Hopeless

Hopeless
Chapter 186



" Ini tiket pesawat kamu, kamu gak usah bawa apapun kecuali barang yang penting, semua sudah di siapkan di apartemen kamu, kamu akan diantar oleh supir khusus selama di sana. Jaga diri kamu baik – baik," ujar Mr. Wilkinson memberikan sebuah Passport dan tiket pesawat kepada Radith.


" Terima kasih Om, saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa lagi, saya pamit dulu, saya sangat at khawatir dengan Blenda," ujar Radith menyalami Mr. Wilkinson dengan hormat.


Mr. Wilkinson menepuk bahu Radith untuk menenangkan lelaki itu, bagaimanapun baik Darrel maupun Radith, keduanya sudah dia anggap seperti anak sendiri dan dia akan menjaga kedua anak itu seperti dia menjaga Jordan dan si kembar.


" Saya mau kasih satu wejangan ke kamu. Apapun yang terjadi kamu harus tetap tenang, jangan sampai pikiran kamu kacau, kamu harus tegar dan semangati Blenda, jangan sampai dia melihat kamu panik dan hancur, dia akan semakin sedih. Kamu paham?" Radith mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam bandara.


Membutuhkan waktu Enam belas jam di udara dari Indonesia untuk sampai di ke negeri paman sam itu. Itu pun Mr. Wilkinson mencarikan armada penerbangan yang tercepat karena kebanyakan waktu terbang yang diperlukan adalah sembilan belas sampai dua puluh dua jam. Radith harus sangat berterima kasih untuk hal itu.


Radith menggunakan waktu yang ada selama di dalam pesawat dengan beristirahat dan tidur. Tiket First class yang diberikan oleh Mr. Wilkinson membuat Radith sedikit rileks dan merasa nyaman selama penerbangan, meski tetap saja pikirannya mengkhawatirkan Blenda yang entah bagaimana keadaannya.


Selama ini Blenda mengatakan kondisinya membaik dan terus membaik, mengapa tiba – tiba muncul kabar seperti ini?


Lelaki itu turun dari pesawat dan berjalan ke bagian penjemputan, melihat seseorang membawa papan nama 'RADITH' membuat Radith datang ke orang itu dan menanyakan apakah yang dimaksud adalah dia, tentu saja menggunakan bahasa inggris, untung saja sedikit banyak dia bisa berkomunikasi dnegan bahasa Inggris.


" Tenang saja tuan muda, saya orang Indonesia yang diutus oleh Tuan Wilkinson ke negara ini, saya bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sekaligus menjadi penerjemah tuan muda di tempat ini," ujar orang itu yang membuat Radith merasa lega karna dia tak akan kebingungan selama di sini, meski sebenarnya dia tak akan menemui siapapun selain Blenda di tempat Ini.


Lelaki itu bergegas memasuki mobil yang akan membawanya ke rumah sakit dimana Blenda dirawat, dia tak membawa barang hingga tak perlu mampir ke apartemennya terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan lelaki itu hanya gelisah dan memikirkan apa yang akan terjadi pada Blenda jika kondisiya terus menurun?


" Pak, masih jauh ya? Kok gak sampai sampai sih pak?" tanya Radith yang tak sabar karna mobil berjalan sangat lambat dan mereka tidak lekas sampai, mengapa supir tidak menambah kecepatan padahal jalanan sangat lenggang? Apakah harus Radith yang menggantikan orang itu menyetir agar mereka lekas sampai?


" Maaf tuan muda, tidak semua jalanan di kawasan ini bisa aditempuh dengan kecepatan tinggi, banyak polisi yang mengintai jika sedikit saja kita melanggar aturan laju mobil di daerah sini. Mohon tuan muda bisa mengerti dan bersabar, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit," ujar orang itu yang membuat Radith mengerti.


Benar saja, tak perlu menunggu sangat lama untuk mereka sampai di rumah sakt. Radith sendiri langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah sakit, dia diikuti oleh dua orang yang diutus oleh Mr. Wilkinson sebagai pengawalnya selama berada di USA, tidak menyangka bos besar itu memperhatikannya sampai seperti ini.


" Kamar Blenda yang mana?" tanya Radith pada dua orang pengawal itu. Salah satu dari mereka mendahului Radith untuk menunjukkan jalan sementara yang satu lagi tetap berada di belakang Radith.


Meski di rumah sakit tak kakan ada yang bisa menyakiti Radith, mereka tetap harus waspada dan memastikan Radith selalu aman.


