
Luna langsung bergegas mengambil antiseptik yang ada di dalam tasnya. Menyemprot antiseptik itu seluruh badan yang bisa dia jangkau. Radith sendiri sudah tahu jika Luna menderita Mysophobia ringan, disentuh orang asing atau menyentuh barang kotor akan membuat Luna merasa ketakutan dan tak nyaman. Radith membiarkan Luna melakukan aktivitasnya sampai selesai tanpa menganggu.
" Kenapa mereka seram banget sih? Gilak apa gue dituduh maling di tempat ini. Belum tahu aja mereka siapa gue sebenarnya, kalau tahu apa mereka masih berani ngelakuin hal kayak gitu? Menyebalkan!" Luna langsung mengomel saat keberanian dan kesadarannya sudah berkumpul. Radith langsung tertawa geli melihat tingkah ajaib gadis itu.
" Kenapa tadi Lo gak berani ngomel kayak gini di depan mereka? Kenapa Lo malah ngomel di depan gue?" tanya Radith dengan nada menggoda. Luna langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal, dia tahu bahwa Radith sangat tahu kalau dia tidak akan berani melakukan hal itu, apalagi dia sudah divonis menderita Mysophobia oleh Psikiater terpercayanya.
( Mysophobia adalah kondisi dimana seseorang takut menyentuh barang – barang kotor. Lebih dari sekadar jijik, penderita ini bahkan bisa saja menangis dan ketakutan jika dirinya menyentuh atau disentuh oleh orang lain. Beberapa bahkan tak mau memakai baju yang pernah dipakai oleh orang lain atau tidak mau memakai baju yang sama dua kali.)
" makanya kalau mau kemana – mana itu kabarin gue dulu. Gue tinggal sebentar udah hilang aja. Pabrik ini tuh luas, bahkan mereka satu perusahaan belum tentu saling kenal. Makanya harus pakai ID Card kalau kemana – mana. Untung aja gue tadi ke tempat itu tepat waktu. Kalau gak pasti Lo udah dibawa ke kantor polisi dan Lo gak berani bantah mereka."
" Gue, gue gak mau ke tempat kayak gini lagi Dith, takut, ayo antar gue pulang aja," ujar Luna merengek pada Radith, persis seperti beberapa tahun lalu jika dia pergi bersama Radith dan merasa tak nyaman, gadis itu akan langsung merengek pada Radith untuk diantar pulang.
Radith sendiri masih sama seperti beberapa tahun lalu, lelaki itu masih tak bisa menolak jika Luna sudah bersikap seperti ini. Radith melihat ke arah arlojinya dan berpikir, lalu mengangguk dan bangkit dari duduknya. Luna mengikuti Radith dari belakang dengan cemas, gadis itu masuk ke dalam mobil dan membiarkan Radith membawanya pergi dari sana.
" Sejak kapan sih Lo jadi takut kotor kayak gitu? Perasaan sebelumnya biasa – biasa aja kalau ada yang kotor – kotor?" Tanya Radith yang diajawab gelengan kepala Oleh Luna. Luna sendiri heran, sejak kapan dia menderita kelainan ini, yang jelas pertama kali dia menyadari saat dia menangis sesenggukan kala seorang anak kecil dengan tangan penuh lumpur menyentuh roknya.
Hari itu Luna bersama dengan Darrel, dan Darrel langsung membawa Luna pergi dari sana karna curiga sesuatu yang tidak beres terjadi pada Luna. Benar saja, psikiater itu bilang Luna tak akan tahan jika bersentuhan dengan orang ataupun memegang benda kotor. Hal itu tentu membuat Darrel mewanti – wanti gadis itu. Kan tidak Lucu Luna menangis di tempat umum karna tidak sengaja bersentuhan dengan orang lain.
" Ya udah, ya udah. Kita makan dulu mau gak? Gue laper banget dari pagi belum makan. Lo mau makan apa?" tanya Radith yang dijawab 'terserah' oleh Luna. Lelaki itu mengangguk dan melajukan mobilnya menuju salah satu resto keluarga langganannya. Namun sesampainya di tempat itu, Luna tak mau keluar dari mobil dan memajukan bibirnya sampai beberapa senti.
