beni.
"Kamu masih bisa antar aku atau aku pulang sendiri?" Kinan bertanya tanpa menatap wajah Beni, ia terus melangkah hingga ke luar rumah.
"Sayang..."
"Tidak usah panggil sayang-sayang. Kamu bisa antar aku atau tidak?"
"Iya, Sayang..."
Kinan melotot tajam ke arahnya.
"Kamu sudah janji, apa pun yang terjadi di dalam sana, tidak akan pernah meninggalkan Abang."
Sempat-sempatnya Beni menuntut janji Kinan di dalam keadaan seperti ini. Yang Kinan butuhkan saat ini adalah kamarnya. Ingin meluapkan emosi yang ia tahan sejak tadi.
Kinan juga takut matanya tidak bisa diajak kompromi lagi, sungguh matanya terasa sangat pedih, seperti ada yang menusuk-nusuk dari dalam. Kinan juga kecewa sama sikap Beni yang memilih diam walau ia juga sadar bahwa Beni memang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kinan..."
"Mending kamu tutup mulut, antar aku pulang."
"Abang tidak ingin putus, Kinan." Beni menahan tangan Kinan untuk berhenti.
Kinan menarik napas panjang, kemudian berkata, "Lalu, kamu maunya apa? Mau durhaka sama Ibu, Bapak kamu, hah?"
"Kita cari solusinya."
"Solusi apa? Tidak ada solusi, Beni. Aamiin kita sudah beda! Bisa-bisanya kamu mengucap salam dengan fasih saat datang bertamu ke rumah."
"Abang akan cari solusi."
"Antar aku, dan setelah itu anggap aku sudah tidak ada. Aku juga akan menghapus kamu dari memoriku. Gila, ya, kamu, bisa-bisanya kamu menyembunyikan hal ini."
"Itu karena Abang takut kamu tinggalkan."
"Pada akhirnya kita memang harus saling meninggalkan!"