Hopeless

Hopeless
S2 - Bab 59



" Aku harus balik ke Indonesia, aku udah lega banget kamu mau maafin aku. aku kepikiran banget sama ini. Semoga setelah ini kamu selalu bahagia yah, aku dari dulu, sekarang dan seterusnya, aku bakal selalu sayang sama kamu," ujar Darrel dengan senyum tulusnya, namun Luna tak bereaksi apapun, meski demikian, Darrel tak kecewa sedikitpun karna tujuannya sudah terpenuhi.


Darrel langsung pergi meninggalkan Luna dan melihat teman yang tadi bersama Luna, Darrel menganggukkan kepalanya sopan dan langsung pergi dari sana. Lira langsung berlari menghampiri Luna dan duduk di sebelah gadis itu, gadis itu hanya tersenyum tipis dan menarik hempuskan napasnya pelan sambil menikmati suasana.


" Lo ngomongin apa aja sama dia? Lo gak maafin dia kan? Lo gak balikan sama dia kan?" tanya Lira yang membuat Luna menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu tak menyangka Lira sosok yang kepo dan suka mencampuri urusan orang lain, yah meski Luna bukan orang yang terlalu asing bagi Lira, tetap saja, gadis itu tokoh baru di novel ini.


" Kalau gue balikan sama dia memang kenapa? Gue udah pernah hampir nikah sama dia, buat balikan itu gak susah kan?" tanya Luna yang membalikkan pertanyaan Lira. Gadis yang ada di hadapan Luna itu langsung memasang wajah kesal dan menggelengkan kepalanya.


" Dia udah keterlaluan, gue yang gak tahu banyak aja udah bisa menyimpulkan dia gak bertanggung jawab, cewek mana yang gak sakit hati diputusin beberapa hari sebelum menikah? Harusnya Lo gak maafin dia, apalagi balikan. Mending Lo jauh – jauh dari cowok kayak gitu," ujar Lira menggebu – gebu, Luna terkekeh mendengar kerisauan gadis itu.


" Lo itu mirip banget sama Adel. Udah galak, suka ngegas lagi. Gue gak balikan sama dia, tapi gue baikan. Gue gak mau terima protes untuk hal ini karna gue punya alasan," ujar Luna yang membuat Lira mengernyitkan dahinya. Memang apa yang membuat gadis itu sebegitu mudah memaafkan orang yang sudah menghancurkannya berkeping – keping?


" Tujuan gue pergi ke negara ini untuk mencari ketenangan. Gue gak akan pernah tenang kalau gue gak maafin dia. Bukan karna gue kepikiran, tapi karna dia yang gak akan nyerah sebelum gue maafin dia. Lo ngerti maksud gue gak?" tanya Luna yang membuat Lira terdiam, lalu gadis itu mengangguk sesaat kemudian.


" Maksud Lo, Lo sengaja maafin dia biar dia gak gangguin Lo lagi dan lekas balik ke Indonesia?" tanya Lira yang membuat Luna tersenyum lebar dan menjentikkan jari lentiknya.


" Exactly," ujar Luna dengan senyum lebar. Lira mengangguk – anggukan kepalanya dan mengajak Luna untuk pergi dari tempat itu karna hari semakin dingin. Luna menurut saja. Gadis itu memegang dadanya sendiri, merasakan kalung yang diberikan Darrel untuknya. Lebih baik dia tak memberi tahu Lira tentang kalung ini atau gadis itu akan membuangnya.


Yah, meski Luna bilang dia berubah. Tetap saja dia mudah dikendalikan dan masih 'ditindas' oleh orang di sekitarnya. Orang di sekitarnya masih bisa memberikan intruksi untuknya. Terutama Lira, Lira adalah orang yang dimintanya untuk mengajarinya bahasa Korea dan dia pilih untuk menjadi translatornya selama dia berada di negara ini.


Mereka melanjutkan acara jalan – jalan dan Hunting Food mereka di daerah ini sebelum akhirnya Luna merasakan bibir dan tangannya membeku hingga mereka harus segera pulang dan menghangatkan badan. Itupun Lira yang memaksa sementara Luna yang masih lapar masih ingin mencoba semua makanan yang dia temui.


*


*


*


Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berlalu. Tanpa terasa Luna sudah lama tinggal di negara ini. Dia tak mengenal siapapun kecuali Lira, membuatnya benar – benar merasakan hidup yang damai. Dia bisa menikmati dirinya sendiri dan melatih diri untuk menjadi gadis yang mandiri. Semakin hari Luna dan Lira pun makin dekat layaknya kakak dan adik.


Meski usia Luna lebih tua, sepertinya dia yang menjadi adik di sini karna Lira tak pernah mau dibantah. Lira selalu merasa apa yang dia lakukan merupakan hal baik untuk Luna, Luna sendiri hanya mengalah, tak ingin memperpanjang masalah dan membiarkan Lira bertindak semaunya. Perlahan, satu sifat buruk Luna mulai meluntur, sifat egois. Luna sudah mulai melupakan sifat itu selama berada di sini.


