
Luna duduk dan meminum air kelapa yang ada di dalam gelas. Pergerakannya melambat, mungkin karna efek racun dalam tubuhnya itu. Luna memberikan gelas yang masih berisi separuh pada Darrel yang senantiasa menjaganya. Bahkan pria itu membawa satu rancel berisi pakaian.
“ Kak Darrel serius mau nginap disini? Mandi disini? Segala baju dibawa? Astaga,” ujar Luna yang masih tidak percaya Darrel seniat itu, bahkan Mr. Wilkinson langsung kembali ke Inggris saat kondisi Luna membaik dan Jordan kembali sibuk mengurusi perusahaan yang kacau balau karna Lucy.
Ah ya, bicara soal Lucy, gadis itu dikirimkan oleh Mr. Wilkinson ke suatu daerah cukup terpencil dan memberi gadis itu tugas untuk menjaga sebuah toko kecil sebagai hukuman, Lucy harus melakukan itu sampai hasil keuntungan toko tersebut menutup kerugian yang dialami Jordan. ( Yah, sebenarnya sama saja hukuman seumur hidup sih, hahahaha)
Sementara Hooman, Mr. Wilkinson mengungsikannya ke sebuah desa yang penug dengan kucing oren, yah kalian mungkin sudah tahu jika Hooman adalah musuh kucing Oren ( Hahahaha, sungguh ini cerita semakin tidak jelas)
“ Ya, aku mau nginap disini mungkin tiga hari, soalnya hari terakhir liburan aku harus ke sekolah buat ngurus penguduran diri dari OSIS,” ujar Darrel dengan santai, bagi Darrel melepas OSIS memang bukan hal yang mudah, namun dibandingkan Luna, jabatan itu tidak berarti apapun.
“ Maafin Luna yak kak, karna Luna kak Darrel harus ngelakuin itu, Luna juga bakal keluar dari OSIS waktu udah berangkat sekolah nanti,” ujar Luna dengan sedih, Darrel yang mendengar itu tampak tekejut, bukan ini tujuannya keluar dari OSIS, Dia memilih keluar karna ingin Luna bertahan, jika gadis itu ikut keluar, sia – sia saja perjuangannya.
“ Gak bisa gitu dong, kamu kan masih pengurus baru, masak udah keluar aja? Kalau aku kan memang waktunya ganti kepengurusan, lagipula aku susah bagi waktu buat urusan perusahaan sama sekolah, dan aku milih ngurus bisnis aku, karna itu kan tabungan buat nikahin kamu,” ujar Darrel sedikit tersipu, ah lelaki itu, bisa saja mengubah air mukanya menjadi imut seperti ini.
“ Iya kalau Luna mau nikah sama kak Darrel,” jawab Luna sambil menatap geli Darrel karna ekspresi lelaki itu langaung berubah setarus delapan puluh derajat. Lelaki itu memajukan bibir bawahnya dan menggembungkan pipinya lalu menatap ke arah lain.
“ Ya kalau kamu jodoh aku, mau gimanapun kamu nolak pasti tetep bakal jadi istri aku lah, nanti kita punya sebelas anak biar bisa bikin tim volley sama tim futsal,” jawab Darrel dengan nada bangga dan gembiranya, padahal beberapa saat lalu lelaki itu tampak merajuk.
“ Gilak aja sebelas anak, jebol Luna yang ngelahirin lah kak! Dikira Luna kucing sekali lahiran bisa enam anak,” jawab Luna sedikit ngegas karna tak paham jalan pikiran Darrel. Lelaki itu tertawa bahagia melihat ekspresi Luna, memang Luna tak akan pernah bisa menggodanya karna dia selalu puny acara untuk membalikkan keadaan.
“ Gak papa dong, yang penting aku enak,” ujar Darrel dengan ambigu, Luna bahkan sampai mengernyitkan dahinya karna tidak paham maksud perkataan Darrel.
“ Maksudnya enak?” Tanya Luna tak paham. Darrel langsung terdiam dan menggaruk leherya, tidak mungkindia menjelaskan apa yang ada di pikirannya, apa lagi pada gadis seperti Luna, bisa panjang urusannya.
“ Iya enak, kalau enam anak cewek kan bisa bantuin aku ngurus resto terus lima anak cowok bantuin ngurus perusahaan, jadi nanti aku bisa nyantai nyantai berduaan sama kamu di rumah, mesra mesra an, berlarian kesana kemari dan tertawa, iya kan?”