" Bunda!" panggil Radith saat melihat bunda Blenda ada di depan sebuah ruang sambil menunduk dan terus menangis, entah mengapa perasaan Radith langsung memburuk dan tak tega melihat bunda sehancur itu. Radith hanya diam dan mengelus punggung bunda pelan agar Bunda tak begitu menangis lagi.


" Blenda ada di dalam. Bunda gak kuat lagi nahan nangis jadi Bunda keluar dulu, kasihan Blenda kalau tahu bunda sedih, Bunda gak mau bikin Blenda khawatir. Sebentar lagi ya, sebentar lagi Bunda masuk ke dalam. Kamu mau masuk ke dalam?" tawar Bund ayang dijawab gelengan kepala oleh Radith.


" Dave nunggu bunda aja," ujar Radith sambil meremas tangannya sendiri karna takut. Lelaki itu takut tak bisa menerima keadaan, lelaki itu takut keadaan Blenda jauh lebih mengkhawatirkan dibanding yang dia bayangkan.


Untuk pertama kalinya, Radith sangat takut dengan kondisi seseorang yang ada dalam hidupnya. Radith memandang Bunda yang mengadahkan kepalanya dan mengusap air matanya.


" Sebentar, bunda cuci muka dulu baru kita masuk ke dalam," ujar Bunda yang diangguki oleh Radith. Bunda langsung pergi dari sana dan sekitar sepuluh menit kemudian beliau kembali dengan wajah yang basah. Mereka masuk bersama ke dalam ruangan itu dan melihat Blenda yang masih terbaring lemah di dalam sana.


Kaki Radith melemas melihat kondisi Blenda. Lengan yang penuh dengan lebam bekas suntikan, kepala yang tak ditumbuhi sehelai rambutpun serta selang oksigen yang ada di hidungnya melewati pipi yang tampak membengkak entah karena apa.


Kondisi yang menurut Radith 'menyeramkan' dan 'mengerikan' karna dia tak pernah melihat Blenda seperti ini.


" Bunda, bukannya kondisi Blenda membaik? Bukannya setiap kali Dave telpon bunda dan Blenda bilang semua baik – baik aja dan Blend asegera pulang ke Indonesia? Kenapa sekarang seperti ini Bunda? Kenapa, kenapa kondi Blenda seperti ini?" tanya Radith dengan mata yang memanas dan mendekat ke arah Blenda lalu menggenggam tangan gadis itu.


Setetes air mata akhirnya jatuh dari tempatnya, lelaki itu tak mengusapnya, lelaki itu membiarkan dirinya menangis di hadapan Blenda yang tampaknya tertidur karna pengaruh obat bius.


Tampak ada satu bekas suntikan baru yang ada di lengan gadis itu, Radith langsung mengamati semua bekas luka Blenda dengan pelan dan teliti.


" Pasti sakit banget ya? Kenapa kamu harus bohong sama aku? kalau kamu bilang kan aku bakal ada di sini buat kamu, kita bagi rasa sakit itu bareng – bareng, kamu pasti menderita banget kan ngelewatin semua ini sendirian? Maaf aku gak ada buat kamu selama kamu kesakitan." Bunda yang mendengar Radith mengatakan hal itu langsung mendekat dan mengelus punggung lelaki itu.


" Blenda gak mau kamu khawatir dan malah repot ke sini, padahal kan kamu harus sekolah. kanker yang diderita Blenda sudah menyebar dan bahkan dokter udah bilang kalau dia gak bisa apa – apa lagi, tinggal menunggu waktu anak Bunda menyerah, kamu tahu kan Blenda gak mungkin menyerah?"


Radith tersenyum mendengar apa yanag bunda katakan dan mengangguk setuju. Dia tahu Blenda bukan gadis yang akan menyerah dengan keadaan, gadis itu memiliki semangat juang yang tinggi dan memiliki sikap pembangkang.


Lelaki itu kembali mengamati gadis yang disayanginya dan mengelus kepala gadis itu berkali – kali.


Dua jam kemudian Blenda mulai membuka matanya dan terkejut melihat keberadaan Radith, bahkan gadis itu mengira semua yang dilihatnya hanya mimpi atau halusinasi hingga dia menutup matanya lagi.


Namun belaian di pipinya terasa nyata, membuat gadis itu memegang tangan yang mengelusnya dan menggenggamnya.