" Tempatnya keren nih, Lo mau foto gak?" tanya Lira saat mereka keluar dari rumah mereka. Luna berdecak, bahkan gadis itu hanya memakai kaos dan tak siap untuk difoto, namun Lira memaksa, membuat gadis itu akhirnya mau untuk berpose seadanya. Luna cukup puas dengan hasilnya, meski dia sangat tidak fasionable pagi ini.



" Halo, apa kabar." ( menyapa dalam bahasa korea. Semua percakapan akan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar tidak membingungkan. Akan sulit kan jika Author menulis Hangeul ( huruf korea) dan memaksa kalian membacanya? Lagipula Authornya terlalu malas untuk belajar bahasa korea yang mendalam >_<)


" Ya? Ada yang bisa kami bantu?" jawab Lira dengan sopan. Luna sendiri hanya diam dan menatap bingung orang itu. Luna sudah lama tinggal di sini, namun dia tak tahu banyak tentang bahas adi tempat ini. Dia memiliki Lira, kamus berjalan yang akan menerjemahkan apapun untuknya.


" Saya melihat kalian mngambil foto dan saya melihat jika nona ini sangat natural dan cantik. Saya ingin menawarinya untuk bekerja sama dengan sayaa," ujar orang itu yang membuat Lira menengok ke arah Luna, tentu saja Luna hanya mengangkat alisnya, paham saja tidak. Dia bertanya pada Lira melalui gerak tubuhnya.


" Maaf, tapi kami tidak tahu anda siapa. Kami tidak terbiasa berbicara dengan orang asing, kami tidak bisa membantu anda. Permisi, kami masih ada sesuatu yang harus dikerjakan," ujar Lira dengan sopan dan membungkukkan badannya pada orang itu, membuat Luna melakukan hal yang sama meski dia tak tahu apa yang Luna katakan pada orang itu.


"Ah, itu kesalahan saya. Maafkan saya, seharusnya saya memperkenalkan diri dulu. Ini kartu nama saya, saya adalah fotografer dari perusahaan majalah yang terkenal di kota ini. Saya sedang mencari model baru yang bertalenta dan memiliki bakat alami, dan saya melihat aura itu dari nona ini," ujar fotografer itu yang membuat Luna tak sabar.


" Dia ngomong apa sih? Terjemahin buat gue kek, gue kan gak ngerti apa – apa," ujar Luna yang membuat Lira menghela napasnya. Gadis itu menjelaskan pada Luna apa yang dimaksud oleh orang yang ada di hadapan mereka. Seketika mata Luna terbuka lebar dan berbinar mengetahui hal itu.


" Gue mau, gue mau. Daripada gue nganggur dan ngehabisin duit bokap, mending gue mulai kerja adan dapat uang sendiri," ujar Luna yang membuat Lira menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu dia tak menyetujui permintaan Luna, dia tak bisa mengambil resiko dengan mengenalkan Luna pada pria asing di negara ini.


" Nah ya udah, gak usah aneh – aneh. Lagian duitnya bokap Lo gak akan habis walau Lo beli gedung di daerah ini. Duit bokap Lo juga nantinya buat Lo. Lo gak usah kerja juga bakal terjamin hidup Lo dan hidup anak – anak Lo. Gak usah ah, gak usah ladenin nih orang," ujar Lira yang membuat Luna kecewa.


" Tapi gue pengen banget, gue mau ada kegiatan lain di tempat ini. Gue kan udah lama di sini. Tahu nya juga itu – itu aja. Gue kan mau cari pengalam, setuju aja udah, lagian Lo kan tahu walau gak nampak, ada pengawal yang ngelindungin gue dari jauh, gak mungkin gue celaka," ujar Luna dengan wajah gemasnya. Lira menghela napas.


" Gue udah kasih peringatan ke Lo. Terserah Lo mau gimana, gue gak akan bantuin ngomong, Lo ngomong sendiri sana," ujar Lira yang langsung masuk ke dalam rumah. Rencana mereka untuk pergi sudah bisa dipastikan batal karna hal ini.


" Can you speak in English?" tanya Luna perlahan. Orang itu mengangguk dan menjawab Luna. Membuat Luna terkesan dan langsung bahagia. Yah, rumpun Korea, Jepang dan China, mereka sulit dan bahkan kebanyakan tak mau mempelajari bahasa luar, mereka hanya menguasahi bahasa mereka sendiri.


" Saya memiliki beberapa model dari luar negeri hingga saya harus belajar bahasa Inggris, jadi saya cukup menguasahi bahasa Inggris. Bagaimana dengan tawaran saya? Apakah teman anda menyampaikannya dengan benar?" ( di translate ke Indonesia aja ya gengs, biar lebih mudah dibacanya)


" Yah, dia sudah menyampaikan maksud Anda untuk menawari saya job pemotretan. Jika saya boleh tahu, pemotretan yang seperti apa? Dan siapa contoh model yang ada di perusahaan anda?" tanya Luna yang membuat orang itu melebarkan senyumnya. Dia memberikan sebuah kartu nama lagi untuk Luna karna sebelumnya Lira membawa kartu nama miliknya.