Luna tampak menggeleng kuat beberapa kali dan bahunya bergetar karena geli, membayangkan saja sudah membuat erut Luna terasa ngilu, bagaimana mungkin dia sanggup melahirkan sebelas anak? Rasanya sangat mustahil.
“ LUNA!!!! GUE BARU DENGAR KABAR LO!!” Pandangan mereka teralihkan pada pintu yang tiba – tiba terbuka dan menampakkan dua gadis masuk ke dalam kamar itu. Luna langsung menjadi sedih mengingat dia sudah curiga, menuduh dan berpikiran macam – macam pada mereka, siapa yang tidak merasa bersalah setelah menuduh sahabat sendiri?
“ Berisik Key! Ini tuh rumah sakit bukan ragunan!” tegur Adel dengan galak, gadis itu berjalan dan menghampiri Luna, sementara Darrel berdiri dan memberikan kursinya untuk Key duduk dengan tenang.
“ Makasih kak, udah ganteng peka lagi, seandainya bisa gue tikung.”
Darrel menatap ngeri Key yang terdengar cringe, memberi kursi saja gadis itu sudah sangat heboh, apalgi Darrel memberikan gadis itu seperangkat mahar? Astaga Darrel, lelaki itu memang suka berpikiran macam- macam, yang ingin dinikahinya kan Lunetta, bukan temannya yang menurut Darrel sangat freak ini.
“ dah dah, gue udah tahu Lo mau minta maaf karna udah nuduh gue kayak kemarin, tenang aja gue gak permasalahin, lagipula wajar Lo curiga karna gunting kuku gue ada disana, disini gue sama Key mau jenguk Lo bukan mau nyalah nyalahin Lo.”
“ Halah gaya Lo disini ngomong gitu, tadi aja waktu Cuma sama gue ngomel ngomel mulu.”
“ Gue ngomel karna Rafa bukan karna Luna, Lo tuh jangan bikin tambah salah paham dong.”
Luna terkekeh karna dua orang di depannya memang tak pernah bisa akur semenjak masuk SMA, namun mereka lah yang menjadi pewarna hari – hari Luna, mereka yang mengomel di depan Luna, menunjukkan wajah asli mereka, meski kini sudah berkurang satu.
“ Eh tapi kok bisa jadi Rafa sih? Dia kan gak ada disana kemarin,” ujar Luna yang beberapa saat kemudian menyadari ucapan Adel. Wajah Adel tampak kesal mengingat kejadian itu.
“ Jadi Rafa gak tahu darimana tiba – tiba datang ke rumah singgah. Waktu itu kan gue di bius total, gue dibopong sama salah satu orangnya bokap Lo, nah dia sok pahlawan mau gendong gue, tapi malah akhirnya gue dijatuhin gitu aja karna dia gak kuat, kan bangke, mana gue gak bisa bales apa – apa.”
Luna dan Key langsung tertawa membayangkan posisi Adel saat itu, dia tidak bisa bertumpu pada apapun karna tubuhnya kaku, pasti rasanya kesal dan tentu sakit serta malu. Darrel yang ikut mendengar bahkan juga menahan tawanya, bagaimana mungkin ada spesies seperti Rafa di dunia ini?
“ Kok gue masih gak nyangka kalau Lucy pelakunya ya, pantes aja belakangan ini tuh dia kayak banyak diem dan ngehindar gitu dari gue, gue pikir karna banyak tugas aja, ternyataaa.”
“ Dia udah kelihatan beda tapi Lo masih diemin aja? Gila Lo!” cerca Adel yang tak menyangka Key sebegitu tak pedulinya dengan Lucy, Key tampak cemberut karna dia yang disalahkan, mana dia tahu Lucy akan bertindak sekejam itu dan mencelakaan Luna. Bahkan jika dipikir tindakan Lucy sangat berbahaya mengingat usianya yang masih belia.
“ Udah lah, masalahnya udah selesai. Justru sebenarnya gue kasihan sama Lucy, dia Cuma diperalat sama om nya dan malah dia yang dapet hukuman dari bokap gue. Semoga aja dia bisa berubah jadi baik biar bokap kasihan sama dia.”
“ Emang Lucy dibawa kemana sekarang?” Tanya Adel penasaran. Dia hanya mendengar kabar Lucy pindah sekolah dan dia yakin itu karna Mr. Wilkinson, namun dia tidak tahu kemana Mr. Wilkinson membawa gadis itu pergi.