" Ngapain Lo masih di situ? Ayo turun, Lo mau makan atau enggak?" tanya Radith yang dijawab gelengan olah Luna. Radith menghela napasnya sekali lagi, mencoba mengumpulkan segala kekuatan sabar yang dia miliki untuk menghadapi gadis ajaib yang ada di depannya ini.
" Lo gak mau makan ramen? Kalau gitu Lo mau makan apa?" tanya Radith dengan lembut. Lelaki itu bahkan sedikit membungkuk agar bisa berkomunikasi dengan Luna yang ada di dalam mobil.
" Terserah, Radiiith," ujar Luna dengan nada gemas yang ada diakhir. Radith melongo, bibirnya terbuka dan menatap Luna dengan tatapan tak percaya. Sesulit ini kah menghadapi seorang wanita? Apakah Luna sengaja menguji kesabarannya kali ini? Mengapa gadis itu makin hari makin seenaknya?
" Ya udah, makan seafood mau?" tanya Radith yang dijawab gelengan oleh Luna. Lelaki itu mulai mengelus dadanya untuk menambah rasa sabarnya. Luna hanya tersenyum dimanis – maniskan pada Radith agar lelaki itu tak marah padanya. Namun yang dilakukan Luna hanya bisa membuat Radith makin gemas.
" Mie ayam? Soto? Bakso?" tanya Radith beruntun dan dijawab oleh gelengan berkali kali oleh Luna. Gadis itu menataap ke arah lain dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Seakan meminta Radith untuk peka atau apalah, entahlah apa tujuan gadis itu melakukan hal ini, Radith sendiri mulai tak sabar.
" Ya udah, Lo mau makan apaan? Gue udah laper banget Lun," ujar Radith sambil mengelus perutnya. Luna tampak menimang apa yang ingin dia makan, gadis itu menatap Radith yang mengangkat kedua alisnya, menunggu keputusan Luna dengan sabar.
" Terserah," jawab Luna pada akhirnya. Radith menjambak rambutnya dengan frustasi, menutup pintu itu dengan sedikit kasar dan langsung kembali ke kursi kemudi, menutup pintu dan menyalakan mesin, pergi dari tempat itu dengan segera.
" Bodo amat, gak usah makan. Puasa aja puasa daripada makan terserah. Terserah Lo," ujar Radith dengan ketus, namun membuat Luna tertawa terbahak – bahak karnanya. Gadis itu mengacak rambut Radith yang sudah berantakan lalu kembali ke posisinya.
" makan nasi goreng aja Dith, gue pingin nasi goreng," ujar Luna yang tak ingin membuat Radith lebih lama lagi, gadis itu hanya berniat menggoda Radith sesekali, namun tampaknya lelaki itu sedang tidak dalam mode baik, mungkin ada masalah di pabriknya.
" Oke," jawab Radith singkat dan kembali fokus pada kemudinya. Entah apa dosa yang dia lakukan di masa lalu, kini dia tidak bisa jatuh cinta apda gadis lain, dia malah mencintai tunangan orang lain, dan hebatnya orang yang dia cintai selalu berkeliaran di sekelilingnya tanpa bisa dia miliki, menjaga gadis itu dan 'mengembalikan' saat pemiliknya kembali.
Tapi entah mengapa Radith terima saja melakukan semua itu, mungkin ini karma baginya yang menyakiti Luna di masa lalu. Kini dia terjebak dalam kisah rumit yang terkadang membuatnya tak fokus melakukan hal lain. Bahkan masalah ini sering menghantuinya saat pikirannya sedang kalut. Radith menghela napasnya berkali – kali dengan sedikit berat.