" Saya dari agensi Coolaps Entertaiment dan sudah banyak artis dan model yang bernaung di agensi saya ini. Jika anda tertarik, kita bisa bicarakan hal ini lebih lanjut di café yang ada di dkat sini. Anda bisa melihat kartu identitas saya jika anda merasa saya mencurigakan," ujar orang itu yang membuat Luna menggelengkan kepalanya.


Mereka pergi dari tempat itu dan berjalan bersama menuju café yang ada di dekat sana. Café yang cukup ramai, sepertinya orang ini tak berniat untuk menyakitinya. Mungkin memang benar dia dari sebuah agensi yang mencari model baru. Luna dan fotografer itu duduk berhadapan di salah satu meja yang ada di sana.


" Kau boleh memesan apapun, aku yang akan menraktirmu," ujar fotografer itu yang membuat Luna tertawa dan mengangguk, dia memesan secangkir coffe latte. Mereka mulai serius membicarakan masalah merekrutan ini. Fotografer itu menjelaskan dengan rinci apa saj ayang Luna tanyakan, membuat Luna yakin unttuk bergabung menjadi salah satu model yang ada di sana.


" Jika kau berminat, kau bisa hubungi nomor yang ada di kartu namaku. Itu adalah nomorku, namun di bawahnya itu ada nomor telpon perusahaan, kau bisa menghubungi nomor itu juga," ujar fotografer itu yang membuat Luna mengangguk. Gadis itu melihat lagi kartu nama yang dipegangnya.


" Jang, Syeok, Jung," ujar Luna yang membaca sedikit tulisan yang ada di sana. Orang itu tampak takjub Luna bisa membaca tulisan itu, padahal sebenarnya tak begitu istimewa. Lama tinggal di tempat ini membuat Luna mau tak mau bisa membaca tulisan yang ada di sekitarnya meski dia tak bisa mengerti artinya.


" Namaku adalah Jang Syeok Jung, tapi aku juga ememiliki nama Internasional. Nama Internasionalku adalah Leo. Kau bisa memanggilku Leo, karna Syeok Jung-nim akan sedikit sulit untuk lidahmu," ujar Fotografer itu yang membuat Luna mengangguk paham. Luna menunggu fotografer itu menyadari sesuatu yang penting sedari tadi.


" Eem, maaf nona. Sedari tadi kita sudah bicara, namun saya tidka tahu nama anda. Apakah anda bisa memberitahu pada saya siapa nama anda?" tanya orang itu yang membuat Luna tertawa. Luna lalu memperkenalkan dirinya, lengkap dengan nama koreanya ( yah, sebenarnya itu hanya nama yang dia buat berdasarkan tanggal lahirnya).


" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan membayar semuanya, jadi anda hanya perlu duduk manis dan langsung meninggalkan tempat ini jika sudah selesai. Saya harus pergi ke tempat lain, semoga saya segera mendengar kabar bak dari anda," ujar orang itu yang meembuat Luna menganggukan kepalanya. Orang itu membungkukkan badannya dan langsung berjalan keluar dari café setelah membayar.


Luna segera menyelesaikan minumnya dan langsung pergi dari tempat itu. sepanjang jalan dia terus mempertimbangkan baik buruknya menerima tawaran ini. Karna dia lebih banyak menemukan dampak baik dibanding buruk, dia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ini, siapa tahu dia bisa menajdi super model seperti Danesya.


" Siapa tahu wajah gue yang lumayan ini bisa jadi sumber duit gue. Mana tahu bakat gue ternyata jadi model kan? Kalau gak dicoba ya siapa yang tahu?" tanya Luna yang berjalan cepat menuju rumahnya. Saat dia meletakkan sepatu di rak dan membuka pintu, gadis itu dikejutkan dengan Lira yang sudah menunggunya dengan wajah yang menakutkan.


" Dari mana aja coba? Untung Lo gak diapa – apain sama tuh orang. Dibilang kalau di negara orang itu hati – hati, Lo gak tahu sikon tempat ini gimana, kalau ada orang jahat gimana?" tanya Lira yang tak digubris oleh Luna. Gadis itu menunjukkan kartu nama yang dia pegang ke gadis itu.


" Gue bakal terima tawarannya. Tadi gue ngobrol banyak sama dia, dan ternyata memang banyak model model dari yang amatir sampai profesional udah dia foto, ya gue berniat buat ambil kesempatan ini untuk mengembangkan bakat minat gue," ujar Luna dengan bijaknya.


" Lah? Lo ngobrol sama dia? Emang Lo bisa bahasa korea? Paling juga Annyeong Haseyo kalau Lo mah," ujar Lira yang membuat Luna menyengir lebar.


" Dia bisa bahasa inggris kalik," ujar Luna yang membuat Lira membuka mulutnya.


" Sia – sia dong gue tinggalin Lo tadi?" tanya gadis itu dengan sewot.


" Ya memang, Luna kok dilawan," ujar Luna dengan tengilnya. Gadis itu langsung berjalan cepat ke kamarnya untuk menghubungi nomor yang ada di kartu nama itu.


Sementara Lira yang tak bisa protes pun hanya diam dan berdoa Luna kan baik – baik saja dan bahagia dengan pilihannya yang satu ini.