Blenda mengelus pipi yang ada di depannya dengan lemah, memastikan yang dilihatnya adalah nyata. Gadis itu bahkan sampai mencubit pipi Radith untuk memastikannya.


" Memang ada yang lebih ganteng atau lebih halus pipinya dibanding aku?" tanya Radith untuk mencairkan suasana. Blenda tertawa lemah mendengar hal itu dan melepaskan tangagnnya dari pipi Radith, lalu membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher. Radith langsung mengernyitkan dahinya melihat sikap Blenda yang terbilang aneh.


" Tangan aku udah gak bagus lagi, udah banyak bekas suntikannya, gak bagus buat dilihat." Perkataan itu membuat Radith tertegun, namun lelaki itu segera tersenyum dan mengambil tangan Blenda untuk kembali digenggamnya. Membuat Blenda menatgap Radith dengan penuh arti sekaligus kesedihan yang ada. Gadis itu merasa sangat merepotkan Radith karna lelaki itu sampai harus datang ke tempat ini.


" Pasti sakit banget ya?" tanya Radith sambil mengelus bekas luka lama itu satu persatu. Lelaki itu memandang Blenda yang masih berkaca – kaca.


Sesaat kemudian gadis itu memejamkan matanya dan mengangguk sambil meloloskan air mata yang entah sudah sejak kapan berkumpul di ujung matanya.


" Iya, sakit banget. Setiap kali kemo, setiap kali banyak obat disuntik ke tangan aku, setiap kali aku ngerasain itu aku kesakitan Dave. Aku capek, aku mau nyerah, tapi aku tahu aku harus bertahan untuk sembuh karna aku udah janji sama kamu. Aku, aku." Blenda tak meneruskan kata – katanya dan terus menangis, membuat Radith ikut sedih dan menunduk agar air matanya tak jatuh.


" Maaf, maaf karna kamu harus ngerasain semua sendirian, maaf karna kamu harus kesakitan dan menderita kayak gini, pasti melelahkan bukan? Maaf karna aku egois minta kamu bertahan tanpa mikirin rasanya jadi kamu. Maafin aku Blenda."


Melihat Radith yang seperti itu tentu membuat Blenda semakin sedih dan terluka, gadis itu menggelengkan kepalanya dan terus menangis, sementara Bunda yang ada di sana hanya bisa memperhatikan sambil terus menangis, tak bisa lagi menahan rasa sesak melihat putrinya begitu menderita. Radith menatap ke arah Bunda dengan tatapan penuh arti.


Bunda yang ditatap menggelengkan kepalanya berkali – kali lalu menangis bahkan sampai terisak. Suasana begitu menyedihkan untuk beberapa saat sampai akhirnya bunda menegakkan kepalanya dan menghapus semua air matanya lalu mendekat ke arah Blenda dan Radith.


Beliau mengelus kepala Blenda dengan senyum manis yang mengembang, Radith juga melakukan hal yang sama, tersenyum lebar tanpa beban sambil menatap Blenda.


" Bunda lihat kamu sudah sangat kuat menahan semua, kamu tegar sekali dan bisa bertahan sejauh ini. Bunda bangga sama kamu, sangat bangga sama kamu, begitu juga ayah. Sekarang, kalau kamu udah benar – benar capek, kamu udah lelah, bunda ijinin kamu istirahat, kamu boleh lepas semua dan istirahat dengan bahagia."


" Bunda," lirih Blenda sambil menatap Bundanya. Dia tahu tak mudah bagi bunda mengatakan hal itu, dia sendiri sudah menahan semua siksaan sejauh ini untuk melihat bundanya bahagia, dan bunda selalu berpura – pura bahagia di hadapannya meski dia sendiri tahu bundanya sangat hancur melihatnya seperti ini.


" Kalau Blenda tidur dan istirahat Bunda gak boleh sedih ya, Blenda Cuma tidur kok, setelah bangun Blenda bakal sehat lagi dan bisa berkumpul sama bunda sama ayah tanpa penyakit ini. Blenda bahagia udah lahir dari rahim bunda, Blenda bahagia dibesarkan penuh cinta sama bunda bahkan sampai detik ini dan seterusnya. Terima kasih bunda, Blenda sayang sama Bunda, Blenda sayang sama ayah."


Bunda mengangguk dengan mata yang berkaca – kaca memeluk anak gadis satu – satunya itu dan mengecup puncak kepalanya sangat lama.


Bunda menahan isak tangisnya meski pada akhirnya dia tetap meanngis dan mencurahkan semua rasa sayangnya pada putrinya untuk saat ini.