" Lun, gue mau tanya ke Lo boleh gak?" tanya Radith dengan nada serius. Luna menoleh dan menatap Radith dengan heran. Karna penasaran, Luna mengangguk dan membiarkan Rdith bertanya padanya. Radith menarik napasnya dan menghembuskannya pelan, dia ingin menanyakan hal yang sebenarnya dia tak siap mendengar jawabannya.
" Lo udah ada rencana nikah sama Kak Darrel? Kalian kan udah pacaran enam tahun dan bahkan udah tunangan sama dia. Kalian gak ada rencana buat nikah?" tanya Radith yang membuat Luna terbatuk karna tersedak salivanya sendiri. Gadis itu tidak mengira Radith akan menanyainya seperti ini.
" Lagipula apa?" tanya Radith dengan penasaran. Lelaki itu membelokkan stir mobil dan memasuki sebuah restoran sederhana yang menjual nasi goreng. Lelaki itu memarkirkan mobilnya namun tak mematikan mesin mobil itu. Luna tampak ragu, namun dia tahu, dia tak bisa menyembunyikan rahasia dari Radith dan lelaki itupun tahu jika Luna berada dalam masalah.
" Kak Darrel lebih sibuk belakangan hari ini, bahkan dia gak pernah ada di Indonesia. Gimana mau ngomongin masalah nikah? Gue ngerasa kayak kosong aja gitu Dith, dia emang tunangan gue, tapi Cuma status aja," ujar Luna dengan suara yang bergetar. Gadis itu meremas un]jung bajunya untuk menahan air matanya.
" Gue ngerti. Gak usah Lo pikirin dan gak usah dibahas lagi, karna gue udah lapar banget, ayo makan," ujar Radith dengan nada malas dan langsung keluar dari mobil, sementara Luna hanya diam dan mengelap air matanya yang nyaris jatuh dari matanya. Radith membuka pintu dan menarik tangan Luna dengan lembut.
" Gue udah bilang gak usah dipikirin, setiap pasangan bakal ada di fase kayak gini, kalau Lo sayang sama dia, Lo gak boleh mikir yang aneh – aneh, apalagi pikiran itu bakal nyakitin diri Lo sendiri. Mending sekarang makan, isi tenaga, menunggu yang tak kunjung kembali itu butuh banyak energi," ujar Radith yang membuat Luna sedikit terkekeh.
" Kok sekarang kalau Lo ngajak gue gak pernah ke warung pinggir jalan gitu sih Dith? Gue kangen juga sama Soto yang waktu itu ada di dekat basecamp Lo, Lo gak mau ajak gue ke sana lagi" tanya Luna sambil memiringkan kepalanya. Radith menaikkan alisnya sebelah mendengar pertanyaan itu.
" Emang Lo gak takut nangis – nangis karna jijik? Di sana kan gak bersih – bersih amat, bahaya ajak Lo pergi ke tempat kayak gitu," ujar Radith yang membuat Luna membulatkan mulutnya dan mengangguk. Benar juga, dia tak akan bisa tahan pergi ke tempat seperti itu. Radith ternyata sangat mengerti kondisinya.
Mereka masuk ke dalam restoran itu dan Radith mulai memesan, Luna juga memesan nasi goreng sesuai keinginannya, mereka sibuk sengan ponsel masing – masing setelah memesan. Luna tersenyum samar saat melihat ponselnya, membuat Radith yakin gadis itu sedang bertukar pesan dengan kekasihnya.
" Sebenarnya gue mau tanya sekali lagi, tapi itu bakal nyakitin Lo. Mending gue ganti pertanyaan aja. Lo masih sering kambuh gak Ataksianya? Lo masih harus sering minum obat?" tanya Radith dengan wajah khawatir. Luna menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan obat yang ada di dalam tasnya. Obatnya sudah menjadi 8 butir sekali minum saat ini.
" Kalau obat sih masih harus minum tiap hari, tapi kalau kambuh atau terapi udah gak pernah. Doain gue tiba – tiba aja penyakit ini hilang, karna gue udah mimpi aneh banget dith sebenarnya sebelum ulang tahun gue yang ke tujuh belas," ujar Luna yang membuat Radith tertegun.