“ Kata Bokap sih ke daerah Sulawesi gitu, tapi bagian perkampungannya biar dia gak macem macem lagi, jadi dia bebas tapi kayak di penjara soalnya dia tetap dijaga sama orang kepercayaan bokap.”
“ Lah? Cuma ke Sulawesi? Gue kira ke Wakanda, biar jauh sekalian, heran gue ada orang kayak dia,” sahut Key yang sedari tadi berbicara sesuka hatinya, namun Luna dan Adel membiarkan saja agar suasana tak menjadi gaduh atau ricuh.
*
*
*
“ Kak Darrel porno ih gak pakai baju,” ujar Luna menutup wajahnya, sebenarnya dia hanya malu karna tidak biasa melihat Darrel seperti itu. Namun Darrel malah heran dnegan reaksi Luna yang berlebihan, padahal dia kan tidak sedang menunjukkan auratnya.
“ Porno apaan sih? Kan aku masih pakai celana, kalau kamu yang kayak gini baru deh porno,” ujar Darrel tak tahu malunya, Luna mendesis kesal tanpa membuka tangan yang menutupi wajahnya, meski dia tetap mengintip untuk menikmati roti sobek yang terpampang jelas di depannya, rejeki kan tidak bleh ditolak.
Darrel memang banyak berubah dibanding saat pertama kali mengenal Luna dulu, jika dulu Darrel bersikap cool dan pendiam serta manis ala ala prince carming, sekarang Darrel mulai menunjukkan sifat aslinya yang konyol dan tak tahu malu, namun entah mengapa Luna tidak merasa Ilfeel atau risih dengan perilaku lelaki itu. Luna justru merasa gelid an terhibur.
“ Udah pakai baju nih loh, gak usah nutupin wajah gitu, orang aku tahu kamu ngintip kok.” Luna langsung membuka tangannya dan menatap Darrel dengan tatapan canggung, karna Luna tertangkap basah dan ketahuan mengintip Darrel.
“ Kak Darrel serius mau tidur disini?” Tanya Luna memastikan keputusan Darrel. Dalam ruang VVIP ini memang disediakan dua tempat tidur, untuk pasien dan untuk yang menunggu, namun bukan berarti mereka bisa tidur berdua dalam satu kamar yang sama.
“ Iya lah, udah terlanjur juga, aku udah ijin sama papa kamu dan emang dibolehin, malah beliau berterima kasih karna aku suka rela mau jagain kamu, masak kamu gak bersyukur gitu sih?”
“ Bersyukur kenapa?” wajar Luna bertanya, dia tak paham arah pembicaraan Darrel.
“ Bersyukur karna tiga hari ini kamu bisa lihat wajah aku yang imut ini, bahkan kamu bisa lihat wajah aku waktu tidur, wajah aku habis mandi, pokoknya kamu bisa terus nikmati wajah aku.”
“ Apa sih, kok jadi freak gitu.” Luna tampak merajuk dan memegang pipinya yang terasa panas. Membayangkan bisa selama itu bersama Darrel saja sudah membuat ubur ubur dalam jantungnya bergudem ria, ada sengatan sengatan yang membuat Luna merasakan hal aneh.
Yah, sepertinya memang benar Luna mulai menerima hati sekaligus memberikan hati pada lelaki itu, meski Luna masih tak mengungkapkannya pada Darrel karna dia masih tidak begitu yakin, namun Luna menikmati setiap kebersamaan bersama Darrel.
“ Kamu mau makan malem apa? Gak boleh pedes, gak boleh asem, gak boleh asin.” Luna menatap Darrel dengan heran, lalu dia harus makan apa jika semua tidak diperbolehkan?
“ Bolehnya yang manis kayak aku,” ujar Darrel penuh percaya diri dan merapikan rambutnya kebelakang, membuat wajah tampannya semakin terlihat keren berkali – kali lipat.
“ Bodo amat lah.” Luna yang sudah tak tahan memilih untuk menarik selimutnya dann menutupi seluruh tubuh sampai wajah dengan selimut itu, bisa bisa dia tewas karn aserangan jantung jika terus meladeni Darrel seperti ini.