Rasa sayang yang tak akan pernah habis meski dicurahkan dalam ribuan kata dalam sebuah kertas.


" Bunda keluar dulu ya, Bunda mau telpon ayah dulu, bunda udah iklas kalau Blenda mau istirahat. Bunda mau Blenda bahagia, Blenda berhak bahagia. Tidur yang nyenyak ya sayang. Bunda dan ayah sayang sama kamu," bisik Bunda tepat di telinga Blenda dan langsung meninggalkan Blenda dan Radith berdua.


" Dave, makasih ya, karna kamu aku bisa bertahan sejauh ini, karna kamu aku tahu arti semangat hidup dan terus berjuang. Tapi ternyata itu gak mudah dan sangat melelahkan. Biar pun melelahkan aku bahagia kok, aku bahagia bisa ketemu kamu, bisa bertahan sejauh ini, aku bahagia."


" Makasih udah bertahan sejauh ini walau kamu kesakitan, makasih karna kamu udah mau mengabulkan apa yang aku mau. Maaf aku gak pernah ada di saat saat tersulit di hidup kamu. Maaf karna kamu harus menderita seperti ini." Radith kembali menangis di hadapan Blenda, membuat gadis itu langsung mengusap mata dan pipi Radith.


" Aku mau tidur dulu ya, aku kelelahan, gak papa kan?" tanya Blenda meminta persetujuan pada Radith. Radith tersenyum dan mengangguk.


" Gak papa, kamu boleh beristirahat kapan pun kamu mau. Kamu udah cukup kuat dan kelelahan selama ini, kalau kamu mau tidur, kamu boleh tidur kapan pun kamu mau. Aku sayang sama kamu, dari dulu, sekarang dan seterusnya. Terima kasih udah jadi gadis yang cerah, ceria dan pantang menyerah."


" Kalau aku tidur, kamu gak boleh nangis, kan kau Cuma tidur. Aku pasti bangun lagi, aku bakal bangun dan kembali sehat, jadi kamu gak boleh sedih. Aku titip bunda selama aku tidur, hibur bunda kalau bunda sedih ya. Sampaikan maafku karna aku udah banyak ngerepotin Bunda."


" Kamu gak mau bilang kamu sayang sama aku sebelum tidur? Aku tahu kamu sayang banget kan sama aku?" Tanya Radith sambil tertawa yang membuat Blenda juga tertawa mendengarnya.


" Aku cinta sama kamu. Dari dulu, sekarang dan sampai hembus terakhirku. Aku cinta sama kamu walau aku tahu kamu Cuma anggap aku adik kamu. Tapi aku bahagia, hatiku penuh sampai aku ngerasa bisa tidur dengan nyenyak sekarang. Apalagi kamu ada di sini, mau nemenin aku sampai aku tidur, aku bersyukur dan bahagia."


" Aku tahu. Terima kasih udah bahagia selama ini. Terima kasih Blenda, terima kasih. Sekarang, kalau kamu tidur, kamu tidur aja, aku bakal di sini, aku bakal temenin kamu sampai kamu nyenyak."


Blenda tersenyum dan mengangguk. Gadis itu membenarkan posisi tidurnya dan menarik selimut itu untuk menutupi badannya sampai sebatas leher.


" Aku tidur dulu ya, kamu jangan nangis loh, aku kan Cuma tidur." Gadis itu tertawa pelan dan menutup matanya dengan napas yang teratur. Radith mengelus kepala gadis itu sampai gadis itu benar – benar terlelap.


Perlahan angka di alat pendeteksi detak jantung itu menurun dan terus menurun, sampai akhirnya menunjukkan angka nol dan alat itu mulai berbunyi, menandakan Blenda sudah terlelap dalam tidurnya yang nyaman. Akhirnya gadis itu tak akan merasakan sakit lagi.


" Kamu bukan Menyerah atau kalah dengan penyakit ini. Kamu sudah berjuang sangat jauh, kini waktunya kamu istirahat dengan damai. Tidur yang nyenyak, aku sayang kamu."


Radith mengecup lama kepala gadis itu menyalurkan semua rasa sayang yang dia miliki, menghangatkan tubuh gadis itu dan mengantarkan gadis itu ke tempat yang lebih baik. Tempat di mana gadis itu tak akan pernah sakit lagi, tempat dimana gadis itu akan merasa bahagia sampai detik terakhir dunia ini.