" Kok Lo gak bilang apapun ke gue? Lo gak pernah cerita kan ke gue?" tanya Radith yang diangguki oleh Luna. Luna menjelaskan kalau dia mengira Radith tak akan peduli dengan masalah ini, apalagi memang masalah ini tak ada hubungannya dengan Radith. Toh semua hanya mimpi buruk Luna.
" Lo bayangin apa aja waktu itu? Ceritain ke gue, gue lagi gabut dan gak tahu mau ngapain, dan gue lagi mau dengerin Lo ngoceh," ujar Radith yang membuat Luna berdecih kesal, namun tetap saja menceritakan apa yang dia bayangkan kala itu, bahkan menceritakan masalah Krel yang kini sudah mendapatkan donor mata.
" Lucu banget kan Dith? Masak di sana Lo nyatain perasaan Lo ke Gue, padahal kan itu gak mungkin. Dari dulu juga Cuma gue kan yang suka sama Lo? Makanya Gue gak mau cerita ke Lo, pada akhirnya juga gue Cuma diledekin sama Lo, karna semua memang Cuma mimpi." Luna mengangkat bahunya dan memandang ke arah Radith yang memandangnya serius.
" Lo masih bermimpi tentang hal itu sampai sekarang?" tanya Radith yang membuat Luna terkejut, gadis itu tak bisa menjawab apa yang ditanyakan Radith, gadis itu memilih untuk mengalihkan wajahnya dan meminum juga yang ada di gelasnya. Radith menganggukkan kepalanya pelan tanpa Luna tahu.
' Sekarang kita udah dewasa Lun, kita bukan remaja labil yang bisa jaga dua hati dalam waktu yang bersamaan. Biar gue aja yang tahu kalau gue udah suka sama Lo sejak awal. Gue gak mau Lo sama kak Darrel kacau, Lo harus bahagia. Lo harus bahagia sama dia.' – batin Radith
" Gue bakal berhenti ketemu sama Lo kalau memang Lo masih suka sama gue Lun. Lo harus pikirin perasaan kak Darrel, Lo gak boleh egois lagi karna Lo udah besar. Lo ngerti kan maksud gue?" tanya Radith yang membuat Luna tertawa. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.
" Lo gak usah kegeeran gitu sih dith, gue ngerti kok. Lagian gue udah mulai terbiasa sama Lo, mungkin emang rasa suka gue udah hilang sejak lama, jadi Lo tenang aja. Lagian udah sih gak usah bahas hal yang tegang – tenang gini, Lo tahu kan kalau pembaca kita tuh receh, sukanya lihat kita jadi kocak."
" Ya Lo tahu juga kan. Kita bukan anak SMA lagi lun, mereka tuh berharap ada adegan yang ehem ehem gitu loh, tapi kan gak mungkin gue lakuin sama Lo, skandal dong nanti. Jadi gue bahas yang berat – berat dulu sama Lo, anggap aja ini pengantar."
" gak tahan mereka pasti lihat adegan yang ehem – ehem. Tapi kan gue anak polos dith, gue gak bisa dong kalau ada adegan begitu," ujar Luna dengan sedih. Gadis itu memandang pelayan yang mulai menyajikan makanan di hadapan mereka, mengucapkan terimakasih saat pelayan pergi dan mengambil sendok untuk memulai makan.
" Lun, kalau Lo mau, gue ajarin caranya ehem – ehem, mau?" tanya Radith dengan nakal, membuat Luna menggetok kepala lelaki itu dengan reflek. Radith tertawa terbahak – bahak melihat wajah Luna memerah, bahkan banyak mengunjung lain yang terganggu karna Radith.
" Bikin malu!" desis Luna saat Radith sudah mulai meredakan tawanya. Gadis itu mengambil tissue basah dan mengelap sendoknya, lalu makan sambil menunduk karna pipinya terasa panas.
" Kabarin gue aja kalau Lo siap, gue ajarin," ujar Radith lagi dengan tatapan menggoda.
" Radith!!"