“ Hahahaha, yaudah aku beliin sate ayam mau gak? Atau ayam bakar? Atau ayam goring? Atau ayam kampus? Eh jangan deh gak boleh,” ujar Darrel memberikan pilihan pada Luna untuk menu makan yang akan mereka makan. Darrel sendiri sudah merasa sangat lapar dan cacing diperunya memerlukan protein seletah melakukan pelatihan otot perut mereka.
Lihat? Bahkan cacing dalam perut Darrel pun berolah raga dengan rutin agar bisa hidup sehat sebagai cacing pita, hahaha. Jangan kalian bayangkan cacing cacing itu bertubuh kekar dan berotot keras, sekali lagi, jangan.
“ Sate ayam aja kak, udah lama Luna gak makan itu,” ujar Luna yang masih bersembunyi di balik selimutnya. Darrel mengiyakan dan pamit keluar untuk mencari penjual sate, semoga saja dia bisa menemukannya, apalgi dia juga harus mencari penjual degan di malam hari ini untuk minuman wajib Luna.
Darrel yang baru keluar dari pintu utama rumah sakit dikejutkan dengan Radith yang berjalan masuk ke rumah sakit.
“ Lah? Lo mau jenguk Luna?” Tanya Darrel mencegat Radith, Radith malah memandang Darrel dengan tatapan heran dan bingung.
“ Lah? Memang Luna kenapa?” yaps, hanya Radith yang tidak tahu perihal masalah ini, bahkan kabar lelaki itu tak terdengar belakangan ini, wajar saja dia heran karna tiba – tiba Luna masuk ke rumah sakit.
“ Lah Lo ngapain dong kesini?” Tanya Darrel tanpa menajwab pertanyaan Radith.
“ Gue nemenin Blenda, dia kambuh, nih gue habis beli camilan,” ujar Radith mengangkat kresek yang dia bawa. Darrel mengangguk dan memberi tahu bahwa Luna dirawat di rumah sakit ini sekaligus memberikan nomor kamar Luna jika Radith mau menjenguk. Mereka berpisah setelah itu karna Darrel harus segera mencari makan sebelum hari semakin gelap.
Darrel kembali ke dalam kamar inap membawa bungkusan berisi sate ayam dan air kelapa kemasan yang dia beli di minimarket, lelaki itu terlalu malas untuk mencari penjual degan murni di malam hari seperti ini, toh di kemasan ini bertuliskan 97% mengandung air kepala asli.
Darrel langsung membuka bungkusan sate itu dan makan dengan tenang sebelum dia menyuapi Luna yang malas makan. Dengan sabar dan telaten Darrel menyuapi Luna sampai satu porsi sate itu dimakan habis, setelah itu Luna meminum obatnya dan satu kemasan air kelapa sebelum akhirnya bersiap untuk tidur.
Darrel membereskan Kasur yang akan menajdi tempat tidurnya, bahkan kamar ini tidak terasa seperti rumah sakit, dengan pendingin ruangan, wifi gratis dan televisi 42 inch yang menjadi fasilitas kamar ini. Lelaki itu memposisikan diri tidur dengan menghadap ke arah Luna yang juga daritadi menatapnya.
“ Kalau kamu minta aku tidur di Kasur itu akum au mau aja kok Lun, dengan senang hati malah,” ujar Darrel yang masih sempat sempatnya menggoda Luna, gadis itu tampak tersenyum kecil dan menutup wajahnya dengan selimut. Darrel terkekeh dan mulai naik ke Kasur untuk mencari posisi nyaman.
Lelaki itu sebenarnya cukup lelah karna dia juga membawa pekerjaannya ke rumah sakit ini. Ah ya, sebenarnya Darrel tidak melupakan masalah restorannya, namun kala itu dia sengaja mengerjai Jordan agar calon kakak iparnya itu mau mengerjakan semua tugasnya. Meski akhirnya dia ketahuan dan mendapat amukan dari Jordan karna tingkah kurang ajarnya.
Darrel mulai memejamkan matanya dan tanpa lelaki itu tahu, Luna membuka lagi selimut yang menutupi tubuhnya. Gadis itu menatap Darrel yang terlelap dengan napas teratur, Luna menghela napas dan memegang dadanya yang berdegup cukup cepat, entah apa yang gadis itu takutkan. Akhirnya Luna menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata, namun sebelum benar benar tidur Luna berkata.
“ Untung aja RUU KUHP nya belum jadi disahkan, bisa dipenjara gue karna kak Darrel tidur disini untuk menghemat biaya.”